[Review] Slammed by Colleen Hoover

slammed

Following the unexpected death of her father, 18 year old Layken is forced to be rock for both her mother and younger brother. Outwardly, she appears resilient and tenacious, but inwardly, she’s losing hope.

Enter Will Cooper. The attractive, 21 year-old new neighbour with an intriguing passion for slam poetry and a unique sense of humor. Within days of their introduction, Will and Layken form an intense emotional connection, leaving Layken with a renewed sense of hope.

Not long after an intense, heart-stopping first date, they are slammed to the core when a shocking revelation forces their relationship to a student halt. Daily interaction become impossibly painful as they struggle to find a balance between the feeling that pull them together, and the secret that keeps them apart.


Setelah kematian ayahnya, Layken, ibu dan adiknya, Kel terpaksa harus pindah dari Texas ke Ypsilanti, Michigan. Kematian ayah mereka menjadi pukulan hebat bagi keluarga. Lake (panggilan Layken dari orang tuanya) merasa sangat berat meninggalkan Texas dalam masa akhir studinya di SMA. Sedangkan Kel yang masih 9 tahun langsung bisa beradaptasi di lingkungan barunya. Pertama tiba di tempat tinggal barunya, Kel disambut seorang anak seumurannya dan mereka main perang-perangan. Tak lama kemudian, teman baru Kel dijemput oleh kakaknya di rumah Kel, dan memperkenalkan dirinya kepada keluarga Lake dengan nama Will Cooper. Lake mengakui bahwa Will adalah cowok hot.

Will memperkenalkan Lake kepada Slam, sebuah pertunjukan puisi di club N9NE. Aturan mainnya dalam slam adalah, semua orang yang ingin menampilkan puisi/mementaskan slam harus membayar 3 dolar, dan itu merupakan kompetesi. Sebelum kompetesi dimulai, pembawa acara akan menunjuk secara random satu orang dalam club untuk menampilkan slam.

Seperti penyanyi, seseorang yang berpuisi dengan bagus akan menghipnotis penonton dengan pertunjukannya. Dan malam itu Lake merasakannya, tenggelam dalam emosi, terhanyut oleh kata-kata si pembawa puisi.  Lake memohon kepada Will supaya dia melakukan slam. Dari apa yang dipertunjukkan oleh Will, Lake kini tahu siapa Will sebenarnya. Will dan adiknya, Caulder, adalah yatim piatu. Kedua orang tua mereka meninggal saat Will berusia 19 tahun. Will yang berusia 21 tahun  menjadi orang tua tunggal bagi Caulder. Semua hal tentang Will membuat Lake jatuh hati., begitu pun sebaliknya.

I don’t know what it is about you…but I like you (Will to Lake)

Baru 3 hari kenal tapi mereka sudah merasa saling cocok.

How fast???!!!

Ini kedua kalinya baca karya Colleen Hoover (CoHo) setelah November 9. Dan dari pengalamanku baca karya CoHo yang masih sangat sedikit ini, aku melihat karya CoHo langsung nendang dari awal. Kisah Lake dan Will langsung mulus-mulus saja di halaman-halaman awal, aku merasa ‘ini loh ending’. Jadi kayak awal yang seharusnya menjadi akhir, karena sudah bagagia. Aku jadi mikir lagi, terus apa dong setelah ini??? dari pengalaman membaca buku cinta-cintaan, biasanya ada fase-fase dimana si tokoh tokoh utama cowok dan cewek dimulai dengan benci kemudian berakhir cinta. Atau gak benci, tapi salah satu atau keduanya sama-sama memendam rasa tapi tidak langsung jadian, masih ragu-ragu dan sebagainya. Dan ditengah-tengah itu ada konflik dan endingnya mereka bersatu.  Nah ini, kedua tokoh uda oke dan sreg di awal.

Tapi bkan CoHo kalau gak ngasih kejutan. Apa yang aku khawatirkan di awal gak terjadi.

Konflik pun dimulai ketika keduanya ternyata adalah guru dan murid.  Will yang berusia 21 tahun adalah guru mata pelajaran Puisi di sekolah Layken. Keduanya sama-sama shock mengetahui keadaan ini. Sebagai guru dan murid, hubungan mereka tidak bisa dilanjutkan. Will bisa dipecat dari sekolah jika ketahuan berpacaran dengan muridnya sendiri. Sedanglan Will sangat membutuhkan pekerjaan itu demi membiayai hidupnya dan Caulder, terutama demi Caulder. Lake mengerti posisi Will.

Will meminta Lake untuk mengundurkan diri dari kelas Will. Tapi kemudian Will tidak jadi menandatangai surat pengunduran diri Lake karena Lake mendapatkan nilai 100 di tes yang dia adakan sebeulmnya. Will meminta Layken menjauhuinya, pura-pura tidak kenal tapi dia cemburu ketika Layken didekati teman sekelasnya. Dan sejujurnya, Layken tidak bisa begitu saja berhenti menyukai Will walau diminta. Hubungannya dengan Will saat ini begitu menyiksa batinnya. Dan tampaknya di mata Lake, Will tidak menganggap hubungan mereka serumit itu. Tapi kadang Will seolah memberi harapan.

“How do you think it makes me feel to know that I’m the reason you’re hurting? That I’m the reason you’re so sad?” (Will to Lake)

Ketika Will memberikan PR kepada muridnya untuk membuat puisi, Lake mendapatkan inspirasi dari hubungannya dengan Will.

According to the thesaurus…

and according to me…

there are over thirty different meanings and substitutions for the word

mean.

(I quickly yell the following words; the entire class flinches-including Will)

Jackass, jerk, cruel, dickhead, unkind, harsh, wicked, hateful, heartless, vicious, virulent, unrelenting, tyrannical, malevolent, atrocious, bastard, barbarous, bitter, brutal, callous, degenerate, brutish, depraved, evil, fierce, hard, implacable, rancorous, pernicious, inhumane, monstrous, merciless, inexorable.

And my personal favorite—asshole.

Ketika jam istirahat Will memanggil Lake terkait puisi tersebut.

“Dammit, Lake! I’m not your enemy. Stop hating me.”

“Stop hating you? Make up your freaking mind Will! Last night, you told me to stop loving you, now you’re telling me to stop hating you? You tell me you don’t want me to wait on you, yet you act like an immature little boy when I agree to go out with Nick! You want me to act like I don’t know you, but then you pull me out of the lunchroom in front of everyone! We’ve got this whole façade between us, like we’re different people all the time and it’s exhausting! I never know when you’re Will or Mr. Cooper and I really don’t know when I’m supposed to be Layken or Lake.”

Yap. Begitulah hubungan mereka yang menurutku unik dan menarik.

Banyak hal-hal yang aku suka di novel ini. Persahabatan Kel dan Caulder. Persahabatan Lake dan Eddie. Dan tentu saja aku sangat suka dengan tema slam dalam novel ini. keren. Di club bukannya konser tapi pertunjukan puisi, slam poetry.

Aku suka puisi will yang berjudul Death

Death. The only thing inevitable in life.

People don’t like to talk about death because it makes them sad.

They don’t want to imagine how life will go on without them,

all the people they love will briefly grieve but continue to breathe.

They don’t want to imagine how life will go on without them,

Their children will still grow

Get married

Get old…

They don’t want to imagine how life will continue to go on without them,

Their material things will be sold

Their medical files stamped ‘closed’

Their name becoming a memory to everyone they know.

They don’t want to imagine how life will go on without them, so instead of accepting it head on, they avoid the subject altogether,

hoping and praying it will somehow

pass them by.

Forget about them,

moving on to the next one in line.

No, they didn’t want to imagine how life would continue to go on…

without them.

But death didn’t forget.

Instead they were met head-on by death,

disguised as an eighteen-wheeler behind a cloud of fog.

No.

Death didn’t forget about them.

If they only would have been prepared, accepted the inevitable, laid out their plans, understood that it wasn’t just their lives at hand.

I may have legally been considered an adult at the age of nineteen, but I still felt very much

All of just nineteen.

Unprepared

and overwhelmed

to suddenly have the entire life of a seven-year-old In my realm.

Death. The only thing inevitable in life.

Ketika puisi itu ditampilkan lagi oleh Will di kelas, Lake sangat relate dengan puisi itu atas keadaannya saat ini. Tentang alasan utama ibunya supaya mereka pindah ke Michigan.

“I get it. In the first line, when you said that death was the only thing inevitable in life…you emphasized the word death. But when you said it again at the end of the poem, you didn’t emphasize the word death, you emphasized the word life. You put the emphasis on life at the end. I get it, Will. You’re right. She’s not trying to prepare us for her death. She’s trying to prepare us for her life. For what she has left of it.”

Confession

Setelah baca novel ini aku jadi pengen nulis puisi. Dulu waktu sekolah suka banget nulis puisi, tapi sejak kuliah jadi kurang pede nulis puisi. Jadi aku gak pernah nulis puisi lagi sampek sekarang. Tapi tetap ngeblog. Tujuan ngeblog gak lain cuma mau mengabadikan moment dlm hidupku. Ingin mengenang cerita hidupku lagi suatu saat nnti. Dan setelah aktif ngeblog, dan mulai ada orang yang follow blogku, awalnya aku senang, ada yg koment, ngelike tapi lama kelamaan kok ngerasa kurang bebas nulis yaa??? Takut postinganku jelek, pengalamanku kurang seru untuk ditulis, sedangkan lihat blogger lain postingannya keren-keren. Postinganku isinya curhatan. Dan sejak memiliki perasaan seperti itu jadi jarang update blog, aku update blog kalau ngerasa tulisanku layak dibaca orang lain. So, aku nulis bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk orang lain. Dulu, tiap ada hal kecil menurutku lucu, bikin marah atau segala emosi apapun, aku langsung segera menuliskannya. Karena kupikir jika aku menunda menuliskannya emosinya gak sama seperti saat aku merasakan saat itu. Malah males jadinya kalu ditunda.

Trims CoHo, menyadarkanku kembali bahwa puisi itu indah, bahwa kata-kata memiliki kekuatan  magis.

Quotes of Slammed

“If you can’t answer yes to these three questions, don’t even waste your time on a relationship”

“Does he treat you with respect at all times? That’s the first question. The second question is, if he is the exact same person twenty years from now that he is today, would you still want to marry him? And finally, does he inspire you to want to be a better person? You find someone you can answer yes to all three, then you’ve found a good man.”

All I ever feel like doing is sleeping. I guess because it doesn’t hurt as bad when you’re asleep.

“Push your boundaries Lake, that’s what they’re there for.”

And laugh a lot. never go a day without laughing at least once.

Bonus puisi dari Will.

IMG_20170519_224006

 

source of image: goodreads.com, pinterest

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s