[Review] Ayat-ayat cinta 2

ayat ayat cinta 2

Masih ingat baca ayat-ayat cinta satu waktu zaman SMA. Sejak baca itu, jadi pengen punya suami kayak Fahri,  kuliahnya di Al-Azhar, pinter pastinya, hafal Al-Quran, akhlaknya mulia. Komentar orang-orang, sosok Fahri terlalu sempurna, bak Malaikat. Tapi bagiku yang waktu itu masih SMA, sosok Fahri idaman banget. Aku gak mikir masak sih ada cowok kayak gini? Yang aku pikirkan, pengen punya suami kayak Fahri. Hehe… sejak baca ayat-ayat cinta, aku memburu semua novel kang abik. Mulai dari yang minjem ke teman sampai yang beli sendiri. Aku sepakat kalau novel kang Abik itu mendapat predikat pembangun Jiwa. Dari membcaca novel-novel kang abik, aku semakin mantab untuk gak pacaran. Aku ngebayangin jika anak-anak SMA, remaja-remaja labil membaca novel kang Abik, mungkin mereka juga punya pemikiran sepertiku. Positif banget lah efek novel-novel kang Abik.

Tahun 2014, aku membeli novel Kang Abik Api Tauhid. Dan entah yaa…. aku kurang suka. Reviewnya silahkan baca di sini. Karena kurang suka sama Api Tauhid, ketika tahu AAC2 terbit, aku sama sekali gak tertarik untuk beli. Akhirnya aku baca AAC2 dari hasil minjem ke teman. Sama kayak AAC1, minjem juga. hehe…

Dan di AADC2 ini, sosok Fahri makin sempurna aja. Gilaaak…. di sini diceritakan bahwa Fahri menjadi dosen di University of Edinburg. Fahri kaya, bisnisnya banyak, dan semakin tahun cabangnya makin banyak. Prestasi akademisnya juga semakin cemerlang, setelah menyelesaikan S1 di Al-azhar, kemudian menamatkan S2 di Pakistan, dan S3 di Freiburg University, Jerman. Dunia timur sama barat sama-sama sudah dia cicipi buat belajar, pantasan pengetahuannya semakin luas. Sering nulis jurnal berskala international, menjadi imam masjid, dan bahkan dia mendapat kesempatan menjadi penyaji dalam Oxford Debating Union, sebuah forum debat bergengsi di mana tokoh-tokoh dunia seperti beberapa presiden Amerika dan perdana menteri Inggris juga pernah tampil di acara tersebut. Dan dia adalah orang Indonesia pertama yang mempunya kesempatan keren tersbut.

Wanita mana yang gak mau dipoligami sama Fahri? Ups…

Walau pun ini cuma di novel, tetap saja luar biasa. Siapa tahu nanti muncul Fahri-Fahri sungguhan dari Indonesia yang tertular semangat Fahri ini.

Di tengah karirnya yang semakin cermerlang, Fahri kehilangan Aisya. Iya, Aisha istrinya yang cantik itu, blasteran Turki-Jerman yang hafal Al-Quran. Aisha hilang saat dia menemani Alicia, seorang wartawan untuk meliput berita di Palestina. Jasad Alicia berhasil ditemukan dalam keadaan termutilasi, sedangkan Aisha sampai bertahun-tahun tidak diketahui rimbanya. Semua mengira Aisha pasti sudah meninggal. Tapi Fahri masih menaruh harapan bahwa Aisha akan kembali.  Orang-orang dekat Fahri menyruh Fahri untuk segera menikah lagi. Tapi susah bagi Fahri melupakan Aisha. Dan masih seperti dulu, walau pun bisa dibilang Fahri duda, banyak cewek cakep nan shaliha yang mengejarnya. Emang yaaa…. fahri ini cowok  idaman, gak cuma bagi kalangan perempuan muda, nenek-nenek, sampai emak-emak dan bapak-bapak juga pengen bungkus Fahri jadi mantunya. Hehe…

Siapa cewek cantik shaliha yang ditawarka ke Fahri?Yang pertaman Yasmine, cucu dari Syaikh Utsman, guru talaqqinya di Mesir, hafal quran, sedang mengambil Ph.D  di Durham University. Saat syaikh Utsman menyampaikan niatnya untuk menikahkan Fahri dengan cucunya, Fahri galau warbiyasaaak. Masak iya, dia mau menolak permintaan guru yang sangat dia hormati? Dari garis keturunan uda gak usah diragukan lagi. Yang kedua, Heba, si gadis Arab yang cantik, Fahri kenal dengan ayahnya yang seorang dosen. Yang ketiga, Hulya, sepupu Aisha sendiri, yang memang mirip dengan Aisha. Hulya mempunyai kakak bernama Ozan, Ozan ini mitra bisnis Fahri. Ozan gak sungkan menawari Hulya kepada Fahri.

Fahri dilanda kegalauan. Dia gak bisa melupakan Aisha, masih mempunyai harapan Aisha akan kembali. Dan kalau menikah lagi, dia takut tidak adil, takut masih membanding-bandingkan Aisha dengan istri barunya.

Hidup bersama Aisha adalah ibadah penuh cinta dan kemesraan. (hal 64)

Di satu sisi, Fahri adalah lelaki dewasa, agama juga tidak menyukai umatnya membujang, kan? Nah, kalau keinginan untuk beristri uda ada, masih galau lagi dia mau pilih siapa? Dududu…..

Ada yang yang mau daftar ke Fahri?? hayukkk….!!!

Tentang pendapatku.

Banyak hikmah bertebaran di buku ini. suka dengan pesan-pesan tersiratnya. Fahri yang selalu shalat tepat waktu. Ingat waktu dia ngajar, terus masuk waktu shalat, Fahri ijin ke mahasiswanya untuk shalat 5 menit. Suka Fahri yang selalu shalat berjamaah di masjid bersama paman Hulusi, dan Misbah. Fahri yang selalu sempat untuk qiyamul lail, memuroja’aj hafalannya. Suka cara Fahri memperingatkan mahasiswa untuk berpakaian sopan.  Aku suka karakter Fahri yang akademik dan bisnisnya sama-sama jalan. Dia sibuk, sibuk banget, tapi tak lupa memperhatikan tetangganya.

“Masih ada waktu untuk tahajud sebelum Shubuh datang. Tolong biolanya dikemasi. Saya naik dulu.” (hal 317)

Yang aku kurang suka, pesan-pesan tersuratnya malah. Dialognya panjang. Sebenarnya bukannya isinya yang gak bagus. Tapi kayak buku non fiksi islami, bukan novel, yang isinya ada dua bab utama. Bab tentang berbuat baik kepada tetangga, dan bab Amalek. Contoh dicerita tentang non fiksi islami, waktu Fahri memaparkan tentang Amelek di forum diskusi, pemaparan Fahri dan debatnya. Setelah selesai debat, Cuma dijelaskan, Fahri memesona penonton, banyak yang kagum sama Fahri. Kurang emotional terhadap jalannya cerita. #CMIIW Aku agak terganggu pada bagian saat Fahri tiba-tiba teringat pesan gurunya, tiba-tiba teringat karya…. tiba-tiba teringat cerita sahabat… tiba-tiba teringat bla bla bla. Bukannya yang diingat Fahri itu gak penuh hikmah, tapi yaitu, seperti buku non fiksi. Jadi, ini buku non fiksi islami apa novel sih? aku skip skip bacanya. Pengen kalau uda tamat, mau aku baca lagi.

Salah satu goodreaders bilang novel ini minim konflik. Yaa…. aku setuju.

Konfliknya seru pas di akhir-akhir. aku jadi kesel sendiri. Nah, ini bukunya mau tamat kok konflik-konflik yang seru baru keluar sih? gak ada sudah bagian Fahri ingat ini ingat itu yang panjang-pangjang.

Jujur aku skip-skip bacanya, kalau uda nyampek bagian teringat ini itu. Tapi aku mau baca lagi kalau uda tamat. Aku mau baca bagian teringat ini itu, karena bagian itu bisa dikesampingkan dari plot novel. Dan isinya asli bagus, tapi aku kadung penasaran sama plotnya, keburu pengen tahu endingnya. Dan Alhamdulillah endingnya memuaskan.

Nah, kalau di pesan-pesan tersuratnya, lebih enak dinikmati. Misalkan saat Fahri yang selalu shalat tepat waktu.  Aku kan sebagai pembaca jadi mikir, gini toh caranya kalau tinggal di negeri minoritas muslim tapi tetap eksis menjalankan kewajiban sebagai muslim. Tanpa dijelaskan panjang lebar mengenai keutamaan mengajak saudara shalat berjamaah di masjid lewat percakapan panjang lebar, dengan Fahri membangunkan, dan mengajak Misbah yang merupakan tamunya untuk berangkat ke Masjid bersama, pesannya sudah sampai ke pembaca.

Menarik menyimak pendapat Misbah dan Fahri terkait menjual minuman keras. Kata Misbah, sesuai rujukan yang dia ketahui, menjual minuman keras itu boleh bagi muslim jika dia hidup di negeri minoritas muslim. Tapi Fahri memilih untuk tidak melakukan itu, untuk lebih berhati-hati. Kata Misbah, tidak semua orang seberuntung dan sekaya Fahri sehingga bisa memilah-milih pekerjaan. Nah, aku jadi penasaran, Fahri kan punya butik. Kira-kira baju seperti apa yang dia jual kalau dia emang mau hati-hati? Kan hidupnya di negeri yang minoritas muslim, cabangnya pun buka di berbagai kota. Kalau sekedar baju muslim, sulit bisa berkembang pesat kayaknya. Di buku ini juga gak bilang dia jual baju muslim. So, kemungkinan besar dia pasti jual baju biasa kan. Yang untuk perempuan pasti menampakkan auratnya?

Salah satu tokoh yang aku suka selain Fahri, yaitu Sabina. Masya Allah deh pengorbanannya, kesabarannya, ketulusannya. Dan surprise apa yang terjadi dengan Sabina dan Hulya.

Apa lagi ya?

Novel ini banyak typo.

Dan gak sabar melihat aksi Fedi Nuril di layar kaca lewat AAC2

Quote Ayat-Ayat Cinta 2

  • Prinsipnya, jika bisa cepat berkualitas kenapa harus berlama-lama dan mengulur-ngulur waktu? (hal 23)
  • Saya tidak muluk-muluk bisa menyampaikan keindahah islam kepada semua orang di Britania Raya yang salah paham kepada Islam. Tidak, paman. Saya tidak muluk-muluk. Cukuplah bahwa saya bisa menyampaikan akhlak Islam dan kualitas saya sebagai seorang Islam kepada orang-orang yang sering berinteraksi dengan saya, jika saya bisa, itu saya sudah bahagia. (hal 26)
  • Tidak ada yang terlalu baik dan pemurah dibandingkan dengan kebaikan dan kemurahan Allah. (hal 49)
  • Sekali nafsu kau manjakan, maka nafsu itu akan semakin kurang ajar dan tidak tahu diri! Jangan pernah berdamai dengan nafsu! sekali kau berdamai, maka nafsu itu akan menginjak harga dirimu dan menjajahmu! Jangan beri kehormatan sedikit pun pada nafsumu. Perlakukan dia sebagai makhluk hina, pengkhianat yang tidak boleh diberi ampun. (hal 80)
  • Brother, tolong jaga lisan anda! Jika anda tidak bisa berkata yang baik, lebih baik diam.
  • Kita diperintahkan berbuat baik kepada siapa saja. Pada anjing sekalipun kita diminta berbuat baik. (hal 134)
  • Nasihati aku, Bah! Jika saudaramu meminta nasihat, maka nasihatilah! Bukankah begitu perintah Rasulullah?
  • Bayangkan, tahun 1655 itu London di London sudah ada Koran, sementara kita di Jawa saat itu masih sangat banyak yang buta huruf. (hal 161)
  • Perbuatan yang masih diperselisihkan tidak boleh diingkari. Yang boleh diingkari adalah perbuatan yang telah disepakati keharamannya. (hal 168)
  • Terkadang apa yang tidak kita sukai ternyata baik di mata Allah, dan terkadang apa yang kita sukai tidak baik di mata Allah. Meskipun yang kita inginkan adalah kita meraih apa yang kita sukai dan sekaligus disukai Allah dan baik menurut Allah. (hal 218)
  • Al-Qur’an itu di alam kubur bisa memberi syafaat pada pemiliknya, di akhirat juga memberi syafaat bagi pemiliknya. Baginda nabi menjelaskan hal itu dalam bentuk hadits. Jika Al-Qur’an di akhirat saja bisa memberi syafaat, tentu Al-Qur’an lebih berhak bisa memberi syafaat di dunia. (hal 237)
  • Jika baginda nabi menjelaskan bahwa memasukkan kebahagian ke dalam hati seorang mukmin adaah sedekah, maka ia berharap memasukkan kebahagiaan ke dalam hati semua anak manusia juga sedekah. Bukankan memasukkan kebahagiaan dalam diri seekor anjing saja bisa menurunkan ampunan Allah? (hal 251)
  • Dengar, Keira. Sekali lagi dengan cara berpikirmu itu sangat tidak fair! Karena ulah segelintir orang, lalu orang lain harus memikul dosanya sangat berbahaya! Atau karena ulah Hitler, terus dunia menuduh kaum Kristiani sekejam Hitler, maka itu sangat tidak fair! Itu berbahaya. (hal 310)
  • Kalai kita tidak perhatian pada saudara kita, risiko di kahirat lebih berat lagi. (hal 327)
  • Setiap bangsa pasti punya pahlawan. Hanya mereka yang bisa menjiwai mental para pahlawannya yang akan meraih prestasi-prestasi gemilang. (hal 361)
  • Dan selama ini, ia berjuang semampu yang ia bisa, agar minimal dirinya sendiri tidak termasuk dalam jenis umat Islam yang menjadi penghalang terpancarnya cahaya Islam. Kalau ia tidak bisa menjadi orang yang memancarkan keindahan Islam, ia berharap tidak menjadi orang yang menghalangi cahaya islam. (hal 389)
  • Jatah hidupku di dunia sepertinya sudah mau habis. Ada banyak bayi lahir, harus ada yang pergi. Gentian. (hal 477)
  • Waktu dhuha adalah waktu paling produktif bagi umat manusia untuk urusan dunianya. Sedangkan waktu sahuradalah waktu paling mustajab bagi umat manusia untuk akhiratnya. (hal 485)
  • Keras kepala jika disertai akal sehat akan menjadi tindakan yang tajam dan besar pengaruhnya. Adapun besar kepala hampir tak ada kebaikan di dalamnya. (hal 494)
  • Tidak ada alasan sejarah apa pun yang dapat membenarkan tindakan mendirikan sebuah negera tapi mengusir penduduk aslinya. (hal 508)
  • Kufu itu letaknya bukan di bentuk fisik. Kufu itu ada pada agama, akhlak, dan iman. (hal 511)
  • Cinta sejati dua insan berbeda jenis adalah cinta yang terjalin setelah akad nikah. Yaitu cinta kita kepada pasangan hidup kita yang sah. Cinta sebelum menikah adalah cinta semu yang tidak pernah disakralkan dan diagung-agungkan. (hal 526)
  • Jika saatnya bicara maka harus bicara, tidak boleh diam saja. Jika diam melihat yang tidak benar, itu adalah setan bisu. (hal 568)
  • Jika kita bandingkan jumlah korban perang agama dengan korban pembantaian rezim atheis-komunis, bedanya sangat jauh sekali. (hal 582)
  • Terkadang, kita bertanya kenapa orang-orang atheis-komunis bisa sedemikian kejam? Jawabannya karena mereka tidak kenal Tuhan, dan tentu tidak takut kepada Tuhan. Mereka tidak punya aturan, yang jadi aturan adalah nafsu mereka. Siapa yang kuat, maka dia berhak mengatur sesukanya, termasuk membunuh. Hukum rimba tercipta! (hal 583)

 

Informasi Buku

Judul                          :            Ayat-Ayat Cinta 2

Penulis                        :            Habiburrahman El Shirazy

Penerbit                      :            Republika

Tebal                          :            690 hal

Terbit                          :            cetakan I, November 2015. Cetakan II, November 2015

ISBN                          :            9786020822150

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s