[Review[ Pulang by Tere Liye

[Review[ Pulang by Tere Liye

Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku dibanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati mamak dibanding di matanya.

Sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit


Bujang adalah anak lelaki berumur 15 tahun yang tingal di pedalaman Sumatra bersama bapak dan mamaknya. Tidak mengenal bangku sekolah. Ayahnya keras, dan selalu memukulinya setiap kali menemukan dirinya belajar agama. Suatu hari hidupnya berubah tatkala teman bapakknya yang disebut Tauke Muda, datang ke kampungnya untuk memburu babi hutan. Bujang ikut dalam pemburuan itu dan berhasil mengalahkan babi hutan yang sangat besar. Karena kejadian tersebut, dia dijuluki si Babi Hutan.

Jika setiap manusia memiliki lima emosi, yaitu bahagia, sedih, jijik, dan kemarahan, aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut. (hal 1)

Bujang diajak tinggal di kota bersama Tauke Muda, dengan berat hati orang tuanya mengizinkan. Dengan sedih mamaknya berpesan, pesan yang selalu Bujang pegang teguh, untuk tidak makan babi dan minum arak.

“Berjanjilah kau akan menjaga perutmu dari semua itu, Bujang. Agar besok lusa, jika hitam seluruh hidupmu, hitam seluruh hatimu, kau tetap punya satu titik putih, dan semoga itu berguna. Memanggilmu pulang.” (hal 25)

Tauke Muda bukan orang biasa, dia merupakan pimpinan komplotan tukang pukul yang mencari uang dengan cara illegal. Semakin lama, kekuasaan Tauke semakin besar. Tauke dan komplotannya mulai merambah bisnis legal. Bujang di sekolahkan, dan dilatih bela diri, menembak, langsung dari ahlinya. Tauke sadar, Bujang merupakn aset berharga bagi keluarga Tong, komplotan yang Tauke pimpin.

“Frans si Amerika akan melatih kepalanya dan aku akan melatih fisiknya. Kita mendapatkan dua-duanya.” (hal 94)

So, seperti apa perjalanan pulang yang dimaksud dalam novel ini?

Mamak, bujang pulang hari ini. Tidak hanya pulang bersimpuh di pusaramu, tapi juga telah pulang kepada panggilan Tuhan. Sungguh, sejauh apa pun kehidupan menyesatkan, segelap apa pun hitamnya jalan yang kutempuh, Tuhan selalu memanggil kami untuk pulang. (hal 400)

Yeeaayy… akhirnya setelah lama tidak membaca karya Tere Liye. Kali ini rinduku terbayar.

Pertama kali baca novel Tere Liye yaitu Bidadari-Bidadari Surga, dan aku langsung suka. Setelah itu, aku jadi membururu novel-novel tere liye yang lain. Tere Liye merupakan penulis yang menyentuh banyak genre. Setelah sering membaca novel-novel Tere Liye, kok jadi bosan ya? Novel Tere Liye memang quotable, dan mesti deh ada pak Tua pemberi nasehat. Dan nasihat-nasihatnya terkesan menggurui (sotoy banget deh pembaca yang satu ini). Sejak membaca Hujan September tahun lalu, aku gak menyentuh novel Tere Liye sama sekali.

Novel pulang ini aku dikasih teman. Sebenarnya di antara novel Tere Liye yang paling aku inginkan saat ini yaitu Tentang Kamu. Lihat novel Pulang di timeline IG, di toko buku, jujur gak tertarik. Sampulnya juga gak bikin laper mata. Tapi yaaahhh… uda jodohnya sama novel ini. Dan bener-benar yaaa….. setelah lama gak membaca novel Tere Liye. Aku puas banget sama novel ini. ala-ala Pak tuanya masih tetap adalah, pengucapan astaga berkali-kali tiap tokoh, juga istilah genius, bedebah, khas Tere Liye banget.

Aku kira ini malah genre yang sama dengan serial anak-anak mamak, menceritakan anak-anak kampung yang genius. Tapi novel ini lebih dari itu. Politik, action, strategi, persahabatan, pengkhianatan. Uuughhh seru. Dari kemaren bacaannya novel romance terus sih. Pas baca ini adrenalin langsung terpacu. I need action novel

Shadow Economy itu sesuatu yang mengerikan ya? ketika Seseorang terpilih menjadi pemimpin, tentu saja setiap kebijakan-kebijakan yang diambil pasti ada kepentingan-kepentingan para invisible hands (ini istilah Adam Smith, tapi aku dan Aan juga menggunakan istilah ini di salah satu organisasi kampus kami. Kami saat itu gak menyangka, ternyata kebijakan organisasi intra kampus yang kami ikuti  dipengaruhi oleh orang-orang luar, walaupun ada rapat dalam setiap agenda, ternyata orang-orang yang punya jabatan penting di organisasi tersebut sudah rapat duluan dengan para petinggi-petinggi organisasi yang bahkan tidak punya hubungan dengan bangku akademik).

Aku sering menonton drama-drama korea politik kayak gini. Ketika rakyat biasa sepertiku mikirin kerjaan,  gaji, travelling, sekolah, prestasi, jodoh #Eh??? Dll. Penguasa-penguasa kita disibukkan dengan sesuatu seperti pertemuan-pertemuan rahasia, menyingkirkan lawan politik dengan cara halus, mengkambing hitamkan orang-orang tak bersalah. Dan aku selalu menganggap apa yang ditampilkan para penguasa itu selalu sebuah pencintraan. Coba lihat deh bagaimana para calon presiden di drama korea K2, atau intrik-intrik politik di the King 2 Heart, Faith dll.

Di Indonesia pun sekarang kelihatan banget tingkah invisible hands tersebut. Aku senyum-senyum sendiri saat penulis menyinggung tentang bapak calon presiden, menggunakan kemeja putih, dan calon nomor urut 2.

Novel ini menggunakan Pov aku tapi berasa orang ketiga serba tahu. Salah satu contohnya ini,

Aku memutuskan sambungan telepon. White meletakkan gagang telepon, dia berteriak memanggil koki dan pelayan restorannya, bilang dia harus segera pergi. Frans si Amerika menghela napas panjang. Wajahnya sedih—kabar kematian Tauker Besar membuatnya terpukul. (hal 351)

see???

Quote Pulang by Tere Liye

  • Toh, aku hidup bukan hidup untuk membahagiakan orang lain, apalagi menghabiskan waktu untuk mendengarkan mereka. (hal 1)
  • Pergilah anakku, temukan masa depanmu. Sungguh,  besok lusa kau akan pulang. Jika tidak ke pangkuan mamak, kau akan pulang ke hakikat sejati yang ada dalam dirimu. Pulang….” (hal 24)
  • I against my brother, my brothers and i against my cousins, then my cousins and I against strangers. (hal 45)
  • Penembak yang baik selalu tahu persis kekuatan pistolnya, bujang. Dia tahu pelurunya akan tiba di mana, bisa menembus apa saja, dan semua tabiat pistolnya. Bagi penembak, pistol ibarat kekasih hati, dia memahaminya dengan baik. (hal 178)
  • Karena kau yang harus memahami pistolmu, Bodoh, bukan benda mati yang memahamimu. (hal 178)
  • Kesetiaan anak ini ada pada prinsip, bukan pada orang atau kelompok. Di masa-masa sulit, hanya prinsip seperti itulah yang akan memanggil kesetiaan-kesetiaan terbaik lainnya. (hal 187)
  • Samurai adalah perjalanan hidup, Bujang. Tidak pernah soal berapa lama kau berlatih. Kau sudah menggenapkan seluruh teknik yang kumiliki dan seluruh jurus yang aku punya. Sisanya, akan kau sempurnakan sendiri bersama perjalanan hidupmu. (hal 218)
  • Sejatinya, dalam hidup ini, kita tidak pernah berusaha mengalahkan orang lain. Dan itu sama sekali tidak perlu. Kita cukup mengalahkan diri sendiri. Egoisme. Ketidakpedulian. Ambisi. Rasa takut. Pertaayaan. Keraguan. Sekali kau bisa menang dalam pertemuan itu, maka pertemupuran lainnya akan mudah saja. (hal 219)
  • Tapi ceritaku ini memberikan pelajaran, semua orang bisa berkhianat, Bujang. Jika dia memiliki motif dan kesempatan, dia akan melakukannya. Kau harus selalu waspada. (hal 264)
  • Dengan ditemani buku, tanpa terasa hari telah beranjak petang, tidak sempat lagi mengingat kenangan menyakitkan. (268)
  • Di keluarga ini, seluruh masa lalu, hari ini, dan masa depan akan selalu berkelindan, kait-mengait. Esok lusa kau akan lebih memahaminya. (hal 315)
  • Beberapa sunrise kusaksikan dengan takjub, namun lebih banyak yang tidak, lewat begitu saja. Nah, mau kita menyaksikannya atau tidak, matahari selalu terbit. Mau ditutup mendung atau kabut, matahari juga tetap terbit. Mau kita menyadarinya atau tidak, matahari tetap terbit. (hal 336)
  • Peluklah semuanya, Agam. Peluk erat-erat. Dekap seluruh kebencian itu. Hanya itu cara agar hatimu damai, Nak. Tidak perlu disesali, tidak perlu membenci. Buat apa? Bukankah kita selalu bisa melihat hari yang indah meski di hari terburuk sekalipun? (hal 339)
  • Ketahuilah, Nak. Hidup ini tidak pernah tentang mengalahkan siapa pun. Hidup ini hanya tentang kedamaian di hatimu. Saat kau mampu berdamai, maka saat itulah kau telah memenangkan seluruh pertempuran. (hal 340)
  • Sekarang dengan pengalaman baru, dia memahami bahwa tidak mengapa jika rasa takut itu hadir, sepanjang itu baik, dan menyadari masih ada yang memegang takdir. (hal 343)
  • Akan selalu ada hari-hari menyakitkan dan kita tidak tahu kapan hari itu menghantam kita. Tapi akan selalu ada ada hari-hari berikutnya, memulai bab yang baru bersama matahari terbit. (hal 345)

 

Informasi Buku

Judul: Pulang

Penulis: Tere Liye

Editor: Triana Rahmawati

Penerbit: Republika

Terbit: cetakan I, September 2015. Cetakan VII, November 2015

Tebal: iv + 400 hlm

ISBN: 9786020822129

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s