[Review] to All the Boys I’ve Loved Before

15749186

To All the Boys I’ve Loved Before is the story of Lara Jean, who has never openly admitted her crushes, but instead wrote each boy a letter about how she felt, sealed it, and hid it in a box under her bed. But one day Lara Jean discovers that somehow her secret box of letters has been mailed, causing all her crushes from her past to confront her about the letters: her first kiss, the boy from summer camp, even her sister’s ex-boyfriend, Josh. As she learns to deal with her past loves face to face, Lara Jean discovers that something good may come out of these letters after all.

Lara Jean (16 tahun), Margot (18 tahun), dan Kitty (9 tahun) adalah 3 bersaudara, mereka menyebut diri mereka The Song Girl. Song merupakan nama keluarga ibu mereka yang berkebangsaan Korea. Sang ibu sudah lama meninggal, dan mereka tinggal berempat dengan sang ayah.

Novel ini temanya unik, tentang seorang remaja yang menulis surat kepada cowok-cowok yang dia sukai, tapi surat itu gak dia kirim, dia simpan dalam sebuah kotak. Dan apa jadinya ketika surat-surat tersebut, bertahun-tahun kemudian sampai pada orang yang dituju? Entah siapa yang mengirimnya.

Jadi, ada 5 orang yang Lara Jean sukai yang telah dia ungkapkan dalam surat-suratnya.

Pertama, Peter Kavinsky, cowok populer di sekolahnya. Kedua, Josh, pacar saudaranya, Margot. Ketiga, Lucas Krapf yang ternyata adalah seorang gay. Keempat, John Ambrose McClaren, cowok yang dia sukai saat kelas 8. Kelima, Kenny, cowok yang dia kenal saat camp.

Josh adalah tetangga keluarga Lara Jean. Josh yang baik disukai semua anggota keluarga Lara Jean. Ayahnya, neneknya, bahkan Kitty dan Lara Jean sendiri. ketika tahu Josh menyukai Margot, dan Margot juga menerima cinta Josh, Lara Jean berbahagia untuk keduanya.

Karena Margot hendak melanjutkan kuliah di Inggris, dia putus dengan Josh. Alasan yang disampaikan Margot karena pesan almarhum ibunya dulu.

“She told me to try not to go to college with a boyfriend. She said she didn’t want me to be the girl crying on the phone with her boyfriend and saying no to things instead of yes.”

Tapi masalahnya adalah, Josh juga menerima surat Lara Jean setelah kepergian Margot. Walaupun mereka putus, Lara Jean yakin mereka akan bersama lagi.

But now, sitting here alone in my living room, with my sister four thousand miles away and Josh next door, all I can think is, Josh Sanderson, I liked you first. By all rights, you were mine. And if it had been me, I’d have packed you in my suitcase and taken you with me, or, you know what, I would have stayed. I would have never left you. Not in a million years, not for anything.

Lara Jean tidak ingin menghianati Margot. Kakak yang sangat dia sayangi.

How could I begrudge Margot a first love? Margot, who’d sacrificed so much for all of us. She always, always put Kitty and me before herself. Letting go of Josh was my way of putting Margot first.

Ketika Josh meminta penjelasan mengenai surat tersebut, Lara Jean bilang itu sudah lama dan dia berbohong bahwa sekarang dia sudah memilki pacar. Begitu melihat Peter, yang terlintas di kepala Lara Jean adalah cowok tersebut. Tentu saja Josh yang sangat mengenal Lara Jean dan setiap hari selalu bersama, tidak percaya Lara Jean sudah memiliki pacar. Untuk membuktikannya, Lara Jean sekonyong-konyong mencium Peter di sekolah.

And then, the show begins.

Lara Jean membuat kesepakatan dengan Peter. Mereka setuju untuk menjadi pasangan bohongan. Alasan Peter, dia ingin membuktikan pada mantan pacarnya bahwa dia sudah bisa move on, sedangkan Lara Jean, tentu saja supaya Josh tidak curiga bahwa Lara Jean menyukainya.

Seisi sekolah gak percaya Peter bisa pacaran dengan Lara Jean. Peter si cowok keren dan sangat populer, sedangkan Lara Jean adalah anak rumahan. Lara Jean tau akan banyak cewek yang memusuhinya, termasuk mantan pacar Peter yang rupanya masih peduli dengan Peter.

Peter ini orangnya sangat menyadari semua kelebihan dirinya, makanya dia yaaah bisa dibilang sombong, sok, dan over PD. Uuughg….. Hal itu yang membuat Lara Jean tidak menyukainya, tapi ada hal-hal baik yang membuat Lara Jean menyukainya saat SMP.

Banyak hal memorable ketika Lara Jean dan Peter menjalani proses pacaran pura-pura tersebut.

Some romantic scenes

Saat Peter terlambat menjemput Lara Jean, ternyata dia masih beli donat special dengan mocha sugar dan masih nunggu tokonya buka.

He gives me a sidelong glance as he pulls out of my driveway. “So I did the right thing being late, right?”

I nod, taking a big bite. “You did the exact right thing,” I say, my mouth full. “

Ketika Lara Jean pura-pura marah saat Peter dan teman-temannya menghabiskan makan siang yang dibuat Lara Jean. Bukan bagian ketika Lara Jean menyuapi Peter yang paling bikin melting, tapi ketika setelahnya. Fast responsenya itu loh.

Immediately Peter pushes out his chair and stands up. “I’m gonna get you a sandwich.”

I grab his sleeve. “Don’t. I’m just kidding.”

“Are you sure?” I nod, and he sits back down. “If you’re hungry later, we can stop somewhere on the way home.”

Ketika pesta Halloween di sekolah. Saat itu  Lara Jean menggunakan costum sebagai Cho Cang, salah satu tokoh di novel Harry Potter. Dan secara kebetulan, Josh juga menggunakan costum sebagai Harry Potter. Sedangkan Peter menggunakan costum Spiderman, sebagai Peter Parker tentunya. dan ketika Lara Jean sedang bersama Peter, Josh lewat, dan mereka berpura-pura saling bertarung dengan menggunakan mantra-mntara sihir dengan tongkat mereka. Lara Jean dan Josh membaca Harry Potter bersama-sama saat mereka anak-anak.

“Uh . . . don’t you think it’s weird for my supposed girlfriend to wear a couples costume with another guy?” Peter asks me.

Aku seperti merasakan kebingungan yang yang dirasakan Peter. Poor Peter. Menurut Peter itu bukan seperti kebetulan.

“I could have been someone from the book if you’d told me in advance”. Aww…

“Sorry if I haven’t read every single Harry Potter book! Sorry I have a life and I’m not in the Final Fantasy club or whatever that geek club is called—

I snatch my wand back from him and wave it in his face. “Silencio!”

Dan mereka kejar-kejaran di sekolah. Glad to them.

Josh dan Margot yang tau Peter, sama-sama bilang bahwa Peter bukan cowok yang baik. And see? Lara Jean selalu membela Peter.

“He has a high emotional IQ.” 

Bela Lara Jean saat melakukan virtual dinner dengan Margot

“He’s not what you’d think. People are so quick to judge him, but he’s different.” I’m surprised to find I’m telling the truth. Peter isn’t what you’d think. He is cocky and he can be obnoxious and he’s always late, true, but there are other good and surprising things about him too. “He’s . . . not what you think.”

Bela Lara Jean di depan Josh.

Emang sih, walaupun  yaah sombong dan sok, Peter ini aslinya baik dan sabaran orangnya. Kitty aja suka, ayah mereka juga suka. Karena sering telah menjemput Lara Jean, Lara Jean kesal dan menegur Peter. Akhirnya tanpa membantah, Peter setuju tidak akan datang telat lagi, dan dia menepati janjinya.

Lara Jean merasa nyaman bersama Peter, menyadari itu hanya pura-pura, dan akan segera berakhir, dia merasa sedih.

“and he takes my hand, and he closes my locker door, and he walks me to class like a real boyfriend, like we’re really in love.

“How was I supposed to know what’s real and what’s not? It feels like I’m the only one who doesn’t know the difference”

“Do you know what it’s like to like someone so much you can’t stand it and know that they’ll never feel the same way? Probably not”

The plot twist is not that wow actually. Gak roller coaster. Tetapi sumpah asyik, gak berat, cerita remaja SMA banget, manis, Bikin susah berhenti baca ini. Selain cerita remaja SMA dengan segala permasalahannya, novel ini juga menceritakan tentang keluarga Lara Jean yang hangat. Ditinggalkan ibu, tidak lantas membuat keluarga mereka kekurangan kasih sayang. Kitty si bungsu yang keras kepala, Lara Jean yang kalem, dan Margot si sulung yang tangguh. Mereka bukannya gak pernah bertengkar, di sini aku suka banget bagaimana cara Jenny Han, si penulis  membuat hubungan mereka baik lagi. Sehingga akhirnya dari pertengkaran-pertengkaran itu, membuat hubungan keluarga mereka semakin erat, masing-masing menyadari kesalahan dan kekurangannya. (kok bisa semanis ini penulis menggambarkannya?)

Sisters are supposed to fight and make up, because they are sisters and sisters always find their way back to each other

Endingnya? Gantung, iya.

Karena buku ini ada lanjutannya. Aku kira buku ini bisa menjadi stand alone. Tinggal menyelesaikan masalah Lara Jean dengan Peter saja. So, mari menebak-nebak. Mungkin di buku keduanya, ayah Lara Jean dan Ibu Peter salah menyukai. Perkiraan aja sih.

Quote To All the Boys I’ve Loved Before

  • I wonder what it’s like to have that much power over a boy. I don’t think I’d want it; it’s a lot of responsibility to hold a person’s heart in your hands.
  • Margot, the girl with the maps and the travel book and the plans
  • Maybe this is why Mommy told Margot not to go to college with a boyfriend. When you have a boyfriend or a girlfriend, you only want to be with that person, and you forget about everybody else, and then when the two of you break up, you’ve lost all your friends. They were off doing fun stuff without you.
  • “It wouldn’t kill you to get out of your comfort zone a little bit.”
  • You’d rather make up a fantasy version of somebody in your head than be with a real person.”
  • I delete the picture of him from my phone; I delete his number. I think that if I just delete him enough, it will be like none of it ever happened and my heart won’t hurt so badly. (it’s not as that simple to forget somebody, right?)
  • Because sometimes you just feel sad and you can’t explain it
  • I think I see the difference now, between loving someone from afar and loving someone up close. When you see them up close, you see the real them, but they also get to see the real you
  • Love is scary: it changes; it can go away. That’s part of the risk. I don’t want to be scared anymore. I want to be brave, like Margot.
  • And I’m certain, I’m so suddenly certain that everything is exactly the way it’s supposed to be, that I don’t have to be so afraid of good-bye, because good-bye doesn’t have to be forever.

Oh iya, novel ini aku  baca online di sini.

sumber gambar: goodreads.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s