[Review] Me Before You

me before you

Lou Clark tahu banyak hal. Dia tahu berapa langkah jarak antara halte bus dengan rumahnya. Dia tahu dia suka sekali bekerja di kedai kopi The Buttered Bun, dan dia tahu mungkin dia tidak begitu mencintai pacarnya, Patrick.

Tetapi Lou tidak tahu bahwa dia akan kehilangan pekerjaannya, dan peristiwa apa saja yang akan menyusul kemudian.

Setelah mengalami kecelakaan, Will Traynor tahu dia sudah tidak berminat lagi melanjutkan hidupnya. Dunianya kini menyusut dan tak ada lagi suka cita. Dan dia tahu betul, bagaimana mesti menghentikannya.

Namun Will tidak tahu bahwa sebentar lagi Lou akan masuk ke dunianya dengan membawa warna-warni ceria. Mereka berdua sama-sama tidak menyadari, betapa mereka akan membawa perubahan besar ke dalam hidupnya satu sama lain.


Louisa Clark (Lou) adalah gadis berusia 26 tahun dengan kehidupannya yang datar-datar saja. Mempunyai selera pakaian yang nyentrik. Sebagai anak sulung, dia menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya kena PHK, kesibukan ibunya sebagai ibu rumah tangga yang juga merawat ayahnya, atau kakek Lou, sedangkan adiknya, Katrina, yang merupakan orang tercerdas dalam keluarga, mempunyai anak di luar nikah, dan mempunyai pekerjaan yang biasa-biasa saja  sehingga tidak cukup untuk menopang kehidupan keluarga besar mereka. Keluarga mereka resah ketika Lou keluar dari pekerjaannya di The Buttered Bun karena kedai itu sudah ditutup oleh pemiliknya.  Lou akhirnya mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi sebagai perawat penderita quadriplegia.

Lou kira akan merawan seorang kakek-kakek, tapi ternyata pasien penderita quadriplegia tersebut adalah laki-laki muda berusia 35 tahun bernama Will Traynor.

Mr. traynor mengalami cedera tulang belakang dalam kecelakaan lalu lintas pada tahun 2007 dan telah didiagnosis sebagai penderita quadriplegia C5/6 dengan kemampuan gerak sangat terbatas, di satu lengan saja, dan membutuhkan perawatan 24 jam. (hal 632)

Sebelum kecelakaan tersebut, Will adalah sosok pemuda yang sukses, ambisius, petualang, dan penuh semangat, sangat berkebalikan dengan Lou.

Sebagai penderita quadriplegia yang hidupnya harus selalu bergantung pada bantuan orang lain, dia merasa sangat putus asa dan tidak berguna.

Aku ingin bersimpati padanya. Sungguh. Menurutku dia orang paling sedih yang pernah kukenal, apalagi waktu aku tak sengaja melihatnya sedang menerawang ke luar jendela. Hari demi hari aku menyadari bahwa dia bukan sekedar terkungkung di kursi roda itu, atau tak bisa bergerak bebas lagi; dia juga mesti menanggung serentetan ketergantungan dan masalah kesehatan yang tak ada habisnya, belum lagi berbagai risiko dan ketidaknyamanan. Kuputuskan seandainya aku Will, barangkali aku akan merasa cukup menderita juga. (hal 81)

Di awal-awal bekerja di rumah Will, Lou mendapati sikap Will yang sangat menyebalkan, kasar, dan sinis.

“Yah, mungkin dia memang seperti itu pada semua orang baru, sampai dia tahu apakah kau tahan menghadapinya. Aku yakin sudah banyak perawat yang berkeja di situ. (Hal 75)

Saat Lou menyelipkan potongan wortel di makanan Will. Komental kasar Will, “kutegaskan ya. Kaupikir satu sendok teh wortel bisa memperbaiki kualitas hidupku. (hal 109).

Saat Lou membersihkan figura-figura yang dipecahkan Will.

“Kaupikir kau yang paling tahu. Semua orang mengira mereka tahu apa yang kubutuhkan. Semua orang mengira mereka tahu apa yang kubutuhkan. ‘Ayo kita perbaiki foto ini. Supaya si cacat yang malang itu bisa melihat-lihatnya’. Aku tidak mau foto-foto sialan itu menatapku setiap kali aku tidak bisa bangun dari tempat tidurku sampai seseorang datang dan membantuku bangun lagi. Oke? Kira-kira otakmu bisa memahami itu tidak”. (Hal 102)

Karena setiap hari bersama, kemudian Lou sudah kebal dengan semua kekasaran Will. Lou memaklumi sifat kasar Will disebabkan oleh rasa putus asa, tak berdaya, dan rasa tak berguna. Lou juga tahu mengatasi sifat Will.

Sekarang aku sudah tahu celahnya. Kalau kau ingin Will melakukan sesuatu, bilang padanya kau tahu bahwa dia pasti tidak mau melakukannya. Sebagian dirinya yang keras kepala dan kontradiktif pasti tidak tahan. (hal 297)

Hubungan mereka semakin hari semakin baik. Gaya berpakaian Lou yang sangat mencolok, membuat Will tidak bisa untuk tidak berkomentar.

“Norak menurutmu, mungkin, tapi asal kau tau, Will Traynor, tidak semua cewek berdandan hanya untuk menyenangkan laki-laki”. (hal 146)

“Tahu tidak, gaya berpakaianmu tidak seperti orang lokal. Aku selalu penasaran, kombinasi edan apa lagi yang akan kau pakai berikutnya”. (hal 164)

Disamping sifatnya yang kasar, Will juga sangat ­bossy. Will meminta Lou menonton film bersamanya, tapi Lou menolak karena film itu bersubtitle. Will kaget karena Lou bilang tidak pernah menonton film bersubtitle.

Ketika Will yang masa mudanya penuh kegemilangan menanyakan apa impian Lou, lagi-lagi dia kaget atas jawaban Lou.

“Entah ya. Aku belum pernah serius memikirkannya.” (hal 117)

“Kau sudah 26 tahun, Clark. Mestinya kau melihat dunia, menaklukkannya, bikin masalah di bar-bar, memamerkan pakaianmu yang nyentrik pada lelaki-lelaki tidak jelas…”

“Aku bahagia di sini,” kataku.

“Nah, mestinya tidak.”

“Kau suka sekali menyuruh-nyuruh orang melakukan ini-itu, ya?”

“Hanya kalau aku yakin bahwa aku benar.” (hal 166)

Will merasa senang dan sangat nyaman dengan kehadiran Lou. Satu-satunya orang yang bisa dia ajak bicara dengan normal setelah kecelakaan tersebut. Will bisa something special pada diri Lou yang orang lain bahkan Lou sendiri tidak menyadarinya.  Will selalu mendorong Lou untuk keluar dari zona nyamannya. ‘Selalu bermain aman’, begitu istilah Will jika Lou tidak mau melakukan hal-hal baru. Walaupun dirinya sakit, Will selalu memberikan rasa optimis pada Lou.

“Kau membatasi dirimu dari segala macam pengalaman karena kau meyakini bahwa kau bukan orang semacam itu.”

“Tapi aku memang bukan orang semacam itu”.

“Bagaimana kau tahu? Kau belum pernah melakukan apa-apa, belum pernah pergi ke mana-mana. Bagaimana kau punya bayangan sedikit pun, orang seperti apa dirimu?” (hal 273)

“Kau harus pergi dari sini, Clark. Berjanjilah padaku, kau tidak akan menghabiskan sisa hidupmu di kota kecil yang luasnya hanya setatakan piring ini”. (hal 335).

“Kau hanya hidup satu kali. Sudah kewajibanmu untuk menjalani hidupmu sepenuh-penuhnya”. (hal 335)

Jika Lou adalah orang yang tidak berpikiran panjang, tidak tahu apa yang dia inginkan dalam hidupnya sendiri, berbeda dengan Will yang penuh perhitungan, tahu bagaimana caranya bahagia, dan memikirkan masak-masak terhadap semuan tindakannya.

“Dan aku mencoba belajar bahasa-bahasa baru untuk tempat-tempat yang mungkin kudatangi suatu hari nanti. Dan aku akan mengunjungi teman-temanku—atau orang yang kupikir teman-temanku.” (hal 351)

“Aku mencari tahu, apa yang akan membuatku bahagia, dan setelah tahu apa yang ingin aku lakukan, aku melatih diriku untuk melakukan perkerjaan yang akan mewujudkan kedua hal tersebut.” (hal 352)

“Aku Cuma ingin bilang bahwa di luar sana masih terbentang dunia yang sagat luas.” (hal  353)

“Apa yang kau minati?”, Mery bertanya padaku

“Dia tidak tahu”, Will menyahut. Louisa ini salah atu orang paling pandai yang kukenal, tapi aku tidak bisa membuk matanya terhadap bakat-bakatnya sendiri”. (hal 460)

Ya, Will sangat tahu apa yang dia inginkan, termasuk niatnya untuk pergi ke Dignitas di Swiss. Keuarganya mati-matian melarangnya. Dignitas sendiri adalah sebuah lembaga yang membantu orang-orang untuk mengakhiri hidupnya dengan suka rela.

Selama ini Will berkali-kali berusaha untuk bunuh diri, namun selalu berhasil diselamatkan. Akhirnya Will mengutarakan keinginannya pada keluarga untuk benar-benar mengakhiri hidupnya di Dignitas. Tentu saja hal ini ditentang oleh keluarga, tapi Will tetap bersikukuh hingga akhirnya orangtuanya mengiyakan dengan alasan-alasan yang Will sampaikan. Bahwa Will tidak sanggup hidup dengan menjadi beban orang lain. Will dan keluarga sepakat niat Will akan dilakukan 6 bulan kemudian.

Ketika Lou mengetahui bahwa dirinya seolah dipekerjakan untuk membantu Will mengakhiri hidupnya, Lou marah dan berhenti dari pekerjaannya. Lou menganggap keluarga Will sangat jahat dengan menyetujui anaknya bunuh diri.

Keluarga Will melihat bahwa Will berubah sejak bertemu Lou. Will menjadi lebih sering tertawa, dia bisa terbuka pada Lou yang bahkan kepada keluarganya sendiri tidak. Oleh karena itu, keluarganya berharap agar Lou bisa merubah keputusan Will. Dengan kehadiran Lou yang ceria, dan keluarganya yakin Will menyukai Lou, mereka berharap Will membatalkan niatnya ke Dignitas. Ibu Will meminta Lou untuk kembali bekerja di rumah Will. Dan misi mereka adalah, membuat Will merubah keputusannya.

“Kalau ada orang yang mencintainya, dia akan merasa lebih kuat untuk meneruskan hidup.” (hal 362)

“Kadang-kadang, Clark, bisa dikatakan hanya kau yang membuatku masih mau bangun di pagi hari.” (hal 470)

“Kau, Clark,” Will menunduk memandang kedua tangannya. “Kau satu-satunya orang yang bisa kuajak biacara sejak aku berada di kursi roda sialan ini.”

Sanggupkanh Lou merubah keputusan Will yang keras kepala?

“Aku tidak ingin kau terikat padaku, pada jadwal-jadwal ke rumah sakit. Keterbatasa-keterbasan hidupku. Aku tidak ingin kau melewatkan semua yang bisa diberikan seeorang lain pada dirimu. Dan, egoisnya, aku tidak ingin suatu hari kau menatapku dan merasakan  penyesalan sekecil apa pun, atau rasa iba karena….” (hal 570)

Lou pada Will

“Aku tidak pernah bosan memandang ke dalam matanya.” (hal 569)

PoV di novel ini menggunakan aku sebagai orang serba tahu. Selain PoV Lou, ada sedikit bagian yang menggunakan PoV ibu Will, Katrina, dan Will di awal sebelum kecelakaan. Aku berharap sih menemukan PoV Will setelah kenal dengan Lou. Pengen tahu kedalaman perasaan Will, perubahan Will setelah kenal dengan Lou langsung dari sudut pandang Will.

Hal paling so sweet yaitu saat Will diam-diam berkerja sama dengan ayahnya untuk mempekerjakan ayah Lou di kastel setalah diPHK. Alasan Will adalah agar Lou bebas mengejar mimpi-mimpinya tanpa memikirkan ekonomi keluarga di belakang.

“….suatu hari nanti kau bisa mengembangkan sayapmu, tanpa harus memikirkan bagaimana orangtuamu bisa menghidupi diri mereka”. (hal 397)

Setalah baca novel ini aku searching tentang Dignitas. Lembaga Dignitas ini didirikan di Swiss tahun 1998. Dan setiap tahunnya semakin banyak orang yang melakukan bunuh diri di sana. Biasanya pelaku bunuh suka rela ini adalah orang dengan kasus mirip Will, lumpuh, cacat, dengan kumungkinan sembuh saaaangat kecil. Biaya bunuh diri di Dignitas ternyata mahal, sekitaran 80 juta. Uhuks. Pasien bisa melakukan bunuh diri dengan minum racun atau menghirup gas

Sebenanya novel ini ada sequelnya, Me After You (Setelah mengenalmu). Tapi aku gak terburu-buru membelinya karena asalan utamanya adalah……… Gak bisa aku sebutkan karena bakalan spoiler bagi yang belum baca. Hehe…

Quote Me Before You (Sebelum Mengenalmu)

  • Aku benar-benar kepingin menggunakan otakku lagi. Otakku rasanya beku bekerja di toko bunga itu. Aku ingin belajar. Aku ingin menambah ilmu. Dan aku sudah muak karena kedua tanganku selalu kedinginan bukan main terkena air itu. (hal 76)
  • Tapi kalau kita mencintai seseorang, tentunya sudah kewajiban kita  untuk terus mendapinginya, bukan? Untuk membantunya melewati masa-masa depresi? Dala sakit dan sehat, dan sebagainya?. (hal 97)
  • Aku perlu menyampaikan padanya, tanpa kata-kata, bahwa segala sesuatu  bisa berubah, tumbuh atau mati, namun hidup harus terus berlanjut. (hal 184)

Informasi Buku

Judul: Me Before You (Sebelum Mengenalmu)

Penulis: Jojo Moyes

Alih bahasa: Tanti Lesmana

Desain Sampul: Edward Iwang Mangopang

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit: cetakan I, 2013. Cetakan IV, Oktober 2016

Tebal: 656 halaman

ISBN: 978-602-03-3246-8

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s