[Review] Looking for Alaska

looking-for-alaska

Before.

Miles “Pudge” Halter’s whole existence has been one big non event, and his obsession with famous last words has only made him crave the “Great Perhaps” (François Rabelais, poet) even more. He heads off to the sometimes crazy, possibly unstable, and anything-but-boring world of Culver Creek Boarding School, and his life becomes the opposite of safe. Because down the hall is Alaska Young. The gorgeous, clever, funny, sexy, self-destructive, screwed-up, and utterly fascinating Alaska Young, who is an event unto herself. She pulls Pudge into her world, launches him into the Great Perhaps, and steals his heart.

After. Nothing is ever the same

Di novel John Green kali ini karakter seperti apakah yang akan pembaca temui??? Soalnya, setiap karakter dalam novel John Green selalu unique.

Miles Halter, remaja SMA yang memilih pindah ke sekolah asrama Culver Creek di Alabama, aslinya dia dari Florida. Keunikan dari Miles yaitu, dia suka membaca biografi tokoh dan menghafal kata-kata terakhir meraka. Kamu bisa menanyakan kata terakhir presiden Amerika yang mana pun ke dia, penulis-penulis terkenal, tokoh politik dan lain-lain. Kalau sebelumnya di An Abundance of Katherine, si tokoh utama, Colin Singleton terobsesi untuk menemukan ‘Eureka’ moment, di sini, Miles terobsesi untuk menemukan ‘Great Perhaps’ . Miles adalah remaja baik-baik, tidak merokok, no minuman keras, dan seperti Colin, dia juga anti social. Di Culver Creek dia mendapat julukan Pudge.

Chip Martin, merupakan teman sekamar Miles di Culver Creek. He is smart, dan dia jago dalam menghafal. Kalau stress dia melampiaskannya dengan menghafal sesuatu, misalkan menghafal populasi berbagai Negara. Kereeen kan???? Kalau Cuma ibu kota dari berbagai negera di dunia mah lewat. Chip mendapat julukan The Colonel.

Alaska Young, The gorgeous, clever, funny, sexy, self-destructive, screwed-up, and utterly fascinating. Colonel yang memperkenalkan Pudge dengan Alaska. Saat pertama kali Pudge memasuki kamar Alaska, dia takjub dengan banyaknya buku yang berjejer di kamar Alaska.

Have you really read all those books in your room?”, Pudge bertanya suatu malam.

She laughed. “Oh God no. I’ve maybe read a third of ’em. But I’m going to read them all. I call it my Life’s Library. Every summer since I was little, I’ve gone to garage sales and bought all the books that looked interesting. So I always have something to read. But there is so much to do: cigarettes to smoke, sex to have, swings to swing on. I’ll have more time for reading when I’m old and boring.”

Takumi. Siswa asal jepang, dan merupakan teman dari Colonel dan Alaska.

Jika di sekolah sebelumnya Pudge tidak mempunyai teman, di Culver Creek dia kemudian mempunyai teman-teman yang hebat, yaitu Colonel, Alaska, dan Takumi. Colonel dan Alaska memperkenalkan Pudge pada rokok dan minuman keras, pelanggaran berat jika sampai ketahuan pihak asrama. Tapi Colonel dan Alaska adalah remaja bandel yang hobi melakukan pelanggaran. Takumi dan Pudge kemudian ikut-ikutan.

Bisa dibilang, Colonel dan Alaska adalah otak criminal. Mereka suka berbuat jahil, berbuat kekacauan di sekolah, mengerjai teman, dan guru. Watak Alaska di sini sekilas mengingatkanku pada tokoh di novel John Green Paper Town, yaitu Margo Roth Spiegelman, yang juga suka berbuat jahil, menyusun aksi balas dendam.

Spoiler alert ke bawahnya….

Aku kira novel ini merupakan road-trip para tokohnya menuju tempat yang bernama Alaska, seperti Paper Town dan An Abundance of Katherine di mana tokoh-tokohnya juga melakukan road-trip ke suatu tempat. Ternyata Alaska adalah nama orang, dan yang mereka cari bukan tempat bernama Alaska tetapi misteri kematian Alaska.

Aku benar-benar gak nyangka jalan ceritanya bakalan seperti ini. Ada before dan after, ternyata maksudnya yaitu sebelum dan sesudah kematian Alaska. Aku sedih, kaget, ketika tokoh utama ceweknya harus meninggal. Tapi disitulah petualangan Pudge, Colonel, Takumi dan Lara dimulai. Mereka mencari misteri kematian Alaska, apakah kecelakaan atau bunuh diri? Kejadian demi kejadian dalam menguak kematian Alaska memberi mereka banyak hikmah.’

But we knew what could be found out, and in finding it out, she had made us closer—the Colonel and Takumi and me, anyway. And that was it. She didn’t leave me enough to discover her, but she left me enough to rediscover the Great Perhaps.

Benaran gak bisa ditebak alur novel ini. Penuh kejutan. Kalau dari awal seolah Pudge dan Colonel yang paling tahu tentang kejadian sebelum Alaska meninggal, seolah Takumi perannya kurang. Eh, di akhir pembaca diberi kejutan oleh Takumi.

Seperti novel-novel John Green yang aku baca sebelumnya, kisah persahabatan para tokohnya begitu manis. Oke, mereka suka berbuat onar, mereka juga bisa bertengkar, saling kesal, kemudian baikan lagi, menyadari kesalahan masing-masing. Normal, alami dan manis menurutku, banyak hal-hal yang menggelikan juga sih. misalkan saat Pudge dan Takumi yang bertengkar di kamar mandi, malah basah-basahan berdua, pas ketahuan Colonel, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sudah melakukan sesuatu, gak jadi deh mereka marahannya. Colonel malah menyarankan agar mereka menempelkan tulisan di pintu kamar mandi kalau emang butuh privasi lebih. Atau saat Colonel mengajak Pudge mengamankan barang-barang Alaska sebelum pihak sekolah yang membereskan, Pudge gak mau membantu Colonel dan malah sibuk main game, tapi akhirnya Pudge berangkat menyusul Colonel. Colonel masih di luar kamar Alaska, dan tersenyum melihat Pudge datang. Colonel memang menunggu Pudge, karena dia tahu Pudge gak akan membiarkan Colonel bekerja sendirian.

Saat memasuki kamar Alaska, pudge melihat buku-bukunya.

God. These books she’ll never read. Her life’s library”.

Dan dari semua itu, tentu saja aku acungkan jempol buat penulisnya, bagaimana dia menciptakan cerita yang penuh filosofis, perjalanan menemukan jati diri para tokoh-tokohnya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s