[Review] Milea: Suara dari Dilan

Milea: Suara dari DilanAkhirnya yang ditunggu-tunggu terbit juga. Kali ini Pidi Baiq akan menceritakan kisah Dilan-Milea melalui sudut pandang Dilan. Di sini, Dilan lebih banyak menegaskan kisah Milea di buku keduanya. Jadi, pembaca akan tahu bagaimana perasaan bahagia Dilan saat bersama Milea, perasaan saat Milea yang katanya mengekang Dilan, saat mereka putus, saat mereka ketemu di pemakaman ayah Dilan dan saat itu Dilan dengan seorang cewek, dan juga perasaan Dilan saat ketemu Milea di Jakarta yang saat itu Milea bareng mas Herdi. So, pembaca jadi tahu gak cuma Milea saja yang merindukan Dilan tapi Dilan pun sangat merindukan Milea, banyak hal yang ingin mereka bicarakan dan tanyakan ketika bertemu lagi setelah sekian lama.

Selama mereka putus yang ada hanyalah prasangka menguasai otak. Dibalik sikap Dilan yang selalu tenang dan kelihatannya selalu mengalah untuk Milea, kita akan tahu melalui buku ini bahwa Dilan juga egois. Dia gengsi mengakui perasaanya yang masih suka untuk Milea, dan agak kesel juga aku ke Dilan karena dia kurang usahanya untuk mempertahankan hubungannya dengan Milea. Yaah,,,, bagaimana pun kata Dilan, dia cuma remaja SMA yang lebih mudah untuk tersulut emosinya ketimbang menjadi baijaksana.Buku ini beneran bikin nyessek. Cerita masa-masa bahagianya dikit. Cerita di awal isinya kebanyakan menjelaskan masa-masa saat mereka bertengkar kemudian putus. Ke belakangnya, ceritanya makin bikin nyessek, masa-masa saat mereka bisa bicara lagi dan mengklarifikasi kesalahpahaman masa lalu.

Gak karuan mah perasaanku setelah baca ini. Pidi Baiq tulisannya memang selalu mengaduk-ngaduk perasaan (kayak adonan kue. hehe…). Tapi ya kesel sendiri dengan ending dimana karakter utama cowok gak jadi dengan karakter utama cewek, karena aku pembaca baperan, ending sebuah cerita itu berpengaruh selama beberapa waktu dalam kehidupanku. Dan pengaruh buku ini apa? Serasa melukai hati. #tsaaah….

Tapi yawudahlah…gak jodoh Dilan sama Milea. Kalau uda jodoh sih gak bakal kemana. Kayak Mr. Darcy dan Elizabeth Bennet yang dari awal hubungannya penuh prasangka parah. hehe…..

“Dan sekarang, yang tetap dalam diriku adalah kenangan, di sanalah kamu berada”. (Dilan_hal 357)

Dilan mah, tetap menyenangkan, tapi dia lebih menyenangkan ketika diceritakan dari sudut pandang Milea menurutku. Kalau di urut berdasarkan favoritku terhadap buku Pidi Baiq, maka di urutan pertama tetap Dilan 1, dan buku ketiga ini di urutan terakhir.

Mengenai pangaruh ending novel dalam kehidupanku. Sebuah buku yang bagus tentu akan menimbulkan kesan mendalam di hati dan pikiran pembaca. Dan buku ini tentu termasuk salah satu buku yang bagus karena berhasil meninggalkan kesan dan mengaduk-ngaduk perasaanku. Soalnya ada buku yang ketika selesai aku membacanya aku gak pengen bahas lagi, ditaruh begitu saja, danΒ  malas bikin reviewnya.

Sebelumnya aku baca Winter: The Lunar Chrocicles #4 Β yang endingnya bikin hatiku berflower-flower, dan setelah baca buku ini sepertinya aku butuh novel penawar dengan happy ending.Β 

Informasi buku:

Judul: Milea: Suara dari Dilan

Series: Dilan #3

Penulis: Bidi Baiq

Tebal: 360 hal

Penerbit: Pastel Books

Terbit: 31 agustus 2016. Cetakan II, 2016

ISBN13: 9786020851563

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s