[Review] An Abundance of Katherine

katherine-john-green

Katherine V thought boys were gross
Katherine X just wanted to be friends
Katherine XVIII dumped him in an e-mail
K-19 broke his heart
When it comes to relationships, Colin Singleton’s type happens to be girls named Katherine. And when it comes to girls named Katherine, Colin is always getting dumped. Nineteen times, to be exact.
On a road trip miles from home, this anagram-happy, washed-up child prodigy has ten thousand dollars in his pocket, a bloodthirsty feral hog on his trail, and an overweight, Judge Judy-loving best friend riding shotgun–but no Katherines. Colin is on a mission to prove The Theorem of Underlying Katherine Predictability, which he hopes will predict the future of any relationship, avenge Dumpees everywhere, and finally win him the girl. Love, friendship, and a dead Austro-Hungarian archduke add up to surprising and heart-changing conclusions in this ingeniously layered comic novel about reinventing oneself.


Aku kira Colin ini diputusin oleh Katherine yang sama sampai 19 kali, hubungan putus-nyambung-putus, ternyata 19 kali itu adalah Katherine yang berbeda. Yup, begitulah nasib Colin Singleton, 19 kali pacaran dengan cewek bernama Katherine, selalu bernama Katherine, dan dia selalu menjadi pihak yang diputusin atau dicampakkan.

Bersama sahabatnya Hassan, Colin yang baru lulus SMA melakukan road-trip untuk melupakan Katherine, dan untuk menemukan formula sebuah hubungan di masa depan dengan rumus matematika.

Perjalanan mereka berakhir di Gutshot, Tennessee. Tujuan awal mereka ke sana untuk melihat makam Archduke Franz Ferdinand. Di sana, mereka bertemu dengan Lindsey Lee Well (17 tahun) dan bekerja pada Hollis, ibu Lindsey, si pemilik pabrik tali tampon.

Bagaimana petualangan Colin dan Hasan di Gutshot? Dan bagaimana Colin meramalkan masa dengan sebuah hubungan dengan rumus matematika?

Ini ketiga kalinya baca karya John Green, selalu menarik, dan selalu suka. apa ya? Menurutku isi novel John Green itu komplit. Penuh filosofi, persahabatan, lucu juga iya, gak garing, gak bikin bosen, dan bikin penasaran tentunya. Yang paling suka yaitu kisah persahabatan tokoh-tokohnya.

Di sini, Colin yang seorang Yahudi bersahabat dengan Hassan yang seorang muslim. Jika Colin adalah orang yang gila belajar. Yup, he is child prodigy, child prodigy is not genius one. Colin boleh disebut smarty-pants (orang yang sok serba tau), maka Hassan boleh disebut funny-pants.

Satu lagi, karakter tokoh-tokohnya sangat kuat.

Colin ini bisa sebelas bahasa, dan sangat bagus dalam pelajaran. Suka anagram (apa pun bisa dia anagramkan dengan cepat). Kekurangannya? Susah bergaul. Buktinya, dia selalu diputusin. Cewek-cewek itu awalnya suka sama Colin karena kagum. Tapi pas kenal, ada yang bilang males pacaran dengan Colin yang lebih peduli sama buku-bukunya. Sahabatnya ya cuma Hassan.

Seperti apa child prodigy/anak ajaib itu?

The biggest study of highly gifted children ever undertaken was the brain-child (as it were) of one Lewis Terman, a psychologist in California. With the help of teachers around the state, Terman chose some seven thousand gifted children, who have now been followed for almost sixty years. Not all the kids were prodigies, of course—their IQs ranged from 145 to 190, and Colin, by comparison, had an IQ that sometimes measured above 200—but they represented many of the best and brightest children of that generation of Americans. The results were somewhat startling: the highly gifted kids in the study weren’t much more likely to become prominent intellectuals than normal kids. Most of the children in the study became successful enough—bankers and doctors and lawyers and college professors—but almost none of them turned out to be real geniuses, and there was little correlation between a really high IQ and making a significant contribution to the world. Terman’s gifted children, in short, rarely ended up being as special as they initially promised to be.

Take, for instance, the curious case of George Hodel. With one of the highest IQs in the study, one might have expected Hodel to discover the structure of DNA or something. Instead, he was a fairly successful doctor in California who later lived in Asia. He never became a genius, but Hodel did manage to become infamous: he was quite probably a serial killer. So much for the benefits of prodigy.

Walaupun child prodigy bukan genius, tapi enak yaa punya otak kayak Colin ini, kapasitas memorinya besar, bisa nampung banyak pengetahuan, dan mudah menyerapnya. Sadar anaknya punya kemampuan ini, ortu Colin benar-benar mengarahkan dan mensupport kebutuhannya. Kalau liburan dia diikutkan kegiatan ini itu, disuruh belajar bahasa baru.

Kata Colin sih, kemampuannya gak dia peroleh dengan mudah, dia juga berusaha keras, Colin juga gak pernah bosan belajar kayaknya.

“I’ve worked at least ten hours a day, every day, since I was three”

Bukan bermaksud membandingkan, cuma mau menyampaikan unek-unek di pikiran aja. Saat baca Hujannya Tere Liye aku gak merasakan emosi persahabatan Lail dan Maryam. Maryam seolah cuma penyampai berbagai quote dan penghibur, orang yang selalu mengerti Lail. Tapi di karya-karya John Green yang aku baca, peran sahabat bukan seorang yang selalu mengerti karakter utama. Ada konflik yang berperan kuat terhadap jalannya cerita, hal-hal yang sangat bisa kita temui di dunia nyata.

“But I do think you’re a genius. No shit. I honestly do. I think you can do whatever the fug you want to do in your life, and that’s a pretty sweet gig”

Karena aku bacanya versi inggrisnya di sini, jadi kata Fug, fugger, dan fuging itu diterjemahin jadi apa ya??

Eneiwei, tiga novel John Green yang sudah aku baca ini semuanya berhubungan dengan perjalanan. Di paper town, Quentin yang mencari Margo hingga melakukan perjalan jauh, di TFiOS, Hazel dan Augustus ke Belanda untuk menemui seorang penulis. Dan begitu pun di novel ini.

Bagian paling favorit adalah saat Lindsey mengajak Colin ke tempat persembunyiannya, sesuatu yang tidak pernah Lindsey lakukan ke pacarnya sendiri.

Quote

Because you can never love people as much as you can miss them.

Books are the ultimate dumpees: put them down and they’ll wait for you forever. Pay attention to them and they always love you back.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s