[Review] Let Go by Windhy Puspitadewi

img_20160919_084228.jpg

Kau tahu apa artinya kehilangan? Yakinlah, kau tak akan pernah benar-benar tahu sampai kau sendiri mengalaminya.

Raka tidak pernah peduli pendapat orang lain, selama ia merasa benar, dia akan melakukannya. Hingga, suatu hari, mau tidak mau, ia harus berteman dengan Nathan, Nadya, dan Sarah. Tiga orang dengan sifat yang berbeda, yang terpaksa bersama untuk mengurus mading sekolah.

Nathan, si pintar yang selalu bersika sinis. Nadya, ketua kelas yang tak pernah meminta bantuan orang lain, dan sarah, cewek pemalu yang membuat Raka selalu ingin membantunya.

Lagi-lagi, Raka terjebak dalam urusan orang lain, yang membuatnya belajar banyak tentang sesuatu yang selama ini ia takuti, kehilangan.


Sekarang kita bahas karakter pemainnya satu-satu lebih dalam

Caraka, biasa dipanggil Raka. Berperawakan kasar tapi berhati Hello Kitty, lebih suka menggunakan otot daripada otak, langsung bertindak tanpa mikir dulu, tidak suka pelajaran berhitung, sangat menyukai pelajaran sejarah, dan bercita-cita menjadi sutradara. Sering terlibat dalam urusan orang lain, baik sama semua orang dan kebaikannya bisa membuat cewek-cewek salah sangka.

Nadya, si ketua kelas yang jago judo, pintar, aktif di berbagai kegiatan, dan egois karena pengen mengerjakan semua hal sendiri.

“Ternyata, aku nggak sehebat yang kupikir,” katanya lirih. “Ternyata, aku lemah. Mengerjakan hal-hal sepele aja aku nggak bisa…. bodoh banget kalau aku ingin mengerjakan hal-hal yang hebat. Bodoh banget kalau aku ingin diakui sebagai orang hebat.”

Caraka menghela napas. “ Kamu nggak lemah,” katanya,lalu tersenyum. “Kamu cuma lupa minta tolong.” (hal 83).

Sarah, si cewek pemalu, gak bisa bilang tidak jika diminta bantuan, dan sering dimanfaatkan orang lain karena kebaikannya. Misalnya kalau ada tugas kelompok, teman-temannya lepas tangan dan menyerahkannya pada Sarah. Dan yang paling parah yaitu saat Sarah akan ikut lomba Esai tentang lingkungan hidup. Dia mau-mau aja membatalkan keikutsertaannya gara-gara kakak kelasnya menyuruhnya jangan ikut, dengan mengatakan bahwa Sarah masih punya banyak kesempatan tahun-tahun selanjutnya.

“Aku ini bodoh, ya?” Tanya Sarah, sambil menunduk. “Aku tahu aku dimanfaatin, tapi aku nggak bisa nolak.”

Caraka mendesah, lalu menggaruh-garuk kepala, bingung harus mengatakan apa.

“Nggak,” jawabnya akhirnya. “Kamu nggak bodoh. Kamu cuma terlalu baik.” (hal 23).

Nathan. Selain Nadya, Nathan juga merupakan salah satu murid terpandai di kelas. Antisosial, jutek dan sinis. Selain pintar, Nathan tampan dan kaya, membuatnya disukai banyak cewek. Dia sering ditembak cewek dan selalu menolaknya dengan cara yang kejam.

Walaupun sama-sama pengurus mading sekolah, keempatnya sama sekali tidak akrab. Raka baru mulai akrab dengan Nadya setelah keduanya ketemu di rental VCD, hendak meminjam VCD yang sama. Keduanya sangat nyambung kalau bicara soal film. Mulai akrab dengan Sarah saat menemukan tulisan Sarah tentang Lingkungan Hidup dan mensupportnya untuk diikutkan lomba esai. Mulai akrab dengan Nathan saat keduanya dipasangkan dalam 1 kelompok.

Kisah bromance Raka-Nathan ini sweet banget. Aku sampai mikir apa Nathan ini gay? Atau sebaiknya penulis menjadikan Nathan tokoh cewek aja? Namanya diganti Nathalia. Haha…  juteknya Nathan ini minta ampun deh. Dan hubungan Nathan-Raka kayak benci jadi cinta. Setelah Raka yang ikut campur urusan Nathan, sekarang giliran Nathan yang ikut campur urusan Raka. Nathan membantu Raka dalam urusan cinta, menyadarkan Raka untuk menerima kehilangan, dan lain-lain yang gak mau aku sebutkan biar gak spoiler. Sebutulya kalau dipikir-pikir lagi biasa aja sih hubungan cewek ke cewek dam cowok ke cowok gitu, aku juga memiliki sahabat-sahabat yang care banget. Tapi pas baca cerita ini kok kayak lebih pas hubungan Raka-Nathan itu cowok sama cewek ya? atau cuma aku yang berpikiran kayak gitu?

Raka dimarahin  dan dikatakan bodoh oleh guru matematikanya karena tertidur saat jam pelajaran tersebut, PRnya juga banyak yang salah. Nathan yang membelanya di kelas hingga Raka dan Nathan dihukum mengerjakan soal matematika.

“Orang yang baca buku banyak kayak kamu dan menguasai sejarah gak mungkin bodoh. Kamu cuma sial  karena hidup di tempat dan waktu yang salah. Tempat dan waktu ketika kamu dianggap bodoh kalau kamu nggak pintar dalam hal yang namanya sains”. (Hal 161).

Setuju banget sama ucapan Nathan di atas. Gak semua orang harus pintar Matematika kan?

Raka bertanya kenapa Nathan membelanya?.

“Jangan ge-er,” kata Nathan dingin. “Aku nggak lagi membelamu.”

“Tapi, tadi, kamu bilang kamu keberatan dengan kata-kata pak Anung yang nyebut aku bodoh!”

“Kamu kenapa, sih? Kamu pengin banget, ya, aku membelamu?” Tanya Nathan

DEG! Jantung Caraka berhenti berdegup. (hal 161).

Yang aneh itu menurutku kenapa bu Ratna yang merupakan wali kelas kelas X bisa langsung tahu karakter murid-muridnya? Mereka kan siswa baru? Jadi, dia punya alasan kenapa mading dikelola oleh 4 orang tersebut, dia juga punya alasan kenapa milih Nadya sebagai ketua kelas. Oke, aku juga guru dan wali kelas kelas VII, aku baru kenal dengan murid-murid baruku. Ketika pemilihan ketua kelas, aku lakukan secara demokratis. Ya mana tahu sih aku si A itu orangnya gini, si B gitu. Apalagi bu Ratna ini sampek tahu latar belakarang keluarga muridnya? Please, i need explanation kenapa bu Ratna tau masa lalu dan trauma ibunya Raka padahal Raka sendiri gak tau.

Terlepas dari itu, buku ini asyik buat dinikmati.

Thanks buat Chalyda Ulfa yang uda ngasih buku ini. Perkenalanku dengan Chalyda dimulai dari komentarnya di review Relasivitas. Katanya dia suka sama buku itu tapi nyarinya susah, uda gak terbit lagi. Ya buku itu sendiri aku belinya tahun 2009, karena aku suka sama ceritanya, aku baca lagi dan aku posting di blog. Dan baru-baru ini Chalyda ini kirim pesan  IGku, masih membahas Relasivitas. Singkat cerita, kita deal tukeran buku. Dia mau ngasih buku Windhy Puspitadewi, kata Chalyda sih bukunya Windhy bagus, dia nanya apakah aku pernah baca bukunya Windhy dan aku bilang belum. Ternyata setelah aku browsing karya-karya Windhi, aku pernah baca bukuna Windhi yang Touché, cuma aku lupa saja itu penulisnya siapa. Maaf ya mbak Windhy.

“Manusia memang lebih berani menghadapi apa pun demi orang yang disayangina”. (Hal 227)

Informasi Buku

Judul: Let Go

Penulis: Windhy Puspitadewi

Editor: Widyawati Oktavia

Penerbit: Gagas Media

Terbit: cetakan pertama, 2009. Cetakan kesembian, 2013

Tebal: viii + 244 hlm

ISBN: 979-780-382-1

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s