[Review] Hujan by Tere Liye

Hujan Tere Liye

Tentang Persahabatan

Tentang Cinta

Tentang Perpisahan

Tentang Hujan

Tentang Melupakan

Novel ini mengambil setting waktu masa depan, tahun 2042-2050. Saat itu teknologi sudah sangat maju, tapi sayangnya, bumi dilanda suatu masalah, yaitu overpopulasi.

Mengenai overpopulasi, jadi inget Infernonya Dan Brown yang mengangkat tema yang sama. Jika di Inferno ada seorang ilmuan yang menciptakan virus untuk mengatasi overpopulasi, di sini terjadi letusan gunung berapai berskala 8 VEI yang menyisakan sepuluh persen penduduk bumi.

“Alam menjaga keseimbangannya dengan caranya sendiri” (hal 33)

Dan kisah ini, terlepas dari kecamuk gunung meletus skala 8 VEI, sejatinya adalah tentag mereka, Lail dan Esok.

Lail, gadis kecil berusia 13 tahun, yang menjadi yatim piatu sejak peristiwa tersebut.

Esok, lelaki berusia 15 tahun yang menolong Lail saat peristiwa dahsyat itu terjadi, kehilangan 4 kakakknya,sedangkan ibunya hidup tanpa kaki sehingga harus selalu menggunakan kursi roda karena tertimpa bangunan. Sedangkan ayah Esok sudah lama meninggal.

“Dalam kehidupan Lail, hal-hal penting selalu terjadi saat hujan” (hal 37)

Waktu cepat berlalu, selama 1 tahun Lail dan Esok tinggal di pengungsian, dan infrastruktur kota mengalami pertumbuhan yang cukup cepat. Anak-anak yang tidak mempunyai orang tua, tinggal di panti sosial, termasuk Lail. Tapi Esok, anak lelaki genius itu beruntung, dia diasuh oleh keluarga kaya yang bersedia membiayai pendidikannya dan pengobatan ibunya. Lail dan Esok terpisah jarak. Sulit untuk bertemu. Meskipun Lail bisa kapan saja menghubungi Esok, dia tidak pernah melakukannya lebih dahulu.

Setelah gunung meletus, bumi juga mengalami berbagai krisis karena lapisan stratosfer atau apalah, intinya Negara tropis yang biasanya cuma melalui 2 musim, malah mengalami musim salju juga. Setelah itu, bumi mengalami musim panas yang berkepanjangan, tidak akan ada lagi musim hujan.

Esok yang kuliah di ibu kota, dan Lail yang kuliah di kota kecil, semakin jarang bertemu.

Alur di novel ini menggunakan alur maju mundur. Lail yang telah berusia 21 tahun menceritakan seluruh pengalaman hidupnya pada seorang fasilitator, melalu alat yang super canggih, seluruh cerita itu kemudian bisa dipetakan, apakah cerita bahagia, sedih dan emosi lainnya. Lail ingin menghapus cerita sedihnya dengan alat itu. Dia ingin melupakan Esok, yang menjadi sumber bahagia sekaligus sedihnya.

“Kamu tahu, Lail, ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta adalah merasa bahagia dan sakit pada waktu bersamaan. Merasa yakin dan ragu dalam satu hela napas. Mereka senang sekaligus cemas menunggu hari esok. Tak pelak lagi, kamu sedang jatuh cinta jika sedang menglaminya….” (hal 205)

Wow, canggih banget alatnya ya, pengen nyobain deh biar bisa menghapus memori tentang seseorang. #eaaa…

“Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin canggin sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahnya jatuh cinta” (hal 256)

“Tetapi sesungguhnya bukan melupakan yang menjadi masalahnya. Tapi menerima. Barang siapa bisa menerima, maka dia akan melupakan. Tapi jika dia tida bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan”

Di sini, pembaca akan diajak menelusuri masa lalu Lail dimulai dari umur 13 tahun yang diceritakan oleh Lail yang saat itu berumur 21 tahun. Cerita masa lalu terus berlanjut, kemudian alur maju mundur tersebut menyatu menjadi alur maju di bagian akhir. Pada bagian ini aku merasa surprise. Aku tahu sih bakal happy ending, karena aku langsung intip halaman terakhir,tapi gak nyangka caranya seperti itu.


Akhirnyaaa…. setelah lama gak baca karya Tere Liye. Terakhir kali Amelia mungkin. Entahlah, belakangan kurang klik sama karya Tere Liye setelah baca Bulan, cuma beberapa halaman langsung aku tutup. Dan mengapa akhirnya aku membaca karya Tere Liye? Bukan judulnya yang bikin tertarik, judul novel tentang hujan-hujanan uda banyak, tapi setting masa depannya. Penasaran seperti apa penulis Indonesia menciptakan dunia masa depan, karena sebelumnya aku baca The Lunar Chronicles (kecuali Winter) yang juga mengambil setting masa depan. Di novel Tere Liye ini, juga ada mobil terbang bahkan bisa bicara. Kalau komunikasi menggunakan chip yang  di tanam tangan. Buat kue semudah mencetak foto.

Halaman ke halaman selalu bikin penasaran. Apa yang terjadi dengan Esok, apa hubungan Esok, teknologi, dan menyelamatkan bumi?

“Lail tidak pernah takut melewati musim panas ekstrem. Gadis itu lebih takut melewati musim semi yang indah tanpa Esok bersamanya” (hal 303)

Yang kurang dari novel ini? Pendapat subjektifku saja. Kurang tebel, seperti banyak bagian yang ngambang, waku 8 tahun sret sret sret selesai, seperti sambil lalu, jadinya kurang nendang. #CMIIW

Walaupun Lail dan Maryam sahabatan selama 8 tahun, selalu satu kamar, tapi chemistry mereka gak dapet. Maryam ini sahabat apa motivator sih? oke lah Maryam suka baca buku, tapi untuk ukuran orang yang katanya belum pernah jatuh cinta dan dicintai, memberikan nasehat-nasehat yang quoteable……….. #CMIIW

Quote:

“Jangan jatuh cinta saat hujan, Lail. Karena ketika besok lusa kamu patah hati, setiap kali hujan turun, kmu akan terkenang dengan kejadian menyakitkan itu” (hal 200).

“Karena kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya” (hal 201).

“Kamu tahu, Lail, tidak ada kabar adalah kabar, yaitu kabar tidak ada kabar. Tidak ada kepastian juga adalah kepastian, yaitu kepastian tidak ada kepastian” (hal 227)

Note: Volcanic Explosivity (VEI). Ada sembilan skala lazim dalam pendekatan VEI, mulai dari skala 0 yang paling ringan, hingga skala 8, paling mematikan. (hal 31)

 

Informasi Buku

Judul: Hujan

Penulis: Tere Liye

Cover: Orkha Creative

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Januari 2016

Tebal: 320 hal

ISBN: 978-602-03-2478-4

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s