[Review] The Fault in Our Star

the fault in our star

Ini adalah kisah para remaja penderita kanker, salah satu penyakit mengerikan di mana sisa hidup penderita sudah ditentukan dokter.

“Even cancer isn’t a bad guy really: Cancer just wants to be alive.”

Hazel Grace, gadis berusia 16 tahun, penderita kanker tiroid stadium IV. Hazel dipaksa ibunya untuk bergabung dalam Support Club, salah satu perkumpulan para penderita kanker yang diselenggarakan setiap hari rabu. Setiap anggota di club tersebut menshare pengalaman dan perjuangan hidupnya melawan kanker.

Augustus Waters, lelaki berusia 17 tahun pengidap oesteosarcoma (kanker tulang) yang mengambil satu kakinya dan menyebabkannya harus menggunakan kaki palsu. Augustus bergabung dengan Support Club setelah diminta sahabatnya, Isaac, penderita kanker mata yang sudah bergabung terlebih dahulu di Support Club.

Augustus tidak berhenti menatap Hazel dengan senyum miringnya saat pertama kali mereka bertemu, senyum yang menurut Hazel sangat mempesona. Ketika di forum Support Club, Patrick, sang instruktur meminta Augustus memperkenalkan diri berikut kanker yang diidapnya.

Ketika Patrick menanyakan apa yang Augustus takutkan, dia menjawab bahwa dia takut dilupakan.

“I fear it like the proverbial blind man who’s afraid of the dark”

Hazel pun menanggapi bahwa seharusnya Augustus tidak takut dilupakan.

“There will come a time,” I said, “when all of us are dead. All of us. There will come a time when there are no human beings remaining to remember that anyone ever existed or that our species ever did anything. There will be no one left to remember Aristotle or Cleopatra, let alone you. Everythi ng that we did and built and wrote and thought and discovered will be forgotten and all of thi s”—I gestured encompassingly—“will have been for naught. Maybe that time is coming soon and maybe it is mi llions of years away, but even if we survive the collapse of our sun, we will not survive forever. There was time before organisms experienced consciousness, and there will be time after. And i f the inevitability of human oblivion worries you, I encourage you to ignore it. God knows that’s what everyone else does.”

Kata-kata itu diperoleh Hazel dari buku An Imperial Affliction (AIA) karya karya Peter Van Houten yang dibacanya berulang-ulang.

Setalah keluar forum, Augustus dan Hazel berkenalan. Dan Augustus membertahu Hazel bahwa dia mirip dengan Natalie Portman, kemudian mengajak Hazel menonton film V for Vendetta yang dibintangi Natalie Portman itu di rumahnya.

Hazel yang baru kenal Augustus awalnya menolak.

Augustus ini suka menaruh sebatang rokok di bibirnya, hal itu membuat Hazel marah, seolah Augustus tidak menghargai hidupnya dengan menggunakan barang mematikan tersebut. Tetapi, lelaki yang suka bermetafora ini mengatakan bahwa hal tersebut tidak seperti yang dipikirkan Hazel.

“They don’t kill you unless you light them,” he said as Mom arrived at the curb. “And I’ve never lit one. It’s a metaphor, see: You put the killing thing right between your teeth, but you don’ t give it the power to do its killing”

Keduanya kemudian semakin akrab, dimulai dari menonton film, kemudian saling meminjami buku. Hazel meminjami buku AIA dan Augustus meminjami buku The Price of Dawn. Komunikasi mereka kemudian selalu membahas buku. AIA menceritakan kisah seorang anak penderita kanker. Dan ending ceritanya menurut Hazel menggantung. Sayangnya, si penulis tidak membuat sekuelnya. Banyak hal yang Hazel ingin tahu jawabannya di buku itu. Berkali-kali Hazel mengirim email kepada  Peter Van Houten, tapi tidak memperoleh balasan.

Ini kedua kalinya membaca karya John Green setelah Paper Town dan selalu suka. Menurutku tulisan Om Green itu enak dimakan dibaca, alur ceritanya runtut, suatu hal kemudian berpengaruh pada hal-hal lain dihalaman-halaman selanjutnya, penuh kejutan dan mungkin sangat minim hal yang mubadzir. Misalkan, tidak ada tokoh di novel yang tidak penting, semuanya memainkan peran dengan porsi yang pas, juga tidak ada tokoh yang muncul atau hilang dengan tiba-tiba. Karakter pemainnya juga sangat kuat. Ketika dalam sebuah buku membahasa buku, di mana di novel ini yaitu ada buku AIA, aku kira awalnya ya cuma pelengkap cerita saja, tapi ternyata hal itu memiliki efek yang besar terhadap alur cerita ke depan, ketika di awal Augustus bilang takut dilupakan, hal itu juga berefek pada cerita ke depannya, aku kira masalah takut dilupakan sudah berakhir. #CMIIW

Hazel menyukai Augustus yang selain tampan, juga cerdas, pintar, dewasa dan percaya diri. Seperti dia tidak sedang menderita kanker. And i like Augustus Waters too. Belakangan Hazel tahu kenapa Augustus tidak berhenti menatapnya saat mereka pertama ketemu karena dirinya mirip dengan mantan pacar Augustus, yang telah meninggal karena kanker. Hazel bukannya cemburu, tapi lebih merasa bersalah. Augustus mungkin akan kehilangan lagi orang yang dicintainya.

“Oh, I wouldn’ t mind, Hazel Grace. It would be a privilege to have my heart broken by you.”

Dan Augustus menyukai Hazel yang selain cantik, pinter, juga suka berbicara blak-blakan. Augustus suka memanggil Hazel dengan dua nama pertamanya, Hazel Garace, biasanya orang-orang hanya memanggilnya Hazel. Augustus dipanggil Gus di rumahnya, Hazel menyukai lelaki yang mempunyai 2 nama panggilan, dia kemudian juga memanggilnya Gus.

Suka dengan quote ini

“Love is keeping the promise anyway”

SPOILER ALERT ke bawahnya

Dan itu yang selalu dilakukan Augustus sampai dia meninggal.

Apa yang dilakukan Augustus? Dia berhasil mengontak Peter Van Houten, penulis AIA melalui sekretarisnya. Kemudia Hazel meminta alamat email si sekretaris dan menghubunginya juga.

Peter menjawab melalui sekretarisnya, bahwa di mengundng Hazel datang ke Belanda untuk mengetahui sekuel AIA langsung dari Peter, karena dia tidak akan membuat sekuelnya. Tentu saja itu bukan sesuatu yang mudah. Pertama, terkait masalah dana. Hazel tidak tega meminta kepada orang tuanya karena biaya pengobatannya sendiri sudah memakan banyak biaya. Kedua, masalah kesehatannya.

Jadi, ada sebuah lembaga kemanusiaan bernama Genie Foundation yang mengabulkan satu permintaan anak penderita kanker. Sayangnya, Hazel sudah memakai kesempatan itu untuk pergi ke Disney World saat umurnya 13 tahun.

Apa yang dilakukan Augustus yang ternyata belum menggunakan kesempatan itu?

“Now, I’m not going to give you my Wish or anything. But I also have an interest in meeting Peter Van Houten, and it wouldn’ t make sense to meet him without the girl who introduced me to his book”

Genie Foundation memenuhi keinginan Augustus untuk pergi ke Belanda bersama Hazel, dan didampingi mamanya Hazel juga.

Hazel dan Gus tidak sabar mendengar sekuelnya langsung dari Peter Van Houten

“A sequel that will exist just for us”

Sayangnya, keinginan mereka mendengarkan kelanjutan AIA tidak berjalan sesuai harapan.

Jika Hazel dan pembaca melihat Augustus yang selalu tampak baik-baik saja, malah dari awal kondisi Hazel yang buruk, kondisi kesehatan Augustus semakin memburuk setelah pulang dari Belanda. Sebelum berangkat ke Belanda pun, dia memang tidak sehat, ortunya melarangnya ke Belanda, tapi Gus tetap memaksa, dan selalu berpura-pura baik-baik saja di depan Hazel.

“I kind of conned you into believing you were falling in love with a healthy person”

Tokoh favorit di novel ini tentu Augustus Waters. Suka sama dia yang cerdas, percaya diri, selalu menepati janji, selalu berusaha untuk membahagiakan Hazel dan orang lain di sekitarnya sampai akhir hayat pun. Love love loveable banget. And I’m curious about his crooked smile. Yeaah…

Bagaimana kisah selanjutnya? Silahkan baca online versi bahasa inggrisnya di sini. Nyari ebook terjemahannya gak dapat.

Banyak hal-hal unik di buku ini yang aku suka.

Misalnya Hazel yang merayakan ulang tahunnya setiap setangah tahun sekali.

Rumah Augustus yang penuh dengan kata-kata penyemangat

“Home Is Where the Heart Is”

“Good Friends Are Hard to Find and Impossible to Forget”

“True Love Is Born from Hard Times”

“Without Pain, How Could We Know Joy?”

 p.s Buku ini uda selesai aku baca bulan lalu sebenarnya, tapi baru sempat posting review sekarang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s