[Review] The Chronicles of Audy: O2

[Diikutkan dalam kontes review Seri Audy]

The Chronicles of Audy: O2

Hai. Namaku Audy.
Umurku masih 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa-biasa saja,
sampai cowok yang kusuai memutuskan sekolah ke luar negeri.

Ketika aku sedang berpikir
tentang nasib hubungan kami,
dia memitaku menunggu.

Namun ternyata, tidak cuma itu.
Dia juga memberikan pernyataan
Yang membuatku ketakutan setengah mati!

Di saat aku sedang kena galau tingkat tinggi,
masalah baru (lagi-lagi) muncul.

Seseorang yang tak pernah kulirik sebelumnya,
sekarang meminta perhatianku!

Ini, adalah kronik dari kehidupanku!
yang sepertinya selalu ribet

Kronik dari seorang Audy

Tema besar di seri terakhir ini yaitu: Pengaruh Rencana Masa Depan Rex Rashad terhadap seorang Audy Nagisa.

Setelah pernyataan Romeo bahwa dia akan menjaga Audy untuk dirinya sendiri, Romeo semakin terang-terangan menunjukkan sikap sukanya pada Audy yang bikin Rex kesel.

Misalnya saat Romeo bertingkah norak ketika Regan dan Maura mau bulan Madu.

“Iiih seru, ya!” Romeo memukul-mukul lenganku. “Aku juga pengin bulan madu!”.

“Mas abis minum apa, sih?” semprot Rex akhirnya.

“Minum larutan penyegar cap kasih cinta,” jawab Romeo kelewat lancar yang ditanggapi dengan tatapan superdingin oleh Rex. Romeo tentunya tidak sakit hati dan kembali menatapku. “Kamu mau bulan madu ke mana, Dy? Ke Hawai? Maldives? Atau… Bora-bora, ya?” (hal 28).

Saat Romeo mau berangkat ke Serang karena ada proyek di sana. Fyi, Audy berasal dari Serang.

“Ngapain?” Tanya Rex, mewakiliku yang masih terkejut.

“Mau ke rumah Audy, lamaran.” (hal 121.

Saat Romeo nelpon Audy dari Serang.

“Ro!” seruku begitu mengangkat teleponnya. “Kamu kapan pulang???”

“Ya ampun, Au,” kata Romeo dari seberang. “Segitu kangennya kamu sama aku.”

“Bukan itu,” sambarku tak sabar. “Aku nggak tau harus gimana kalau nggak ada kamu.”

Oke, ini juga terdengar salah. Aku sendiri tidak berpikir sebelum mengatakannya.

Romeo terdengar seperti membersit hidung, seperti terharu. “Segitu berartinyakah—“

“Kamu kamu pulang?” potongku, tidak ingin mendengar lanjutan kalimatnya. (hal 158)

Saat Romeo mengirim kartus pos dari Serang yang bunyinya,

Hai, Audy.

Serang panas, ya!

Tapi sate bandengnya top! Dan keluargamu juga asyik.

Aku tahu kamu pasti sudah rindu banget, tapi tunggu sebentar lagi, ya.

Mas pasti pulang, Dik.

Dari yang merindukanmu juga,

Mas Romeo. (Silahkan cek hal 234. Bikin aku ngakak tiap baca).

Masih ingat pernyataan Rex sebelumnya tentang pernikahan? “Kalaupun ada… masih jauh di depan”

Rex ternyata merevisi masa depannya, membuat Audy jauh lebih kaget ketimbang pernyataan di atas dan pengakuan ketika Rex bilang suka.

Rex bilang akan kuliah 2 tahun di MIT, meminta Audy menunggunya, dan dia juga bilang….

“Setelah lulus nanti, aku akan kembali ke sini untuk jemput kamu, terus lanjut S2 di sana sambil kerja.” (hal 37)

Yep, Rex melamar Audy. Menurut Audy, Rex adalah cowok genius tapi labil, bagaimanapun, dia masih 17 tahun. Audy gak bisa membayangkan menikah dengan cowok 19 tahun nantinya.

Sampek sini, aku penasaran kira-kira bagaimana Orizuka akan menyelesaikan novel ini? Ide Rex bukan cuma gak masuk akal bagi Audy, tapi bagiku. Cowok umur 17 tahun dan menyukai cewek umur 22 tahun, biasanya cuma sekedar main-main. Jauh lebih terdengar normal saat Rex bilang “Kalaupun ada… masih jauh di depan”. Di sini, Audy-Romeo jauh lebih cocok.

Tapi salut sama Rex ini, dia membuat rencana masa depan yang terstruktur, termasuk bagaimana nanti dia akan tinggal di Amerika tanpa merepotkan kakak-kakaknya masalah biaya. Gitu ya kalau orang pinter dan mempunyai keinginan kuat, selalu ada jalan karena mereka mau mencarinya.

Oh iya, Rex ini punya kecenderungan menyukai cewek yang lebih tua. Ingat siapa yang dia suka sebelum Audy???

Dan sejak pernyataan Rex itu, Audy menghindari Rex, takut kalau diminta jawaban.

“Dulu waktu kamu nggak ada di dalam rencana masa depanku, kamu marah. Sekarang setelah kamu ada di sana, kamu…. nggak tahu?” (hal 179).

Di buku keempat ini, Romeo dan Audy mempunyai misi mengakrabkan Rex dan Rafael. Berbeda dengan kakak-kakaknya yang lain, Rafael paling tidak bisa dekat dengan Rex. Berbagai cara konyol dilakukan oleh Romeo dan Audy yang malah tidak berhasil.

Sejak dikeluarkan dari sekolah dan masih mencari sekolah baru, Rafael sangat bersemangat menyalurkan rasa ingin tahunya dengan langsung praktik menanam aneka sayuran di pekarangan rumah. Dan siapa yang bisa membantunya? Jelas bukan Audy yang IQnya di bawah Rafael (sorry to say) atau Romeo yang sibuk dengan game dan pekerjaan barunya, tapi Rex. Kegiatan itu mengakrabkan Rafael dan Rex. Rex adalah jawaban atas rasa ingin tahu Rafael yang besar.

“….aku cengar cengir sendiri memikirkan betapa lengketnya Rex dan Rafael karena ilmu pengetahuan.” (hal 203)

Suka endingnya, aku  bisa terima Audy dan Rex kalau itu alasan Romeo. Walaupun masih muda, tapi Rex dewasa dan matang. Lagian, aku mau kok sama Romeo yang gamer, hacker, cracker, you name it itu. haha….

Semua bisa ikhlas rex kuliah di MIT dan Romeo lagi-lagi as problem solver dengan kemampuan gamer, hacker, cracker, you name it atas hubungan LDR Rex dan keluarga nantinya.

Dan khutbah Romeo yang bikin terharu juga bikin ketawa.

“Audy bilang, kalau tetap tinggal nggak membuatmu lebih bahagia dari kamu bersekolah di kampus impianmu, kami harus melepaskanmu.”

Rex terdiam lama. “Bukan berarti aku nggak bahagia di rumah.”

“Nggak ada yang berpikir begitu.” Regan menimpali. “Kami paham, Rex. Keluarga memang lebih baik saat berkumpul. Tapi walaupun tidak berkumpul, keluarga tetap keluarga.

“Seperti oksigen, walaupun nggak terlihat, keluarga ada di sekitarmu, ada di setiap tarikan napasmu, ada dalam darahmu.” Romeo meneruskan, “kata Audy juga.”

“Makanya, Mas udah memutuskan untuk melepaskanmu dan mendukungmu sepenuhnya. Dan mas tetap akan menepati jani Mas ke Papa dan Mama, dengan menjaga apa-apa yang penting buatmu di sni,” lanjut Romeo. ”Kata Audy juga.” (hal 298).


“Mas Rex boleh pergi. Aku mau belajar nanam yang banyak,” kata Rafael. “Biar nanti kalau Mas Rex pulang, Mas Rex nggak usah ke pasar lagi.” (hal 312).

Ini buku terakhir dari seri The Chronicles of Audy, dan serasa gak rela buku ini tamat. Hiks

Adegan favorit yaitu saat Rex membuat pelangi untuk Rafael dan Audy (di sini, membuat pelangi sungguhan berlandaskan sains lho ya, bukan menggambar pelangi), dan saat Rex membawakan buket peppermint untuk Audy (unik, bukan bunga, tapi peppermint yang setelah aku gugling, mirip kemangi).

Setelah beberapa kali baca buku Orizuka, aku uda nyangkan sih Audy bakal sama siapa, Orizuka kayaknya suka menyandingkan tokoh cewek sama tokoh cowok dengan karakter yang jutek bin judes, tinggi bin ganteng dan selalu bikin cewek-cewek melting. Kayak Logan, Surya, Ares, Nino. Sebaik dan seramah apa pun cowok yang naksir si cewek, yang dipilih pasti si cowok jutek.

Salut banget sama Orizuka. Tema yang diangkat sederhana tapi dalem. 4 buku dan 4 cowok loveable dengan tingkah ajaib dan alasan dibalik sikap mereka, dapat banget karakternya. Buku psikologi apa aja sih yang Orizuka baca? Pengetahuan yang ada di dalamnya disajikan dengan timing yang pas. Regan si pengacara, Romeo si gamer, hacker, cracker, you name it (suka banget sama istilah ini) dan idola ibu-ibu, Rex yang berIQ 152 yang serba bisa, dan Rafael si bocah genius dengan rasa ingi tahunya yang tinggi, dan juga tokoh-tokoh yang lain. Konflik tiap karakter dan bidang ilmunya nyatu banget. Sampek speechless aku. Pengetahunnya luas banget Orizuka ini. Baca buku IPA SMP/SMA apa ya? Oke, hal-hal seperti itu bisa ditanyakan ke ahlinya. Intinya, cara Orizuka menyajikan pegetahuan dan karakter tokoh TOP BGT. Makanya, siap-siap dibikin baper deh kalau baca karya Orizuka.

Yang sedikit bikin bingung yaitu, moro-moro Audy sidang. Cepet banget ngerjain skripsinya? Setelah proposal apa gak penelitian dulu? Seenggaknya adalah penjelasan walaupun dikit mengenai penelitian.

Sekian, selamat baper,ketawa, sedih, terharu, bersemangat, dan selamat merenungi arti keluarga bersama Audy

Beberapa bulan lalu, saat aku memasuki rumah 4R, aku tidak mengharapkan apa pun selain uang untuk membayar uang kuliahku. Namun, mereka mengubahku, membuatku menjadi orang yang paling bahagia dan paling beruntung di dunia karena memiliki dua tempat untuk pulang.

Jadi, kurasa sudah waktunya aku berhenti mengeluh.

Sebaliknya, aku harus bersyukur Tuhan mempertemukanku dengan orang-orang yang seperti oksgen ini, orang-orang yang kuanggap sebagai keluargaku sendiri. Karena semenjak mengenal mereka, hidupku yang tadinya biasa-biasa saja jadi luar biasa berwarna, seperti permukaan gelembung sabun dengan warna-warni khas pelanginya. (hal 352)

Informasi Buku

Judul: The Chronicles of Audy: O2

Penulis: Orizuka

Penyunting: Yuli Yono

Cover desainer dan illustrator: Bambang ‘Bambi Gunawan (lucu bin unik banget covernyaaa…..:) )

Proofreader: KP Januwarsi

Penerbit: Penerbit Haru

Terbit: Cetakan pertama, Juni 2016.

Tebal: 364 hlm

ISBN: 978-602-7742-86-4

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s