[Review] The Chronicles of Audy: 4/4

[Diikutkan dalam kontes review Seri Audy]

The Chronicles of Audy: 4/4 Hai. Namaku Audy,
umurku masih 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa saja,
sampai aku memutuskan bekerja di rumah 4R
dan jatuh hati pada salah seorang di antaranya.

Kuakui aku bertingkah (super) norak soal ini,
tapi kenapa cowok itu malah kelihatan santai-santai saja?
Setengah mati aku berusaha jadi layak untuknya, tapi dia bahkan tidak peduli!

Di saat aku sedang dipusingkan oleh masalah percintaan ini,
seperti biasa, muncul masalah lainya.

Tahu-tahu saja, keluarga ini berada di ambang perpisahan!

Aku tidak ingin mereka tercerai-berai,
tapi aku bisa apa?

 Ini, adalah kronik dari kehidupanku
Yang masih saja ribet.

Kronik dari seorang Audy

Aku udah berusaha untuk komitmen, akan menuliskan reviewnya setiap selesai baca 1 buku, tapi gak bisa, uda kadung penasaran. Jadi, dari 4 seri The Chronicles of Audy ini aku bacanya dua-dua, baru bikin review satu persatu.

Kalau di buku kedua aku bilang bikin baper, sedih, ketawa, terharus juga iya, di buku ketiga kebanyakan gloomy. Dunia Audy seolah lebih berpusat pada Rex dengan berbagai masalah antara keduaya. Apakah yang lain cuma figuran? Hm…

“Jangn lupa Dy, kalau Rex hanya 1/4,” kata Regan lagi. “3/4 sisahnya juga butuh kamu, sama besarnya.” (hal 232).

Rafael terpaksa harus dikeluarkan dari sekolahnya. Karena kemampuan Rafael yang jauh di atas rata-rata temannya, dan pihak sekolah belum bisa mengakomodir kebutuhan Rafael. Di sekolah, Rafael cepat bosan. Ketika gurunya menerangkan pelajaran, Rafael tidak mendengarkan dan sibuk dengan buku dan tamiya nya, karena toh dia sudah mengetahui semua yang sedang gurunya ajarkan. Dia juga kesulitan bersosialisasi dengan teman-temannya. Dengan kemampuannya, anak-anak itu tidak  selevel Rafael lagi. Hal yang sama ternyata juga dialami Rex selama ini. Yang membuatnya kesepian dan tidak memiliki teman.

“Di sekolah, aku selalu merasa tersiksa,” lanjutnya. “Nggak ada teman sekelas yang paham omonganku. Enggak ada pelajaran yang belum kuketahui. Enggak ada hal-hal yang membuatku penasaran, pada akhirnya, aku belajar sendiri. Kebanyakan tidur di kelas.”

“Papa menganggap sekolah itu penting supaya aku bisa berinteraksi. Aku enggak bisa bilang ke almarhum kalau aku sama sekali enggak pernah mencoba berinteraksi. Aku terlalu sibuk menahan diri.”

“Menahan diri… untuk apa?” aku merasa tidak ingin mendengar jawabannya, tapi menanyakannya juga.

“Untuk gak meralat guru yang salah nulis rumus di papan tulis. Untuk nggak berkomentar saat anak-anak sekelas nggak bisa ngerjain soal logaritma mudah. Untuk nggak ngerobek kertas ulangan yang pertanyaannya nggak cukup baik untuk dijawab.” (hal 157).

That’s why, orang genius itu aneh, dan kelihatan sombong.

Audy merasa jurang perbedaannya dengan Rex semakin lebar. Rex yang berIQ 152, dan Rex yang akan berkuliah di MIT (Massachusetts Institute of Technology). Audy mempermasalahkan Rex yang tidak memberitahu Audy tentang rencananya untuk kuliah di luar negeri. Jangankan Audy, keluarganya yang lain pun tidak dia bertahu.

“Kenapa aku harus berubah pikiran?” katanya. “Itu rencana masa depanku. Kamu belum ada di sana”.

Sedangkan Regan ditawari pekerjaan di Jakarta dengan gaji 10x lipat. Regan merasa nyaman dengan kerjaannya sekarang, tapi tawaran gaji itu tentu menggiurkan. Dia berdiskusi degan saudara-saudaranya juga Audy apakah sebaiknya menerima pekerjaan itu apa enggak. Romeo kurang setuju, karena dia ingin mereka tetap tinggal dan berkumpul di Yogya, karena makam ortu mereka juga di Yogya. Sedangkan Rex brependapat sebaliknya. Dengan berada di Jakarta, Rafael juga lebih mudah mendapatkan sekolah yang bisa mengakomodir kebutuhannya.

“Mas harus menghadapi kenyataan, kalau yang namanya hidup itu enggak stagnan,” kata Rex kemudian, membuyarkan pikirnku barusan. “Seperti kata Heraclitus, perubahan adalah satu-satunya hal yang tetap. Sesuatu yang nggak bisa dihindari. Selamanya mas enggak akan berkembang kalau terus-terusan hidup di zona nyaman.” (Hal 252)

Sebenarnya Regan dan Romeo kurang setuju dengan keputusan Rex kuliah di MIT. Mereka teringat janji sang ortu untuk menjaga Rex selalu, apalagi Rex mengidap asma yang cukup parah. Rex kesal atas sikap keluarganya.

Dan Audy, dia tidak bisa membayangkan hidup di Yogya tanpa 4R, dalam hati tentu saja dia ingin mereka sealu bersama.

Aku ngerasa sikap Regan dan Romeo terlalu berlebihan, seperti menghalangi cita-cita Rex. Aku aja sangat mensupport adikku untuk kuliah sejauh-jauhnya, meninggalkan kampung halaman. Tapi masuk akal sih kalau menginagt kondisi asma Rex.

“Rex mungkin kadang benar—kadang,” tekanku, masih tidak setuju dengan cara Rex tadi.”Tapi, harusnya dia punya cara yang lebih baik buat ngomong itu semua sama kamu.

Romeo malah mengangkat bahu dan tersenyum maklum. “Dia Rex.”

Aku tidak bisa tidak setuju dengan pernyataan itu. Pada saat yang sama, aku mnyadari bahwa Romeo selalu menerima keluarganya apa adanya. Mungkin dia bukan orang yang mampu memecahkan masalah, tetapi dia selalu menerima, selalu mencari alasan untuk menerima, selalu mencari cara untuk menerima semuanya, tanpa megeluh. (Hal 257)

Maura sendiri akan menerima setiap keputusan yang akan Regan ambil walaupun dia sendiri lebih suka tinggal di Yogya.

Untunglah, dalam situasi mereka akan pindah ke Jakarta, Romeo tampil sebagai superhero yang penyelamat. Salut sama usaha dan pengorbanan Romeo.

Tapi bagaimana dengan Rex yang akan kuliah di MIT? Bagaiamana nasib Audy yang akan ditinggal Rex?

Regan dan Maura akhirnya menikah. Saat resepsi sedang berlangsung, tanpa sengaja Audy mendengar percakapan Romeo dan Rex yang lagi berdua.

“Kalau yang ini… ada di rencana masa depan kamu, Rex?”

“Yang mana?” Rex balas bertanya

“Ini.” Romeo mengedikkan dagu ke depan. “Pernikahan.”

Jantungku seperti terbetot keluar. Namun, meski aku tidak tahu kenapa Romeo menanyakan itu, aku ingin mendengar jawaban Rex.

“Kalaupun ada… masih jauh di depan.

“Kamu tahu kan Rex, konsepku, “Katanya membuat Rex menoleh dengan dahi berkerut. “Konsepku adalah kakak nggak berguna.”

Rex mengerjapkan mata tapi tidak menyela.

“Karena aku kakak yang nggak berguna, selama kamu pergi nanti, aku nggak akan jagain Audy buat kamu.”

Mata Rex sekarang melebar. “Maksudnya….?”

Romeo mendorong tubuhnya sendiri dari pintu paviliun.

“Aku akan jagain Audy, tapi untukku sendiri.” (hal 301)

WOW….

Eniwei, walaupun buku ketiga ini bikin sesak napas, tapi yang bikin ketawa tetap aja ada. Audy itu super norak, inget? Perbuatannya bukan hanya memalukan diri sendiri, tapi orang lain di dekatnya. Apalagi dia katanya kena kutukan nenek sihir, dan Rex adalah pangeran yang akan menyelamatkan Audy dari kutukan itu. #uhuk

Walaupun yang banyak disorot yaitu Audy dan Rex, tapi ketika 3R yang lainnya muncul, berhasil banget nyuri perhatian, apalagi Romeo dan rahasia-rahasia yang dia sembunyikan dibalik sikap konyolnya. Setelah buku pertama, porsi Regan jadi kurang menurutku. Sama seperti Audy, sebagai pembaca, aku gak dibuat dag dig sug ser lagi dengan kehadiran Regan. Perannya gak emosianal lagi. Beda dengan Rafael walaupun masih kecil.

Yang agak ganggu itu, kenapa tiap 4R1A kumpul dan ada masalah, Audy malah nyusul Rex atau Romeo. Menurutku Rafael lebih butuh diperhatikan.

Yep, gitu aja. Tunggu review selanjutnya yang tambah seru pastinya.

 

 

Informasi Buku

Judul: The Chronicles of Audy: 4/4

Penulis: Orizuka

Penyunting: Yuli Yono

Cover desainer dan illustrator: Bambang ‘Bambi Gunawan (lucu bin unik banget covernyaaa…..:) )

Proofreader: KP Januwarsi

Penerbit: Penerbit Haru

Terbit: Cetakan pertama, Juli 2015. Cetakan ketiga, April 2016

Tebal: 314 hlm

ISBN: 978-602-7742-53-6

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s