[Review] The Chronicles of Audy: 21

[Diikutkan dalam kontes review Seri Audy]

The Chronicles of Audy: 21Hai. Namaku Audy.
Umurku masih 22 tahun.
Hidupku tadinya biasa-biasa saja
sampai aku memutuskan untuk bekerja di rumah 4R. 

Aku sempat berhenti,
tapi mereka berhasil membujukku kembali,
setelah mereka memberiku title baru “bagian dari keluarga”. 

Di saat aku merasa semakin akrab dengan mereka,
pada suatu siang, salah seorang dari mereka
mengungkapkan perasaannya kepadaku. 

Aku tidak tahu harus bagaiamana! 

Lalu, seolah itu belum cukup mengagetkan,
terjadi sesuatu yang tidak pernah
terpikirkan oleh siapa pun.

Ini, adalah kronik dari kehidupanku
yang semakin ribet.

Kronik dari seorang Audy

Di The Chronicles of Audy: 21 ini, pembaca diajak untuk mengenal 4R lebih jauh, tetap dengan karakter ajaib mereka yang menyimpan sisi manis. 4R1A tambah loveable.

Selama sebulan tinggal di rumah ini, terjadi banyak hal yang mengubah hidupku. Empat cowok yang awalnya kuanggap menyebalkan, lama-kelamaan merebut hatiku dan membuatku berbalik menyayangi mereka. (hal 11)


Audy memang sempat berhenti bekerja di rumah 4R setelah ortunya tahu Audy jadi pembantu. Tapi dengan manisnya 4R menemui orang tua Audy dan meminta Audy kembali, bukan sebagai pembantu, tapi sebagai ‘bagian dari keluarga’. Audy merasakan mereka tulus, Rafael mengeluarkan kapur dari tasnya yang kemudian diterima Rex dan menambahkan tulisan 1A di kotak pos. Sehingga menjadi 4R1A.

Tapi Audy tak habis pikir apa arti dari ‘bagian dari keluarga’ itu? Pasalnya 4R, masih berbuat semena-mena terhadap Audy.

Rafael (R4) masih tidak sopan. Memanggil Audy dengan sebutan ‘kamu’. Audy mencoba memberi pengertian agar memanggilnya dengan sebutan yang lebih sopan.

“Terus, aku harus manggil kamu apa?”

“Gimana kalau ‘Kakak’?”, saranku membuat tatapannya berubah datar.

“Nggak cocok,” tukasnya, membuat dahiku langsung berkedut. (hal 38)


Saat Audy pilek, Rafael dengan polosnya nyuruh Audy minum obat, Audy sempat terharu sampai Rafael menambahkan, “Aku enggak mau ketularan”. (hal 72).

R1 alias Regan, masih perhitungan. Dia sangat lega, kelewat lega malah ketika Audy ditanya mau ke dokter tapi Audy menolak.

R2 alias Romeo masih suka membuat rumah kotor, tapi tidak pernah membantu Audy walaupun kerjanya di rumah terus.

R3 alias Rex masih jutek. Audy yang baperan, terharu saat Rex memayunginya ketika dia mengangangkat jemuran, sampai Rex berkata, “Jangan nekat. Kita nggak punya uang cadangan untuk kamu berobat.” (hal 13)

Tanpa perasaan juga, Rex bilang Audy selalu ganggu.

“Aku ganggu?” tanyaku.

Rex mendengus pelan. “Kamu selalu ganggu”. (Hal 54)


Konflik di buku kedua ini tambah seru, bikin baper, sedih, ketawa, terharus juga iya. Komflit dah.

Aku mau ngomongin R4 dulu sebelum yang lainnya. Bocah ini makin lama makin gemesin. Rafael ini memang kelewat genius. Setelah tau kepanjangan dari UNICEF, dia juga fasih nyanyi pake bahasa inggris saat teman-temannya di PAUD nyanyi lagu anak-anak.

Suatu hari Rafael bertengkar dengan temannya, Jose. Rafael mengatakan Jose bodoh karena Jose gak bisa-bisa main kubik rubik. Audy menyuruh Rafael minta maaf.

“Kenapa minta maaf?” Tanya Rafael, membuatku kembali menatapnya. “Aku nggak sopan?” (hal 83)


“Fa,” kataku setelah menarik napas panjang. “Kamu bukan nggak tau sopan santun. Kamu Cuma… belum tahu. Kita bisa belajar. Oke?

Rafael mengutak-ngatik rubiknya. “Tadi aku salah?”

Aku menatapnya lama. “Rafael. Kadang… walaupun ada hal-hal yang menurutku benar, lebih baik kamu simpan di dalam hati. Atau sampaikan dengan cara yang lebih baik.” (hal 84).


Rafael ini hobi banget nyuruh Audy main kubik rubik. Membuat Audy hampir stres karena gak bisa-bisa.

“Makasih ya, Rafael.”

“Buat apa?”

“Karena kamu nggak ngatain aku bodoh,” kataku lagi, setengah hati menyembunyikan senyuman.

Rafael menatapku, kerutan di mulutnya mengendur. Dia lalu mengangguk. “Cuma di dalam hati”. (hal 161).


R4 ini menuruni sifat jutek R3, dan kejorokan R2.

Satu lagi masalah muncul, salah satu dari mereka menyakatakn perasaanya pada Audy.

Guess, who???

Dia adalah cowok yang selalu ingetin Audy buat ngerjakan skripsi.

“Tapi…. kenapa?” tanyaku lagi, benar-benar tidak paham.

“Nggak tahu. Teori psikologi mungkin bisa menjelaskan. Mungkin Plato. Tapi, aku belum belajar.” (hal 77)


R3 ini kelewat ilmiah, masak suka sama seseorang harus nyari teori dulu? Audy pikir mungkin R3 sudah gila. Setelah itu, hubungan Audy dan R3 jadi canggung. R3 cemburuan, dia selalu minta penjelasan atas apa yang Audy lakukan. Audy sendiri tidak menerima cintanya, yang ada dia merasa terbebani atas perasaan Rex padanya.

Sikap Rex ini lucu-lucu nyebelin. Porsi masalah Audi di buku kedua ini lebih banyak antara Audy-Rafael, Audy-Rex.

Romeo memang gak banyak diceritakan di buku ini, tapi sekalinya diceritakan bikin tersentuh, aku melihat sisi lain Romeo yang sweet. Bukan Romeo yang jadi primadona kalangan tunawisma (minjam istilah Audy. Alasan Romeo pakai kaus kaki, dan kenapa dia ketombean karena jarang keramas.

“Aku fobia sampo”.

“Ro, kamu tahu betapa enggak kerennya fobia kamu itu?” tanyaku kemudian. Maksudku, di antara penyebab fobia lainnya seperti ketinggian, gelap, ruangan sempit… sampo? Menakutkan sekali.

“Waktu masih kecil, aku pernah iseng keramas pake sampo Papa dan samponya masuk mata. Mataku iritasi dua minggu dan hampir buta. (hal 192).


“Yang nyuruh pake kaus kaki itu juga, jangan-jangan ibu kamu?” tebakku, membuatnya mengangguk dan tersenyum.

“Pas kecil, kakiku suka kerasa dingin, jadi dulu Mama sering pakein kaos kaki. Aku mulai pake kaus kaki semenjak dia….” Romeo berhenti berbicara. Sejenak senyumnya hilang, tapi segera terbit lagi. “Itu cuma caraku mengingatnya, Au. Supaya rasanya dia selalu ada”.

Jujur saja, saat pertama mengetahui segela tingkah konyol Romeo, aku tidak pernah menduga ada alasan-alasan emosianal dibaliknya. (hal 224).

Saat Rex dan Rafael bikin masalah, Romeo datang dan mengatakan, “Kalau kamu lagi stress, kamu selalu bisa datang ke aku.” (hal 220).

Saat Rafael meminta meminta Audy memainkan kubik rubik yang sulit, dan Rex selalu mengingatkan Audy hal yang tidak ingin dia kerjakan yaitu skripsi, Romeo ada untuk mengajaknya bermain game Halo.

Sama seperti Audy, aku pun semakin jatuh cinta pada 4R.

Sebagai konflik puncak di seri kedua ini, yaitu sembuhnya Maura yang telah koma selama 2 tahun. Maura akan menikah dengan Regan. Tapi bukan itu yang bikin Audy dan 4R sedih. Karena artinya, Audy harus keluar dari rumah 4R. Paviluan yang ditempatinya memang dipersiapkan untuk Regan dan Maura.

Yang paling emosianal mendengar berita ini adalah Rafael.

“Dia butuh aku untuk menyelesaikan rubiknya.” (hal 242).


“Bukannya Audy bagian dari keluarga?” jerit Rafael lagi, membuatku terperanjat. “Kenapa keluarga nggak bisa tinggal bareng?”


“Atau jangan-jangan, ini gara-gara mas Rex?”

“Gara-gara mas Rex suka suka sama Audy?”

“Audy jadi sering sedih.” (hal 244).


“Tapi kenapa? Apa karena aku nggak sopan?Aku bisa sopan!” (hal 245).


“Walaupun kupanggil ‘Kakak’, kamu tetap pergi?” tanyanya kemudian.

“Hm…” aku pura-pura berpikir. “Cobain deh.”

“Kak Audy,” panggil Rafael segera.

“Gimana ya…” kataku, setengah mati menahan rasa haru. “Iya. Aku tetap pergi”.


Gitu aja reviewnya #elapingus

Quote:

  • Namun, bukankah keluarga itu bertengkar, lalu berbaikan, begitu seterusnya. (Audy Nagisa , hlm 50).
  • Apa salahnya berharap? Berharap bikin kita lebih bersemangat hidup, kan? Tentunya, sambil disertai usaha konkret. (Rex Rashad, hlm 144)
  • Jangan bilang begitu, Dy, kamu boleh kok nyusahin. Adik kerjaannya nyusahin, kan? (Regan Rashad, hlm 282).
  • Sampai aku bisa jadi orang yang kamu andalkan, sampai kamu nggak lagi mengangaggap perasaanku beban, sampai kamu sepenuhnya yakin, aku enggak minta jawaban. (Rex Rashad, hlm 290)
  • Kalau kamu make semua energi kamu ini untuk skripsi, harusnya sekarang kamu udah sidang (Rex Rashad, hlm 296).

 

Informasi Buku

Judul: The Chronicles of Audy: 21

Penulis: Orizuka

Penyunting: Tia Widiana

Cover desainer dan illustrator: Bambang ‘Bambi Gunawan (lucu banget covernyaaa…..:) )

Proofreader: NyiBlo

Penerbit: Penerbit Haru

Terbit: Cetakan pertama, Juli 2014. Cetakan kempat, Mei 2016

Tebal: 308 hlm

ISBN: 602-774-237-2

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s