[Review] Cinderella Syndrome

Cinderella SyndromeErika, 30 tahun, tidak pernah terpikir untuk menikah sama sekali. Menurut Erika, kehidupan pernikahan sangatlah sulit dan ia ingin terus bebas seumur hidupnya.

Alasan Erika membenci lembaga pernikahan adalah ayahnya. Ayahnya berpoligami, dan bersikap sangat tidak adil terhadap ibunya. Ibunya stres, sehingga Erika diasuh oleh sahabat ibunya, bahkan kakaknya pun, memiliki tabiat seperti sang ayah, sehingga kedua anaknya terlantar, dan Erikalah yang menopang kehidupan ekonomi ibunya, dan kedua anak kakaknya.

Erika mempunyai pekerjaan yang mapan dan posisi yang bagus di kantor. Dia hidup begitu mandiri, sehingga dia merasa tidak butuh laki-laki. Terhadap semua laki-laki di kantornya, dia terkenal bersikap sangat judes. Erika menganganggap semua laki-laki sama dengan ayahnya.

Hingga dia bertemu Lukman, duda dengan 1 orang anak yang istrinya meninggal saat melahirkan. Erika diundang ke acara ulang tahun anaknya Lukman. Dia bertemu orang tua Lukman dan mendapati sikap ayah dan ibu Lukman yang sangat berbeda dengan orang tuanya sendiri.

Lalu, bagaimana ketika Erika yang menolak lembaga pernikahan tiba-tiba merasa bahwa menikah adalah jalan keluar terbaik bagi permasalahannya?

Violet, 25 tahun, seorang penulis “miskin” yang tidak mandiri. Ke mana-mana harus diantar seseorang agar tidak salah jalan. Pikirannya hanyalah menulis, menulis, menulis. Jadi kalau mama menyuruhnya menikah, apakah bisa?

Sebagai seorang penulis, Violet lebih banyak menghabiskan waktu di depan laptop. Yang melakukan pekerjaan rumah adalah mamanya. Masak, bersih-bersih rumah, termasuk yang membereskan kamar Violet yang selalu berantakan adalah mamanya. Dia baru mengerjakan pekerjaan rumah kalau ibunya lagi sangat perlu bantuan. Oh iya, Violet ini sering nyasar karena susah menghafal jalan. Kata Cika, teman Violet yang sering menemaninya bepergian, Violet sebaiknya segera nikah, biar punya suami yang bisa mengantar kemana-kemana.

Violet menyukai Arfan, editornya yang tampan, dewasa, dan sholih.

Haruskan Violet memilih menikah hanya karena ingin memiliki pengawal pribadi?

Annisa, 28 tahun, seorang guru TK. Selalu memimpikan menikah dengan lelaki mapan, yang bisa mengeluarkannya dari situasi paling tidak menyenangkan dalam hidupnya.

Usia 28 tahun dan belum menikah, Annisa mendapat julukan sebagai perawan tua. Pekerjaan sebagai guru TK yang hanya mendapat gaji 200rb tiap bulan, membuat hidupnya jadi makin terlihat menyedihkan. Annisa merasa dirinya hanyalah orang tak berguna, sebagai anak sulung yang gajinya tidak mencukupi kebutuhan sendiri, masih bergantung pada orang tua, dan statusnya sebagai perawan tua.

Hingga Annisa dekat Zulfikar Firdaus, papa Norma, salah seorang muridnya. Zukfikar merupakan seorang duda yang bercerai dengan istrinya karena sang istri lebih memilih melanjutkan kuliah di Amerika sehingga meninggalkan Norma dan Zulfikar.

Harapan Annisa semakin melambung ketika Zulfikar melamarnya. Dia akan keluar dari situasi menyedihkan. Orang tua Annisa tidak mempermasalahkan status duda Zulfikar, yang penting adalah hartanya. Ibu Annisa dengan bangga bisa memamerkan menantunya yang kaya pada orang-orang yang selama ini menghina keluarganya.

Tapi masalah muncul, Norma yang awalnya sangat menyukai Annisa, tiba-tiba sikapnya berubah. Dan istri Zulfikar kembali.

Berhasilkan Annisa menjadi istri Zulfikar Firdaus, duda satu anak, yang belakangan membuatnya terbang kealam mimpi?

“Sebagian besar perempuan terjebak pada perangkap psikologis bahwa mereka akan selamat dalam menjalani kehidupan ini jika memiliki pelindung sejati bernama: laki-laki”

Novel ini memotret rupa-rupa dilema perempuan yang belum menikah. Ada Erika yang tidak ingin menikah, Annisa dan Violet yang merasa seolah semua masalah selesai jika mereka menikah.

Lalu, di antara ketiga contoh masalah tersebut, yang manakah yang paling mirip dengan masalahmu?

Aku sendiri ngerasa paling mirip dengan Violet. Umur beda dikit, aku lebih muda. Hehe…. suka berlama-lama di depan laptop meskipun bukan untuk buat novel kayak Violet, tapi untuk ngeblog dan nonton, males ngerjakan urusan rumah tangga, kamar suka berantakan, males perawatan (pantes aja masker dan lulur lama abisnya. hehe), sama-sama punya ibu yang super pengertian, dan sama-sama suka nyasar. Wkwkwk…. urusan ngafalin jalan itu, njelimet banget buatku. Memori di otakku kayak benang kusut kalau uda menyangkut urusan alamat dunia nyata.

Aku juga punya pikiran kayak Vio, kalau aku nikah sanggup gak sih ngerjakan urusan rumah tangga yang kayaknya gak pernah kelar-kelar kayak ibu? Kata ibu sih, dulu beliau juga gak bisa masak, tapi karena uda tuntutan ya mau gak mau harus bisa. Aku yakin aku juga bisa setangguh ibu nanti kalau uda berkeluarga. Tapi yang jelas, aku pengen nikah bukan supaya punya suami yang bisa nganterin aku kemana-mana tiap saat. Pengangguran dong suamiku?

“Menikah itu bukan kompromi, Vio. Kalau pengorbananmu kelak dapat membahagiakan orang yang kamu cintai, kenapa tidak?” (hal 148?

Menjelang semester akhir, sibuk-sibuknya dengan skripsi, aku punya pikiran seperti Annisa. Enak kali ya setelah lulus langsung nikah? Gak usah mikirin kerja, hidup ada yang nanggung. Pokoknya, aku mikir enak-enaknya aja tentang nikah. Seiring waktu berjalan, aku juga punya pikiran kayak Erika. Aku kira suami istri itu kayak bapak ibuku, rukun, harmonis. Mereka gak pernah bertengkar setahuku, kalau beda pendapat ia. Ternyata semakin aku membuka mata, aku lihat macem-macem hubungan rumah tangga di sekitarku. Ada tetanggaku yang suaminya selingkuh, suka mukul, ada suami yang ketika kaya malah nikah lagi dan istri pertamanya dinomor duakan, ada teman nikah muda kemudian cerai. Ribet pokoknya.

Seperti kata Erika, kalau nikah, aku kehilangan otoritas atas diriku sendiri. Apakah suamiku mau menerima dan akan mensupport hobbyku? Aku yang suka menghabiskwa waktu untuk membaca, menonton (bukan acara-acara TV), nulis di blog, sesekali jalan-jalan. Aku gak bisa berhenti dari aktivitas tersebut. Bukan untuk materi aku melakukannya, murni dari hati. Tapi aku berharap bisa menghasilkan sesuatu dari hobbyku ini. #malahcurhat.

Intinya, sambil menanti jodoh datang, fokus perbaiki diri. Banyak berdoa’a, melakukan hal-hal yang positif, selalu bersyukur. Guruku pernah bilang, ketika Allah memberi suatu kenikmatan, maka Allah akan mencabut kenikmatan yang lain. Beliau ngasih contoh ‘nikah’. Ketika Allah ngasih nikmat nikah, Allah mencabut nikmat ‘masa lajang’. Masih lajang itu enak lho, kita lebih bebas ngumpul sama teman, jalan-jalan, tinggal pamit ma ortu, gak usah mikirin anak dan suami yang belum dibikinin sarapan. So, nikmati masa lajang ini sebaik-baiknya. Dan semoga ketemu jodoh seperti yang aku sebutkan dalam doa-doaku. Aamiin.

Uda curhatnya, kembali ke buku.Ya, mereka bukan hidup dalam negeri dongeng, mereka bukan Cinderella, di mana hidup mereka terselamatkan karena kehadiran seorang pangeran, and they lived happily ever after, seperti dalam kisah dongeng.

Akhir Kisah cinta Erika, Annisa, dan Violet beda-beda, walaupun masalahnya sama, kegalauan seorang perempuan tentang pernikahan. Menjadikan novel ini lebih rasional. Benar-benar bukan Ciderella. Paling lucu si Violet, sangat berbahagia buat Erika, dan sedih dengan Annisa, tapi itu menjadikannya lebih kuat

Informasi Buku

Judul: Cinderella Syndrome

Penulis: Leyla Hanna

Terbit: cetakan pertama, Mei 2012

Penerbit: Salsabila

Tebal: 240 hlm

ISBN: 978-602-98544-2-8

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s