[Review] Go Set a Watchman by Harper Lee

imageDua puluh tahun lalu, Jean Louise menyaksikan Atticus, sang Ayah, membela Negro di pengadilan Maycomb County. Kini, Jean Louise menyadari bahwa Maycomb dan sang Ayah ternyata tak seperti yang dia kira selama ini, dan dia pun bukan Scout yang polos lagi.


Setelah 20 tahun berlalu, Jean Louise menjelma menjadi seorang gadis berusia 26 tahun dan masih tomboy. Meninggalkan Maycomb County, dan tinggal di New York. Atticus kini berusia 72 tahun. Setiap tahun Jean Louise mempunyai jatah liburan 2 minggu untuk dihabiskan di Maycomb. Liburan kali ini, dia naik kereta dan dijemput oleh kekasihnya, Henry Clinton.

Cerita ini bersetting sekitar 60 tahun silam. Di mana, di kota kecil bernama Maycomb, isu ras begitu sensitif. Putih dan hitam merupakan dua warna yang sangat kontras. Dan saat itu gak bisa dipungkiri bahwa orang kulit putih lebih maju dalam hal pola pikir, pendidikan dan pekerjaan. Hal ini menyebabkan penduduk berkulit putih di Maycomb, kebanyakan memandang sebelah mata pada orang kulit hitam. Orang kulit putih menempati posisi sebagai ras superior, dan kulit hitam sebagai ras inferior. Saking terintimidasinya, ketika di pengadilan, orang kulit hitam tidak pernah memenangkan kasus atas kulit putih, walaupun mereka benar sekalipun.

Tapi bagi Atticus Finch, seorang pengacara yang hidupnya taat pada hukum, tidak pernah membeda-bedakan seseorang karena warna kulit mereka.

“Kesetaraan untuk semua orang, tak ada keistimewaan bagi siapapun” (hal 115)

Begitulah Scout dan Jem Finch dibesarkan, meneladani sosok sang ayah.

“Mereka tak memasuki duniaku sebagaimana aku tak memasuki dunia mereka: saat berburu aku tak begitu saja masuk ke lahan orang Negro. Bukan karena dia Negro, melainkan karena aku memang tak boleh masuk ke lahan orang tanpa permisi. Aku dididik untuk tidak memanfaatkan orang yang lebih tak beruntung dariku; apakah dia lebih tak beruntung dalam hal kecerdasan, kekayaan, ataupun status sosial. Itu berlaku pada semua orang, tak hanya Negro. Aku dididik bahwa orang yang bersikap sebaliknya dari itu adalah orang yang pantas dibenci,” (hal 188)

Rasa kecewa, marah dan benci terhadap ayah yang sangat Scout kagumi, ketika melihat lelaki paling terhormat yang dia kenal di seluruh Maycomb tersebut, ikut dalam pertamuan orang-orang yang menentang Negro.

“Satu-satunya manusia yang pernah dipercayainya setulus dan sepenuh hatinya telah mengkhianatinya; satu-satunya pria yang dikenalnya, yang kepadanya dia bisa menunjuk dan mengatakan dengan penuh keyakinan, “dia orang terhormat, di dalam hatinya dia terhormat,” telah mengkhianatinya, di depan umum, dengan cara menjijikkan, dan tanpa malu-malu” (hal 120)

Di goodread buku ini memiliki rating rendah, karena banyak yang kecewa ternyata setelah 20 tahun, Atticus berubah, dianggap rasis. Ada sesuatu yang Atticus perjuangkan. Silahkan dinilai, dengan pikiran yang jernih, ketika membaca buku ini, benarkah Atticus rasis? Dan ingat, waktu itu, saat penduduk Maycomb County yang kebanyakan antipati terhadap orang kulit hitam, di kota besar seperti New York, di mana Scout tinggal selama beberapa tahun, sbaik kulit putih maupun hitam diperlakukan sama.

Jean Louise melabrak ayahnya, dan penjelasan sang ayah tidak memuaskannya. Jean Louise memaki-makinya dengan kata-kata kasar.

Tapi balasan Atticus hanya membuatnya semakin terluka, “aku mencintaimu, terserah kau saja”. Jean Louise berharap ayahnya membalas dengan hal yang sama.

“Kau punya kencederungan untuk tidak memberikan ruang di otakmu bagi pendapat orang lain, tak peduli betapa konyol pendapat itu menurutmu,” tegur paman Jack kepada Jean Louise. (hal 275).

Novel ini tidak mengubah penilaianku pada Atticus, malah aku sebal pada Jean Louise yang tidak mempercayai ayahnya. 26 tahun dia mengenal ayahnya, hanya karena kejadian yang dia lihat sesaat, dia seperti melihat orang asing. Tapi ya kalau dipikir-pikir, dengan memposisikan diriku sebagai Jean Louise, yang jarang bertemu dengan sang ayah, dan setelah 20 tahun berlalu, apa saja bisa berubah. Maklum lah kalau mendadak berburuk sangka dan kecewa.

Butuh waktu lama hingga akhirnya aku memutuskan membeli buku ini. Alasannya adalah, karena Jem meninggal. Masa kecil Scout (Jean Louise) yang indah bersama Jem Finch, dan Dill. Apa jadinya jika Jem gak ada? Ditambah Dill gak ada juga. Tapi karena buku pertamanya aku suka banget, tetap bikin aku penasaran sama buku ini. Oh iya, sebenarnya Go Set a Watchman ini adalah naskah pertama yang diajukan Harper sebelum To Kill a Mockingbird. Setelah 60 tahun dianggap hilang, naskah berharga ini ditemukan pada akhir 2014.

Paragraf-paragraf selanjutnya berisi curhat saja yaaa…. karena aku benar-benar rindu pada tokoh-tokohnya.

Ketika Jean Louise pulang dari New York, seorang laki-laki yang ternyata pacar Jean Louise, menjemptunya di stasiun. Namanya Henry Clinton (Hank). Pikiranku langsung teringat dengan Dill. Eh, bukan Dill ya? Kemana dia?

Hank merupakan teman masa kecil, juga tetangga Scout dan Jem. Sayangnya, ketika liburan musim panas tiba, Dill datang ke Maycomb dan Hank pergi berlibur ke rumah ibunya. Hal itu mebuat Hank cemburu pada Dill, karena tidak bisa menghabiskan liburan musin panas bersama Scout. Pada usia 14 tahun Hank menjadi seorang yatim piatu. Dan Atticus banyak membantu Hank sehingga dia menjadi pengacara. Atticus menganggapnya sebagai anak sendiri, begitu pun sebaliknya Hank pada Atticus. Hank seumuran dengan Jem.

Pembaca gak benar-benar kehilangan sosok Jem dan Dill di buku ini, karena mereka berdua hadir melalui kilasan ingatan masa kecil Scout. Sebagai pembaca, rinduku pada kedua tokoh tersebut lumayan terobati. Ah, tingkah mereka bertiga selalu konyol. Di sini juga diceritakan masa-masa saat Jem, Hank dan Scout masih bersekolah, tak kalah mengundang tawa. Saat Scout pertama datang bulan, saat Scout mengira dirinya hamil karena dia dicium temannya dan hampir bunuh diri tapi untungnya Hank datang di waktu yang tepat. Ketika Hank diancam Scout untuk mengerjai Jem, ketika Scout menjadi teman kencan Hank dalam acara kelulusan angkatan Hank dan Jem, ketika akhirnya Scout dan Hank jatuh cinta. Dan aku mengagumi Hank dan Atticus secara bersamaan saat Hank meminta pendapat Atticus untuk membebaskan Scout dari hukuman. Kilasan-kilasan memori masa kecil dan masa remaja Scout sangat menghibur.

Yang juga aku kangenin yaitu Boo Radley, sayangnya di sini gak disinggung sama sekali. Apakah dia kemudian bersahabat baik dengan Jem dan Scout setelah peristiwa itu? Apakah keluarga Radley meninggalkan Maycomb?

Terus bagian hubungan Jean Louise dan Hank? Sudah finalkah keputusan Jean Louise?

Dan, gimana nasib kasus Negro cucu Calpurnia? Aku kira akan ada aksi mengagumkan dari Atticus di pengadilan seperti di To Kill a Mockingbird.

Sayang sekali pertanyaan-pertanyaan itu gak akan terjawab, karena kita tahu bahwa penulisnya, meninggal bulan februari lalu, di usia 89 tahun. Kecuali ada keajaiban, misalkan anggota keluarga Harper Lee tiba-tiba menemukan hartu karun naskah tulisan Lee. Seperti kemunculan naskah ini yang raib selama 60 tahun, ditemukan lagi setelah To Kill a Mockingbird begitu melakat di hati pembaca.

Yang mengganggu di buku ini adalah, penggunaan PoV yang kurang jelas. Dari awal menggunakaan sudut pandang orang ketiga tunggal. Tapi kadang menggunakan PoV Jean Louise sebagai aku. Ya, kalau misalnya itu suara hati Jean Loise, sebaiknya fontnya dicetak miring, atau dikasih tanda kutip.

Contohnya di hal 154 (pragraf kedua dari bawah), dalam satu pragraf malah ada dua PoV.

Quote di Go Set a Watchman

Kalau kau tidak punya banyak keinginan, hidupmu selalu berkecukupan. (Hal 15)

Tetapi ayahnya tidak akan pernah mengeluh; sifatnya itu tidak pernah berubah, jadi untuk mengetahui perasaannya, dia harus ditanya. (Hal 18)

Jangan dorong dia. Biarkanlah dia melaju dengan kecepatannya sendiri. Daripada mendorong dia, lebih mudah kalau kau menaklukkan semua keledai di wilayah ini. (hal 60)

Seseorang hanya dapat memahami hukum setelah dia mempraktikkannya. (hal 60)

“Kesetaraan untuk semua orang, tak ada keistimewaan bagi siapapun” (hal 115)

Dia tidak pernah menghitung kerugiannya, dia tidak pernah menengok kebelakang. (Hal 117)

Seseorang mungkin saja mengutuk musuhnya, tetapi lebih bijak untuk mengenal mereka. (hal 240)

Yang paling berdaulat dalam diri manusia, Jean Louise, yang menjadi penjaga dalam setiap diri manusia, adalah nuraninya. Tak ada yang namanya kesadaran kolektif. (hal 272)

Ingatlah ini juga: mudah mengenang kembali siapa diri kita, kemarin, sepuluh tahun lalu, tapi sulit melihat diri kita sekarang. (hal 276).

Aku bisa menerima apa pun yang dikatakan orang tentang aku selama itu tak benar. (hal 285)

Review To Kill a Mockingbird silahkan baca di sini

Informasi Buku

Judul: Go Set a Watchman

Penulis: Harper Lee

Penerjemah: Berliani Mantilili Nugrahani & Esti Budihabsari

Penyunting: Tim redaksi Qanita

Proofreader: Emi Kusmiati

Penerbit: Qanita

Terbit: cetakan 1, September 2015

Tebal: 288 hlm

ISBN: 978-602-1637-88-3

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s