[Review] Paper Towns

paper townsSaat Margo Roth Spiegelman mengajak Quentin Jacobsen pergi tengah malam—berpakaian seperti ninja dan punya daftar panjang rencana pembalasan—cowok itu mengkutinya. Margo memang suka menyusun rencana rumit, dan sampai sekarang beraksi sendirian. Sedangkan Q, Q senang akhirnya bisa berdekatan dengan gadis yang selama ini hanya bisa dicintainya dari jauh tersebut. Hingga pagi datang dan Margo menghilang lagi.

Gadis yang sejak dulu merupakan teka-teki itu sekarang jadi misteri. Namun, ada beberapa petunjuk. Semuanya untuk Q. Dan cowok itu pun sadar bahwa semakin ia dekat dengan Margo, semakin ia tidak mengenal gadis tersebut.


Quentin dan Margo bertetangga. Saat keduanya berusia 9 tahun, mereka menemukan mayat seorang laki-laki di taman. Walaupun Margo menyiratkan ketertarikan terhadap mayat tersebut, Quentin memaksanya untuk pulang. Malamnya, Margo mengetuk jendela kamar Quntin dan mengabarkan bahwa dia sudah menyelidiki mayat tersebut.

Sekarang mereka sudah berusia 18 tahun, kelas akhir sekolah menengah atas. Quentin selalu menyukai Margo, tapi Margo sudah berpacaran dengan Jase. Sudah 9 tahun berlalu sejak Margo mengetuk jendela kamar Quentin, dan ini kedua kalinya Margo melakukan hal yang sama. Memaksa Quentin untuk melakukan 11 misi. Quentin yang menyukai keteraturan dalam hidupnya menolak. Dia besok harus sekolah, dia tidak ingin ajakan Margo membuat rutinitasnya terganggu, apalagi selama ini dia tidak pernah absen.

Tapi akhirnya Quentin mau, toh ini kesempatannya untuk dekat dengan cewek yang sudah lama dia sukai.

“Pokoknya,” kata Margo, “ini akan menjadi malam terbaik dalam hidupmu” (hal 40).

Malam itu, Margo melakukan aksi pembalasan. Mengerjai cowoknya yang berselingkuah dengan sahabatnnya. Juga mengerjai Chuck, siwa yang jahil di sekolah, dengan membobol masuk kamarnya lewat jendela, dan mengoleskan Veet pada alis kanan Chuck. Sebelumnya, mereka melumuri pintu kamarnya dengan Vaseline agar ketika Chuck bangun dan berteriak, orang tuanya masih disulitkan dengan pintu kamar Chuck yang licin hingga kemudian Margo dan Quentin punya banyak waktu untuk melarikan diri.

Sekitar jam 3 dini hari, Margo dan Quentin masuk ke suntTrust Building. Margo mengenal penjaganya sehingga mereka bisa masuk pada jam segitu. Margo menyandarkan dahinya pada jendela kaca yang luas di lantai 25, dan menyuruh Quentin melakukan hal yang sama. Quentin takjub melihat pemandangan kota Orlando dari ketinggian pada saat gelap. Terlihat indah.

sunTrsut

“Tempat ini memiliki pemandangan terbaik di seluruh gedung” (hal 67)

“Ini lebih mengesankan,” kataku keras-keras. “Dari kejauhan maksudku. Kau tidak bisa melihat keusangan, tahu tidak? Kau tidak bisa melihat karat atau rumput liar atau yang retak-retak. Kau melihat ini persis dengan yang pernah dibayangkan seseorang.”

“Semuanya terlihat terlihat lebih jelek dari dekat,” ucap Margo.

“Tapi kau tidak,” jawabku sebelum berpikir panjang.

“Yang indah dari semua ini adalah: dari sini kau tidak bisa melihat karat atau cat yang retak-retak atau apalah, tapi kau tahu tempat apa itu sebenarnya. Kau mengetahui betapa palsunya semua itu. Tampat itu bahkan tak cukup keras untuk tampak terbuat dari plastik. Itu kota kertas. Maksudku, coba liha, Q: coba lihat semua kudelsak, jalan-jalan yang introver, semua rumah yang dibangun untuk runtuh lagi. Semua orang-orang kertas mendiami rumah-rumah kertas mereka, membakar masa depan agar tetap hangat. Semua bocah-bocah kertas menegak bir yang dibelikan gelandangan untuk mereka dari toko kelontong dari kertas. Semua orang menjadi sinting oleh kegilaan memiliki sesuatu. Segala-galanya setipis dan serapuh kertas. Begitu juga semua peghuninnya” (Margo. Hal 69).

Paginya, Quentin bersekolah dalam keadaan mengantuk berat, tidur saat pelajaran, dan ijin ke toilet untuk tidur di sana. Sedangkan Margo tidak bersekolah. Mungkin, pikir Quentin, Margo sedang melakukan petualangannya yang lain. Quentin merasa sedih karena Margo tidak melibatkannya kali ini.

Esoknya, esoknya, dan esoknya lagi Margo tidak datang ke sekolah. Orang tuanya menyewa jasa detektif untuk menyelidiki kepergian Margo. Margo sudah sering kabur dari rumah, tapi akhirnya kembali lagi. Dan kali ini, adalah waktu paling lama Margo kabur dari rumah.

Ibu Margo bilang, Margo memang tidak pernah memberi tahu kemana anaknya pergi, tapi Margo selalu memberi petunjuk. Orang tua Margo tidak tahu petunjuk apa yang ditinggalkan anaknya saat ini. Quentin mengajak dua sahabatnya, Radar dan Ben untuk menyelidi kamar Margo, mencari petunjuk. Hal itu dilakukan ketika orang tua Margo sedang pergi, dan dibantu oleh adik Margo. Quentin menemukan buku Leves of Grass karya Walt Whitman, penyair abad ke 19, dan membawanya pulang ke rumah.

Bagian puisi Song of Myself diberi tanda biru di buku tersebut. Dua baris diberi tanda hijau.

Lepaskan kunci-kunci dari pintu!

Lepaskan pintu-pintu dari kosennya!

Isi puisi selanjutnya, Quentin menafsirkan, seolah seperti tanda kematian.

Aku menyerahkan diri kepada tanah untuk tumbuh dari rerumputan yang kucintai.

Apabila engkau mendambakan diriku lagi cari aku di bawah sol sepatumu.

Quentin harus menemukan Margo, Quentin yakin Margo pun ingin Quentin menemukan dirinya dengan memberinya petunjuk. Apakah nanti dia akan menemukan Margo dalam keadaan hidup atau sudah mati? Lalu misteri apa yang membuat Margo melarikan diri?

Ini pertama kalinya baca karya John Green, dan aku sulit untuk berhenti membacanya. Bikin penasaran terus.

Karakter Radar yang pintar dan Ben yang konyol membuat novel ini gak bikin bosan. Komposisi karakter yang komplit. Apalagi kalau 3 sahabat ini uda kumpul, Quentin, Radar, dan Ben, sering mengundang tawa, ngomongin dan melakukan hal-hal konyol. Ketika wisuda, mereka sepakat untuk tidak memakai baju di balik seragam wisuda mereka. Dan dengan pakaian seperti itu, mereka malah kabur saat upacara wisuda untuk membantu Quentin mencari Margo. Perjalanan selama 23 jam di minivan untuk mencari Margo, diceritakan dengan apik. Bukan sekedar berkendaraan, tapi perjalanan penuh tantangan, dan perenungan, dengan dibumbui aksi kocak dan konyol tentunya..

Quote favorit

“Tapi kuliah memperluas kesempatanmu, bukan membatasinya” (hal 339)

Informasi Buku

Judul: Paper Towns (Kota Kertas)

Penulis: John Green

Alih Bahasa: Angelic Zaizai

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit: 2014, cet ketiga: Juni 2015

Tebal: 360 hlm

ISBN: 978-602-03-1834-9

Pinjam di IJak

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s