[Review] Pertemuan Jingga

pertemuan jinggaPerempuan pecinta bangunan dan laki-laki pecinta tumbuhan

Bertemu kala matahari berubah jingga menawan

Di Bukit Merah tempat cabai disemai

Tersimpan misteri yang mengusik damai

Bukit merah. Begitulah mereka menyebut area pertanian cabai di Megamendung ini. Anthea, arsitek junior yang bekerja di kantor konsultan desain, tiba-tiba harus menjadi pengawas lapangan pertanian—tugas yang bertolak belakang dengan keahliannya. Awalnya ia meremehkan tempat yang jauh dari keramaiaan kota dan memaksanya bekerja dengan orang-orang desa itu. Namun kala misteri dan masalah pelik silih berganti, Anthea tahu tugasnya tak bisa dianggap enteng.

Beruntung ia tak harus berjuang sendirian. Bastian si pencita tumbuhan, sosok menawan yang sering mengajaknya berdebat, selalu menemukan jalan untuk menjadi dewa penyelamat. Sanggupkah mereka mengatasi segala masalah yang mengusik kedamaian Bukit Merah? Dan tatkala secercah cinta tumbuh di antara keduanya, mana yang harus dikalahkan—gengsi atau masa depan?


Namanya Anthea, seorang gadis 24 tahun yang harus bersikap realistis ketika mendapatkan pekerjaan tidak sesuai jurusannya, tidak sesuai ­passion-nya. Tapi hidup seringkali begitukan??? Aku mengalaminya, dan banyak orang juga mengalaminya.

Apa yang Anthea lakukan? Mau tidak mau dia tetap bekerja di perkebunan. Dan ternyata, banyak pengalaman yang dia peroleh selama bekerja di perkebunan. Semakin mandiri, jiwa kepemimpinannya terasah dan banyak hal lain. Tapi, mimpinya sebagai seorang arsitek tetap tidak pernah padam. Setelah empat bulan bekerja di perkebunan, Anthea berani memutuskan untuk resign.

Anthea tidak ingin begitu. Dia masih muda. Dia tidak boleh menyerah. Dia harus yakin masih punya kesempatan menggapai cinta-citanya, mengerjakan pekerjaan yang dia sukai. Itu sebabnya di harus kembali ke Jakarta. Di sanalah nanti Anthea akan bertarung sekuat tenaga meraih asa. (hal232)

Berat, itu yang Anthea rasakan, dia harus berpisah dari Niken, teman sekantornya, penduduk desa yang ramah dan sudah akrab dengan Anthea, lingkungan pertania yang penuh pesona, dan Bastian, si lelaki penyuka tumbuhan.

Ternyata mengucapkan kata perpisahan bukanlah hal yang mudah. (hal 235)

Ini kali keempat baca buku mbak Arumi setelah Merindu Cahaya de Amstel, Love in Adelaide, dan Eleanor. Dan buku ini menempati tangga paling bawah daftar suka. Judunyal romantis, covernya unik, blurbnya bikin penasaran banget. Tapi ceritanya gak seromantis judulnya. Sempat heran juga sih, ini cerita misteri apa roman??? Interaksi Anthea dan Bastian kurang, aku malah lebih terharu saat Anthea harus berpamitan dengan Niken, bukas Bastian.

Semua peristiwa yang terjadi di perkebunan, hantu di vila, penculikan Niken, dan jejak harimau jadi-jadian, sepertinya dijadikan alur untuk menunjukkan bahwa Bastian peduli pada Anthea, dan bahwa Bastian selalu ada buat Anthea.

“apa kamu nggak sadar selama ini beberapa kali aku sudah menyelamatkanmu?” (hal 229).

Tapi menurutku sisi emosional dari kejadian-kejadian itu kurang dapat. Malah kayak kisah misteri.

Saat Niken diculik, kemudian Anthea dan Bastian mencari Niken. Setelah itu, what??? Kayaknya lebih dramatis kalau Niken diculik saat Anthea dan Niken lagi bertengkar. Apalagi di bawah bab ‘Ke Mana Niken’ tersebut tertara sebait tulisan, ‘Ternyata aku mengkhawatirkanmu. Karena di sini, kita adalah keluarga’. (hal 205).

Satu hal yang aku pelajari dari karakter tokoh cowok di ketiga novel terakhir mbak Arumi yang aku baca. Selalu merasa menjadi orang yang paling bertanggung jawab terhadap tokoh cewek. ‘karena kamu tanggung jawabku’, kata-kata semisal itu intinya. Sampek aku nengerin, loh kok muncul lagi kata-kata kayak gini? Apa gak ada cara lain untuk menunjukkan rasa peduli dan rasa suka?

Yup, gitu aja. Selamat membaca.

“Tolong jangan biasakan menyalahkan orang lain saat terjadi suatu bencana” (hal 48)

“Tak perlu ada pesan terakhir karena selalu ada kesempatan bagi kita untuk bertemu lagi suatu saat nanti”. (hal 210)

Informasi Buku

Judul: Pertemua Jingga

Penulis: Arumi E

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit: 2014

Tebal: 250 hal

ISBN: 978-602-03-1194-4

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s