[Review] Sabtu Bersama Bapak

cover film sabtu bersama bapakIni adalah sebuah cerita. Tentang seorang pemuda yang belajar mencari cinta. Tentang seorang pria yang belajar menjadi bapak dan suami yang baik. Tentang seorang ibu yang membesarkan mereka dengan penuh kasih. Dan…, tentang seorang bapak yang meninggalkan pesan dan berjanji selalu ada bersama mereka.

Pak Gunawan meninggal saat Satya berumur 8 tahun dan Cakra 5 tahun karena kanker. Tapi sebelum meninggal, dia sudah mempersiapkan segalanya.

Jauh sebelum sadar dirinya divonis harus berpulang, dia sudah memastikan akan ada cukup instrumen yang membuat anak istri mandiri tanpa dirinya. (hal 31)
Keluarga ini adalah tanggung jawabanya, di alam mana pun dia berada. (hal 31).

Melalui berbagai rekaman video yang suda Pak Gunawan siapkan, dia ingin selalu ada untuk anaknya.

“Hai, Satya! Hai, Cakra!” Sang bapak melambaikan tangan.
“ini bapak.
Iya, benar kok, ini bapak.
Bapak cuma pindah ke tempat lain. Gak sakit. Alhamdulillah, berkat doa Satya dan Cakra.
Mungkin bapak tidak dapat duduk dan bermain di sampaing kalian.
Tapi, bapak tetap ingin kalian tumbuh dengan bapak di samping kalian. Ingin tetap dapat berceita kepada kalian.
Bapak sudah siapkan.
Ketika kalian punya pertanyaan, kalian tidak perlu bingung ke mana harus mencari jawaban.
I don’t let death take these, away from us.
I don’t give death, a chance.
Bapak ada di sini. Di samping kalian.
Bapak sayang kalian.”

Begitulah Satya dan Cakra dibesarkan dengan nasehat-nasehat bijak dalam video Bapak. Setiap sabtu sore sesudah shalat ashar menjadi jadwal rutin mereka menonton video-video tersebut.

Cakra si bungsu, karir cemerlang, tapi kesulitan dalam menemukan jodoh. Ibu Itje, sang Mamah sudah berkali-kali berusaha mengenalkan Cakra pada anak gadis teman-temannya, tapi selalu dia tolak. Begitupun teman-temannya di kantor, berusaha mencarikan jodoh untuk Cakra. Hingga suatu hari dia menyukai Ayu, karyawan baru di kantornya. Cakra punya saingan, yaitu Salman yang tampangnya lebih cakep dari Cakra.

Keduanya sama-sama nembak Ayu.

Kata Salman,
“Ayu, gua ini banyak kekurangannya. Dan elo banyak kelebihannya. Gua lihat, kita bisa saling isi. Saling melengkapi”. (hal 202).

Kata Cakra, mengingat nasehat Bapak,

“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan, Yu. Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.
“….”
“Tiga dikurangi tiga berapa, Yu?”
“Nol”
“Nah. Misal, saya gak kuat agamanya. Lantas saya cari pacar yang kuat agamanya. Pernikahan kami akan habis waktunya dengan si kuat melengkapi yang lemah”.
“….”
“Padahal setiap orang sebenarnya wajib menguatkan agama. Terlepas dari siapa pun jodohnya”.

Find someone complimentary, not supplementary. (Oprajh Winfrey. Halm 217)

Suka dengan alasan Cakra saat bilang bahwa Ayu adalah perhiasan dunia akhirat.

“Kamu pintar. That goes without question. Kamu cantik. Itu jelas”.
“Itu semua dunia,” potong Ayu.
“Dan karena pada waktunya, saya selalu lihat sepatu kamu di musala perempuan”.

Note: agak terganggu dengan kata ‘cari pacar yang kuat agamanya’. Diganti ‘cari istri yang kuat agamanya’ lebih pas. Soalnya kalau kuat agamanya gak mau kan diajak pacaran? Taarufan aja.

Sedangkan Satya, sebagai anak sulung tanpa sosok bapak, terbiasa hidup disiplin, keras, dan selalu menunjukkan prestasi yang bagus. Satya menikah dengan Rissa, diusianya yang 33 tahun ini, mereka dikarunia 3 orang anak, laki-laki semua. Dia suka marah jika pulang kerja rumah berantakan, masakan istri gak enak, dan anaknya tidak bisa memecahkan soal matematika yang menurutnya, saat dia seumuran itu mampu.

Rissa membahasa masalah terebut dalam emailnya pada suami. Kenapa rumah berantakan, harap maklum, anaknya 3 laki semua dan masih kecil-kecil. Kenapa masakannya kurang enak, kenapa si sulung tidak bisa jawab matematika, dan sebagainya. Oh iya, Satya ini tempat kerjanya jauh dari rumah, jadi bisa pulangnya tiap wiken.

Isi email istri membuat Satya berpikir.

Dia berpikir akan perlakuannya kepada ketiga anaknya selama ini.
Apakah terlalu keras?
Apakah terlalu cepat marah?
Apakah mereka sebenarnya tertekan? (hal 59)

Karena sebelumnya uda baca novel bertema keluarga yaitu To Kill a Mockingbird yang berkesan banget bagiku, sehingga ketika selesai baca ini kurang dapet feelnya. Sama-sama ngebahas tentang teladan dari seorang ayah, bedanya novel yang satunya si ayah uda meninggal dan yang satunya masih hidup. Di goodread ratingnya tinggi dan novel ini juga akan segera tayang di bioskop, itulah yang menjadi alasanku membelinya.

Kekuarangan novel ini menurutku ya kurang tebel. Apalagi ini kan menceritakan kisah 3 orang dalam satu keluarga setelah ditinggalkan oleh sang kepala keluarga, Cakra, Satya, dan bu Itje. Masing-masing kisah para tokoh bisa lebih diexplore, terutama tentang pesan-pesan dalam video bapak. Biar gak ngambang, ada di awang-awang aja pesannya. Misalkan di pesan hal 18, bapak bilang plan ahead. Rencanakan. Tapi sayangnya yang menjadi pertanyaan rencana kayak apa, apa aja action bapak, perjuangannya gimana sehingga setelah dia meninggal gak kuatir keluarganya melarat? Ujug-ujug sukses semuanya.

Yang bikin gagal paham nih. SPOILER ALERT. Ibu Itje kan pengen ngenalin si Cakra sama Retna, anak temannya bu Itje. Bu Itje tau sama si Ratna, tapi kenapa saat Cakra memperlihatkan foto Ayu (dimana Retna dan Ayu adalah orang yang sama), orang yang uda nolak cinta anaknya, Bu Itje gak komentar apa-apa? Kok bisa bilang Retna lebih cantik dari Ayu? Kan satu orang?

Yang juga gak nyambung nih, seperti komentar di goodreads, saat pak Gunawan memberikan contoh tentang Steve Jobs yang membuat iPod. Itu video kan tahun 1992, Seteve Jobs buat iPod tahun 2000an.
Itu aja yang mengganggu, selanjutnya oke.

Moment yang bikin LOL di novel ini yaitu saat orang-orang mulai ngegodain Cakra yang jomblo. Misalkan di halaman 13, saat pak Ustadz mendo’akan Cakra di acara selamatan rumah baru Cakra.

Di halaman 43-47, ketika teman-teman kantor cakra sudah peduli tingkat tinggi terhadap kejombloan Cakra.

“Pagi, Pak Cakra”.
“Pagi, Wati”. Cakra membalas sapa salah satu sales yang duduk tidak jauh dari ruang kantornya.
“Udah sarapan, Pak?”
“Udah, wati”.
“Udah punya pacar, Pak?”
“Diam kamu, Wati”. Cakra masuk ke dalam ruangannya dan menyelakan laptop.
“Pagi, Pak,” sapa Firman di depan pintu. Dia adalah bawahannya yang lain.
“Pagi. Firman”.
“Pak, mau ngingetin dua hal aja, Bapak ada induksi untuk pukul 9 nanti di ruang meeting”.
“Oh, iya. Thanks. Satu lagi apa?”
“Mau ngingetin aja, Bapak masih jomblo”.
“Enyah, kamu”.

Tokoh favoritku di novel ini yaitu Rissa. Dia ibu yang cerdas. Misalkan saat dia bermain role play good guy-bad guy dengan Miku, si bungsu. Rissa jadi Indian dan Miku jadi koboi. Dimulailah permaianan sambil kejar-kejaran yang menguras tenaga. Misi Rissa membuat Miku capek, ngantuk, tidur lama, kemudian Rissa bisa melalukan pekerjaan lain. (Hal 124-125). Jadi, bukannya marah-marah nyuruh anak buat tidur.

Atau cara Rissa agar anak-anaknya mau makan sayur (hal 168)

You know Guys, semua pirates itu gusinya berdarah. Giginya ompong. Tahu kenapa?” Rissa berbicara pada ketiga anaknya.

“kenapa, Mah?” Tanya Riyan dan Miku.

“MAMAH?”

“Eh, kenapa Captain?” ralat mereka.

“Karena mereka jarang makan sayur”

“Iiiiii…..”

“Nah makanya, habiskan sayur dan buah ini. Harr harr!! Yang tidak, giginya ompong!”

Suka juga cara Satya mendiamkan anaknya yang aktif (hal 262).

“Miku, let’s play a game
“GAMES! I love games”.
“OK, game-nya, siapa yang paling lama diam, dia akan dapet es krim di airport nanti.
“Hupp!” Miku menutup mulutnya rapat-rapat.

Pelajaran parenting bagi yang jomblo kayak diriku ini. Buku ini cocok buat dibaca oleh bapak-ibu, calon bapak dan calon ibu (nunjuk diri sendiri).

Informasi Buku
Judul: Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Desainer sampul: Maxima Pictures
Penerbit: Gagas Media
Terbit: cetakan pertama, 2014. Cetakan kedua puluh satu, 2016
Tebal: 278 hlm
ISBN: 979-780-721-5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s