[Review] Love in Adelaide by Arumi E

Love in adelaide arumi eAleska tak punya pilihan selain mengikuti ibunya memulai hidup baru di Adelaide, tinggal serumah bersama dua saudara tiri dengan karakter berbeda. Zach Mayers yang overprotective dan Sarah Mayers yang tak pernah bersikap manis.

Hidup yang sulit di negeri baru terasa lebih ringan sejak Aleska mengenal Neil Wilkins, pemuda Australia berdarah Inggris-Aborigin. Rekan sekerja yang menyelamatkannya dari pemuda-pemuda mabuk ini sudah terbiasa menghadapi kerasnya hidup sebagai Aborigin. Dari kebersamaan, perlahan tumbuh perasaan yang sulit dicegah. Keduanya tak mampu berpisah walau ada jurang perbedaan besar di antara mereka. Kerumitan bertambah ketika Sarah secara terang-terangan menggoda Neil dan Zach tak bosan-bosannya mengingatkan Aleska tentang rambu-rambu agama yang tak boleh dilanggar.

Ketika masa tinggal Aleska di kota itu berakhir dan dia harus pulang ke Bandung ada tanya yang menggelayuti hatinya: haruskan dia kembali ke Adelaide untuk memperjuangkan hubungannya dengan Neil? Apa pula misi Zach yang tanpa terduga menyusulnya ke Bandung?


Aleska ini disukai oleh dua orang sekaligus, Zach, saudara tirinya, dan Neil, rekan kerjanya di Asian Taste. Dengan Zach, Aleska merasa aneh jika keduanya mempunyai hubungan khusus. Apalagi sampai menikah, walaupun mereka non muhrim dan boleh menikah, tapi mereka punya adik bersama, Noah, buah hati ibu Aleska dan Ayah Zach. Dan sebagai anak tunggal, Aleska senang tiba-tiba mempunyai seorang kakak yang melindungi dan menyayanginya.

Untuk Neil, mereka beda keyakikan. Alesaka dan Neil sama-sama menyadari itu. Ibu Aleska pun memperingati Aleska tentang hal tersebut. Tapi bagaimana lagi, hati Aleska sudah terpaut dengan Neil. Neil sopan dan sangat baik. Walaupun menurut Neil, dia sendiri banyak kekurangan. Pertama, dia adalah separuh Aborigin, dianggap masyarakat kelas dua di Australia, dia juga tidak kuliah, meskipun ibunya adalah seorang profesor, dia juga mengidap darah kental, dan telinga kirinya yang agak tuli.

“Tapi kamu pasti lebih mengharapkan laki-laki sehat dan sempurna”.

“Neil, jangan terus-terusan menuduhku seperti itu” (hal 123)


“Karena ekspresi wajahmu lucu sekali. Pasti kamu kaget dan sekarang kamu bingung karena nggak ada hal hebat dariku yang bisa kamu jadikan alasan untuk tetap bertahan bersamaku”

“Kamu jangan menganggap remeh aku. Aku nggak pernah berpikir begitu” (hal 136)


Aleska bisa menerima semua kekurangan Neil, hanya satu kendala besarnya. Keyakinan. Keduanya menjalani hubungan aneh.

“Berjanjilah, Neil. Jangan mendadak berhenti menyukaiku”

“Kenapa?”

“Kamu tahu kenapa. Itu bakal bikin aku patah hati”

“Kamu bilang nggak mau pacaran”

“Memang tidak”

“Tapi, kamu ingin aku tetap menyukaimu? Egois banget,” sindir Neil.

“Ini bukan egois, tapi karena….aku juga menyukaimu”

“Jadi, kamu masih mau bertahan menjalani hubungan kita yang aneh ini?”, tanya Neil.

“Hubungan kita tidak aneh,” jawab Aleska kemudian.

“Kita sama-sama sadar, apa yang menghlangi kita berdua, kan?” (hal 223)

Di mata Neil, Aleska adalah perempuan yang sempurna. Satu persatu dia berusaha menjadi lelaki yang pantas bagi Aleska.

“Aku akan kuliah lagi. Kali ini aku berjanji akan sampai selesai. Aku ingin menjadi lebih layak bersamamu” (hal 200)

Lalu, bagaimana dengan masalah agama? Yup, ternyata buku ini ada seri selanjutnya. Love in Sidney. Ditunggu ya mbak Arumi. Semoga segera terbit.

“Siapa yang tahu masa depan akan seperti apa? Aku masih mau menunggu waktu berpihak padaku dan Neil” (hal 217).

Ini kali kedua aku baca buku mbak Arumi. Di penghujung tahun lalu, aku baca Merindu Cahaya de Amstel. Buku mbak Arumi selalu enak dinikmati (qiqiqi… kayak snack dong ya), dan gak bisa berhenti sekali baca.

Dialog-dialognya mengalir lancar, gak bertela-tele, dan cerdas. Misalkan saat Zach bilang ke Aleska supaya jangan sering diantar pulang Neil.

“jangan sering-sering diantar pulang olehnya. Kalau kamu takut pulang malam, bilang aku, aku yang akan menjemputmu,” kata Zach.

“aku nggak mau bikin kamu repot”

“Aku lebih pantas kamu bikin repot daripada dia. Aku kakakmu, dia bukan siapa-siapamu”

“Benar, kan? Kamu merasa repot kalau mengantar aku,” sahut Aleska sinis.

“Bukan itu poin perkataanku. Sekarang kamu adikku. Aku yang berkewajiban menjagamu”. (hal 67)

Kedua cowok ini, Neil dan Zach, suka sibuk dalam urusan antar jemput Aleska. Neil yang satu tempat kerja dengan Aleska, selalu ingin mengantar Aleska pulang. Sedangkan Zach yang bekerja di toko ayahnya, selalu pengen jemput Aleska. Beruntungnya Akeska yaaa…..

Adegan favorit di novel ini yaitu saat Neil berlatih Capoeira. Dia kan bertelanjang dada tuh, cuma pake celana. Selesai latihan, dia duduk di samping Aleska. Aleska ngomong sama Neil tanpa melihat Neil.

“Kamu nggak berani melihat tubuhku? Kenapa? Memangnya tubuhku jelek?”

“Justru karena…..”

“Tubuhku bagus dan kamu takut kamu bakal tertarik padaku?” (hal 81)

Buku ini special, karena dikasih oleh orang yang special, di hari yang special. Kemudian jadi berlipat-lipat special karena ada pesan dan tanda tangan penulisnya, mbak Arumi.

tanda tangan arumi e

Thanks Titim, thanks mbak Arumi.

Sebelumnya, Merindu Cahaya de Amstel itu aku pinjam ke Titim, dan sukaaa. Aku pernah bilang ke Titim pengen koleksi bukunya mbak Arumi. Dan, pas ultahku kemaren Titim mewujudkan salah satu wish listku. Big thanks ya Titim. *hug

Informasi Buku

Judul: Love in Adelaide

Penulis: Arumi E

Editor: Donna Widjajanto

Terbit: 2015

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 279 hal

ISBN: 978-602-03-2545-3

 

Iklan

2 thoughts on “[Review] Love in Adelaide by Arumi E

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s