[Review] The Truth about Forever by Orizuka

orizukaDari Jakarta, Yogas menuju Yogya untuk mencari seseroang yang telah menghancurkan hidupnya. Entah di Yogya daerah mana orang yang dimaksud Yogas tinggal. Selama di Yogya, Yogas tinggal di sebuah kos murah dan jelek yang sedikit penghuninya. Karena tidak ada kamar lagi, Yogas terpaksa mendapatkan kamar di lantai 2, kamar khusus cewek. Seharusnya kamar cowok di lantai 1. Kamar Yogas bertetanggan dengan kamar Kana, keponakan si pemilik kos.

Kana. Dia urakan, supel, selalu bersemangat, dan mempunyai impian menjadi penulis best seller. Di lantai 1, di huni oleh Agus dan Ono. Semua anak kos di situ bisa makan di rumah Bulik, begitu Kana memenggil tantenya. Kecuali Yogas, dia lebih suka makan sendirian.

Saat Kana nanya dia berasal dari mana. Yogas malah menunjuk ke atas, dan menjawab bahwa dia dari Mars. Di kampusnya, Kana menceritakan tentang tetangga barunya pada Lian, sahabat Kana. Lian malah penasaran dengan Yogas, dan mendukung Kana dengan Yogas.

Setiap hari, Yogas pergi ke UGM, sesuai tujuan awalnya, menemukan orang yang menghancurkan hidupnya. Yogas tidak tahu bahwa Kana ternyata kuliah di UGM. Yogas bertemu Kana yang saat itu bareng Lian. Mengetahui sikap Yogas yang kasar, Lian malah tidak jadi mendukung sahabatnya itu.

Sikap Yogas, kadang dia baik, dan tiba-tiba berubah kasar lagi. Kana menyebutnya bunglon.

“Gak bisakah kamu milih salah satu?”

 Langsung aja ke pendapat subjektifku. Ini kali kedua baca karya Orizuka. Setelah jatuh hati pada I For You, aku semakin penasaran dengan karya Orizuka. Karya orizuka tuh enak dibaca, gak bikin bosen. Walaupun tema kayak gini uda sering diangkat, tapi tetap seru kalau Orizuka yang nulis. Orizuka pinter bikin pembaca penasaran apa yang terjadi dengan tokoh-tokohnya. Dan kemudian dikuak secara sedikit-sedikit hal-hal yang bikin pembaca penasaran.

Tema HIVnya kurang dapet sih, aku malah menikmati banget saat Kana berusaha mendapatkan cinta Yogas. Antara lucu dan kasihan. Yogas yakin Kana akan menjauhinya kalau tahu dia terkena HIV. Seperti sikap orang-orang yang dia sayangi. Keluarganya, teman-temannya, dan kekasihnya. Tapi yang dilakukan Kana malah sebaliknya, walaupu awalnya dia sempat ragu, kemudian dia mantap akan menerima Yogas apa adanya. Yogas divonis hidupnya tidak lebih dari 5 tahun lagi. Dia tidak ingin memberi harapan pada Kana, membebani Kana yang masih muda dengan penyakitnya.

“Dia bilang dia suka sama gue,” ujar Yogas membuat mata Eno melebar. “Dia bilang, dia siap kehilangan masa depannya demi gue. Dia bilang semua hal yang mau gue denger.”

Tapi Kana tidak menyerah walaupun Yogas belum menerima perasaannya. Yogas tetap bersikap kasar, tapi Kana tidak ambil hati. Malah Kana dengan enjoy sering menggoda Yogas. Buat Yogas, lebih baik Kana sakit hati sekarang, daripada hubungan mereka terlau serius dan jika tiba saatnya Yogas pergi, sakitnya akan lebih parah lagi. Yogas mengakui bahwa dia tertular HIV karena hubungan sexsual dengan teman laki-lakinya. Kana menangis mendengarnya. Tapi esoknya, sikapnya biasa lagi sama Yogas. Dia tidak apa-apa perasannya tidak akan pernah diterima oleh Yogas, Kana tetap mau berteman dengan Yogas. Kana tidak ingin Yogas merasa sendirian dan putus asa. Bahkan Kana dengan senang hati akan membantu Yogas mencari Joe, pacar lelaki Yogas. Kana gak tau rencana Yogas seteah bertemu dengan Joe.

Beberapa hari kemudian, Yogas yang mengaku gay malah kedatangan tamu, Wulan, mantan pacarnya. Kana sangat kesal dibohongi dan melempari Yogas dengan sepatu.

“Gue gak suka sama lo!” sahut Yogas membuat Kana terdiam danberhenti memukulinya. Yogas menatap Kana serius. “Lo mau gue bilang itu, kan? Gue bilang sekarang, gue gak suka sama lo.Gue udah kasih peringatan ke lo dari awal, kan? Tapi, lo tetep mau tahu urusan gue. Gue gak tahu lagi gimana caranya supaya lo ngejauh dari gue, dan terus terang aja gue gak tega ngomong langsung kalo gue gak suka sama cewek desa kayak lo!”

Yogas tersengal setelah mengatakan semua itu pada Kana. Kana hanya menatap Yogas tanpa berkedip, membuat air matanya mengalir semakin deras.

“Gas,” ujar Kana kemudian. “Kamu bisa lebih kejam lagi dari ini?”

Yogas terdiam menatap Kana yang sudah gemetar hebat.

“Sori, Kan. Tapi, Wulan adalah satu-satunya cewek buat gue. Dari dulu sampe sekarang, cuma

dia yang ada di hati gue. Gak akan ada yang bisa ngegantiin dia” , kata Yogas mmembuat kana

tersenyum miris.

“Gas… Bisa kamu sekalian bunuh aku?”

Dan pada akhirnya berkat Kana, Yogas mau mengejar impiannya lagi.

“Gas, aku tahu kamu memang sakit. Tapi, apa sekarang kamu lumpuh? Apa sekarang kamu

cacat? Gak, kan?” seru Kana membuat Yogas kaget. “Bahkan orang cacat pun gak berhenti

bermimpi! Kamu bisa jadi apa pun yang kamu mau!”

Aku lebih suka I For You daripada yang ini. Banyak adegan yang terlalu kebetulan.

Mengacak-ngacak rambut, menjitak dahi, adalah hal yang suka dilakukan oleh tokoh cowok di novel Orizuka. Aku baru baca dua sih, kita lihat aja di novel lainnya.

Tokoh favorit di novel ini, yaitu Kana. Dia anaknya apa adanya, gak jaim. Kenapa orang harus menjauhi penderita HIV? Toh, HIV bukan penyakit yang gampang menular, HIV tidak menular lewat udara, air liur, apalagi sebatas sentuhan fisik.

Sikap Kana yang menyatakan cinta duluan, itu gak pernah aku lakukan dalam hidupku. Kalau misalnya aku suka sama cowok, aku ngasih sinyal aja, selanjutnya terserah dia mau gimana. #eaaamalahcurhat..

Baca via e book. Download di sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s