[Review] I For You by Orizuka

i for youSurya: pinter, cuek, sangat ambisius dalam menggapai cita-citanya. Setelah ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan, dalam hidupnya hanya ada kata belajar. Sebagai siswa tak mampu namun sangat pandai, Surya mendapatkan beasiswa selama bersekolah di SMA Pelita Kita.

Princessa: Gadis yang hidupnya bak putri raja di mata orang lain. Selalu mengungkapkan apa yang ada di kepalnya, tak tau apakah itu menyakiti orang lain atau tidak. Polos dan sangat rapuh.

Benjamin: Sang pangeran, kaya, tampan, dan sangat baik. Benji tak pernah lepas dari sang putri, Cessa. Dalam hidup Cessa hanya mengenal Benji selain orang tuanya, begitupun sebaliknya Benji. Hubungan mereka sama sekali tidak seperti yang teman-temannya di sekolah pikirkan. Cessa butuh Benji, dan hanya Benji yang mampu menolong Cessa. Keduanya tak pernah lebih dari itu.

Bulan: adik Surya, Srikandi sekolah, atlit panahan yang diam-diam menyukan Benji, sang pangeran.

Selama 17 tahun hidup Cessa dan Benji selalu bersama. Ada sesuatu yang membuat mereka tidak boleh berpisah, dan membuat mereka tidak punya teman lain. Sampai SMP, mereka homeschooling. Baru SMA, Cessa ingin merasakan hidup normal, dengan berat hati ayahnya menyekolahkan Cessa sekaligus Benji di SMA Pelita Kita. bagi teman-temannya, Cessa dan Benji dianggap pasangan yang ideal dan sempurna. Keduanya sama-sama kaya, juga cantik dan tampan. Walaupun mereka populer, tak satu pun siswa yang mendekati mereka untuk berteman, mereka seolah selalu menjauh. Cessa tak pernah ikut pelajaran olahraga, yang dianggap sombong oleh siswa yang lain. Cessa dan Benji selalu duduk sebangku dan selalu ada dalam satu kelompok.

Perlahan hidup mereka berubah ketika menginjak kelas XII. Wali kelas mereka, pak Herman mengacak tempat duduk di kelas. Cessa sebal karena dia tidak duduk bersama Benji lagi. Dan lebih sebal lagi karena dia duduk di depan Surya, si pintar yang miskin.

“Saya nggak mau duduk dekat orang miskin”, komentar Cessa yang membuat seisi kelas melongo dan bikin Surya kesal.

Nasib terus mendekatkan mereka. Di pelajaran Biologinya pak Herman, mereka dipasangkan dalam 1 kelompok praktikum. Menurut pak Herman, itu komposisi yang pas. Surya yang pintar diharapkan mampu menolong Cessa yang ranking 4 dari bawah.

Surya dan Cessa mendapat tugas menguji faktor cahaya terhadap pertumbuhan tanaman. Cessa sama sekali tidak membantu Surya saat menanam kacang hijau. Hanya memperhatikan Surya menanam kacang hijau itu dengan takjub, membayangkan seperti apa tanaman itu akan tumbuh. Ini pengalaman baru bagi Cessa. Cessa tanpa ditanya bilang bahwa dia suka makan bubur bayi rasa kacang hijau. Surya kesel dan mengetuk dahi Cessa dengan telunjuknya yang belepotan tanah. “Sisi lo bagian ini nggak tertolong”. Cessa yang polos malah gak merasa sakit hati sama ucapan Surya.

Surya menyelamatkan Cessa saat dia hampir terkena lemparan bola basket. Sejak saat itu ada perasaan lain dalam diri Cessa terhadap seorang laki-laki. Cessa menjadi ramah pada Surya, mengucapkan selamat pagi pada Surya sebelum duduk di kursinya, dan selalu terburu-buru berangkat sekoah.

Belakangan Cessa tau bahwa selama jam istirahat sekoah, Surya selalu berada di perpus. Hal ini membuat Cessa rajin pergi ke perpus untuk bertemu Surya, meskipun dia tidak tahu harus ngapain di perpus.

“Terus kenapa lo masih di sini?”, Tanya surya karena Cessa tidak baca buku.

“Karena lo masih di sini.” Jawab Cessa polos. Surya risih didekatin Cessa.

Selain selalu membuntuti Surya di perpus, Cessa juga sering ngajak Surya pulang bersama. Surya selalu berusaha menghindar dari perempuan bermata hazel itu. Surya tau, selain cantik, Cessa lugu dan baik. Itulah yang dia takutkan. Surya harus fokus pada pelajaran, mengejar beasiswa supaya bisa diterima di ITB. Dia tidak ingin memikirkan yang lain.

“Gue kan… cuma mau pulang bareng lo. Kenapa nggak boleh?”

Sedangkan Benji, semakin dekat dengan Bulan. Suatu hari Surya mengiyakan tawaran Cessa untuk pulang bersama. Mendadak surya bilang ingin ke toko buku. Cessa malah tetap mengikuti Surya. Benji awalnya keberatan, tidak ingin sesuatu terjadi pada Cessa. Tapi melihat Cessa senang, Benji tidak bisa menolak dan dia puLang berdua dengan Bulan.

Pergi ke toko buku, naik angkot, jalan kaki, adalah pengalaman baru lagi bagi Cessa. Bersama Surya, dia merasa hidupnya seperti orang normal. Kasihan melihat cessa kepanasan, Surya meberikan jaketnya untuk menghindari terik matahari.

Besoknya di skolah, Cessa dengan riang memakai jaket Surya.

“Kenapa lo pake itu?”, Tanya surya

“Emang kenapa? Nggak boleh?”

“Lepasin,” gumam Surya, membuat mata Cessa melebar.

“Kenapa?”

“Jaket itu kotor,” jawab Surya, risih dengan pandangan anak-anak lain. “Lepasin.”

“Nggak kotor, kok.” Cessa menggeleng, lalu memeluk lengannya sendiri. “Gue suka aromanya.”

Surya melongo. “Ha…?”

Surya heran karena pengetahuan yang gampang saja kadang Cessa tidak mengetahuinya.

“Dari kecil, gue nggak boleh mikir banyak-banyak. Jadi, gue belajar sebisa gue aja.”

Setiap kali ke perpus, Surya juga sambil mengajari Cessa. Cessa senang mendapatkan pengetahuan baru di perpus, dan Surya juga senang bisa sedikit memamerkan apa yang dia ketahui pada Cessa, membuat Cessa kagum.

Di perpus, Cessa mengakui bahwa dia menyukai Surya. Surya salah tingkah, dan pura-pura mengabaikan pernyataan Cessa.

Bagi surya, masalahnya adalah mereka sangat berbeda, bagai bumi dan langit, dia juga ingin hanya fokus pada peajaran, selain itu, dia juga cemburu melihat kedekatan Benji dan Cessa.

Sebenarnya, apa hubungan antara Cessa dan Benji hingga mereka tidak bisa berpisah walaupun tidak saling menyukai?

Cessa menanyakan hal yang membuat Surya tersentuh.

“Selama ini gue ganggu, ya?

“Maaf ya, gue nggak sadar. Gue emang bodoh.”

“Kalo… kalo gue tetep dateng ke sini, nggak apa-apa?”

“Gue bakal duduk jauh-jauh, kok. Gue nggak akan ganggu. Gue nggak akan tanya-tanya lagi. Boleh ya?”

“Lo juga nggak usah peduliin gue lagi. Lo fokus sama pelajaran aja”

“Gue suka lo dari jauh aja. Kalo gitu, boleh kan?”

 Surya tidak mampu menolak sang putri. Cessa menjadi lebiih ceria, Benji menyadari itu. Cessa ingin ikut pelajaran olehraga. Benji melarang keras.

Dia udah besar, udah 17 tahun”, potong Surya tajam. “Gue yakin lo udah tahu kalau dia sekarang cewek gue. Apa masuk akal kalo lo masih belagak jadi pangerannya?”, Surya marah.

 Cessa mengalamai kecelakaan kecil saat bermain basket, tapi akibatnya sangat parah. Benji panik dan langsung menggendong Cessa ke kelas, mengobatinya. Surya seperti orang tak berguna melihat ceweknya sakit dan ditolong cowok lain.

Cessa tidak masuk sekolah beberapa hari. Cessa merasa bersalah pada surya karena dia tidak akan mampu menjelaskan kondisi yang sebenarnya. Dia hanya minta surya percaya, hubungannya dengan Benji tidak seperti yang dia pikirkan. Surya masih bisa terima. Tapi setelah terjadi lagi kecelakaan yang lebuh parah di perpus, Surya seakan sudah menyerah.

Bagaimana selanjutnya. Silahkan baca sendiri.

Ini novel pertama orizuka yang aku baca. Dan aku langsung suka. Awanya gak yakin sih bakal suka sama ceritanya. Soalnya cerita anak SMA, yang you know what lah, aku sudah melewati masa itu. Apalagi aku baru saja baca Dilan, yang itu berkesan banget. Cerita SMA macam apa yang lebih bagus dari Dilan?

Tapi,,, lain Dilan, lain I For You. Ceritanya beda banget, dan keduanya punya kesen sendiri yang mendalam bagiku.

Kalau Dilan dari awal sampek akhir aku suka, cerita kayak gitu tuh real dan sederhana. kalau I For You, jujur membaca beberapa halaman awal gak suka. Kayak drama banget, tapi lama kelamaan aku jatuh cinta sama tokoh-tokohnya, terutama Surya, Cessa, dan Benji.

Aku kira Benji itu orang kaya yang sombong dan sok cool. Tapi ya ampun, melihat bagaimana dia berkorban untuk Cessa yang dia anggap saudara.

Si Cessa juga nyebelin banget, manja , dan kelihatan sombong. Tapi kemudian melihat keluguan dan kepolosannya, penyakitnya, membuatku sangat merasa kasihan pada akhirnya. Banyak adegan yang bikin aku nangis saat Cessa bareng Surya.

Saat Cessa bilang “Gue suka lo dari jauh aja. Kalo gitu, boleh kan?”

Dan saat mereka membicarakan bintang di perpus.

“Seharusnya, lo jangan mau disebut bintang paling terang.”

“Memangnya kenapa?” Cessa sedikit tersinggung sementara Surya terkekeh.

“Bintang paling terang itu paling cepat mati.”

Jantung Cessa terasa mencelos saat mendengar kata-kata Surya. Jari-jarinya berhenti menghitung. Surya sendiri tampaknya tidak sadar.

“Bintang paling terang adalah yang suhunya paling tinggi. Karena dia terbakar dengan cepat, bahan bakarnya pasti cepat habis. Kalau massanya sudah habis, dia akan meledak.”

 Di lain waktu, masih di perpus

“Kamu masih ngerasa seperti Bintang? Yang paling terang?”

Cessa mengangguk. “Gue tetap bintang yang paling terang. Walaupun paling cepat mati, gue nggak akan menyesal.”

Jari Surya berhenti menyusuri punggung buku. Ia menoleh kepada Cessa yang tampak bersandar di rak, menatap langit-langit perpustakaan.

“Yang penting, gue udah menerangi mereka yang membutuhkan cahaya gue.” Cessa menatap Surya. “Bener, kan?”

Dan Surya, dari awal aku suka. Aku suka karakter cowok yang pintar, apaagi si Surya ini bukan tipe cowok yang tertindas, walaupun miskin dia selalu strong. Walaupun lebih banyak bergaul dengan buku daripada teman-temannya, surya bisa diterima dengan baik di lingkungannya. Gak digambarkan seperti di film-film FTV, cowok kutu buku tapi cupu. Pokoknya suka deh sama karakter surya di sini.

 Orizuka sukses bikin aku penasaran, gak sabar melahap habis bukunya. Kenapa benji dan Cessa tak bisa dipisahkan? Bagaimana akhirnya kisah Surya dan Cessa, Benji dan Bulan. Di Awal-awal dan agak di akhir agak terlalu dramatis sih, apalagi adegan amnesianya itu, yang tiba-tiba uda gak amnesia lagi. Tapi cuma itu aja, setelahnya, ceritanya bisa aku nikmati. Endingnya gak gantung. Puas. Walaupun sempat deg-degan juga ihat kondisi Cessa.

Covernya cantik bangeeet.

Baca via e book. Download di sini

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s