[Review] Rumah Tangga

rumah tanggaKita adalah dua orang biasa yang saling jatuh cinta. Lalu, kita bersandar pada kekuatan satu sama lain. Terus berusaha memaafkan kekurangan satu sama lain.

Kita adalah dua orang yang berbagi rahasia untuk menyublimkan diri masing-masing. Saling percaya dan berusaha saling menjaga.

Kita adalah dua pemimpi yang kadang-kadang terlalu lelah untuk terus berlari. Namun, kita berjanji saling berbagi punggung untuk bersandar, berbagi tangis saat harus bertengkar.

Kita adalah dua orang egois yang memutuskan menikah.

Kemudian, setiap hari, kita berusaha mengalahkan diri masing-masing.

Dengan sejumlah rasa pengertian dan kesepahaman, engkau bersenang hati menghormatiku sebagai suami dan aku berbahagia menyayangimu sebagai seorang istri.


Buku ini merupakan kisah sehari-hari penulis, ungkapan perasaan kepada istri, anak-anak, orang tua, dan saudara, khususnya pada sang istri. Cerita yang sederhana sebenarnya, semua suami dan ayah pasti pernah mengalaminya. Tapi ketika dituliskan seperti ini terasa istimewa.

Hal sederhana tapi romantis dalam buku ini misalkan saat Rizqa, sang istri menaruh foto-foto lama di rumah baru mereka.

“Biar kita ingat terus kalau kita terus berjalan. Kita bisa lihat dari satu foto ke foto lainnya. Semuanya berubah pelan-pelan. Tapi, kita tak pernah berubah untuk berhenti saling menyayangi, kan?” (hal 178)

Atau saat si suami, yang pura-pura lupa menaruh kacamatanya.

Aku sudah melihat kacamataku di atas lemari es, tetapi aku membiarkanmu terus mencari kacamataku. Istriku, mencintaimu seperti membiasakan diri meletakkan kacamataku di tempat yang sudah aku ketahui setiap hari, untuk aku lupakan dengan mudah. Maka,aku akan bertanya kepadamu, dimana kacamataku? Lalu, kamu akan mencarikannya untukku. “terima kasih”, aku senang mengucapkan kata itu setelah kamu menemukan kacamataku. Lalu di hari berikutnya, aku akan mengulangi semuanya lagi. (hal 179)

Jadi intinya, pura-pura lupa dalam kehidupan berumah tangga itu juga perlu.

“ini foto kapan, ya? Kita lagi di mana?”

“Itu waktu kita lagi di Batam”

Aku tersenyum. Aku sudah tahu sebenarnya. Aku masih mengingat semuanya. Namun, aku senang menanyakannya kepadamu, lagi dan lagi: aku senang mengetahui bahwa aku tidak sendirian di dunia ini. (hal 180)

Sebenarnya, Nabi Muhammad sendiri adalah laki-laki paling romantis di dunia. Seperti yang penulis ceritakan di halaman 196-197. Ketika Rasulullah selesai berperang, Aisyah menyuguhkan minuman manis dan segar kepada beliau. Rasulullah meminumnya. Biasanya, beliau selalu menyisakan setengah gelasnya untuk diminum Aisyah. Tapi hari itu Rasulullah terus minum sementara Aisyah menunggu. Mungkin suaminya lupa.

Sebelum minuman di gelas sang Nabi habis, Aisyah yang gelisah tak bisa lagi menyimpan pertanyaannya, “Ya Rasul, biasanya engkau menyisakan minumanmu untuk kuminum?”

Mendengar pertanyaan istrinya, Muhammad Rasulullah berhenti sejenak. Dengan gelas yang masih di bibirnya, sang Nabi hanya melirik Aisyah dengan ujung matanya, lalu melajutkan lagi dengan lahap.

“wahai Rasul, mengapa engkau tidak berikan gelas itu agar aku bisa minum dari gelasmu, seperti biasanya?”

Karena Aisyah terus merajuk, Nabi menyisakan sedikit air di gelasnya. Kemudian Aisyah meminumnya. Dan ternyata air itu asin. Aisyah salah menaruh garam di gelas Rasul. Aisyah meminta maaf pada Rasul.

So sweet kan, Nabi? Beliau bukannya menegur sang istri, tapi terus meminumnya untuk menghargai Aisyah. Dan tidak menyisakan setengah gelasnya untuk Aisyah supaya sang istri tidak ikut merasakan minuman rasa garam tersebut.

Sebaik-sebaik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku.

Aku suka bab ‘Surat Cinta untuk Kemi’. Kemi ini adalah anak kedua di keluarga penulis. Saat sang istri mengandung anak kedua, mereka sempat berpikir bagaimana nanti kasih sayangnya terhadap anak pertama? Kalky, si anak sulung juga sempat takut orang tuanya lebih menyayangi adiknya.

“Suatu hari kalian mungkin akan bertengkar atau berbeda pendapat, seperti kakak dan adik di manapun di seluruh dunia. Jika saat itu tiba, ingatlah bahwa selalu ada saatnya kamu perlu meminta maaf terlebih dahulu meski kamu pikir bukan kamu yang salah. Tidak apa-apa kan? setiap kamu meminta maaf atau memaafkan seseorang, kamu akan menjadi pemenang, kamu akan selalu mendapatkan sesuatu yang berharga dari dalam dirimu sendiri”. (hal 232).

Penulis juga banyak mengambil teladan dari keluarganya sendiri. Di bab ‘Teladan dari Ayah’ merupakan salah kisah yang inspiring versiku (hal 199). Bagaimana seharusnya suami berjuang untuk mewujudkan impian sang istri. Walaupun aslinya Semua kisah dari buku ini insyaallah menginspirasi. Tentang sang ayah dan ibu penulis yang berjanji suatu saat nanti akan pergi haji berdua. Tapi ternyata, sang ayah yang mempunyai kesempatan pergi haji duluan. Mereka senang sekaligus sedih karena tidak bisa berangkat haji berdua. sang ayah tetap punya niat suatu hari akan berangkat haji dengan istrinya. Dia bekerja lebih keras untuk memenuhi impian istrinya, hingga akhirnya mereka berdua bisa haji bersama.

Hidup dan karier Ayah semakin baik setelah ia berhasil menjadi suami yang memenuhi cita-cita istrinya. (hal 203)

Aku setuju dengan ide bersama laki-laki yang hebat, selalu ada perempuan luar bisa.

Bukan di balik laki-laki yang hebat, selalu ada perempuan luar bisa.

Selain banyak moment romantis. Ada juga moment yang menurutku terkesan lebay. Di bagian saat penulis menceritakan sesuatu dan sang istri berkomentar “lebay”. Nah, saat itu aku juga merasa si penulis lebay juga sih. Hihi…piiisss…

Tapi kata penulis, “Gombal adalah bagian penting dari tugas pokokdan fungsi seorang suami” (hal 172)

Hal yang agak mengganggu di buku ini ada beberapa bagian yang terkesan ngambang. Mungkin lebih dapet pesannya jika diceritakan dengan lebih spesifik. saat orang tua penulis tidak merestui hubungan mereka, kemudian kisah berlanjut lagi tentang nasehat-nasehat pernikahan, keindahan-keindahan pernikahan keduanya. Sebagai pembaca aku penasaran bagaimana proses hingga akhirnya sang ortu merestui? Ketika mereka bertengkar (hal 155), aku penasaran hal seperti apa yang bisa bikin mereka ribut? Kesulitan-kesulitan apa yang mereka alami? Kemudian bagaimana suami yang selalu romantis ini, dan istri yang selalu sabar menyelesaikan masalah mereka? bukan malah ngomongin golongan darah. Biar gak terkesan pernikahan itu hanya hal-hal yang manis-manis saja, kan?

Pesanku, hati-hati kalau baca buku ini, terutama bagi yang jomblo, awas baper. aku merasakan sendiri soalnya. Guahaha…

Katanya, perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk laki-laki. Aku jadi bertanya-tanya, aku diciptakan dari tulang rusuk siapa ya?

Terinspirasi dari buku ini, hal 38. salah satu hal yang ingin aku tanyakan padaa calon suamiku nanti, “apa yang kau pikirkan tentang bahwa laki-laki adalah pemimpin dalam keluarga?”

Buku ini recommended buat dibaca siapa saja. Baik yang jomblo, yang punya pacar, yang uda menikah, muda-tua, cowok-cewek. Kecuali anak SD dan SMP kurang cocok kali ya baca kayak ginian.

Informasi Buku

Judul: Rumah Tangga

Penulis: Fahd Pahdepie

Penerbit: Panda Media

Terbit: cetakan pertama, 2015. Cetakan ketujuh, 2015

Tebal: x + 286 hlm

ISBN: 979-780-813-0

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s