[Book Review] Berlabuh di LindØya

Berlabuh di LindØyaTidak ada yang tahu luka batin yang disimpan Sam rapat-rapat. Hingga gadis itu memutuskan melarikan diri dari Indonesia dan memulai hidup baru dengan bekerja di perusahaan pengeboran minyak di ujung dunia, di Norwegia. Ketika harus pindah ke kantor pusat di Oslo, Sam menolak tinggal di apartemen dan menyewa rumah tua di Pulau LindØya.

Di LindØya, Sam bertemu Rasmus Knudsvigsson, tetangga barunya. Meskipun diawali rasa takut dan curiga, perlahan ketulusan pria tampan bermata biru itu dapat mencairkan kebekuan hati Sam.

Namun, ketika Sam merasa sudah siap membuka hati sepenuhnya untuk Rasmus, salah satu anggota dewan yang sedang melakukan kunjungan kerja ke Oslo menarik Sam kembali ke pusaran intrik masa lalu…


Menjauh sejauh-jauhnya, itu yang dilakukan Sam ketika Deri menghancurkan hidupnya. Jauh dari Indonesia, Sam (Putri Samahita) memilih tinggal Kutub Utara, Norwegia, dan bekerja di Harstad. Berharap dia benar-benar bisa melupakan masa lalunya, dan tidak bertemu lagi dengan orang-orang yang dulu pernah dia kenal.

Sam juga masih ingat, saat ia pindah ke Harstad lima tahun lalu. Di kota yang terletak 300 km dari Kutub Utara, ia menjadi salah satu pekerja perusahaan minyak yang bertaburan. Tidak ada yang peduli masa lalunya, tidak ada yang mangusik kehidupan pribadinya—ia aman. (hal 10).

Sam menjadi pribadi yang tertutup, dia begitu menghindari keramaian di luar jam kerja, pesta, perayaan. Karena karirnya yang bagus, Sam mendapat tawaran bekerja di Kantor Pusat, di Oslo. Awalnya ia menolak.

Namanya juga ibu kota, pasti banyak penduduknya. Sementara ia pergi ke negara ini bukan  bukan untuk bersosialisasi. (Hal 9)

Dengan dukungan para rekan kerjanya di Harstad, Sam akhirnya bersedia mengambil kesempatan tersebut. Di Oslo, Sam memilih tinggal di sebuah pulau kecil bernama LindØya.

Ini tempat tinggal Sam dan Rasmus.

berlabuh_lindoya_amore_novel[1]
sumber gambar: klik

Yang warna orange rumah Rasmus dan yang warna biru rumah yang ditinggali oleh Sam, aslinya rumah Inga, rekan kerja Sam di Harstad.

Katanya, Penulis terinspirasi dari kedua rumah tersebut sehingga dijadikan latar tempat dalam penulisan Novel. Benar-benar tempat yang cocok bagi orang yang ingin bersembunyi dari hiruk pikuk dunia, sepi, sunyi, tenang, dan damai.

Setiap hari Sam mengenderai feri pulang pergi kantor rumah.

Membaca novel ini membuatku ingin nyampek le LindØya atau tempat semacam itu, gak usah jauh-jauh sih, di Sumenep-Madura banyak kepulauan. Aku pernah sekali, dan sekarang pengen ke Gili Labak. Kalau untuk liburan sih oke, tapi kalau untuk tinggal di daerah seperti itu, dimana laut lebih mendominasi dari daratan, rasanya kok ngeri ya? Lagian, transportasi darat itu lebih cepat daripada transportasi laut, pengalamanku naik feri di pelabuhan kamal-Bangkalan sih gitu, gak tau kalau di Oslo. Makanya, ketika jembatan Suramadu diresmikan, rata-rata masyarakat lebih milih lewat suramadu daripada naik fery, termasuk aku. Kecuali lagi pengen menikmati suasana laut di atas kapal.

Oke, balik ke Sam lagi.

Awal tinggal di LindØya, Sam bahkan menolak untuk bersosialisasi dengan tetangga satu-satunya itu. kelebatan masa lalu masih menghantuinya, dia curiga bagaimana seandanya Rasmus orang jahat?

Aku tidak tahu apa yang pernah terjadi dalam hidupmu sampai reaksimu seperti ini. tapi, tolong, jangan hukum aku karena masa lalumu. (Rasmus kepada Sam, 183).

Kemudian, peristiwa demi peristiwa membuah mereka dekat. Sam mulai mau membuka diri, ikut berkumpul dengan teman-teman Rasmus, dan di akhir pekan Sam membantu Rasmus mengurus workshop di Gedung Opera. Rasmus dan teman-temannya sibuk dengan proyek opera dimana pelakonnya adalah anak cacat, anak remaja drop out, serta anak jalanan.

Aku tidak akan bosan bersama Rasmus. (hal 125)

Kini aku tahu, aku menyukai keberadaan kami, bukan hanya karena aku teramat menyukai Rasmus. Namun juga, karena aku makin menyukai diriku sendiri jika aku bersamanya. Ia membuatku berarti. (hal 190).

Saat cinta sedang mereka di hati Sam, sosok dari masa lalu kembali hadir. Apa yang harus ia lakukan?

Ini pertama kalinya membaca karya K. Fischer. Oke. Covernya cantik banget. Pembaca diajak merasakan suasaana di Lindoya yang damai, terus jalan-jalan ke gedung opera Oslo. Langsung di gugling.

Ini Feri yang katanya pernah penulis tumpangi. Mirip-mirip lah ya ama yang di pelabuhan Kamal. Cuma ini lebih kecil ukurannya.

oslo
sumber: klik

Dan ini gedung Operanya yang biutipuuul

gedung opera oslo
sumber: klik

Eniwei, aku kok suka ya sama Deri alias mas Ei yang ala-ala bad boy gitu? awal dia ketemu Sam, bagaimana dia berusaha belajar, dan gaya ngomongnya yang ceplas ceplos. Yaaa….. seandainya dia berubah.

Menurutku penulis suka mengulang suatu kata dalam satu kalimat, yang menurutku pribadi terkesan kekurangan kosa kata. Ibarat orang ngomong, mungkin lagi speechless. Misalnya nih yang berhasil aku catet.

Hal 191. Surprise, surprise

Hal 195. Kamu hebat sekali! kamu luar biasa hebat!

Hal 196. Oh, karena aku bangga pada kalian. Aku bangga sekali dengan kalian semua!

Nama orang norwegia bagaimana melafalkannya sih, lebih banyak huruf konsonannya. Rasmus Knudsvigsson, Inga Hjelpsom, Solveig.

Penulis juga sempat menyinggung perbedaan perilaku anggota pejabat di Indonesia dengan Norwegia.

  • Saat Sam menyaksikan sendiri, keluarga kerajaan turut membantu dalam pelaksanaan opera.

Belakangan sam tahu, mereka sedapat mungkin terjun langsung ke setiap acara sosial di seluruh Norwegia. Sering kali tanpa media, tanpa bodyguard, hanya datang sebagai diri mereka sendiri. Tidak heran kalau masyarakat Norwegia mencintai keluarga rajanya. Beda sekali dengan tingkah laku kebanyakan keluarga pejabat di Indonesia. Lebih banyak membuat repot anak buah ketimbang membantu masyarakat membutuhkan. (hal 140).

  • Anggota DPR yang hobi plesiran ke luar negeri dengan dalih studi banding

Seperti rombongan anggota DPR dan pejabat kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang akan ikut ke Norwegia bersama klien minyaknya. Resminya untuk studi banding Teknologi Perminyakan, tapi isi e-mail yang masuk belakangan ini lebih banyak meminta informasi tempat jalan-jalan dan bukan meteri meeting. (hal 140)

Yang pasti kalau delegasi perusahaan Sam ke Indonesia, mereka bermimpi pun tidak untuk menghabiskan waktu di tempat belanja. Mereka tahu bedanya antara pergi dinas dan pergi liburan. (hal 220)

Apa yang tidak membunuhku, membuatku lebih kuat lagi (hal 185)

Informasi Buku

Judul: Berlabuh di LindØya

Penulis: K. Fischer

Editor: Irna Permanasari

Desain Sampul: Orkha Creative

Layout: Ayu Lestari

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: 2015

Tebal: 280 halaman

ISBN: 978-602-03-1866-0

Iklan

5 thoughts on “[Book Review] Berlabuh di LindØya

  1. Kalo di Oslo kan fery udah jadi angkutan umum laut gitu kayak angkot di darat
    Meski tinggal di pulau tetep kemana2 mudah
    sudah terjadwal juga
    nah lo kalo di Madura tinggal di pulau udah gak bisa kemana2 kayaknya la

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s