[Book Review] Ayah by Andrea Hirata

Ayah Andrea HirataSabari, seorang siswa SMA yang cinta mati kepada Marlena setelah peristiwa Lena nyontek kertas ujian Bahasa Indonesia Sabari. Sayang, jangankan membalas cinta Sabari, meliriknya pun tidak. Semakin sabari mengerjar Lena, semakin benci Lena pada Sabari si gigi tupai.

Amiru, seorang bocah SD, mempunyai ayah bernama Amirza yang suka sekali mendengarkan radio. Untuk membiayai pengobatan istrinya, Amirza terpaksa menggadaikan radio tersebut, dan Amiru, apapun caranya, bertekad menebus radio sang ayah.

Markoni, seorang ayah dengan 4 orang anak. Sangat menyesal tidak menggunakan masa mudanya dengan baik hingga gagal menamatkan perguruan tinggi. Markoni bertekad apapun akan dia lakukan agar anaknya tidak seperti dirinya. Ketiga anaknya sudah tidak bisa dia harapkan untuk menjadi kebanggaan keluarga, tinggal si bungsu, anak gadis dengan jiwa pemberontak, harapan satu-satunya.

Di awal bab kita disuguhkan cerita tentang, Sabari, Amiru, dan Markoni secara bergantian. Kisah yang sama sekali tidak berhubungan. Tapi aku pernah membaca novel bertipe seperti itu, Assalamualaikum Beijingnya Asma Nadia. Jadi bisa nebak sebenarnya kisah-kisah itu nantinya berhubungan, tapi bagian mana yang berhubungan? Itulah yang menjadi kejutan.

Yang paling banyak disorot adalah cerita Sabari. Karena semua kisah nantinya akan bermuara kisah Sabari. Mulai dari Sabari SMA. Sesuai namanya, Sabari adalah orang yang Sabar, mempunyai 3 sahabat yang unik, Ukun, Tamat, dan Toharun. Sabari lulus SMA. Kerja di Tanjong Pandan bersama Ukun dan Tamat. Sabari memilih perkerjaan yang berat-berat supaya pikiran, tenaga dan hatinya bisa berhenti mendambakan Lena, tapi cintanya pada Lena tak pernah mati, walau Sabari mendengar kabar Marlena sering gonta-ganti pacar. Demi mengerjar cinta Lena, Sabari berhenti kerja di Tanjong Pandan, dia berkerja pada di pabrik batako milik Markoni di Kelumbi, ayah Marlena. Sudah jelas kan alasan Sabari kerja pada Markoni?

Lena masih membenci Sabari.

Cinta gila rupanya masih menjadi tema yang disukai Andrea Hirata. Seperti cinta Ikal pada A Ling, Arai pada Zakiah Nurmala. Awalnya kesel dengan Sabari, seoalah gak ada cewek lain, kenapa harus mati-matian mengejar Lena yang tak pernah menyukainya? Apalagi Lena bukan cewek baik, suka gonta ganti cowok. Tapi akhirnya kasian sama Sabari. Lena hamil di luar nikah entah dengan siapa, dan Sabari dengan ikhlas mau menikahi Lena. Lena melahirkan anak laki-laki yang dijuluki Zorro. Setelah melahirkan, tingkah laku Lena kembali ke asal, dia meninggalkan Sabari dan Zorro. Sabari sangat menyayangi Zorro, dia tak apa ditinggal Lena asalkan masih bersama Zorro. Dengan tega pula suatu hari Lena membawa Zorro yang masih sangat kecil, meninggalkan Sabari sendiri. Kesabaran dan ketulusan Sabari lah yang menjadi inti cerita ini.

Setting tempat terbanyak di Belitong. Banyak adegan-adegan lucu. Dan banyak pula adegan-adegan yang sepertinya mau melucu tapi terkesan lebay.

Beberapa hal lucu yang membuatku ketawa ngakak.

  • Ukun banyak menyukai cewek, tapi cewek yang membencinya jauh lebih banyak daripada yang menyukainya. Salah satu cewek yang dia suka yaitu Shasya.

“Ya, aku bingung karena Shasya selalu plin-plan. Hari ini dia bilang tak suka padaku, esoknya bilang benci, esoknya lagi bilang muak. Sungguh tak punya pendirian. Yang benar ya mana?!”. (hal 68)

  • saat bu Norma memarahi Toharun. Toharun sok pintar, bu Norma tambah muntab. (hal 71-72)

“Kalau seratus adalah sepuluh persennya seribu, maka seratus itu berapa persennya empat ratus?”

Toharun gak bisa jawab. Sabari ingin membantu. Dia jawab dalam hati. Empat puluh persen.

“Macam mana, Run!? Kau bilang kau pintar Matermatika? Persoalan sederhana saja kau tak becus! Itulah kalau masih kecil kebanyakan diminumi air tajin!”

“Tiga puluh persen! Itulah jawabannya kalau kau mau tahu”

Sabar bernapas lega, Untung tadi aku tak memberitahumu, Run.

LOL. Selain dialognya yang lucu, baik jawaban Sabari maupun bu Norma sama-sama salah.

  • di hal 77. Saat Sabari caper menjawab pertanyaan bu Norma dengan lantang yang sedang mengajar di kelasnya Lena. Kelasnya Lena dan Sabari bersebelahan dengan hanya dipisahkan oleh dinding papan.
  • hal 98. Sabari yang selalu mengirimi Lena lagu lewat radio dengan inisial DYSMDB. Dia Yang Selalu Menunggu Dengan Berdebar-debar.
  • sabari tidak bisa mendengar sesuatu yang berbunyi sesuatu mirip Marlena, seperti terlena, berkelana dan lain-lain karena dia langsung akan mengingat Lena. Dan ukun menasehati Sabari agar berhenti memikirkan Marlena. Ya, Sabari mematuhi nasehat ukun.

“jangan biarkan seorang perempuan membuatmu terlena!”, kata Ukun

“Apa katamu? Marlena …?” (hal 122)

  • momen saat Sabari, Zuraida, dan tukang antar lomba balapan. Sabari jalan kaki, Zuraida naik sepeda, dan si tukang antar naik motor bebek. (hal 344). Dan banyak lagi adegan lucunya. Silahkan baca sendiri yaa..!!!

Hal-hal yang sepertinya mau melucu tapi terkesan lebay.

  • Misalkan di hal 30. Daftar sangat panjang nama-nama cewek yang disukai ukun.
  • Saat Sabari menang lomba lari mengalahkan Dinamut, juara bertahan.

Dengan wajah sembab dipukulnya dadanya sendiri berulang-ulang, matanya basah, susah payah bupati membujuknya. (hal 118)

  • Seperti di hal 288-289 ketika Tamat mau meyebutkan satu hal, tapi masih muter-muter. Bagian yang langsung aku skip.

Ini merupakan kisah dengan rentang waktu yang sangat panjang. Mulai dari sabari SMA sampai Sabari meninggal. Bagiku, ini adalah kisah yang kupikir membosankan, tentang cinta mati Sabari pada Lena, tapi ini adalah kisah mengharukan, tentang kesabaran, pengorbanan, cinta sejati dibalut dengan keluguan khas penduduk Melayu Belitong. Cerita yang sederhana tapi syarat makna.

Fyi, tentang cinta mati Sabari pada Lena, Sabari terinspirasi dari buku yang dia baca. Kisah Florentino Ariza yang mencintai Fermina Daza dalam novel Love in the Time of Cholera karya Gabriel Garcia Marquez. Setelah 52 tahun, barulah Fermina menerima cinta Florentino.

Kalau aku sendiri gak mau mengharapkan seseorang layaknya Sabari pada Marlena, atau Florentino pada Fermina.

Quotes:

  • Mengapa orang yang tepat selalu datang terlambat? (hal 82)
  • Malaikat-malaikat turun untuk melihat niat yang baik (hal 130)
  • Biarlah orang-orang di luar sana makmur sentosa karena mencuri, kita jangan! Meski susah, kita harus jujur. (Hal 156)
  • Kebosanan itu kejam, tetapi kesepian lebih biadab daripada kebosanan. (hal 250)
  • Manusia bisa berada di tempat yang sama dalam waktu yang berbeda, tetapi tak bisa berada di tempat yang berbeda dalam waktu yang sama, semua itu karena pencipta manusia mau agar manusia setia. (hal 267)
  • Apa yang tak mampu membunuhmu akan membuatmu semakin kuat. (hal 269)
  • Kegagalan yang pahit adalah lebih baik daripada hanya berpangku tangan. (hal 340)
  • Seorang ayah, tak boleh menyerah demi anaknya. (hal 378)

Informasi Buku

Judul: Ayah

Penulis: Andrea Hirata

Terbit: cetakan pertama, mei 2015. Cetakan ketujuh, September 2015

Penerbit: Bentang Pustaka

Tebal: 412 halaman

ISBN: 978-602-291-102-9

Ayah Andrea Hirata

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s