Jalan-jalan di Istanbul Turki melalui Novel Inferno

Yuk yuk sekarang kita jelajahi Istanbul, Turki, mengunjungi Hagia Sophia, lewat Blue Mosque, Istana Topkapi dan ke Istana Tenggelam (Yerebatan Sarayi)  melalui novelnya Dan Brown, Inferno. Siapa tahu kelak bisa ke sana beneran. Aamiin.

Punya niat posting foto tempat atau benda menarik yang disebutkan di Novel Inferno. Untuk postingan kali ini mau aku mulai dari Istanbul. Tempat selanjutanya, museum di Florence, Venesia dll semoga segera menyusul, step by step yaaah…

Bab 84-bab 91

Atatürk Airport

Kita Landung dulu di sini

Bandara Atatürk saat siang

Ataturk airport istanbul
source: here

Bandara Atatürk saat malam

Tav Havalimanlari
source: here

tampak lebih indah saat malam menurutku

Laut Mamara dengan kapal-kapal pesiar mewah

laut_marmara_
source: here

Waaooo…. pengen naik di salah satu kapal ituuu onion-emoticons-set-6-49

Istana Topkapi

istana topkapi
source: here

Istana Topkapi, pusat kekuasaan Ottoman. Istana itu menjadi favorit di kalangan turis, yang mengunjunginya untuk mengagumi keindahan pemandangan dan koleksi menawan harta karun Ottoman yang mencakup jubah dan pedang yang konon pernah digunakan oleh Nabi Muhammad. (hal 531)

Masjid Biru (Blue Mosque)

blue mosque

Masjid Biru, Langdon segera menyadari, melihat enam buah menara tinggi berbentuk pensil, yang memiliki banyak balkon serefe dan mengulir ke langit hingga ujung runcingnya. Langdon pernah membaca bahwa menara berbalkon Masjid Biru yang berkesan eksotis seolah-olah dari negeri dongeng menjadi inspirasi rancangan kastel Cinderella di Disney World. Masjid Biru memperoleh namanya dari lautan ubin biru yang melapisi dinding dalamnya. (hal 534)

Dan ini lah Kastel Cinderella yang terinspirasi dari Masjid Biru

cinderella castle
source: here

Sultanahmet Park

sultanahmet park
source: here

geser dikit ada air mancurnya. Gak tau di sebelah mana tapi, kan lom pernah kesana??@@##

sultanahmer-park
source: here

Plaza luas Sultanahmet Park, terletak di antara Masjid Biru dan Hagia Sophia. Plaza yang terkenal karena menyajikan pemandangan dua bangunan tersebut yang luar biasa. Jalan di Sultanahmet Park diwarnai berbagai petunjuk yang mengarahkan pengunjung menuju berbagai objek menarik di taman kepada para pengunjung—obelisk Mesir dari Luxor, Pilar Ular dari Kuil Apolla di Delphi, dan Pilar Milion yang pernah menjadi “titik nol” pengukuran semua jarah pada Kekaisaran Bizantium. (hal 535)

Hagia Sophia

hagia sophia
source: here

Dibangun pada 360 M, Hagia Sophia berfungsi sebagai katedral Ortodoks Timur hingga 1204, ketika Enrico Dandolo dan Perang Salib Keempat menduduki kota dan mengubahnya menjadi menjadi gereja Katolik. Selanjutnya, pada abad kelima belas, menyusul penaklukkan Konstantinopel oleh Fatih Sultan Mehmed, bangunan itu diubah menjadi masjid, dan tetap menjadi rumah peribadatan Islam hingga 1935, ketika bangunan itu disekulerkan menjadi museum. (hal 525)

Kubah utamanya—luar biasa luas dan beraris-garis kelabu perak—seolah-olah diletakkan di atas tumpukan bangunan berkubah lain di sekelilingnya. Empat buah menara tinggi—masing-masing dilengkapi dengan satu balkon dan puncak kelabu perak—menjulang dari sudut-sudutnya, begitu jauh dari kubah utama seolah-olah bukan bagian dari bangunan yang sama. (hal 535)

selama hampir seribu tahun, bangunan itu telah menjadi gereja terbesar di dunia, dan hingga kini sulit untuk membayangkan bangunan yang lebih besar daripadanya. Saat melihatnya lagi, Langdon teringat kepada Kaisar Justinian yang, setelah Hagia Sophia selesai dibangun, melangkah mundur dan bangga memproklamirkan, “Sulaiman, aku telah mengalahkanmu!”. (hal 541)

jalan menuju bangunan itu diapit oleh peluru-peluru meriam kuno yang pernah digunakan oleh pasukan Mehmet sang Penakluk—hiasan yang menjadi pengingat bahwa sejarah ini diwarnai oleh kekerasan. Berkali-kali diduduki untuk kemudian dialihkan fungsinya berdasarkan kebutuhan spritual pihak yang berkuasa. (hal 541)

Sebagaimana semua tempat peribadatan lainnya, ukuran besar Hagia Sophia memiliki dua tujuan. Pertama, sebagai bukti kepada Tuhan tentang sejauh apa manusia bersedia menghormati-Nya. Dan kedua, sebagai semacam terapi kejut bagi para jemaat—sebuah ruangan yang secara fisik begitu mencengangkan sehingga mereka yang masuk merasa kerdil, ego mereka terhapuskan, keberadaan fisik dan kepentingan kosmik mereka menyusut hingga menjadi serpihan di hadapan Tuhan … sebutir atom di tangan Sang Pencipta. (hal 547)

Yuk, intip ke dalam Hagia Shopia

hagia-sophia
source: here

Ini nih yang menarik. Di antara kaligrafi Allah dan Muhammad, di tengahnya, itu adalah gambar sang Perawan Maria dan Yesus, anaknya. Sesuatu yang sangat bertolak belakang. Perpaduan simbol Islam dan Kristen yang mencolok sekali.

Menurut novel ini sang perawan dan anaknya menunduk ke mihrab. (hal 549). Sebagai seorang muslim kita tahu kan ya, Mihrab itu tempat imam memimpin shalat.

maria menunduk ke mihrab
source: here

Tampak gambar lebih ke bawah. Di sebelah kanannya terdapat ruas tangga menuju podium tempat khotbah Kristen biasa disampaikan (hal 549). Dalam islam itu juga digunakan sebagai tempat khotbah yang disebut mimbar. Di halaman 549, Mr. Brown menyebutkan mimbar sebagai tempat seorang imam memimpin shalat jumat. Bukannya seharusnya mihrab ya?

maria dan yesus di atas mihrab
source: here

Foto tampak lebih dekat, mimbar di Hagia Sophia.

hagia-sophia-minbar-
source: here

Tidak jauh berbeda, terdapat pula struktur mirip panggung yang menyerupai bilik paduan suara Kristen, namun sebenarnya adalah müezzin mahfili. Pamggung tempat muazin berlutut dan mengamini doa imam. (hal 549)

ini dia müezzin mahfili

muezzin mahfili
source: here

Museum ini, sebagai upaya utuk mengingatkan pengunjung akan keanekaragaman penggunaan tempat sakral ini, memamerkan ikonografi Kristen, dari masa ketika Hagia Sophia berfungsi sebagai basilika, dan ikonografi Islam, dari masa ketika bangunan ini menjadi masjid. (hal 548)

Jika tradisi Kristen menyukai gambar harfiah Tuhan dan orang suci, Islam berfokus pada kaligrafi dan pola geometris untuk menyampaikan keindahan alam semesta ciptaan Tuhan. Tradisi Islam meyakini bahwa hanya Tuhan yang bisa menciptakan kehidupan, sehingga manusia tidak berhak membuat gambar sesuatu yang hidup—tentang Tuhan, manusia, bahkan binatang. (hal 548)

“Kristen menggemari wajah; Muslim menggemari kata” (hal 549)

Ada juga sebuah guci besar.

guci-besar
source: here

Guci tersohor di Hagia Sophia—sebuah guci berkapasitas sekitar 1.200 liter air yang dipahat dari sebongkah marmer periode Hellenistik. (hal 550)

Deesis Mosaic

deesis mosaic
source: here

Sebuah Kristus Pantrokator kuno, salah satu karya seni paling misterius di Hagia Sophia. Harta karun penuh teka teki yang terletak tepat di samping kuburan Dandolo. (hal 550)

Dilihat dari gambarnya semacam lukisan. Sepertinya Deesis Mosaic ini menyimpan cerita yang unik. Tapi di novel ini gak dibahas karena Langdon terburu-buru ingin melihat makam Enrico Dandolo.

makam Enrico Dandolo, dalam bahasa latin Henricus Dandolo

makam henricus dandolo
source: here

Awalnya Langdon mengira Enrio Dandolo dimakamkan di Basilika Santo Markus, Venesia. Karena dia adalah yang disebut sebagai doge pengkhianat dari Venesia.

Seorang doge Venesia yang menghadirkan kejayaan bagi Kerajaan Romawi dengan menduduki ulang Konstantinopel tidak akan dimakamkan di sini dengan nama Enrico Dandolo … tetapi nama latinnya. Henricus Dandolo. (hal 467).

Yerebatan Sarayi (Istana yang Tenggelam)

Yerebatan Sarayi. Awalnya merupakan sebuah waduk—Rongga luar di bawah tanah yang disangga dengan pilar-pilar. Tempat ini dibangun pada abad keenam untuk memenuhi kebutuhan air seluruh kota. (hal 555).

Sekarang waduk itu hanya menjadi tempat wisata. (hal 557)

Pintu masuk ke Istana Tenggelam

yerebata sarayi 1
Source: here

Pintu masuknya emang kecil, tapi ketika turun ke dalam.

Masya Allah. wooaaahhh….

Istana yang Tenggelam

istana tenggelam Turki
source: here

 

Saat Langdon ke sana sedang ada konser. Ya, konser dalam waduk. Tempat itu juga sering digunakan sebagai pusat kebudayaan. (hal 559)

Ya Allah, pengen ke sana. Mantan waduk itu luas sekali. Menyimpan persediaan air di bawah tanah. dulu. Oh iya, lokasinya gak jauh dari Hagia Sophia dan Majid Biru. sebelah timurnya. Langdon dan kawan-kawan cuma jalan kaki.

Medusa di Istana Tenggelam

inferno

Medusa adalah roh mengerikan berambut ular yang tatapannya bisa mengubah siapa pun yang melihatnya menjadi batu, selain itu ia juga salah satu anggota paling penting dari jajaran roh bahwa tanah Yunani … kategori khusus yang dikenal sebagai monster chthonic.

Sekian perjalanan di Istanbul. Gimana??? bikin ngiler kan? Semoga bisa ke sana benaran suatu saat. Aamiin

Sampai ketemu di perjalanan virtual selanjutnya.

review Novel Inferno #1 bisa baca di sini

review Novel Inferno #2 bisa baca di sini

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s