[Book Review] Faith and The City

Faith and The CitySetelah malam penganugerahan Hero of The Year untuk Phillipus Brown, semua wartawan menginginkan wawancara eksklusif dengan Phillipus Brown dan Azima Hussein berserta kedua anak gadis mereka, Sarah Hussein dan Layla Brown. Pasangan penyatu jembatan yang terpisah, Hanum dan Rangga, tak pelak ikut menikmati media frenzy. Bagi Hanum, New York City masih ingin menahannya. Tidak bagi Rangga, tugas belajar dan riset telah menunggunya di Wina.

Out of the blue, Cooper dari Global New York TV (GNTV) hadir dalam hidup mereka. Ia menawarkan kesempatan yang mustahil ditolak Hanum: menjadi produser acara GNTV yang meliput dunia islam dan Amerika.

Ini adalah secuplik dunia media yang gelap, dunia rating dan share yang manis sekaligus menjebak. New York yang elegan, namum mengintai soliditas Hanum dan Rangga. New York yang romantis, mengembuskan mantra magis, namun melahirkan kenyataan ironis.

Akankah Hanum mampu mengelak pesona Cooper dan New York City? Mampukah Rangga mempertahankan cinta sejatinya dari impian yang membelitnya?

Atau jangan-jangan….impian yang menjadi kenyataan tetaplah ilusi, jika melupakan iman dan keyakinan?

Sepertinya blurb di atas mewakili semua isi buku. Tapi biarlah aku cerita aja, dari sudut pandang pribadi yang tentunya subyektif.

Kalau 99 Cahaya di Langit Eropa membuatku tercengang dan terposana tentang sejarah islam, Bulan terbelah di Langit Amerika membuatku tersentuh sampek nangis-nangis bombay saking terhanyut dengan ceritanya, dan Faith and the City sukses membuatku kesel. Keselnya sama Hanum yang ambisius. Tuh, kan? Kalau baca karya pasangan idola Sarah dan Layla ini emang bikin baper.

Berkarir di New York siapa yang gak pengen? Menjanjikan banyak hal, prestis, gaji tinggi dan hal lainnya. Hanum yang awalnya memutuskan cuti kerja karena ingin menemani Rangga menjalani hari-hari akhir disertasinya, banting setir ingin berkarir di New York karena tawaran menggiurkan dari Cooper. Atas nama kesempatan dan islam, Hanum meminta Rangga menemaninya selama 3 minggu di New York untuk magang di GNTV. Walaupun Rangga kurang setuju, tapi demi cintanya pada sang istri, Rangga meninggalkan tugas akademiknya untuk sementara. Selain itu, dia ingin membalas pengorbanan istrinya sewaktu mereka awal-awal tinggal di Wina. Hanum yang tanpa pekerjaan, sabar menemani dan mengurus Rangga.

Karir Hanum melesat, program yang dia tangani, Insight Muslims, dengan partnernya, Sam mampu mendongkrak rating dan mendapat respon positif. Nol di rekeningnya bertambah. Hanum ingin membuktikan pada dunia bahwa dia bukan wartawan kecek, bahwa muslimah berhijabpun bisa bersaing di kancah dunia. Sementara Rangga, dia hanyalah seorang pustakawan yang bekerja di perpustakaan milik Phillipus Brown. Bertemu istrinya begitu jarang, Hanum berangkat kerja pagi-pagi sekali sebelum Rangga bangun dan pulang larut malam ketika Rangga sudah tidur. Tidak ada masakan istri di rumah, dan shalat berjamaahpun sudah tidak mereka lakukan karena kesibukan Hanum.

“Ia berjuang keras menjadi reporter mulia, produser yang menjunjung tinggi nilai-nilai jurnalisme, tapi melupakan tugasnya menjadi istri yang mulia, perempuan yang menjunjung tinggi kodratnya” (hal 191)

Awalnya memang tiga minggu, tapi sepertinya New York melenakan, Hanum ingin meneruskan karirnya di kota itu. Dan ia tidak ingin alasan berkeluarga menjadi penghalang bagi karirnya. Sementara Rangga terancam Ph.D hangus kalau tidak segera kembali ke Wina. Mereka bertengkar. Hanum yang ambisius, Rangga yang sabar. Siapa yang seharusnya mengalah? Apakah Rangga yang seharusnya tinggal di New York menemani Hanum, dan bukan sebaliknya?

Hanum sampai berucap, “Aku baru tahu siapa penjegal utama dalam cita-citaku selama ini. Kupikir itu orang lain, ternyata suamiku sendiri” (hal 127)

Duty calls, family must come after. Prinsip yang membuat rumah tangganya menjadi kurang harmonis . (hal 107).

Bagaimana akhirnya kisah mereka? Pertempuran batin antara Faith (keyakinan) dan The City (sang Kota) yang menyilaukan. Pesan apa yang ingin disampaikan dalam Novel ini? jawabannya tersurat di Epilog. Silahkan bacaa sendiri yaaa…!!! Highly Recommended.

Berbeda dengan BTDLA yang menggunakan sudut pandang “aku” Hanum dan Rangga secara bergantian. Di novel ini menggunakan sudut pandai orang ketiga serba tahu.

Novel ini akan menambah wawasan kita tentang bagaimana media bekerja. Jadi ingat drama korea Pinocchio yang mengekspos media juga. Segitunya ya media???

Dirinya bukan seorang wartawan, ia seorang pembunuh bayaran. Mengerjar uang tanpa belas kasihan. (hal 88)

Namun rating dan share itu seperti narkoba. Aku menyesal sebentar, lalu aku ketagihan. (hal 90)

Ckckck….. Gak kebayang tertekannya kalau punya atasan kayak Andy Cooper. Kata Rangga bukan Cooper, tapi ‘KUPER’, kurang perhatian, kutu kupret.

Hal yang megganjal, tentang Sarah yang membuat komik untuk Hanum. Sarah menggambar Hanum yang dimarahi Cooper. Masak sih Sarah sampai tahu kalau Hanum dimarahi atasannya?

Sejak 99 Cahaya di Langit Eropa, aku sudah dibuat jatuh cinta dengan tulisan Hanum dan Rangga. Mempesona, berisi, bergizi, dan setting luar negerinya berasa banget. Makanya, ketika novel ini terbit aku segera beli. Dan insyaallah akan terus membeli buku-buku Hanum-Rangga. Gak sabar menunggu novel selanjutnya.

The Converso
Novel Hanum dan Rangga selanjutnya

Quotes

  • Meski New Yor City ini sangat hedonis, denyut aktivitas sudah dimulai bersamaan ketika orang saleh memulai tahajadunya di sepertiga malam terakhir. Bedanya pagi buta itu orang saleh membasih jiwanya untuk bertekuk lutut pada penciptanya, sementara kaum hedon membasuh badannya alias mandi untuk berkhidmat pada nafsunya. Harta dan kekuasaan memang tak pandang bulu mencari sasaran. (hal 74)
  • Aku bingung mengapa orang-orang perkotaan jarang yang memiliki impian memiliki keluarga yang hangat dan harmonis, ya? (hal 83)
  • Anak berusia 8 tahun itu rupanya belum tahu apa makna istri yang sesungguhnya, kecuali sebagai teman, sahabat, dan orang-orang yang bisa menemani makan eskrim. (hal 83)
  • Anak kecil memang susah dipegang konsistensi berpikirnya. (hal 85)
  • Misi apa? misi mengubah dunia? Fine! Itu mulia sekali. Tapi kau mengubah dunia dengan cara mengubah hubungan dengan suamimu sendiri. Bahkan curiga dengan sahabatmu sendiri. Kamu enggak sadar? Kamu telah dimanfaatkan oleh dunia yang tidak memberimu apa-apa. bahkan melupakan orang yang sudah memberimu apa-apa. (hal 130)
  • Time has a precise way to show what’s really precious to our life (Waktu memiliki cara paling akurat untuk menunjukkan apa yang paling berharga dalam hidup kita). (hal 142)
  • Say…bumi Allah itu tidak hanya di kota ini. Rezeki juga enggak cuma disebar di sini. Aku tahu kamu mendapatkan bonus ini-itu. tapi rezeki bukan hanya yang ada di tangan, tapi yang ada di hati. Mengapa kita tidak memijak bumi Tuhan yang lain dengan rezeki asalkan kita bersama? (hal 174)
  • Dalam dunia mimpi, setan menampakkan diri dalam wujud menyeramkan. Di dunia nyata, setan datang dalam bentuk yang paling kita sukai. Dan mereka tahu iming-iming apa saja yang disukai manusia. (hal217)

Quote pamungkas

Dunia hanyalah permainan dan senda gurau

Tempat untuk bermegah, berbangga di antara kamu

Semula akan tampak indah seperti tanaman yang tersapu hujan

Tapi kemudian mengering hingga kuning kerontang

Dan semua hanyalah kesenangan yang menipu

(QS. Al-Hadid: 20)

Informasi Buku

Judul: Faith and the City

Penulis: Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendra

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan 1: 2015

Tebal: 227 hal

Isbn: 978-602-03-2433-3

Iklan

6 thoughts on “[Book Review] Faith and The City

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s