[Book Review] Merindu lCahaya de Amstel

Merindu Cahaya de Amstel“Pekerjaanku adalah menangkap cahaya”

Cahaya matahari sore menciptakan warna keemaasan di permukaan Sungai Amstel. Mengingatkan Nicolas van Dijk, mahasiswa arsitektur yang juga fotografer, pada sosok gadis Belanda dengan nama yang tak biasa, Khadija Veenhoven. Gadis yang terekam kameranya dan menghasilkan sebuah foto ”aneh”.

Rasa penasaran pada Khadija mengusik kenangan Nico akan ibu yang meninggalkannya saat kecil. Tak pernah terpikir olehnya untuk mencari sang ibu, sampai Khadija memperkenalkannya pada Mala, penari asal Yogya yang mendapat beasiswa di salah satu kampus seni di Amsterdam.

Ditemani Mala, Nico memulai pencariannya di tanah kelahiran sang ibu. Namun Pieter, dokter gigi yang terpikat pada Mala, tak membiarkan Nico dan Mala pergi tanpa dirinya. Dia menyusul dan menyelinap di antara keduanya.

Tatkala Nico memutuskan berdamai dengan masa lalu, seolah Tuhan belum mengizinkannya memeluk kebahagiaan. Dia didera kehilangan dan rasa kecewa itu dia lampiaskan pada Khadija yang telah mengajarinya menabur benih harapan.,

Kembali Nico mencari jawaban. Hingga sinar memantul di permukaan Sungai Amstel menyadarkannya. Apa yang dicarinya ada di kota Amsterdam ini dan sejak awal sudah mengiriminya pertanda. Akankah kali ini Nico berhasik memeluk kebahagiannya?

Novel ini aku pinjam dari Titim. Aku penasaran dengan Novel ini sejak diadakannya blog tour di beberapa blogger buku, dan beberapa kali aku Giveaway tapi gak menang. Aku senang banget pas Titim beli Novel ini, karena aku bisa pinjam dari dia, dan ternyata Titim malah mempersilahkan aku baca duluan, aku juga yang pertama kali menyobek plastiknya. Thanks Titim.

Novel ini aku baca kemaran sore, hampir waktu maghrib gitu, dan aku gak bisa berhenti baca. Aku berhenti baca untuk mengerjakan aktivitas yang lain tentunya, malamnya aku juga masih ngelesi. Seteleh selesai ngajar buru-buru aku baca lagi novel ini. Dan sebelum jam 00.00 uda selesai.

Apa yang bikin penasaran dari novel ini sehingga aku buru-buru ingin menyelsaikannya?

  1. Seperti halnya Nico, aku sebagai pembaca juga penasaran bagaimana foto Khadija bisa memunculkan cahaya? Dan Nico ingin membuktikan sekali lagi dengan mengambil foto Khadija. Kali ini dia minta ijin Khadija dan ditolak. Diam-diam Nico mengambil foto Khadija lagi tanpa sepengetahuannya. Bagaimana hasilnya? Masih memancarkan cahaya apa tidak? Penasaran kan? Silahkan pinjam beli bukunya.
  2. Interaksi antara Nico-Khadija, Nico-Mala cukup imbang. Mala yang menemai Nico ke Yogya. Khadija yang memperkenalkannya pada Mala. Dan baik Khadija maupun Mala sama-sama menyukai Nico. Siapa yang akhirnya Nico sukai? Si gadis Belanda, muallaf yang hidupnya berubah 180 derajad setelah mengenal islam? atau gadis Indonesia, yang membuat Nico jatuh cinta pada kota kelahiran ibunya?
  3. Konfik yang dialami Nico adalah tentang ibunya. Ibunya orang Indonesia, ayahnya Belanda. Mereka beda agama, ibunya Nico Islam. Dan ibunya baru tahu saat Nico berumur 6 tahun bahwa dalam islam dilarang menikah dengan orang yang beda agama. Ibunya meninggalkan Belanda, meninggalkan Nico dan ayahnya. Nico selalu membenci ibunya, dan tidak mengerti pada keputusan ibunya. Dia menyalahkan keyakinan ibunya karena keyakinan itu yang membuat ibunya meninggalkannya. Ketika dia memutuskan mencari ibunya ditemani Mala, dia senang bertemu kembali dengan ibunya setelah 16 tahun terpisah. Tapi tetap saja dia masih belum bisa memaafkan ibunya, dia bersikap ketus. Dan ketika Nico ingin memperbaiki hubungannya dengan sang ibu, dia kembali ke Yogya, mendapati ibunya sudah meninggal. Nico menyelahkan Tuhan atas peristiwa ini, menganggap Tuhan tidak adil. Bagiamana penulis menyelsaikan konflik batin Nico?

Hal-hal yang aku sukai dari Novel ini

Aku suka bagaimana penulis menyelesaikan akhir kisah cinta Nico, Khadija, Pieter, dan Mala. Gak ribet. Ternyata pada salah satunya Nico hanya menganggap sebagai teman, tak pernah lebih.

Aku juga suka hubungan Nico dan Khadija, buka tipe hubungan “love at first sight”, yang ujug-ujug baru kenal merasa suka, banyak mengira-ngira perasaan sendiri, kemudian megatakan cinta.

Aku tersenyum sendiri saat Nico mau mentraktir Khadija makan tapi Khadija menolak karena agamanya melarang laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim berduaan.

“Saat ini aku memang tidak punya kekasih. Tapi percayalah, aku sama sekali tidak berminat mendekatimu”. (hal 19)

Sikap Khadija membuat Pieter, Nico, dan Mala mau mengenal islam lebih jauh. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Khadija seputar islam dari Nico dan Pieter yang nonmuslim, juga dari Mala yang muslim tapi sering mengabaikan aturan agama. Tapi tentu saja sebagai seorang muallaf yang baru 3 tahun memeluk islam dia juga masih perlu banyak belajar tentang agamanya, tidak semua pertanyaan mampu dia jawab. Nah, disini dialog-dialog antar tokoh menurutku mengalir natural, tidak menggurui.

Hal yang kurang aku sukai, Awal perkenalan Pieter dan Mala. Ujug-ujug Pieter menyukai Mala. Walaupun dijelaskan bahwa Mala mengingatkannya pada Anggi.

Seharusnya novel ini lebih tebal, banyak konflik yang bisa dieksplor lebih dalam lagi. Misalkan antara Nico dan Ibunya, aku uda nangis tuh dibagian waktu Nico bersikap ketus saat ibunya dari Salatiga mengunjunginya di Yogya. Tapi ya setelah itu kok ngerasa agak ngambang ya? Terhanyut sebentar saja. Konflik ibu dan anak kurang menyentuh. Ibarat sebuah film seperti banyak bagian yang disensor.

Aku suka endingnya, dan bagaimana akhirnya Nico menyadari perasaannya. Tapi masak cuma berakhir di waalaikum salam? Harus ketemu lagi dong. Aku berharap novel ini ada kelanjutannya. dibuatkan dwilogi atau trilogi, dong, mbak Arumi.

FYI: ini pertama kalinya baca karya mbak Arumi E dan langsung suka

Informasi Buku

Judul: Merindu Cahaya de Amstel

Penulis: Arumi E

Editor: Donna Widjajanto

Terbit: September 2015

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Tebal: 272 halaman

ISBN: 978-602-03-2010-6

Iklan

2 thoughts on “[Book Review] Merindu lCahaya de Amstel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s