[Book Review] Bulan Terbelah di Langit Amerika

btdlaHanum

Hari sabtu pagi, di mana seharusnya menjadi hari liburnya sebagai karyawan surat kabar Heute is Wanderbar. Hari ini luar biasa. Tapi bosnya, Gertrud Robinson memintanya datang ke kantor. Emergency. Heute is Wanderbar terancam bangkrut, jika tak bisa menaikkah oplah, dewan direksi akan mengurangi jumlah karyawan, Gertrud maupun Hanum bisa kehilangan pekerjaan,  kecuali Heute is Wanderbar bisa membuat artikel yang luar biasa.

Would the world be better without Islam?

Sebentar lagi dunia akan memperingati tragedy 9/11. Itulah artikel yang diminta oleh dewan direksi untuk menaikkan oplah. Dan melihat reputasi Hanum, Gertrud percaya Hanum bisa melakukan pekerjaan itu dengan baik.

“Tidak, Gerturd. Aku tidak mungkin menulis artikel seperti itu. Kita bisa menulis sesuatu yang kau sebut apa itu ̶ mengubah dunia ̶ demi menaikkan oplah pada hari pertama tayang nanti. Tapi bukan dengan menggiring opini semacam itu yang memojokkan keyakinanku….”. Tolak Hanum. (hal 45)

Hanum merekomkan temannya, Jacob untuk menulis artikel itu. Setelah dia pikir, jika Jacob, seorang non muslim yang menuliskannya, jawaban dari opini itu adalah IYA. Hanum bimbang.

“Ini masalahku membela keyakinanku”. (hal 45)

“bukan dengan bom dan meriam, tapi dengan kapasitas inteletual yang aku miliki” (hal 50)

“Gagasan ‘would the world be better without islam?’ itu berkesempatan diawab TIDAK , dengan aku sebagai penulisnya”. (hal 51)

“Bagaimana cara menemukan jalan yang elegan mengatakan that’s absolutely not true” (hal 83)

Gertrud senang Hanum akhirnya mau menerima tantangan itu. “Aku sudah membuat riset untukmu. Ada beberapa nama. Dan siapa bilang kau melakukannya di Austria? Kau harus pergi ke Amerika Serikat” (hal 52)

Rangga

Sebagai mahasiswa S3 di Wina, Rangga disibukkan dengan berbagai paper. Dari perseteruan dua sahabatnya, Stefan dan Khan, Rangga mendapat ide tentang judul papernya, ‘The Power of Giving in Business’.

“Bulan depan, kau berangkat ke DC, Rangga”, Ujar prof Reinhard mendengar ide paper Rangga. Strategic Magement Society akan mengadakan konferensi tentang Strategi Bisnis dalam Lingkungan yang Tidak Pasti, Strategy in an Uncertain World. Kau akan banyak mendapat masukan dari situ”. (hal 54). Kalau di Indonesia, istilahnya, Reinhard ini merupakan dosen pembimbing tugas akhir mahasiswa.

Tamu kehormatan pembukaan konferensi itu adalah Phillipus Brown, seorang miliuner Amerika yang baru saja mendonasikan US $100 juta untuk beasiswa anak-anak korban perang Irak dan Afganistan.

Kisah Petualangan Hanum dan Rangga dalam 99 Cahaya di Langit Eropa berlanjut hingga ke Amerika. Kini mereka diberi dua misi yang berbeda. Namun, Tuhan menggariskan mereka untuk menceritakan kisah yang dimohonkan rembulan. Lebih daripada sekedar misi tugas mereka kali ini akan menyatukan belahan bulan yang terpisah. Tugas yang menyerukan bahwa tanpa islam, dunia akan haus kedamaian.

Rangga dan Hanum mempunyai waktu 6 hari di Amerika, 3 hari di New York untuk mewawancarai narasumber Hanum. Dan 3 Hari di Washington DC, dalam urusan konferensi international dan presentasi paper Rangga. Urusan mereka selama di Amerika, khususnya di New York, tidak berjalan lancar. Kesulitan demi kesulitan mengiringi mereka dalam menemukan narasumber yang pas. Getrud menginginkan seorang narasumber dari keluarga korban yang bergama islam, dan satunya lagi dari pihak non islam. Perjalanan yang tak mudah itu akhirnya harus memisahkan Rangga dan Hanum untuk sementara.

“Aku benar-benar tak mengerti mengapa Tuhan memberiku satu ujian berat untuk berpisah dengan suamiku. Tak cukupkah dua hari?” 320

Ini novel islami yang gak mainstream, alurnya gak mudah ketebak, banyak kejutan. Cuma satu bisa kutebak, tentang Julia dan bab Overture. Banyak adegan yang membuat haru dan membuatku harus menyediakan tisu untuk menghapus air mata dan mengelap cairan yang keluar dari hidung. Bangun-bangun mataku bengkak. #Kemudianmenyanyi, “tahukah kamu semalam tadi aku menangis”.

Pertama buku ini beredar, aku ikut kuis yang diselenggarakan bak Hanum, tapi gak menang. Untuk beli masih mikir-mikir, bukan berarti karena 99 Cahaya di Langit Eropa bagus kemudian novel ini juga bagus? pengalamanku membaca karya beberapa penulis terkenal, karya pertamanya aku suka banget, karya selanjutnya ternyata tak sebagus karya pertamanya. Cuma penulis itu sudah punya nama saja. Aku cari-cari info di internet tentang novel ini, dan nanya teman-temanku yang uda baca. Akhinya kuputuskan aku harus punya novel ini. Di Madura gak ada Gramedia, ada sih beberapa toko buku, dan uda aku jelajahi semua ternyata gak jual novel ini. Aku nitip teman yang ke Surabaya gak dapet. Akhirnya gak sengaja ketemu saat pelatihan di Malang.

Saat Peristiwa 11 September 2001, aku masih SD, gak paham apa-apa. Aku taunya mengerjakan PR, menonton kartun Doraemon pada hari minggu. Tapi gemanya  tak pernah reda, sampai sekarang. Islam dicap sebagai agama teroris.

“Bagiku, para teroris itu tak hanya membajak pesawat, tapi juga membajak nama islam, menjadikannya fitnah keji aksi yang tak berperikemanusiaa”n (hal 92).

Ya, islam dikambing hitamkan.

“Tak hanya WTC, tapi perang di mana pun di muka bumi, adalah kejahatan kemanusiaan, sebuah tragedi yang mengerikan, dibanding musibah alam seperti tsunami dan gempa bumi. Peristiwa 11 sepember hendaklah tidak mengaburkan ingatan dunia akan tragedi Holocaust, Palestina, Bosnia, Serbia dan rentetan kejahat manusia yang tak terbanding dahsyatnya” (hal 312)

Apakah mereka menutup mata? Kenapa Negara-negara, orang-orang, yang berada di balik perang Palestina, Bosnia, Serbia dan Negara-negara islam lainnya tidak dicap sebagai teroris? Kenapa dunia heboh banget ketika nama islam yang dikaitkan-kaitkan dengan aksi-aksi terror? Ugghhh,,,, sebel banget kan???

Islam itu sempura, tapi muslim itu tidak pernah sempurna. (hal 259)

Sebenarnya uda tahu bahwa novel ini menggabungkan antara fakta dan fiksi. Jelas terlihat di Bab overture dan kisah bulan di bab akhir, dan beberapa isi bab yang memflasback tragedi 9/11 di gedung World Trade Center dengan menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Di Bab-bab lain, menggunakan sudut pandang Hanum dan Rangga secara bergantian. Tapi tetap saja timbul pertanyaan, benarkah Rangga dan Hanum mengalami kejadian itu? Bertemu keluarga korban black Tuesday, bertemu filantropi Phillipus Brown dan keduanya menjadi perantara terkuaknya misteri 9/11 antara Julia, Jones, dan Brown.

Aku googling Phillipus Brown, kalau orang terkenal pastilah namanya akan bertebaran di mesin pencari no 1 ini. Nama Phillipus Brown muncul dalam resensi Bulan Terbelah di Langit Amerika. Jadi tokoh ini hanya rekaan? Mereka aslinya tidak mengalami peristiwa se luar biasa di novelnya? Fakta ini mengurangi semangatku membaca Bulan Terbelah di Langit Amerika. Aku jadi ingin memberi rating 4 yang dari awal ingin aku beri 5. Dan menurutku juga, jawaban yang diinginkan seorang muslim dari pertanyaan dari ‘Would the World be better without Islam?’ kurang terjawab. Fakta-faktanya kurang. Yang terjawab di buku ini adalah Islam bukan agama teroris. Terlepas dari kekurang puasanku, tetap saja kulanjutkan baca, dan tetap saja aku harus berkali-kali menitikkan air mata. Dan novel ini tetap harus aku rekomkan pada semua orang. Membaca sampai akhir, aku berubah pikiran lagi tentang rating. Aku sudah memberi 5 bintang di goodreads.

Agen muslim yang baik harus terus berkarya, kan? so, aku tunggu karya selanjutnya dari bak Hanum dan mas Rangga.

Oh iya, tentang bak Hanum yang kurang memahami arah, mengingatkanku pada diriku sendiri. Aku gak tau ini penyakit apa bukan? Keluargaku, dan teman-teman terdekatku taulah ya tentang kekuranganku yang satu ini.

Quote Bulan Terbelah di Langit Amerika

“Jika berhasil melewati satu rintangangn, lalu satu lagi kemudian satu lagi, sesungguhnya itu pertanda rencanamu akan berhasil. Tuhan tidak akan membuang waktumu dengan memberimu hasil yang mengulur kegagalan” (hal 6).

“Berapa sih biaya semua rasa malu untuk mengirim surel?, kau tahun kan, 100 surel berbeda kukirim dalam waktu 1 tahun untuk mendapatkan 1 jawaban dari beasiswa S-3 Austria ini?, kau tau kan, berapa kali Thomas Alva Edision membuat rangkaian hingga menemukan lampu?” (hal 24).

“Kiprahku di Eropa ini adalah menjadi agen muslim yang baik, melakukan yang terbaik yang dapat kulakukan, tunjukkan bahwa muslim bisa bersaing melalui karya dengan orang-orang di sini” (hal 37)

“Media membuat muslihat paling menipu daya, yang buruk menjadi begitu mulia, dan yeng begitu mulia menjadi buruk rupa”. (hal 45)

“News is all about sensation” (hal 46)

“Emosi negatif itu hanya bertahan pada satu menit pertama. Jika kita menarik nafas dan melepaskannya perlahan, mencoba mengalihkan dengan hal lain, reseptor negatif yang diterima hipotalamus di otak tidak akan dilanjutkan ke saraf simpatik; sebaliknya, akan bergerak menjauh, meluruh, dan akhirnya menghilang” (hal 50)

“Gagal, coba lagi, gagal, coba lagi, dan seterusnya hingga Tuhan yakin kesungguhan hati ini untuk bertemu narasumber sejati, adalah sebuah keindahan. Aku harus opitimis. Karena optimis adalah tentang mengubah batu penghalang menjadi batu loncatan” (hal 89)

“Aku selalu merasa energi tali komunikasi yang paling kuat antara sepasang suami istri yang saling mencinta adalah Telekomunikasi Hati” (hal 106).

“Kata orang, keterbatasan membuat orang kreatif. Keterbaasan membuat orang tepecut melakukan apa pun yang dijalani dengan maksimal. Keterbatasan tak ubahnya situasi yang dibuat Tuhan untuk membuat kita lebih berjuang” (hal 110).

“Sesal memang datang dipenghujung dengan bertepuk tanga”. (hal 115)

“Berjalanlah dan terus berjalanlah dengan niat kebaikan untuk mengejar restu dari Allah, bersama dengan orang-orang yang kaucintai, lalu sematkan dalam hati dan pikiranmu akan perjalanan hidupmu tentang surga yang akan kaugapai. Maka seberat, sepanjang, dan sebesar apa pun halangan yang merintangi langkahmu, akan terbuka dengan sendirinya atas izin-Nya. Ingatlah, Tuhan akan mengirimkan malaikat-malaikat-Nya yang mempunyai keringanan tangan tak bertepi untuk menyelamatkanmu manakala kau hendak terpeleset di ujung jurang yang tajam” (hal 123).

“Kata orang sejarah melahirkan Eropa, tapi filosofi telah membentuk Amerika” (hal 143).

“aku bukanlah xenophobic, orang yang membenci orang asing hanya karena dia berbeda ras tau etnis” (hal 146)

“aku menghitung-hitung berpa kali Tuhan menggerojokiku dengan banyak kejadian menyesakkan seharian ini, namun menggiringnya menjadi keajaiban. Terkadang kita memang tak adil pada hidup kita sendiri. Tatakala tiada pilihan, kita menggerutu. Padahal Tuhan tak memberi pilihan lain karena telah menunjukkan itulah satu-satunya pilihan terbaik bagi hidup kita” (hal 185).

“Mungkinkah Tuhan ingin berbicara kepada kami dengan bahasa-Nya yang belum kami pahami?” (hal 187).

“Perang memang tak pernah membawa kebahagiaan. Yang tercipta hanya kehilangan” (hal 205).

“Let your faith be bigger than your fair” (hal 211)

“Dulu saya mengira seseorang bisa gila jika di dompetnya tidak ada uang sepeserpun. Tapi ternyata terlalu banyak uang pun bisa membuat kita gila” (hal 213).

“The more you give your dollars to the needy, the more dollars God Almighty gives you, with charm. The more you don’t give, …maybe the more God the Almighty gives you too, but He gives pain within your dollars” (hal 214).

“Menjadi kaya bukan ditakar dari banyaknya uang yang dia miliki, namun seberapa banyak manusia memberi” (hal 234).

“Semua orang adalah teroris di muka bumi ini jika tangan mereka menggenggam kekayaan tanpa menyedekahkan untuk umat yang terseok-seok kehidupannya” (hal 234)

“Business profit doesn’t result from what we get, but from what we give” (hal 244)

“Ya, seni terindah dari sisi kemanusiaan adalah kedermawanan hati, yang tak menunutut ditilik manusia lain” (hal 244).

“Usaha dan berupaya sekuat raya, dalam keadaan apa pun, hingga Tuhan melihat kesungguhan itu dan mengulurkan tangan-Nya” (hal 307).

“Bahwa membuat berita sensasional tak harus membuat agenda jahat pada yang lain! Good news is always great news. Bad news is always bad news!” (hal 310).

“Toh keagungan Tuhan tidak berkurang ataupun bertambah karenanya” (hal 313)

Informasi Buku

Judul: Bulan Terbelah di Langit Amerika

Penulis: Hanum Salsabila Rais dan Rangga Almahendra

Penerbit: Kompas Gramedia

Tebal: 344 hal

Cetakan Pertama: Mei 2014

Cetakan Kedelapan: April 2015

ISBN: 978-602-03-0545-5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s