[Book Review] Rengganis Altitude 3088

rengganisDewo, Fathur, Rafli, Dimas, Acil, Ajeng, Nisa, Sonia melakukan pendakian ke Argopuro,  gunung dengan trek pendakian terpanjang di Pulau Jawa yang terkenal dengan legenda Dewi Rengganis.

“Seorang putri dari zaman kerajaan majapahit yang mengasingkan dirinya ke Argopuro bersama sepasukan pengawal dan dayang-dayang kerajaan. Malangnya, dia kemudian hilang bersama enam orang dayang-dayangnya di gunung itu secara misterius” (hal 13)


Dia baru saja menyelinap keluar. Terbangung oleh gemerisik angin yang menabrak-nabrak tenda. Dua lapis jaket membungkus tubuhnya. Satu jaket polar dan satu jaket parka gunung. Tak ada seorang manusia lain pun yang terlihat. Seluruh panghuni kerajaan sang dewi telah tertidur.

Pandangannya lurus ke depan. Kemudian, tiba-tiba saja tatapannya berubah menjadi tajam. Sangat tajam. Menetap lekat sesuatu. Atau lebih dari satu. Perlahan-lahan dia berjalan meninggalkan tenda. Meninggalkan teman-temannya yang tertidur di dalam tenda. Menjejaki rerumputan basah dalam langkan-langkah pasti. Dermaga tua itu tujuannya. Mendekati tarikan magnet bercahaya.

Rengganis, pentas apa sebenarnya yang tengah dilangsungkan?

Hingga pagi datang, anak muda itu tak pernah kembali ke tenda…


Membaca novel ini jadi pengen merasakan naik gunung. Seumur hidup sekali gak apa-apa. Jadi di gunung itu, ada hutan, ada sungai, danau, air terjun, sunrise yang indah. Beneran pengen tau. Apalagi di Argopuro ada hutan Twilight dan Hutan Harry Potter katanya.

Tapi takut juga sih dengan kejadian-kejadian mistis yang banyak terjadi di gunung, hewan-hewan buas. Gak kebayang juga capeknya berjalan berpuluh-puluh kilo sambil membawa carrier yang berat. Barang-barang bawaanya kayaknya rempong banget deh. Menantang sekali.

Saat membaca novel ini, gak bisa menebak siapa tokoh utamanya. Gak ada karakter yang paling menonjol, rata-rata hampir sama.

Pesan yang aku tangkap dari membaca novel ini, yaitu dengan menjelajahi alam, membuat kita semakin dekat dengan Sang Pencipta Alam ini. Dengan teknik penulisan showing, secara tak langsung penulis menyelipkan nilai-nilai religius tanpa kesan menggurui, seperti ajakan untuk untuk shalat, hablun minannas. Naik gunung membuat mereka semakin semangat untuk shalat, sengaja mereka mencari tempat-tempat sujud yang mempunyai sejarah, legenda, atau terkenal. Kalimat Subhanallah, Astaghfirullah, Innalillah dan semacamnya gampang dilontorkan oleh para tokoh ketika tertimpa suatu kejadian.

Tantangan demi tantangan yang mereka hadapi semakin membuat mereka banyak belajar. Termasuk ujian persahabatan. Jadi ingat dulu waktu sering ikut kemah. Saat penjelajahan pasti deh gak luput dari cekcok dalam regu, selain menguras tenaga juga menguras perasan. Huhu… Makanya kata Dimas, “Leave Nothing but footprint, take nothing but picture, kill nothing but ego”. Padahal biasanya slogan pecinta alam di kalimat terakhirn ‘kill nothing but time’.

Quote

“A traveler without observation is like a bird without wings” (hal 12)

“mereka mendaki karena mengaku mencintai alam. Tapi mereka sendiri yang mengkhianati cinta itu. Sesungguhnya bukan alam yang mereka cintai, tapi diri mereka sendiri” (hal 113)

“daripada mengutuk gelap lebih baik menyalakan lilin” (hal 115)

“cagar budaya yang terawatpun masih berpotensi rusak, apalagi yang sama sekali tidak diperhatikan seperti ini. Bencana alam dan bencana tangan manusia sangatlah mengancam” (hal 136)

“selalu ada keringanan untuk setiap beban. Selalu tersedia untuk setiap masalah dan musibah. Alam juga seperti itu sifatnya”

Informasi Buku

Judul: Rengganis Altitude 3088

Penulis: Azzura Dayana

Penerbit: Indiva Media Kreasi

Cetakan pertama, Agustus 2014

Tebal: 232 hal

ISBN: 978-602-1614-26-6

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s