[Book Review] Love Sparks in Korea

lailatul muizzahIf you’re happy, then it’s twice,
if you’re sad, then it’s half

Manakah yang lebih penting bagi seorang Gadis, mencintai atau dicintai?

Rania Timur Samudra hanya ingin menelusuri jejak-jejak cinta Allah yang terhampar di bumi. Namun yang terjadi, si Jilbab Traveler tak cuma menemukannnya pada tempat-tempat indah yang menakjubkan dan terkadang menikam emosi, tetapi jejak-jejak itu juga membayang pada laki-laki Korea yang memotret kehidupan ini dengan cintanya yang hitam putih.

Pada sisi lain, seorang lelaki yang menjadi teman lama Rania, juga menawarkan ‘pesona keindahan’. Lelaki itu bahkan berhasil menaklukkan ketakutannya sendiri demi membawa Rania terbang melintasi keinginan-keinginannya.

Bumi dan segala isinya memang selalu menimbulkan rasa takjub. Tapi cinta yang Allah sematkan pada ruang kecil bernama hati, ternyata lebih meluapkan ketakjubkan dan sensasi pada kemahabesaran-Nya.

Dan Rania,

Dimanakah Allah menyiapkan titik perhentian bagi petualangannya?


Keluarga Rania yang dulu miskin tinggal di dekat rel kereta api. “Salah satu dari kereta itu menuju negeri seribu kisah”, begitu kata papanya. “Dan suatu hari, satu dari banyak kereta itu akan menerbangkanmu ke negeri itu”, doa papa Rania. Rania sempat meluruskan kalimat Papa, bahwa kereta api berbeda dengan pesawat. Kereta api tidak pernah terbang. Ia selalu setia pada rel yang berpijak. Tapi Papa tak mengubah jawabannya. Dan doa Papa Rania benar-benar terwujud. Penulis berlesung pipi itu menjadi seorang Jilbab Traveler. Papa Rania menjuluki putri bungsunya itu dengan sebutan Ummu Battutah. Seorang penjelajah yang kehebatannya melampaui sejumlah explorer Eropa seperti Columbus, Vasco da Gama, dan Magellan yang bahkan baru mulai berlayar 125 tahun setelah Ibnu Batutah. (hal 11)

Karena suatu peristiwa, sempat Rania ingin berhenti menjadi seorang traveler. “Bagaimana jika Mama justru akan bahagia jika kamu pergi? Berangkat ke Korea. Menjadi duta Islam juga Indonesia yang sering kamu ulang. Ini kesempatan berdakwah juga, kan, minimal mengenalkan mereka terhadap Islam yang rahmatan lil ‘alamin. (hal 143)

Jilbab seorang muslimah tidak bisa menjadi penghalang dalam melakukan banyak kegiatan. Deuh, pengeeeen banget ya Allah menjadi seorang Traveler. Sebagai seseorang yang cukup banyak membaca buku Asma Nadia meskipun hasil pinjem, aku tidak menemukan banyak hal baru di novel ini. bahasannya mirip-mirip dengan beberapa buku sebelumnya. (lihat progress bacaku di goodreads, gambar bawah). Bisa ketebak juga Rania memilih siapa pada akhirnya. Tentang pengalaman traveling di buku ini, aku kok lebih suka baca buku Jilbab Traveler ya?

Supaya Hyun Geun yang orang Korea bisa berbahasa Indonesia dan sedikit mengenal Islam, penulis membuat cerita bahwa Hyun Geun dulu kuliah di UI 3 tahun. Tapi alasan ini bagiku kurang kuat, masak sih cuma itu alasannya? Secara Korea labih maju, yang ada orang Indonesia yang pengen kuliah di Korea. Ini Hyun Geun malah ke Indonesia. Dalam rangka apa coba?

Penulis pintar banget menyelipkan beberapa iklan di dalamnya, seperti Dauky, Moshaict yang aku anggap wajar. Tapi agak gimanaaaa gitu ketika terjadi percakapan tentang Wardah antara Rania dan Hyun Geun.

Covernya gak begitu suka. Aku memang gak suka sih dengan Cover buku bergambar orang model gituan. Nuansanya keungu-unguan mirip Surga yang tak dirindukan.

Novel ini recommended gak Cuma bagi traveler atau calon traveler kayak gue (aamiin). Insyaallah banyak hikmah yang bisa diambil dari buku ini, tentang keikhlasan, mimpi, keluarga dan lain-lain. Dan yang paling recommended buat remaja khususnya, menurutku pribadi yaitu tentang pergaulan dengan lawan jenis.

Meski berusaha bersikap biasa, Rania tahu hatinya dalam bahaya. (hal 178)

Sebagai muslimah, dia tidak bisa menunjukkan simpati pada pemuda Korea itu dengan sentuhan fisik, bahkan dalam situasi seperti ini. (hal 297)

Kalau masalah Quote, Asma Nadia emang juaranya.

Perempuan tidak boleh terperangkap dalam jeruji rasa yang memenjaranya dari kemungkinan-kemungkinan lain. Cinta seharusnya diiringi harapan akan kebersamaan. (hal 6)

Selalu. Tidak pernah tidak. Bersama tantangan Allah hadirkan pertolongan. (hal 76)

Hingga satu keluarga di dunia kelak menjadi keluarga di surga. (hal 103) (Ini doaku banget)

Kau bisa bersembunyi dari pandanganku tapi tidak bisa dari pikiranku. (hal 105)

Dia tidak boleh menjadi gadis kebanyakan yang mudah berdebar hanya oleh sedikit perhatian lawan jenis. (hal 147)

Aku jatuh cinta padamu dan itu fakta (hal 205)

Pancinglah rezki dengan sedekah. Rasulullah bersabda, bersegeralah bersedekah, sebab bala bencana tidak pernah bisa mendahului sedekah. (hal 218)

Betapa pun ingin sesering mungkin bertemu Rania, Hyun Geun memerlukan alasan. (hal 222)

Kenapa perasaan itu tidak jatuh kepada orang lain, yang seringkali secara kasat mata lebih segala-segalanya? Kenapa kita tidak bisa memaksakan menyukai atau merasa nyaman dengan seseorang? Kenapa waktu tak cukup menjadi variabel yang bisa diandalkan? Bagaimana hati persisnya memilih? (hal 277)

Seorang perempuan tahu dia telah menemukan laki-laki yang tepat untuk melabuhkan hati saat dia merasa nyaman berada di sisinya, bahkan meski sekadar memikirkannya. (hal 209)

Cinta bisa mengilat atau memudar seiring tahun-tahun pernikahan. Kesatuan atau kekuatan iman akan menjaga agar langgeng dan tak tertelan masa. (hal 347)

Seumur hidup suami saya cukup sekali saja mengatakan cinta. Sekali menjelang tidur dan sekali saat bangun tidur (hal 371)

Quote tentang traveling

Turis hanya melihat-lihat, sementara traveler mengalami, terlibat dengan tempat-tempat yang dia datangi. (hal 65)

Seorang traveler sudah mengeluarkan dana, energi dan waktu untuk sebuah perjalanan, sangat berhak mendapatkan selfie yang layak untuk dikenang. Dengan cara itu, mereka bisa berbagi keindahan ciptaan Allah ke banyak orang melalui media sosia seperti instagram, twitter, dan facebook. (hal 74)

Seorang traveler idealnya merupakan seorang observer yang baik. Bisa mengingat lebih banyak yang dilihat. (hal 75)

Seperti kehidupan, tak semua yang diinginkan tercapai saat traveling. Tidak berarti seorang traveler kehilangan rasa syukur untuk memaksimalkan keberadaannya. (hal 76)

Inilah keistimewaan traveling. Perjalanan tak Cuma membawa kenangan tetapi juga keajaiban. Mengakrabkan wajah-wajah asing. Menautkan takdir. (hal 90)

When you photograph people in color, you photograph their clothes. But when you photograph people in balck and white, you photograph their soul. Ted Grant (hal 92)

The world is a book and those who do not travel read only one page. #travelquote (hal 142)

Kamera hanya alat, pengetahuan. Kreativitas sosok dibaliknya menentukakn kualitas gambar. (hal 159)

Sebelum melakukan traveling sebaiknya: Shalat safar, dua rakaat sebelum perjalanan. Keluarkan sedekah, insyaallah sedekah menolak bala. (hal 217)

Cinta juga sebuah perjalanan sendiri. Dan seperti traveling, tanpa teman yang tepat maka perjalanan bisa jadi hanya akan menyusahkan. (hal 359)

Di Goodreads, aku hanya ngasih 2 bintang untuk buku terbaru Asma Nadia. #sungkemmapenulisnya.

love sparks 1love sparks 2

love sparks 3love sparks 4

Informasi Buku

Judul Buku: Love Sparks in Korea

Penulis: Asma Nadia

Editor Ahli: Isa Alamsyah

Penerbit: AsmaNadia Publishing House

Cetakan pertama: Oktober 2015

Jumlah hal: viii+380 hal

ISBN: 978-602-9055-39-9

Start reading: 16 okt 2015 and Finished: 18 okt 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s