[Agatha Christie] Partners in Crime

lailatulm muizzah_AC
source: http://www.amazon.co.uk/Partners-Crime-Tommy-Tuppence-Chronology/dp/0007111509

Setelah berhasil dalam Musuh Dalam Selimut, Tommy dan Tuppence hidup bahagia.

Tapi…. Enam tahun kemudian, mereka mulai bosan. Tak ada kejadian menarik dan mendebarkan yang mereka alami. Padahal, mereka terlanjur kecanduan bahaya. Mereka butuh tantangan untuk mengasah otak mereka yang brilian dan memuaskan kehausan mereka akan petualangan-petualangan yang penuh resiko.

Sebuah tawaran disodorkan. Mereka mengambil alih biro detektif swasta yang hampir bangkrut. Kasus-kasus aneh segera bermunculan, lelaki jahat, lelaki berbaju koran, lelaki buta, lelaki dalam kabut.

Tommy-Tuppence, pasangan detektif cemerlang tapi konyol, sering sial tapi pantang menyerah. Benarkan? Apakah Tommy akan terus beraksi meski tahu bahwa nyawa Tuppence menjadi taruhannya?

Fyi, tulisan ini mengandung spoiler. Memang sengaja, karena aku tidak tahan untuk tidak mengomentari sesuatu yang berkesan.

Berhari-hari dan berminggu-minggu kantor mereka, Blunt’s Brilliant Detektives sepi klien, walaupun ada, klien-klien yang datang hanya membawa kasus perceraian. Kasus yang sama sekali tidak bergengsi dan tidak bisa menaikkan pamor Blunt’s Brilliant Detektives.

Ketika seorang bangsawan muda bernama Lawrent Vincent datang ke kantor mereka meminta jasa mencari seorang gadis hilang, keduang pasangan detektif itu sangat senang. “Lawrent Vincent adalah kemenakan dan ahli waris Earl of Cheriton. “Kalau kita berhasil, kita akan dapat publisitas gratis di kalangan tinggi”. Informasi Tuppence pada Tommy (hal 22).

Bahkan Tuppence menawarkan layanan 24 jam. Artinya, dia bisa menemukan orang hilang itu hanya dalam waktu 24 jam, dengan bayaran yang lebih mahal pula. Si bangsawan setuju, bayaran bukan masalah. Gadis itu adalah orang yang dia sukai, dia akan segera melamarnya begitu gadis itu ditemukan. Tommy meragukan layanan 24 jam yang ditawarkan istrinya. Tapi bagi Tuppence, hal itu sangat mudah. Pasalnya, untuk mengatasi kebosanannya dan menaikkan pamor Blunt’s Brilliant Detektives, dia sendiri yang menciptakan masalah.

Bekerja sama dengan temannya, Janet. Janet sebenarnya menyukai tuan Vincent, dan sebaliknya, Vincent menyukai janet. Tuppence menyuruh Janet bersembunyi selama beberapa hari, yang otomatis membuat Vincent mencarinya. Sebelumnya, Janet dengan sengaja menyelipkan informasi tentang Blunt’s brilliant detektives disela-sela obrolan mereka. Teringat dengan obrolah Janet, Vincent mendatangi untuk meminta jasa. Kasus dengan mudahnya terselesaikan. Vince menemukan jannet, jannet dilamar bangsawan, dan Blunt’s Brilliant Detektives mendapatkan apa yang dibutuhkan.

Pada kisah Mutiara merah muda, Nyonya Hamilton Betts kehilangan liontin kalungnya saat menginap di rumah Kolonel Kingston Bruce. Saat peristiwa itu, ada beberapa orang di rumah colonel Kingston, dia sendiri, istri dan seorang anak perempuannyaa, Mr dan Mrs Hamilton Betts, Lady Laura dari Paris, Vincent, Rennie, beberapa pembantu rumah dan pelayanan Lady Laura. Atas informasi Vincent, keluarga Kingstone menyewa jasa Blunt’s Brilliant Detektives. Tommy dan Tuppence diberi kebebasan untuk memeriksa seisi rumah Kolonel Kingston Bruce.

Bagaimana mereka bisa menemukan si pelaku? Setelah memeriksa beberapa ruangan, tibalah mereka memeriksa kamar mandi, di mana saat itu ada Elise, pelayan Lady Laura yang mengaku sedang membersihkan kamar mandi. Tommy mau masuk ke kamar mandi. Elise membuka handel pintu kamar mandi, tapi pintu itu tidak bisa dibuka. Elise bilang mungkin ada orang di dalam atau pintunya macet. Dia mengambil handuk dan mencoba membukanya lagi. Handel Pintu berputar dengan mudah, dan pintu terbuka.

Mengapa pintu itu bisa macet? Tommy berkali-kali melirik pintu kamar mandi, dia memeriksanya sebentar, membuka dan menutupnya kembali. Semuanya beres.

Beberapa saat kemudian, Tommy membawa polisi ke rumah kolonel Kingston.

“Saya rasa, anda akan menemukannya (permata) itu disini”. Tommy memberikan sabun pada polisi.

”permainan yang cukup bagus. Potong sabun menjadi dua, buat lubang di tengahnya untuk tempat menyembunyikan mutiara, lalu tangkupkan kembali sabun tersebut dan haluskan sambungannya dengan air panas. Anda memang cerdas”, polisi itu memuji Tommy. (hal 38)

Tuppence yang menyangka pelakunya adalah nona Beatrice Kingston dan Rennie bingung. Kemudian Tommy menjelaskan.

“Aku sering mencoba membuka pintu dengan tangan penuh sabun. Tapi tidak bisa, tanganku terlalu licin. Jadi aku berpikir-pikir kenapa si Elise tangannya penuh sabun. Setelah itu dia mengambil handuk. Ingat gak? Jadi tak ada bekas sabun pada handel pintu itu. Lalu aku berpikir. Kalau kau memang pencuri professional, amat bagus kalau bisa jadi pelayan seorang wanita yang punya penyakit kleptomania. Apalagi kalau dia senang bepergian dan menginap di rumah teman-temannya. Jadi aku berusaha mengambil foto Elise dan kamar majikannya, menipu dia supaya memegangi peralatan kameraku, lalu pergi ke Scotland Yard. Hasil fil negatif dan sisik jarinya memang lama dicari-cari” (hal 39)

Pasangan ini sering berperan seoalah-olah mereka sebagai Holmes-Watson. Tommy sebagai Holmes, dan Tuppence sebagai Watson, kadang mereka berperan sebaliknya. Kemampuan mereka imbang, dan saling melengkapi satu sama lain. Lucunya, pada kasus mutiara merah muda, ketika nona Kingston Bruce mendatangi kantor mereka dan memegang karcis, Tommy berlagak seperti Sherlock yang suka menebak orang, “pasti bis yang anda naiki tadi penuh sesak pada jam-jam seperti ini”

“Saya tadi naik taxi”. Koreksi nona kingston. Tommy kecewa. Ternyata karcis itu dipungut nona Kingston di trotoar untuk diberikan kepada anak tetangganya yang suka mengumpulkan karcis. (hal 26).

Di kasus Wanita hilang, mereka senang karena kasus mereka sudah mirip dengan kasus Holmes tentang Lady Frances Carfax, dimana Lady Carfax kemudian ditemukan di peti mati. Eee ternyata…. Wanita keturunan bangsawan yang mereka cari itu sedang melakukan diet ketat dan tidak ingin diketahui tunangannya.

Kadang juga mereka berlagak seperti detektif-detektif lain yang aku gak kenal. Seru kali ya hidup pasangan ini. Membaca Partners in Crime, aku pengen jadi Tuppence, dan menemukan pasangan seperti Tommy. Aww…

Tommy dan Tuppence adalah pasangan konyol. Mereka bedua sok sibuk bingit, kalau ada klien pura-pura sibuk dengan Scotland Yard lah, urusan dengan menteri lah. Hihihi…. Padahal lagaknya mereka saja. Mereka kadang saling mengolok-olok satu sama lain. “Tapi rasanya enggak enak kalau enggak ngeledek kamu” (hal 163). Nah lho, itu pengakuan Tommy sendiri pada Tuppence.

Partners in Crime ini merupakan kumpulan cerita pendek. Pada kasus Rumah Beracun, tebakanku benar tantang siapa pembunuhnya. Yeeaaay… give applause untuk diri sendiri #prokprokprok. Pemecahan kasusnya mirip dengan Pria Bersetelan Coklat. Pelakunya terungkap secara gak langsung lewat dialog antar tokoh. Kerja sama pelaku dengan sanak famili di kasus Red House menurutku mirip dengan Mengail di Air Keruh. Di Red House juga, ketika Tommy dan Tuppence menemukan jalan buntu, dan tiba-tiba pelayan datang dan menanyakan tentang Potato, di mana kata itu merupakan jawaban atas misteri yang mereka selidiki, itu terlalu kebetulan menurutku. Emang sih, di kehidupan nyata kadang kita mendapatkan ilham saat kita dalam situasi kepepet, tapi di fiksi ini agak kurang logis.

download ebooknya di sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s