[Book Review] Da Vinci Code part 1

davinci code
source: goodreads.com

Jacques Sauniere, seorang kurator hebat, meninggal di tempat kerjanya, Musse Du Louvre—Museum Lovre, Paris, ditembak oleh seorang albino bernama Silas, atas perintah Guru. Yakin Sauniere telah meninggal, Silas pergi. Silas tidak tahu bahwa pada saat itu Sauniere tidak langsung mati. Pada menit-menit sebelum ajalnya tiba, Sauniere meninggalkan pesan aneh di tubuhnya dan di lantai.

Pihak kepolisian Paris menghubungi Robert Langdon, Profesor Simbologi Agama dari Universitas Harvard. Langdon saat itu berada di Paris untuk menyampaikan ceramah ilmiah. Kapten kepolisin Paris, Bezu Fache, meminta Langdon menerjemahkan makna simbol-simbol yang ditinggalkan Sauniere.

Sauniere dengan sengaja membuat tubuhnya telanjang dan menggambar pentekel, lima garis lurus yang saling berpotongan membentuk sebuah bintang lima titik di atas tubuh telanjangnya itu dengan darahnya sendiri. Dan dengan Watermark Stylus, marker besar berujung felt yang biasa digunakan oleh petugas pemeliharaan museum, dimana tulisan dari marker tersebut hanya bisa dilihat dengan cahaya hitam, Sauniere menuliskan pesan di samping jasadnya.

13-3-2-21-1-1-8-5

O, draconian devil!

Oh, lame saint!

Sauniere membuat lingkaran yang mengelilingi tubuh bugilnya.

Da Vinci. Langdon menggigil karena takjub. Kejernihan niat Sauniere tak dapat disangkal. Di saat terakhir hidupnya, kurator itu telah menanggalkan semua pakaiannya dan mengatur tubuhnya sedemikian rupa sehingga merupakan gambaran jelas dari Vitruvian Man karya Leonardo Da Vinci. (hal 44)

davinci1T
posisi mayat Sauniere

source: Here

virtruvian man
Vitruvian Man

source: Here

Di tengah-tengah kebingungan Langdon dan Fache, seorang Kriptografer cantik memaksa masuk ke museum, mengatakan bahwa dia sudah memecahkan kode angka itu. Dia mengeluarkan kartu dari sweeternya dan memberikannya pada Fache.

1-1-2-3-5-8-13-21

“Ini adalah rangkaian Fibonacci”, Shopie Neveu, agen kriptologi DCPJ (kira-kira seperti FBI di Amerika) berusian 32 tahun itu menjelaskan. “Sebuah deret ukur yang setiap angka sama dengan jumlah dari dua angka sebelumnya. (hal 63). Fache masih belum paham apa maksud Sauniere menuliskan deret itu, sementara menurut Sophie, itu hanya lelucon kriptograf yang tidak penting.

Diam-diam, Sophie menyampaikan sebuah pesan pada Langdon melalui rekaman suara di telpon, Sophie membohongi Fache bahwa Langdon menerima pesan dari kedutaan Amerika. Setelah menerima telpon itu, Langdon minta izin ke kamar kecil, tanpa curiga Fache mengizinkan saja. Di toilet, Sophie menemui Langdon. Sophie memberikan informasi pada Langdon bahwa sebenarnya Langdon merupakan tersangka utama dari kasus pembunuhan Sauniere. Langdon terkejut kemudian Sophie memperlihatkan foto mayat Sauniere dan pesannya di lantai yang sebelum kedatangan Langdon pesan itu sengaja dihapus oleh Fache.

13-3-2-21-1-1-8-5

O, draconian devil!

Oh, lame saint!

P.S. cari Robert Langdon

Ditambah sebelum pembunuhan itu Sauniere mempunyai jadwal bertemu dengan Langdon tapi tidak terlaksana.

Langdon dipanggil ke Louvre malam ini tidak sebagai ahli simbolog tetapi lebih sebagai tersangka dan merupakan target metode interogasi yang paling populer dari DCPJ—Surveillance Cache, sebuah penipuan yang menjebak. Polisi mengundang tersangka dengan tenang ke tempat kejadian perkara dan menginterogasinya dengan harapan si tersangkan akan sangat gugup dan secara tak sadar membuktikan kejahatannya sendiri. (hal 70).

Sophie percaya bukan Langdon yang melakukan pembunuhan itu karena menurut Sophie pesan Sauniere itu untuknya. Sauniere adalah kakek Sophie dan selama 10 tahun Sophie memtuskan hubungan dengan kakeknya sejak kejadian di ruang bawah tanah di rumah kakeknya. Sophie melihat kakeknya melakukan sesuatu yang tak bisa dimaafkan Sophie sampai sekarang. Dan pesan itu hanya cara kakeknya untuk berkomunikasi dengan Sophie yang selama 10 tahun tidak pernah mengangkat teleponnya dan membalas surat-suratnya. Dengan menulis deret angka Fibonacci secara acak, Sauniere yakin polisi akan meminta bantuan ahli kriptografi.

P.S sendiri adalah inisial dari Princesse Sophie, panggilan kesayangan yang diberikan kakekknya. Fache tenang-tenang saja di luar meskipun Langdon belum keluar dari kamar mandi karena dia sudah menaruh titik pelacak GPS di jas Langdon. singkat cerita, Sophie membantu Langdon kabur walaupun Langdon tidak menyetujui ide ini awalnya, karena membuat dia terlihat seperti bersalah. Sophie meletakkan GPS itu di dalam sabun dan membuangnya lewat jendela yang jatuh di truk pembuangan sampah. Tampak seolah-olah Langdon meloncat dari jendela.

Masih merupakan misteri bagi Langdon dan Shopie mengapa Sauniere harus menuliskan nama Langdon

di lantai, dia ingin sekali memecahkan kode itu. Fibonacci, Da Vinci, Phi, Proporsi Agung. Ingatannya kembali saat dia memberikan kuliah di Harvard. Langdon ingat sesuatu, dia mengerti arti kode itu.

“Deret Fibonacci yang tak beraturan itu merupakan sebuah petunjuk”, kata Langdon sambil memegang kertas itu. “Dia menulis deret itu dengan angka tak teratur untuk mengatakan kepada kita supaya menggunakan konsep yang sama pada teks itu”. (hal 117).

O, draconian devil?

Oh, Lame Saint?

“Baris-baris itu tak berarti apapun. Mereka hanya aksara yang tersusun tak beraturan”

Sebuah anagram, suatu kata atau kalimat yang di bentuk dengan cara merubah susunan huruf dari kata atau kalimat lain.

Langdon menatap Sophie lama, “maksud kakekmu berada tepat di depan kita. dia meninggalkan petunjuk lebih dari cukup untuk dilihat”

Tanpa kata-kata lagi, Langdon menarik pena dari saku jasnya dan mengatur kembali huruf-huruf pada setiap baris pesan.

O, draconian devil?

Oh, Lame Saint?

Merupakan anagram sempurna dari……………

Leonardo Da Vinci

The Mona Lisa

Seharusnya Sophie menyadarinya dari awal, kakekknya memang sering menggunakan anagaram untuk mengasah ejaan bahasa inggrisnya sejak kecil. Dan kenapa pesan kakeknya membawanya pada lukisan terkenal?

Sophie yang tadi akan meninggalkan museum mengurungkan niatnya. Dia yakin ada pesan tersembunyi lagi dari kakeknya. Niat kakeknya pasti lebih dari sekedar melibatkan Department kriptografi dalam masalah ini. Dia hendak mengirim pesan pada Sophie yang tidak boleh diketahui oleh orang lain kecuali Sophie sendiri. Tapi apa?

Sementara Sophie menyuruh Langdon melarikan diri, Sophie pergi ke tampat lukisan Mona Lisa. Mencari pesan tersembunyi kakeknya. Teringat dengan cerita-cerita Sophie tentang kakeknya, Langdon kembali mengingat seauatu. Dia kembali lagi ke ruangan mencari Sophie, sementara Sophie mencari senter UV. Karena jika kakeknya menulis pesan, pasti menggunakan Spydol Stylus. Ketika menemukan Sophie, Langdon bertanya apakah P.S berarti sesuatu bagi Sophie? Sophie teringat kejadian waktu dia kecil, saat memburu hadiah natal dari kakeknya. Dia menemukan sebuah kunci emas yang berinisial P.S. kata kakeknya, itu adalah sebuah kunci di mana kakeknya menyimpan sebuah kotak rahasia. “Ketika tiba waktunya, kunci itu akan menjadi milikmu”. Itu janji kakeknya (hal 168).

Langdon bertanya hati-hati, “sebuah Fleur – de – lis?”

Sophie membenarkan, dan bagaimana Langdon tau? P.S dalam logo yang pernah dilihat Sophie waktu kecil, Langdon yakin itu merupakan monogram dari, Prieure de Sion, Biarawan Sion, sebuah perkumpulan rahasia yang mempunyai misi menjaga Holy Grail, Cawan Suci Yesus Kristus. Beberapa Anggotanya yaitu Sir Isaac Newton, Leonardo Da Vinci dll. Itu berarti kakek Sophie merupakan anggota dari Biarawan Sion juga.

Mereka berdua pergi ke tempat lukisan Mona Lisa. Dengan center UV nya, Sophie mengarahkan pada lukisan Mona Lisa. Di atas kaca, enam kata bersinar keunguan, coreng mencoreng melintasi wajah Mona Lisa (hal 153).

SO DARK THE CON OF MAN,

–begitu gelap tipuan lelaki–

Lanjut baca ke review part 2

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s