[Book Review] Surga yang tak Dirindukan

cover-buku-surga-yang-tak-dirindukanSaat baca review buku ini di internet, aku berkesimpulan kok mirip dengan CHSI (Catatan Hati Seorang Istri), tentang sebuah keluarga baik-baik, islami, sang istri penulis, suami kerja di kantor, dikarunia anak-anak yang sholih dan sholihah, kemudian si suami selingkuh. Walaupun aku sendiri belum baca CHSI, cuma nonton di TV aja kadang-kadang.

Bagi Arini dan Pras, menikah hanya sekali seumur hidup. Ketika menikah, Arini sudah mempersiapkan mental seandainya Pras yang dipanggil Tuhan duluan, karena ajal tidak ada yang tau. Sayang, Arini lupa membangun kesiapan jika suaminya jatuh cinta dan meninggalkannya untuk perempuan lain (hal 45).

Sebagai pria, Pras pun tak ingin berulah macam-macam. Benteng pertahanan lain telah pula dibangun. Pras tak suka ke sana kemari. Seusai kerja, dia hanya ingin pulang (hal 38). Selama bertahun-tahun menikah Pras ingin menjga rasa syukurnya kepada Allah. Dia tidak merasa perlu menghadirkan sosok perempuan kedua. Untuk apa? Arini sehat. Tidak kurang suatu apa pun. Istrinya sudah memberikan tiga anak yang lucu dan cerdas untuknya. Dan sikapnya sebagai istri? Tak ada cela yang membuat perempuan berkerudung itu layak dilukai (hal 269).

Ingat pesan bang Napi? kejahatan terjadi bukan karena ada niat si pelaku tapi karena ada kesempatan. Begitu pun poligami yang dilakukan Pras, bukan karena niat, tapi ada kesempatan.

Pada suatu hari, Pras menolong seorang perempuan putus asa yang mengalami kecelakaan lalu lintas. Perempuam berwajah oriental yang tumbuh dengan segala macam penderitaan. Dibesarkan oleh tante yg menjadikanny tidak lebih dari seorang pembantu. Tidak pernah merasakan jatuh cinta, dan sekali jatuh cinta, dia ditipu, lelaki itu hanya menginginkan tubuhnya. Kedua kalinya dicintai oleh seorang laki-laki yang suka memukul. Ketiga kalinya, rencana pernikahan dengan seorang lelaki yang siap menikahinya dan menerima anak dalam kandungannya tidak pernah terjadi. Ya, dia Mei Rose yang ingin mengakiri hidupnya yang malang. Hingga Pras datang dalam hidupnya, melarikannya ke rumah sakit dan mengasihi bayi yang tidak Mei inginkan kehadiranya. Semuanya berawal dari simpati dan keinginan untuk menolong perempuan itu. Pras sering berkunjung ke rumah Mei. Tidak ada siapa-siapa di sana kecuali dia dan bayinya. Pikir Pras, sebaiknya dia menikahi Mei daripada bermaksiat.

Di sisi lain, Arini sudah tau pengkhianatan Pras tapi tidak berani menanyai suaminya. Setiap hendak bertanya, kata-katanya tercekat di kerongkongan. Arini juga tidak siap menerima kenyataan bahwa suaminya telah membangun istana kedua bersama perempuan lain.

Di filmnya, Arini diperankan oleh Laudya Cynthia Bella, Pras oleh Fedi Nuril dan Mei rose oleh Raline Shah. Sambil membaca novelnya aku membayangkan acting para tokohnya. Novel ini bisa aku selesaikan dalam waktu sekitar 4 jam. Pokoknya aku selesai baca jam setengah 2 dini hari. Sambil nangis-nangis sendirian di kamar. Seolah ikut merasakam sakitnya perasaan Arini dikhianati pras. Perempuan mana coba yang mau dimadu?

Sebel sama Pras seolah tidak merasa berdosa tiap kali bertemu Arini di rumah. Dia merasakan ketakutan juga ketika kepergok Arini. Pras seperti mengalami perang batin, dulu dia menertawakan teman-temannya yang berpoligami atas dasar mengikuti sunnah Rasul. Seolah-olah sunnah Rasul hanya poligami saja. Tapi sekarang dia mencari alasan untuk membenarkan tindakannya.

“terus apa salahnya menikah dengan yang cantik?”

Ya, apa salahnya menikah agar nafsu tidak lari dari koridor halal?

Toh dengan begitu semua sama-sama bahagia.

Soal perasaan istri?

“kita sedang mendidik mereka jadi perempuan-perempuan yang dimudahkan mendapat surga. Bukan begitu?”

Seolah-olah hanya ada satu pintu surga bagi perempuan. Merelakan suami menikah lagi dengan perempuan yang lebih cantik dan segar (hal 266-267)

Tapi saya tidak menyakiti Arini

Saya berusaha mendidik keikhlasannya agar dia meraih surga….

Pras menggeleng.

Arininya sholihah. Sholatnya malamnya rajin. Puasa Senin-Kamis pun rutin. Hari-harinya hanya terisi kesibukan menulis di rumah dan sesekali mengisi seminar. Bahkan jika hendak pergi ke pasar, atau mengajak anak-anak ke rumah saudara, perempuan itu selalu meminta izinnya. Arininya bersih. Pras yakin, tanpa dimadu pun Arini insya Allah bisa menemukan jalannya sendiri ke surga (hal 269).

Sepakat dengan komentar Dewie Sekar. Di Buku ini Asma Nadia memotret poligami dari semua sisi: sisi suami, sisi “korban” ̶ dalam hal ini istri pertama ̶ dan sisi perempuan pemilik istana kedua.

Membaca buku ini mengaduk-ngaduk perasaan. Kasihan sama Arini, kesel sama Pras dan Mei Rose. Novel ini bagiku alurnya lambat. Sudah mau mendekari klimaks, dipotong oleh cerita lain. Kayaknya di sepanjang bab seperti itu semua. Mungkin itu cara penulis untuk membuat pembaca penasaran kali ya? Saat bagian Mei Rose yang bercerita, banyak bagian-bagian yang aku skip. Bosen. Semuanya pengen diceritakan oleh Mei Rose, kehidupannya dari kecil sampai sekarang, latar belakang keluarga dan bla bla bla…. Tanpa tahu itu semua, dan buktinya walalu pun aku skip karena uda nangkep masalah Mei Rose, aku tetap bisa menikmati novel ini dengan baik. Sebenarnya konflik poligaminya sendiri di novel ini dikit. Yang banyak itu konflik batin para tokohnya yang sibuk dengan pemikiran-pemikiran sendiri. Makanya kenapa novel ini menurutku lambat alurnya. Dan yang agak mengganngu lagi, kenap sih bahasa Hokkiannya gak ada terjemahannya? Kan saya sebagai pribumi bener-bener gk tau blas bahasa itu? Kan gak seru pas lagi baca malah buka-buk google translate. Mengenai covernya, aku pribadi sih kurang suka dengan cover buku bergambar orang. Tapi untuk backgroundnya indah, warna ungu, ada pelanginya.

3,5 bintang untuk Surga yang tak dirindukan.

Informasi Buku

Judul: Surga yang tak Dirindukan

Penulis: Asma Nadia

Penerbit: AsmaNadia Publishing House

Tebal: xii+308 halaman

ISBN: 978-602-9055-21-4

Cetakan pertama, Juni 2014, cetakan keenam, septermber 2014

 sumber gambar, di sini yaaa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s