[Book Review] Filosofi Kopi

Picture 0046Ben, terobsesi banget dengan kopi. Bersama sahabatnya, Jody, dia mendirikan kedai kopi bernama ‘Filosofi Kopi’, dengan slogannya ‘Temukan Diri Anda di Sini’.

Minum kopi bukan sekedar memenuhi nilai guna alias manfaat dari minuman itu sendiri, tapi sudah menyentuh gaya hidup. Orang-orang rela mengeluarkan uang lebih demi menikmati secangkir kopi di starbucks. Aku sendiri bukan penyuka kopi, jadi ya gak terlalu paham dunia kopi dan kenapa seseorang bisa suka banget sama kopi.

Filosofi Kopi. Cappuccino, untuk orang-orang yang menyukai kelembutan sekaligus keindahan. Meminum kopi pun ada seninya. Seorang penikmat cappuccino sejati, pasti akan memandangi penampilan yang terlihat di cangkirnya sebelum mencicip. Kalau dari pertama sudah kelihatan acak-acakan dan tak terkonsep, bisa-bisa mereka enggak mau minum (hal 4)

Ben mendapat tantangan dari salah seorang pengunjung yang menginginkan, “kopi yang apabila diminum akan membuat kita menahan napas saking takjubnya, dan cuma bisa berkata: hidup ini sempura” (hal 10).

BEN’s PERFECTO, artinya: sukses adalah wujud kesempurnaan hidup, itulah nama kopi yang berhasil dia buat dalam menjawab tantangan si pengunjung pria perlente. Hadiahnya, Ben mendapatkan cek 50 juta.

Suatu hari, ada seorang pengunjung baru yang datang ke Filosofi Kopi. Memesan kopi paling enak di tempat itu. Tentu saja BEN’s PERFECTO lah yang diberikan Ben pada pengunjung tersebut. Tapi menurut pengunjung baru tersebut, yang kelihatan udik (ini bahasaku sendiri), dan dari gerak-geriknya juga kelihatan tidak biasa minum kopi di kafe, ada sebuah kopi yang rasanya lebih enak dari BEN’s PERFECTO. Otomatis Ben dan Jody kaget, BEN’s PERFECTO adalah kopi terbaik buatan Ben dan terenak pula rasanya se dunia. Ben sedikit frustasi, ada kopi yang menyamai kopi buatannya. Untuk itu, Ben menutup kedai kopinya, bersama Jody, dia pergi ke Jawa Tengah, ke alamat yang diberikan pengunjung baru tersebut, tempat di mana ada kedai kopi yang menjual kopi lebih enak dari buatan Ben.

Pak Seno, pria si pemilik warung, dengan kopi buatannya yang dikenal dengan kopi tiwus. Ben mengakui, kopi buatan orang desa tersebut lebih enak dari kopi buatan Ben yang selama ini belajar membuat kopi di luar negeri, di berbagai Negara. Ben merasa kalah. Merasa menjadi barista terburuk.

“Aku pensiun meramu kopi”, komentar Ben yang menurut Jody berlebihan, hanya karena kopi tiwus. Ben juga memaksa Jody memberikan cek 50 juta itu pada pak Seno.

“Kenapa kamu harus membuat urusan kopi ini jadi kompleks? Romantik overdosis? Okelah kamu cinta kopi, tapi tidak usah jadi berlebihan. Pakai rasio…”

Ben bangkit berdiri. “Memang cuma duit yang kamu pikir! Profit, laba,omset…… kamu memang tidak pernah mengerti arti kopi buatku……” (hal 25).

Ben dan jody ini mengingatkanku pada Sherlock Holmes dan Dr. Watson. Sikap Ben, yang sangat terobsesi pada kopi, menikmati pekerjaannya sebagai barista, karena memang dia suka, bukan semata-semata karena uang. Seperti Sherlcok Holmes yang berprofesi sebagai Consulting Detective, kasus kriminal baginya adalah seni. Yang terpenting baginya bukan uang, tapi seperti apa kasus itu hingga Sherlock Holmes tertarik. Dan Jody, sebagai tokoh aku. Sama seperti Dr. Watson yang menuliskan kisah-kisah Sherlock Holmes. Tokoh aku, yang menempatkan temannya sebagai tokoh utama.

Filosofi kopi tutup. Banyak penggermar filosofi kopi yang mengirim parcel, Bunga, buah-buahan, dikirnya Ben sakit.

2 hari Jody meninggalkan Jakarta, menemui pak Seno, menyerahkan cek 50 juta. Jody bertemu Ben di filosofi kopi ketika dia hendak mengambil kunci rumahnya yang tertinggal. Melihat Ben sendirian, Jody membuatkannya kopi, Ben sempat menolak. Tapi kemudian menyunggingkan senyum setelah minum kopi tersebut, Jody memberinya sebuah kartu. Seperti yang biasa dilakukan Ben terhadap pengungjungya setelah meminum kopi (hal 27)

KOPI YANG ANDA MINUM HARI INI:

KOPI TIWUS

 Artinya:

Walau tak ada yang sempurna,

Hidup ini indah begini adanya

“Pak seno titip salam, dia juga titip pesan, kita tidak bisa menyamakan air kopi dengan air tebu. Sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi tetap kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin kamu sembunyikan. Dan di sana lah kehebatan kopi tiwus…, memberikan sisi pahit yang membuatmu melangkah mundur, dan berpikir. Bahkan aku juga telah diberinya pelajaran, “bahwa uang puluhan juta sekali pun tidak akan membeli semua yang telah kita lewati. Kesempurnaan itu memang palsu. Ben’s Perfecto tidak lebih dari sekadar ramuan kopi enak. “

Jody menumpahkan kartu ucapan dan surat-surat ke meja, “orang-orang ini tidak menuntut kesempuarnaan seperti Ben’s Perfecto. Mereka mencintaimu dan Filosofi Kopi, apa adanya (hal 28)

Pada kaca besar kedai, tampak siluet tangan yang kembali menari di dalam bar, menyiapkan peralatan untu esok hari, membangun Filosofi Kopi yang lama diam bagai bubuk kopi tanpa riak air. Seduhan cangkir kopi tiwus malam ini mengawinkan keduanya (hal 29). TAMAT

Buku ini aku pinjem dari temanku Titim, dia cukup penasaran karena buku ini sudah difilmkan. Karya Dee sebelumnya, perahu kertas, novel yang juga difilmkan, itu Titim suka banget. Dan aku juga suka. aku kira ini juga novel sepert iperahu kertas. Cerita filosofi kopi ada di bab pertama, hal 1-30. Menginjak judul selanjutnya mencari Herman, aku bingung, kok gak ada hubunganya sama sekali dengan filosofi kopi ya? Dan aku baru ngeh, ini kumpulan cerita dam prosa satu dekade. Bukan Novel. Aku kira ada kelanjutannya, bagaimana Ben dan Jody setelah mendapat pelajaran penting, membuka kembali filosofi kopi. Melihat cerpennya yang hanya 30 halaman, aku penasaran seperti apa filmya. Aku bukan pemburu film sih, tapi untuk filkop, aku jadi penasaran.

Menurutku ini kumpulan cerita dan prosa yang kata-katanya dalem banget. Aku suka.

“kamu pun tersadar, itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami” (surat yang tak pernah sampai)

“satu garis jangan sampai kau tepis: membuka diri tidak sama dengan menyerahkannya. Di ruang kecil itu, ada teras untuk tamu. Hanya engkau yang berhak ada di dalam ini hatimu sendiri” (Kunci Hati)

Kisah Lara Lana, seorang lelaki yang menyukai seorang perempuan, menyukai untuk menyakiti. Kemudian suatu hari Lana menyesal, perempuan itu menjadi milik orang lain.

Selagi Kau Lelap. Cerita ini ditulis dengan perasaan yang mendalam. Membuatku ikut terhanyut terhadap apa yang diceritan penulis. Dan merasa….. aku juga seperti itu. Tapi aku gak bisa menyampaikan dengan kata-kata seindah Dee. Arrrrghhhh….. ngiri berat

Kenapa aku bilang buku ini dalem. Selain cerpennya yang memang penuh makna, prosa-prosanya yang singkat, ditulis dengan bahasa yang ngena di hati. Seperti yang aku katakan, aku ikut terhanyut, merasakan kesedihan, merasakan kegembiraan, rasa penasaran, dan semua perasaan yang ada, yang disampaikan penulis melalui kata-kata yang sampai ke hati.

4,5 Bintang untuk FilKop.

Informasi Buku

Judul: Filosofi Kopi

Penulis: Dee Lestari

Penerbit: Bentang

Cetakan pertama, januari 2012

Cetakan ketiga belas, maret 2015

Tebal: xiv+142 hlm

ISBN: 978-602-8811-61-3

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s