[Book Review] Amelia

18753304Selamat datan di dunia Anak-Anak Mamak. Dunia yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya. Di mana rasa ingin tahu dan proses belajar menyatu dengan kepolosan, kenakalan, hingga isengnya dunia anak-anak.

Serial anak-anak mamak. Eliana si pemberani, Pukat si anak jenius, Burlian si anak spesial, dan Amelia paling kuat. Aku suka novel ini karena banyak mengandung hal-hal positif. Salah satunya yaitu julukan yang diberikan si kedua orang tua terhadap anak-anaknya, tersirat do’a dan harapan.

Sesuai dengan judulnya, novel ini membahas kisah Amelia. Perjalanan Amelia menemukan cita-citanya, tujuan hidupnya. Yang aku tangkap dari novel ini adalah “khairunnas anfa’uhum linnas (Sebaik-bak manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi orang lain)”. Lalu apa yang bisa Amelia perbuat untuk menjadi bermanfaat buat orang lain? Khususnya kepada penduduk lembah agar kehidupan mereka lebih baik, tidak terkungkung pada tradisi.

Ide itu muncul saat Amel belajar IPA. Mayoritas penduduk desa di lembah bertani karet dan kopi. Pak Bin menjelaskan bahwa seandainya petani mau mengganti bibit tanaman kopi dan karet yang selama ini mereka gunakan dengan bibit yang lebih baik dan unggul mereka bisa menghasilkan getah dan kopi lebih banyak dari yang biasa mereka dapatkan seperti di perkebunan-perkebunan maju. Kalau karet dan kopi yang dihasilkan lebih banyak, tentu saja masyarakat hidup lebih makmur, anak-anak tidak perlu putus sekolah karena sibuk membantu orang tua di ladang.

“itulah salah satu jawaban kenapa kemiskinan, keterbatasan, bisa dikalahkan dengan ilmu pengetahuan. Tentu kerja keras menjadi syarat utamanya. Akan tetapi jika ditambah sedikit ilmu pengetahuan, petani kampung kita bisa hidup lebih makmur dan berkecukupan”.

“tetapi Pak, kalau begitu, kenapa penduduk kampung tidak segera mengganti pohon kopi atau pohon karet di ladangnya dengan bibit yang lebih baik?, Amel bertanya penasaran.

“Jawabannya tidak sederhana. Yang pertama, tidak semua penduduk kampung mau mempercayainya. Mereka hanya mau bercocok tanam dengan cara orang tua mereka. Yang kedua, kalaupun mau, mengganti seluruh pohon karet bukan pekerjaan mudah. Itu berarti semua pohon yang ada terpaksa ditebang, kemudian ditanami bibit yang baru. Pertanyaannya, mereka akan mendapatkan nafkah dari mana selama bibit baru belum bisa disadap atau dipanen? Ketiga, darimana memperoleh bibit yang baru itu? Di kota kabupaten tidak murah harganya. Maka situasi ini seperti siklus turun temurun, diwariskan. Mereka memilih bertahan dengan semua keterbatasan, toh tetap menghasilkan meski sedikit” (hal 82)

“anak-anak, dalam banyak hal, meski kita telah bekerja keras setiap hari sepanjang tahun, belenggu kemiskinan masih tetap menjerat akibat dari ketidaktahuan, akibat dangkalnya pendidikan. Itulah pentingnya sekolah, agar kita bisa menghancurkan belenggu itu” (hal 83)

Percakapan itu menjadi beban tersendiri bagi Amel yang mempunyai rasa ingin tahu tinggi.

Saat Panen kopi milik ayahnya, Amel masih mendiskusikan hal itu dengan paman Unus. Sebagai orang yang tinggal di desa, aku bisa memahami cara berpikir kebnayakan penduduk desa. Dan aku sepakat dengan paman Unus, ‘mereka hanya mewarisi kebiasaan yang diajarkan secara turun temurun, tanpa tau kalau itu tidak maksimal’. (hal 193)

Amel masih terus memikirkan hal itu hingga suatu hari ketik dia dan sahabatnya, Maya, diajak ke Hutan oleh paman Unus, Paman Unus memperlihatkan sebuah pohon kopi yang lebat. Amel takjub.

“Bagaimana kalau pohon kopi di kampung kita diganti dengan pohon kopi yang tadi paman?”

“Maka, bapak kau bahkan bisa penen kopi empat kali lebih banyak dibandingkan sekarang, Amel. Itu berarti, bapak kau punya uang empat kali lebih banyak juga” (hal 286)

Dan masalahnya tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk meminta penduduk kampung mengganti bibit kopinya, apalagi sumber idenya dari anak kecil. Singkat cerita, setelah melalu proses yang panjang dan alot, penduduk kampung sepakat untuk menguji coba di ladang warga yang tanahnya hendak dijual. Untuk itu, penduduk kampung harus mengeluarkan kas kampung untuk membeli ladang. Awalnya banyak yang keberatan dengan ide ini. bagaimana kalau gagal? Dan uang kas habis percuma. Setelah semua sepakat merelakan kas kampung, masalah yang lebih besar muncul. Sebuah kejadian yang menjadi titik balik hidup Amelia. Penduduk suka cita melihat pohon kopi tumbuh dengan cepat dan mengagumkan setelah 6 bulan berlalu. Amel membayangkan masa depan penduduk lembah menjadi lebih baik.

Allah berkehendak lain. Banjir bandang terjadi, dan menenggelamkan semua pohon-pohon kopi. Bagian ini nih yang bikin aku mewek-mewek. Kejadian yang begitu membekas di hati Amel, membuatnya bertekad akan sesuatu. Amel menamatkan pendidikan dokter dalm dua bidang sekaligus, dalam pedagogi dan bidang pertanian kultur jaringan. Si bungsu penunggu rumah telah kembali. Mengabdikan diri di kampung, menjadi guru

“anak-anak lembah berhak atas pendidikan terbaik. Aku akan memastikannya, penduduk lembah juga berhak atas kehidupan yang layak dan berkecukupan. Aku akan membantunya, memeruskan usaha besar 20 tahun lalu” (hal 391)

Mengapa Amelia disebut dengan anak yang paling kuat?

“Bukan kuat fisiknya atau kuat badannya. Kau jelas paling kokoh dan teguh dalam memahami hal-hal baik dibanding anak-anak lain” (hal 94)

Buku ini cocok dibaca semua jenis umur.

Untuk anak-anak, mereka bisa mencontoh sikap Amelia dan saudara-saudaranya, rasa ingin tahunya yang besar, terus bagaimana ia bersikap pada Chuck Norris yang nakal.

Untuk orang tua, diwakilkan oleh kedua orang tua Amelia, saat ayah Amelia ngerjain kak Eli dengan mengunakan sikat Gigi kakaknya untuk menyikat sepatunya yang kotor, bapak Amelia bukannya marah, tapi dia mengajak Amelia berbicara baik-baik, face to face, tidak memarahinya di depan anak-anaknya yang lain. Dan cara bapak dan mamak menghukum Amelia, itu contoh yang baik.

Untuk remaja/dewasa diwakilkan oleh karakter paman Unus.

Sudah kubilang kan, kalau novel ini mengandung energi positif yang besar.

Rasa ingin tau anak kecil, menyatu dalam kepolosan. Saat Pukat dan Burlian mengambil kaleng roti milik Mamak yang masih ada isinya separuh untuk dijadikan perahu otok-otok, komentar Wak Yati, “terkadang rasa ingin tau bisa membuat seorang jenius sekalipun melakukan hal bodoh” (hal 103)

Aku suka ketika Burlian selalu memanggil Pukat dengan sebutan, ‘Kakak memang jenius’, atau pak Bin ketika memuji murid-muridnya, ‘Brilian’. Itu adalah kata-kata pembangun semangat. Siapa sih yang gak suka dibilang jenius, brilian. Setelah membaca novel ini, aku akan mengucapkan brilian atau jenius pada murid-muridku ketika mereka bisa memacahkan soal atau mengerjakan hal-hal baik. Selama ini aku hanya mengatakan “bagus”. Cuma yang agak menganggu di novel ini yaitu ketika kata-kata itu ternyata gak hanya diucapkan oleh pak Bin, tapi penjual buku, dan paman Unus juga mengatakan brilian. Masak sih kata brilian menjadi trend se Kecamatan, kalau misalnya Syahrini yang ngomong, pasti jadi trend nasional. Nah, disini aku melihat Seoalah semua karakter itu hampir sama, cuma perannya saja di novel yang berbeda. Misalkan pak Bin, Ayah, wak Yati, paman Unus, karakternya sama. Cara ngomongnya, cara memberi nasehat, ya sama. Sama-sama sudah bisa menebak masa depan keempat anak-anak mamak kelak. Misalkan nasehat yang keluar dari ayah Amel, itu tidak ada bedanya misalkan yang menyampaikan pak Bin. Dengan banyaknya tokoh baik, dan karakter yang mirip-mirip bahkan nyaris sama, kadang aku pribadi sih merasa novel ini seperti menggurui.

Settingnya di daerah mana ya? Tempat di Indonesia dengan banyak pohon karet, pohon kopi, dan rumah panggung. Penulis menyebutkan lembah.

Mengenai karakter lagi. Orang-orang disitu cara ngomongnya emang suka lebay apa gimana sih?

Contoh:

percuma saja melayani orang aneh se kecematan ini (hal 88)

Maya saat kesal pada Norris, “Kenapa tidak sekalian kau buang air besar di kota kabupaten sana, atau di kota provinsi. Tidak usah pulang hingga lebaran tahun depan” (hal 89)

Amel pada Norris. Mungkin di planet asalnya si Norris memang tidak dikenal kalimat terimkasih.

Eli, “kuli angkut saja tidak sebanyak itu makannya” (hal 97), “bukannya kau makan bannyak tadi, Amel? Sama banyaknya dengan perut karung Burlian? Masih lapar juga?” (hal 102)

Mamak, “kau jelas bukan artis yang mau nyanyi di sana” (hal 146)

Paman unus, “eh, maksudku, coba lihat, kakak masih sama cantiknya, bukan? Malah tambah cantik” (hal 188)

“Dalam urusan apa pun, penting sekali memiliki ilmunya. Maka, anak-anak sekalian tuntutlah ilmu sejauh mungkin, rengkuh dia dari tempat-tempat terjauh, kumpulkan dia dari sumber-sumber terbaik, guru-guru yang tulus, agar terang cahaya kalian , terang oleh ilmu itu. Jangan bosan karena waktu. Jangan menyerah karena keterbatasan. Jangan malu karena ketidaktahuan. KALIAN ADALAH ANAK-ANAK TERBAIK YANG DIMIIKI KAMPUNG INI. NEK KIBA (hal 324)

 Informasi buku

Judul: Amelia|Penulis: Tere Liye|editor: Andriyati|penerbit: Republika|cetakan I, oktober 2013, cetakan IV, Juni 2014|jumlah halaman:391

sumber gambar: goodreads.com

ssssasd

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s