[Book Review] Kidung Shalawat Zaki dan Zulfa

kidungSebelumnya aku sudah pernah membaca karya Taufiqurrahman al-Azizy yang trilogi Syahadat Cinta waktu di pondok dulu, dan aku lebih menyukai karya itu daripada yang ini. Masih bertema seputar pesantren, ceritanya Zaki dan Zulfa sudah dijodohkan oleh kedua orang tuanya bahkan sebelum mereka ada di alam kandungan, karena orang tua mereka bersahabat. Zulfa yang cantik, Zaki yang tampan, secara fisik keduanya sempurna (btw, aku bosan dengan tokoh-tokoh yang sempurna kayak gini). Keduanya merupakan putra Kiai, pemilik pesantren. Bedanya, pesantren Kiai Masduqi, ayahnya Zaki adalah pesantren kecil, lini dakwahnya adalah orang-orang miskin, anak-anak yatim, kalau pesantrennya Kiai Ahmad, ayah Zulfa, adalah pesantren besar, lini dakwahnya adalah pejabat, pengusaha.

Bila Zaki dibesarkan dengan sifat memberi, maka Zulfa dibesarkan dengan sifat menerima. Zulfa manja, pergaulannya seperti bukan putri Kiai (ini mengingatku dengan Nuzula di Api Tauhid. Tapi terbitnya lebih dulu buku ini). Zulfa ini kan anak Kiai, tapi sering pergi kemana-mana bareng Dimas, santrinya Kiai Ahmad, di mana bapaknya adalah seorang pengusaha. Mereka berdua uda kayak perangko gitu, di mana ada Zulfa selalu ada Dimas. Ke jakarkta aja mereka cuma ditemani supir, herannya, kenapa kok Kiai Ahmad membiarkan aja? Dimas sendiri menyukai zulfa, tapi Zulfa tidak menyukai Dimas.

Di novel ini diceritakan bahwa jarak kedua pesantren itu dekat. 15 menit dengan jalan kaki. Tapi herannya (lagi) kok Zaki dan Zulfa tidak pernah bertemu selama 22 tahun? apalagi kan kedua orang tuanya bersahabat, masak sih gak pernah main-main, sekali dua kali gitu kek. Herannya lagi (heran mulu) kok mereka masih pake’ surat-suratan sih untuk berkomunikasi? Padahal ceritanya kan bukan zaman dulu, buktinya ada kok orang yang menggunakan hp di novel ini, masalah perjodohan, Zaki juga tau bahwa zaman sekarang emang bukan zamannya lagi jodoh-jodohan. Oke, mungkin Zaki gak punya nomer Zulfa dan begitu pun sebaliknya, karena selama 22 tahun mereka belum pernah ketemu. Tapi antara Kiai Ahmad dan Kiai Masduqi, masak pake surat juga komunikasinya?

Endingnya tragis, Zaki di penjara karena difitnah memperkosan Ivone (duh, ingat Fahri di AAC deh). Dan walaupun judulya Kidung Shalawat Zaki dan Zulfa, mereka berdua tidak bersatu. Zulfa termakan fitnah itu dan akhirnya memilih Dimas. Aku uda nebak sih sebelumnya, kayaknya Zaki emang bukan sama Zulfa, seperti di trilogi syahadat cinta, walaupun sepertinya si tokoh utama (namanya lupa siapa) akan berakhir dengan gadis berkerudung biru, di akhir penulis malah mempersatukan si tokoh utama dengan si gadis muallaf. di ending Novel ini, cerita cinta Zaki langsung dibelokkan kepada Salma, adik angkatnya yang awalnya adalah seorang pelacur, kemudian bertaubat.

Tokoh favoritku di novel ini adalah Kiai Masduqi, beliau bijaksana benget.

Quotes

  1. Persahabatan, bahkan persaudaraan, di kehidupan kota lebih disebabkan karena kepentingan daripada keikhlasan dan ketulusan. Bila kepentingan berbeda, bisa jadi persahabatan atau persaudaraan akan putus. Dan, bila kepentingan bertolak belakang, sahabat sejati bisa menjadi musuh sejati (hal 135)
  2. Kepada siapa cintamu akan kau labuhkan?|kepada dia yang memiliki hati yang mencinta pula. Kepada dia yang cinta di hatinya suci dan dimunculkan dalam kesucian pula. Kepada dia yang cintanya dapat menolongku untuk dekat kepada Yang Maha Mencinta (hal 136)
  3. Hati-hatilah dengan kecantikan wajah, Mubarok, sebab hati bisa terjerat dan nafsu yang rendah bisa merusakmu. Betapa banyak rupa wajah yang cantik, tapi hatinya buruk. Ketika hati telah buruk, kecantikan wajah taka da artinya sama sekali dan buruklah mereka di hadapan Tuhan Yang Maha Suci (hal 137)
  4. Rasulullah adalah pribadi yang paling besar ujian dan cobaannya (hal 143)
  5. Adakah perjodohan memiliki kekuatan hukum di hadapan Allah, Anakku? (hal 159)
  6. Cemburu adalah ketika engkau melihat seorang abid yang tertunduk bersungkur bersujud di hadapan Tuhannya, sedangkan engkau belum bisa melakukan hal seperti itu. Cemburu adalah ketika engkau belum bisa mencapai keluhuran dan kemuliaan sebagaimana hamba-hamba Tuhan telah mencapainya. Cemburu adalah ketika dia yang engkau cintai mengalahkanmu dalam kedekatan dan penghambaan diri kepadaa Tuhan. Cemburu adalah penjagaanmu terhadap dia yang kau cintai agar dirinya selalu berusaha untuk mendekati Tuhan (hal 160)
  7. Betapa banyak orang yang jatuh cinta karena sebab-sebab lain, dan bukan sebab ilmu. Dalam cinta, yang berilmu bisa menjadi bodoh, dan yang bodoh bisa terpilih sebagai tambatan hati (173)
  8. Bila beragama tanpa cinta, maka kedengkian akan membakar hati, hingga agama dijadikan alat untuk memuaskan nafsu sendiri (hal 193)
  9. Betapa rendahnya jiwa ketika jiwa harus bertekuk lutut di bawah kendali uang (hal 359)

Informasi Buku

Judul: Kidung Shalawat Zaki dan Zulfa Penulis: Taufiqurrahman al-Azizy Editor: Nisrina Lubis Terbit: cetakan I, desember 2010, cetakan IV, September 2012 Penerbit: Diva Press Tebal: 404 ISBN: 978-602-978-414-5 How I got this book: pinjem ke bu Meri

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s