[Book Review] Melukis Pelangi, Catatan Hati Oki Setiana Dewi

kukutubukuku.wordpress.comAku tau Oki, dia artis, cantik, berjilbab, main di KCB sebagai Anna, dan sekarang terkenal. Well, kadang kita iri melihat kesuksesan orang lain, dan berandai-andai kalau saja si A adalah kita. Tapi untuk menjadi Oki yang sekarang, dilalui perjuangan yang panjang dan tidak mudah. Kadang kita cuma melihat hasil akhirnya saja, tanpa ingin merasakan prosesnya. Oki lahir dan tinggal di Batam, di sana dia sudah menjadi artis yang terkanal. Pada saat SMA, Oki hijrah ke Jakarta, melanjutkan cita-citanya menjadi artis di ibukota, memulai segala sesuatu dari nol lagi. Menurutku Oki memang nekat. Tinggal di Jakarta pada usia 16 tahun, gak ada family, hanya tinggal di kosan. Sambil sekolah, dia juga bekerja, menjadi figuran pada beberapa film, yang kadang cuma punggung dan kakinya yang muncul di layar kaca, bayaran yang tak seberapa. Hingga nilai di sekolahnya menurun drastis. Kemudian ikut kursus dengan meminjam uang pada temannya.

Merasa senang, orang seperti Oki menjadi bagian dari dunia entertainment di Indonesia. Ini membuktikan, seperti yang dikatakan Oki, bahwa jilbab bukan menjadi penghalang untuk berprestasi. Aku punya seorang teman, adik tingkat, dia ngefans banget sama Oki. Saat Oki menerbitkan buku ini, dia langsung beli. Saat Oki mengisi acara di Surabaya, dia belai-belain datang. Dan Alhamdulillah, terinspirasi dari Oki pula, salah satu alasannya, temanku itu sekarang sudah memakai jilbab dengan syar’i, kemana-kemana selalu pake’ rok dan kaos kaki pula. Selain adik tingkatku yang satu ini, ada beberapa teman yang aku kenal juga mengidolakan Oki dan sekarang juga hijrah.

Saat KCB difilmkan, aku cuma tau bahwa pemeran Anna Althafunnisa memang aslinya berjilbab. menurutku pas lah, gak cuma di film aja yang baik, insyaallah sehari-harinya juga baik. Dan aku tau dari temanku yang ngefans sama Oki, bahwa Oki berjilbab sejak ibundanya sakit. Cuma dikit info aja yang aku ketahui, walaupun aku suka dengan pemeran tokoh Anna dalam dunia nyata, tapi jarang ngefans banget sama seseorang apalagi artis sehingga tau semua latar belakang, dan kegiatan-kegiatan si artis.

Buku ini memang inspiratif, kalau ingin tahu makna perjuangan, makna kesuksesan, aku sarankan baca buku ini. Oki sadar,

Kemenangan hari ini, bukanlah kemenangan esok hari

(potongan lagu Dewa 19, Hidup adalah perjuangan. Hal 309)

Dan juga pesan dari Bunda Neno Warisman buat para pemain KCB,

“Banyak orang minta foto, nomor telepon, tanda tangan, mungkin membuat kalian merasa dicintai. Jauh-jauh hari, juga hari ini sampai kapanpun, Bunda hanya mengingatkan, banyak-banyak beristighfar, letakkan diri serendah mungkin di hadapan Allah. Jangan terbesit sedikit pun bahwa kalian lebih dari yang lain, kalian unggul, dan bisikan setan lainnya. Jangan merasa senang dengan pujian dan tatapan kagum orang. Semua dapat menjerumuskanmu. Ngototlah dengan pendapat bahwa pujian hanya milik Allah. Bunda sudah menyampaikan ini. Terserah, siapa yang akan dipilih Allah untuk mempertahankan dirinya, untuk tidak mau dipuja, dialah kekasih penghuni surga kelak. Semoga kalian semua tetap bersemangat, tidak salah langkah, tidak gegabah, menghargai pendapat orang lain, tidak mabuk karena pujian atau menjadi lemah karena cercaan” (hal 267)

Dan do’a yang Oki ucapkan, ketika namanya selalu dielu-elukan

“Ya Allah, jadikan diriku lebih baik daripada sangkaan mereka, janganlah Engkau hukum aku karena ucapan mereka, dan ampunilah aku lantaran ketidaktahuan mereka” (Do’a Abu Bakar As Shidiq)

Dan juga bagi para muslimah yang masih ragu untuk berjilbab, atau yang sudah berjilbab agar semakin mantap dan terus menerus memperbaiki diri. Buku ini perlu kalian baca.

Oki malah banyak mendapat tawaran main film setelah dia mengenakan jilbab, hanya saja, di film-film itu mengharuskan Oki untuk melepas Jilbabnya. Oki menolah tawaran-tawaran itu. Padahal saat itu dia benar-benar butuh uang, untuk biaya hidup, untuk biaya berobat ibunya yang tak sedikit . Hingga ada sutrada yang bilang bahwa dia tidak akan sukses kalau pake jilbab. “kamu sekarang belum jadi siapa-siapa. Kamu harusnya terima tawaran-tawaran itu. Setelah kamu terkenal, baru pakai jilbab!”, begitu komentar beberapa teman (hal 126)

Tapi, yang jadi masalah, apakah nanti, setelah kesuksesan itu kuraih, hidayah akan datang lagi di hatiku? Yang jadi masalah, adakah yang tahu umurku sampai kapan? Aku mati kapan? (hal 127)

Aku belajr bahwa salah satu tujuan memakai jilbab adalah untuk melindungi diri dari pandangan dan objek khayalan para pria. (hal 127)

Banyak orang yang berdalih lebih baik menjilbabkan hati dulu baru kemudian menjilbabkan fisik. Sampai saat ini aku masih belum paham bagaimana menjilbabkan hati yang dimaksud. Tapi, kalau aku boleh berbagi, kenap tidak kita ubah paradigmanya? Jilbabkan dulu kepala kita, sambil kita barengi dengan menambah ilmu. Setelah itu, perlahan semua sisi kehidupan kita akan mengikuti. (hal 127)

Subhallah, dalam kondisi seperti itu, menurutku gak mudah tetap memegang teguh prinsip. Oki juga sempat nanya ke teman-temannya alasan mereka berjilbab.

“Karena jilbab membuatku berpikir ulang untuk melakukan hal-hal yang tak baik dan membantuku lebih banyak mengingat akhirat”. (hal 132)

“Karena aku menjadi barang di etalase yang mahal. Bukan barang di jalanan yang bebas disentuh siapa saja” (hal 132)

“Aku menyadari tubuh wanita indah dan bisa menarik laki-laki untuk melakukan kejahatan atau pelecehan. Aku tak ingin dilecehkan. Aku ingin dihormati, dan karena itu, aku menghormatiku diriku sendiri dengan pakaian ini”. (hal 133)

“Banyak laki-laki yang rusak karena wanita. Karena itu aku ingin menyelamatkan mereka, juga diriku sendiri. Bila mata tak melihat, hati pun tak bernafsu”. (hal 133)

Seorang teman pernah bertanya, “memakai jilbab berarti jenis pekerjaan yang bisa kamu pilih terbatas, dong?” aku jawab, justru aku bersyukur. Orang lain akan mengetahui jenis pekerjaan apa yang bisa ia berikan untukku. Pekerjaan yang akan kulakoni nanti adalah ppekerjaan yang baik dan tidak melanggar ketentuan Allah. Bukankah itu lagi-lagi membuktikan bahwa jilbab melindungiku? (hal 138)

Semuanya berawal dari mimpi, cita-cita Oki menjadi artis, dia kubur setelah memakai jilbab. Dan setelah hampir melupakan mimpi itu, Allah berkehendak lain. Skenario Allah memang indah, tak ada yang bisa menolak takdir-Nya.

Pas acara IMSS (International Moslem Students Summit) di Bandung tahun 2012 lalu, aku melihat buku ini di Bazar. Tapi gak tergerak hati ini untuk membeli. Galuh yang akhirnya beli. Sempat membaca, tapi gak selesai. Di bagian awal, aku merasa bahasanya kayak childish. Terus buku ini banyak banget endorsement nya, menurutku, karena Oki artis, jadi gampang aja minta testimoni dari orang-orang penting di Indonesia. Apakah isinya sebagus itu?

Dan Alhamdulillah sekitar 3 tahun kemudian, dari tahun 2012 ke 2015, aku akhirnya selesai baca buku ini. karena aku sering bawa buku ke sekolah, Bu Meri menanyakan buku-buku siapa aja yang uda aku baca. Ternyata bu Meri suka baca juga, dan dia punya karya Tere Liye lengkap. Senangnya punya teman yang suka baca juga. Aku mau pinjem serial anak-anak mamak karya Tere Liye. Dan Senin kemaren bu Meri membawa banyak buku. Sayangnya, yang serial anak-anak mamak dipinjem keponakannya. Buku-buku Tere Liye yang dibawa bu Meri uda aku baca semua, Sunset bersama Rosie, Moga Bunda disayang Allah dll. Dan, karena gak ada lagi, akhirnya aku pinjem buku Oki ini, dan satu buku lain. Makin ke belakang buku ini makin seru, bikin terharu, sampai bikin aku nangis membaca perjuangan Oki. Di awal, perkiraanku salah tentang buku ini. Sorry ya Oki. Next, aku tunggu bukumu yang lain. Ceritain juga ya gimana prosesmu ketemu sang Jodoh.

Ada 1 bab di buku ini yang ditulis oleh ibu Oki, Cuma 2 lembar, judulnya nasihat seorang ibu. Di bagian ini bikin aku nangis sejadi-jadinya.

Beberapa quotes yang suka di buku ini

  • Life starts from nothing to something, then becoming someone and finally to be NO ONE because the only One is Allah Swt (Reza M. Syarief, pengantar)
  • Segala sesuatu, kalau sudah senang, terasa ringan (hal 68)
  • Aku selalu sadar bahwa bertanya adalah kunci ilmu, maka aku tak pernah malu bertanya sampai aku mengerti. (hal 70)
  • Aku tak pernah berpikir menjadi yang terbaik, tapi aku selalu ingin berusaha melakukan yang terbaik dalam segala kesempatan untuk mewujudkan mimpi-mimpiku (hal 71)
  • Melihat mereka bahagia, itulah kebahagianku (hal 72)
  • Sebab, kecantikan yang sesungguhnya bukan hanya lahir dari polesan, melainkan dari kepribadian dan intelektual yang lebih memancar (hal 80)
  • jika kita memiliki kualitas, orang akan membutuhkan kita. mereka akan mengejar kita dan mengikuti apa permintaan kita (hal 182)

informasi buku

Judul: Melukis Pelangi, catatan hati Oki Setiana Dewi Penulis: Oki Setiana Dewi Penyunting: Yadi Saeful Hidayat cetakan 1, Maret 2011, cetakan XI, Februari 2013 Penerbit: Mizania Tebal: 347 hal ISBN: 9786028236898

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s