Wudlu’ dalam makna

Still, in the sama book. pages, 185-189 Terpesona di Sidaratul Muntaha

Berwudlu lebih memiliki makna mensucikan. Bukan sekedar membersihkan. Membersihkan dalam istilah agama disebut istinja’. Misalnya, setelah buang air kecil atau besar, kita wajib membersihkan diri dengan air atau batu sesuai dengan cara-cara yang telah diajarkan. Dan wudlu lebih bermakna batiniah daripada lahiriyah. Faktanya?

  1. Anggota badan yang diusap ketika berwudlu tidak terkait secara langsung dengan hadats yang terjadi. Apalagi dengan najisnya, sama sekali tidak. Kita sudah tau anggota badan yang harus dibasuh ketika wudlu kan? Salah satu yang membatalkan wudlu adalah kencing, yang itu keluar dari kemaluan kita. Tetapi bagian itu tidak dimasukkan dalam bagian anggota badan yang diusap ketika wudlu. Namun demikian, dalam aktivitas berwudlu, sebenarnya Allah juga menghendaki agar kita selalu menjaga kebersihan. Karena itu, sebelum berwudlu kita mesti beristinja’ terlebih dahulu, baru kemudian mensucikan diri. Dijelaskan di QS. Almaidah (5): 6.
  2. Jika tidak menemukan air, kita boleh bertayammum dengan menggunakan debu yang bersih. Kalau sekedar membersihkan, kita tau bahwa debu sebersih apa pun ya tetap debu. Ia tidak akan bisa membersihkan badan kita yang kotor, malah semakin mengotori. Jadi makna tayamum (sebagai pengganti wudlu) bukanlah membersihkan, melainkan mensucikan. Demikian pula wudlu, adalah mensucikan.
  3. Memang sih, untuk berwudlu, kita terlebih dahulu harus membersihkan diri. Berwudlu memang membasuh anggota-anggota badan, mulai dari muka sampai ke kai. Akan tetapi, yang membatalkan wudlu bukanlah kotoran yang mengotori badan kita, melainkan ‘pikiran kotor’ yang menghinggapi hati kita. Coba cermati filosofi wudlu ini. Jika kita sudah berwudlu, maka aktifitas makan dan minum tidaklah membatalkannya. Demikian pula jika badan kita kena najis. Untuk mengatasi kedua hal tersebut, cukup membersihkannya saja. Tidak perlu mengulangi wudlu. Jika anda makan dan minum ketika masih mempunyai wudlu, maka untuk melakukan shalat, anda cukup berkumur saja. Demikian pula jika anda terkena najis atau kotoran pada anggota badan, anda cukup mencuci dan membersihkannya saja. So, apakah yang sebenarnya membatalkan wudlu? Wudlu dibatalkan oleh ‘kotoran-kotoran’ atau gangguan yang bersifat kejiwaan. Misalnya, menyentuh kemaluan dan menyentuh perempuan yang mengarah kepada syahwat. Atau, ketiduran dan pingsan yang menyebabkan hilang akal. Atau kentut, kencing, dan buang air besar, yang memang ditetapkan oleh Allah sebagai pembatal wudlu, dalam arti melatih kemampuan kita dalam mengendalikan diri.

Khusus tentang kentut, buang air kecil dan buang air besar, ada yang menganggap bahwa pembatan wudlu itu bersifat jasmani. Bagi penulis, bukan gas kentut, air seni, dan feses itu yang sebenarnya membatalkan. Melainkan ketidakmampuan kita mengendalikan ketiga hal itulah yang oleh Allah dijadikan pembatal wudlu. Buktinya, jika kita terkena gas kentut atu terkena air kencing, atau terkena feses orang kain, hal itu tidak membatalkan wudlu kita. Cukup dengan membersihkannya saja. Ini membuktikan bahwa yang membatalkan wudlu bukanlah bendanya, melainkan prosesnya.

Nah, dengan menetapkan ketiga hal tersebut sebagai pembatal wudlu, Allah menginginkan kita hidup teratur. Selain itu, juga mampu mengendalikan diri untuk tidak berlaku sembarangan.

Jadi, filosofi wudlu adalah filosofi mensucikan hati dan pengendalian diri secara kejiwaan. Kesucian hati dan pengendalian diri itu akan semakin sempurna, ketika seseorang bia menata hatinnya untuk berserah diri penuh keihklasan, karena Allah semata.

Orang yang kurang ikhlas dalam berwudlu biasanya malah akan memperoleh godaan yang bersifat membatalkan wudulunya. Di antaranya adalah kecenderungan untuk kentut berlebihan. Jika anda menemui hal seperti itu, relakan sajalah. Artinya, jika Allah menghendaki kita tidak bisa menahan diri untuk tidak kentut, ya buang saja gas itu. Dan kita relakan untuk berwudlu kembali.

Ketakutan untuk kentut seringkali malah membuat kita merasa was-was, ‘wudlu kita sudah batal apa belum’. Sekali lagi ini adalah latihan diri dan keikhlasan kita kepada Allah. Bagi orang yang ikhlas, semuanya akan terasa menjai mudah saja. Dan keikhlasan itulah yang menjadi salah satu kunci bagi kekhusukan shalat kita. termasuk bagi kemustajaban do’a di dalam shalat kita

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s