[Book Review] Terpesona di Sidratul Muntaha

terpesona di sidaratul muntahaIsra’: perjalanan dari Mekkah ke Madinah

“Maha suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. Israa’ (17):1

Buku ini tertidiri dari 5 bab.

  1. Isra’ Mi’raj: Fenomenal dan kontroversial
  2. Isra’: Perjalanan dari Mekkah ke Palestina
  3. Mi’raj: Perjalanan Menuju Langit ke Tujuh
  4. Oleh-Oleh dari Sidratul Muntaha
  5. Shalat: Mi’rajnya Orang-Orang Beriman

Karena membaca buku ini, buku yang bertema sains dan agama, memang butuh pemahaman yang serius, maka aku mau posting sedikit demi sedikit. Banyak hal yang menjadi catatan penting. Di postingan pertama, aku mau review (kebanyakan copy paste langsung dari bukunya sih, masih kesulitan membahas sains dengan bahasa sendiri, banyak yang belum aku pahami) tentang Isra’, perjalan dari Mekkah ke Madinah (hal 7-42). Oke, Bismillah aja. Yuk, mareee kita mulai.

Setiap kali membaca buku, paling tidak kita berharap mendapatkan 3 hal. Yang pertama, adalah jawaban dari rasa penasaran (curiousity) dan kebelum tahu-an. Yang kedua, pencerahan, karena buku yang dibaca mampu memberikan inspirasi baru. Dan yang ketiga, penguatan pendapat yang diyakininya. (Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, hal. xi).

Ada 8 poin terkait dengan perjalan Isra’ Mi’raj Rasulullah sehubungan dengan (QS. Israa’ (17):1 dalam tinjauan sains modern.

  1. Maha suci Allah yang (Subhanalladzii)

Mengapa cerita tentangg Isra’ di dalam firman Allah dibuka dengan kata Subhanalladzii, kenapa Allah tidak memilih kata yang lain?

Penulis menangkap suatu kesan bahwa perjalanan Rasulullah bukanlah perjalan biasa. Melainkan perjalanan luar biasa. Karena Di dalam islam, kata Subhanallah diajarkan untuk diucapkan ketika kita menemui suatu kejadian yang luar biasa atau menakjubkan.

Banyak ayat di dalam al-quran yang mengajak kita untuk mengagumi kebesaran dan kemaha-Sucian Al-Quran. Salah satunya QS. Al-A’raf (7):54

“Sesunggunya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu dia bersemayan di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.

Ayat-ayat yang mengajak kita untuk mengagumi Kebesaran dan Kemaha-Sucian Allah, bisa juga dilihat diAl Mu’minuun (23): 14, QS. Al Furqon (25):1, QS. Al Furqon (25): 10, QS. Al Furqon (25): 61, QS. Az Zukhruf (43): 85, QS. Al Hasyr (59): 23, QS. Al Mulk (67):

2. Yang telah memperjalankan (Asraa)

Orang pada zaman Rasulullah tidak bisa menerima cerita bahwa Rasulllah telah melakukan perjalanandalam waktu satu malam. Sebab pada waktu itu, perjalan tersebut bisa ditempuh dalam waktu berbulan-bulan. Akan tetapi, keraguan itu kini sudah bisa terjawab seiring dengan berkembangnya teknologi transportasi modern. Jarak 15.000 km antara Mekkah dan Madinah bisa ditempuh dalam waktu 1,5 jam saja menggunakan pesawat terbang. Tapi masalahnya, pada zaman Rasulullah, 15 abad yang lalu, belum ditemukan teknologi secanggi sekarang.

Maka kata Asraa di sini menunjukkan bahwa perjalanan itu bukan kehendak dari Rasulullah, melainkan kehendak Allah. Allah mengutus Jibril untuk membawa nabi melanglang ‘ruang dan ‘waktu’ di alam semesta ciptaan Allah. Jibril sengaja dipilih oleh Allah untuk mendampingi perjalan beliau mengarungi semesta, karena Jibril adalah makhluk dari langit ke tujuh yang berbadan cahaya. Perjalanan tersebut juga disertai oleh Buraq, makhluk berbadan cahaya yang berasal dari alam malakut yang dijadikan tunggangan selama perjalanan tersebut. Buraq berasal dari kata Barqun yang berarti kilat. Maka, ketika menunggang Buraq itu mereka bertiga melesat dengan kecepatan cahaya, sekitar 300.000 km/detik.

Dalam ilmu fisika modern diketahui bahwa kecepatan tertinggi di alam semesta adalah cahaya. Tidak ada kecepatan yang lebih tinggi dari cahaya. Kecepatan setinggi itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang benda. Hanya sesuatu yang sangat ringan saja yang bisa memiliki kecepatan demikian tinggu itu. Bahkan saking ringannya, maka sesuatu itu harus tidak memiliki massa ata bobot sama sekali. Jika masih memiliki bobot, meskipun hampir nol, ia tidak bisa mengalami kecepatan cahaya. Yang bisa melakukan itu cuma photon saja, yaitu kwantum-kwantum penyusun cahaya. Bahkan elektron yang bobotnya dikatan hampir nol pun tidak bisa memiliki kecepatan setinggi itu.

Di sinilah muncul problem, dalam menjelaskan Isra’. Malaikat Jibril dan Buraq adalah makluk cahaya, yang badannya tersusun dari photon-photon yang sangat ringan. Karena itu tidak mengalami kendala untuk bergerak dengan kecepatan cahaya yang demikian tinggi. Akan tetepi Rasulullah saw adalah manusia biasa. Badannya tersusun dari atom-atom kimiawi yang memiliki bobot. Maka, benda yang memiliki bobot seberat itu tentu tidak bia dipercepat dengan kecepatan tinggi, beda dengan photon-photon cahaya yang tidak punya bobot.

Selain berat, sistem tubuh kita juga tidak bisa dipercepat terlalu tinggi. Jangankan setinggi kecepatan cahaya, dengan kecepatan beberapa kilo gravitas bumi (G) saja sudah akan mengalami kendala serius. Dan bisa meninggal dunia.

Jika seorang pilot pesawat tempur misalnya, bermanuver ke langit dengan percepatan 2 kali gravitasi Bumi (2G), maka badannya akan mengalami tekanan dua kali lipat dari biasanya. Kalau berat badannya dalam kondisi normal adalah 80 kg, maka pada saat melakukan manuver itu bobotnya akan menjadi 160 kg. Bahkan, banyak pilot pesawat tempur yang melakukan maneuver sampai 5 kali gravitas bumi. Otomatis berat badannya juga akan terbeban dengan beban yang jauh lebih berat dari biasanya. Pilot yang tidak terlatih akan mengalami black out alias semaput atu pingsan di angkasa. Itu saja masih dalam kecepatan yang tergolong rendah untuk ukuran alam semesta. Badan manusia tidak kuat menanggung bebannya.

Tubuh manusia tersusun dari partikel- partikel subatomik yang saling bergandengan menggunakan binding energy (energi ikat). Nah, ketika dipercepat dengan kecepatan sangat tinggi, maka muncullah gaya yang berlawanan dengan energy ikat tersebut. Semakin tinggi kecepatan yang diberikan kepada benda, maka energi yang melawan binding energy tersebut semakin besar. Sehingga, suatu ketika tubuh manusia itu akan buyar menjadi partikel-partikel kecil.

Hal ini bisa diibaratkan dengan sejumlah orang yang bergandengan tangan membentuk lingkaran, kemudian mereka disuruh berputar semakin cepat dan semakin cepat. Apa yang akan terjadi? Suatu ketika pegangan tangan akan lepas, disebabkan oleh kekuatan putar itu telah memunculkan tenaga yang melawan kekuatan pegangan mereka. Akhirnya, pegangan tangan itu terlepas. Mereka jatuh bergelimpangan.

Hal inilah yang bakal terjadi pada tubuh manusia yang melesat dengan kecepatan tinggi. Bahkan, jauh sebelum badannya terburai menjadi partikel-partikel sub atomik, organ-organnya sudah rusak duluan.

So, bagaimana Rasulullah mengimbangi Jibril dan Buraq?

Diubah menjadi cahaya

Salah satu skenario rekonstruksi untuk mengatasi problem di atas adalah teori ‘Annihilasi’. Teori ini mengatakn bahwa setiap materi (zat) memiliki anti materi. Dan jika materi dipertemukan/direaksikan dengan antimaterinya, maka kedua partikel tersebut bakal lenyap berubah menjadi seberkas cahaya atau sinar gama.

Hal ini telah dibuktikan di laboratorium nuklir bahwa jika ada partikel proton dipertemukan dengan anti proton, atau elektron dengan positron (antielektron), maka kedua pasangan partikel tersebut akan lenyap dan memunculkan dua buah sinar gama, dengan energi masing-masing 0,511 MeV untuk pasangan partikel elektron, dan 938 MeV untuk pasangan partikel proton.

Sebaliknya, jika ada seberkas sinar Gama yang memiliki energi sebesar itu dilewatkan inti atom, maka tiba-tiba sinar tersebut lenyap berubah menjadi 2 buah pasang partikel seperti di atas.

Teori ini bisa kita gunakan untuk menjelaskan proses perjalanan Rasulullah saw pada etape pertama. Agar Rasulullah saw dapat mengikuti kecepatan Jibril dan Buraq, maka badan wadag Rasulullah diubah oleh Allah menjadi badan cahaya. Kapankah hal itu dilakukan? Tentu sebelum beliau berangkat. kemungkinannya, ketika Jibril mengajak nabi untuk mensucikan hati beliau dengan menggunakan air zam-zam. Manusia adalah sebuah sistem energi yang berpusatkan di hati alias jantung. Seluruh perubahan yang terjadi pada sistem energi tubuh seseorang bisa tercermin di frekuensi hatinya. Sebaliknya, karena hati menjadi pusat sistem energi itu, maka jika ingin melakukan perubahan terhadap sistem tersebut juga bisa dilakukan dengan mereaksikan hatinya.

Jibril melakukan manipulasi terhadap sistem energi dalam tubuh Rasulullah. Seluruh badan material Rasulullah di ‘annihilasi oleh Jibril menjadi badan cahaya. Sebagai makhluk cahaya, Jibril paham betul tentang proses-proses annihilasi. Setelah Rasulullah beubah menjadi makhluk cahaya, maka bersama Jibril dan Buraq, ketiganya segera berangkat dan melesat dengan kecepatan sangat tinggi sekitar 300.000 km/s, menempuh perjalanan Mekkah-Palestina yang berjarak 1.500 km dalam waktu sekitar 0,005 detik, dalam ukuran waktu manusia.

  1. Hamba-Nya.

Salah satu makna yang terkandung di dalam kata ‘abdi adalah bahwa tidak sembarang orang bisa melakukan perjalan seperti itu. Hanya seseorang yang sudah mencapai tingkatan tertentu di dalam kualitas beragamanya, yatu ‘abdihi, hamba Allah.

  1. Malam hari

Kenapa perjalan luar bisa iitu terjadi pada malam hari? Kok tidak siang hari saja?

Pada siang hari, radiasi sinar matahari demikian kuatnya, sehingga bisa membahayakan badan Rasulullah yang sebenarnya memang bukan badan cahaya.

  1. Dari masjid ke masjid

Kenapa Allah memperjalankan Nabi Muhammad dari masjid ke masjid? Kok bukan dari gua Hira’ misalnya, atau dari rumah Nabi?

Masjid adalah suatu tempat yang banyak menyimpan energi positif. Karena masjid terus menerus digunakan untuk melakukan proses peribadatan yang menghasilkan energy positif. Karena badan Rasulullah telah berubah menjadi badan energi alias cahaya, maka banyak hal yang harus disesuaikan dengan perubahan iu, termasuk tempat keberangkatan beliau.

  1. Diberkahi sekelilingnya

Allah mengatakan bahwa Dia telah memberkahi sekelilingnya, supaya tidak muncul kendala yang berarti. Misalkan, tiba-tiba badan Nabi berubah menjadi badan materi lagi, dan badannya bisa terburai menjadi partikel-partikel kecil sub atomik, tidak berbentuk lagi. Karena energi ikat yang menyusun atom, molekul dan badan Nabi itu bisa kalah besar dibandingkan energi yang muncul akibat kecepatannya.

  1. Diperlihatkan tanda-tandannya.

Salah satu tujuan dari perjalan itu adalah, Allah ingin menunjukkan tanda-tanda kebesaran-Nya di alam semesta kepada Rasulullah. Sebagian ulama mengemukakan pendapat bahwa perjalan tersebut bermaksud untuk memantapkan hati Rasulullah setelah mengalami tekanan bertubi-tubi dalam perjuangan menyebarkan agama islam.

  1. Maha mendengar lagi maha melihat

Hal ini juga bisa dimaknai bahwa Allah telah memberikan sebagian sifat sama’ dan bashar itu kepada Rasulullah. Dengan kata lain, selama perjalanan tersebut Rasulullah benar-benar dalam kesadaran penuh sehingga bisa mendengar dan melihat berbagai tanda-tnda kekuasaan Allah di rute yang beliau lewati.

 

Informasi buku

Penulis: Ir Agus Mustofa Judul: Terpesona di Sidratul Muntaha Penyunting dan Penata Aksara: Bara & Oka Desain Sampul: Andung Cetakan pertama, 17 Juli 2004, cetakan keenam, 01 september 2005 ISBN: 979-98337-2-8 Penerbit: PADMA press Tebal: 272 hal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s