[Book Review] Happily Ever After

hew“Yah, bahagia selama-lamanya itu ada nggak, sih?”

“Kayak di dongeng-dongeng ini, maksudnya?”

“Iya, and they live happily ever after. Setiap dongeng kan berakhir begitu. Kesannya gampang, tapi di dunia nyata, memangnya ada yang kayak gitu?” Sahutku skeptis.

Ayah hanya mengulum senyum. “hanya karena sebuah cerita nggak berakhir sesuai keiinginan kita, bukan berarti cerita itu nggak bagus”. Tangannya bergerak menuju hati. “Happily ever after itu masalah persepsi, Lu. Kebahagiaan selama-lamanya yang seseunggunya dirasakan di sini”.

Bagi Lulu, ayahnya adalah beruang hangatnya. Ayah yang penuh tawa. Ayah yang tangannya sekasar serat kayu, tetapi memiliki sentuhan sehangat sinar matahari. Pembaca dongeng-dongeng sebelum tidur setiap malam.

Kenapa harus ayah?

Begitu pertanyaan Lulu, remaja SMA, saat ayahnya didiagnosa menderita kanker hati. Hepatoma. Tidak ada tanda-tanda sebelumnya. Hari-hari Lulu kemudian menemani ayahnya menjalani perawatan ke rumah sakit, sedangkan ibunya mengambil alih bisnis keluarga.

15 persen. Begitu kata dokter harapan hidup ayahnya.

“Secara ilmiah, lima belas persen bukan angka yang besar. Tapi, secara spiritual, lima belas persen adalah harapan. Harapan nggak bekerja seperti statistik”. Kata Suster Jean (hal 76)

Lulu senang mengeksplorasi tempat-tempat baru di mana pun berada. Saat melakukan itu di rumah saki, ketika menunggu ayahnya, Lulu bertemu dengan seorang anak laki-laki yang bermain tetris di kolong ranjang, di sebuah ruangan sepi, sepertinya jarang di gunakan. ‘Pojok rahasia’. Begitu lah Eliott Gustira – biasa dipanggil Eli, menamakan tempat persembunyiannya.

Eli seumuran Lulu, di usianya yang masih muda dia terkena tumor otak.

“Kanker itu mimpi buruk buat semua orang, sesuatu yang bikin hidup berhenti begitu saja. Suatu hari, kita bisa jadi calon atlet renang nasional, keesokan harinya pasien tumor otak agresif. Hidup bener-benar penuh kejutan”. Eli menjelaskan, tidak tampak putus asa (hal 85).

Keduanya semakin akrab, hingga akhirnya pacaran.

Eli buat Lulu,

“Aku pengen kamu tahu, kamu bisa cerita apa aja sama aku. Nggak perlu ada yang ditutup-tutupin, sesulit apapun itu” (hal 169).

Dibalik keceriaan dan sisi tegar Eli, dia juga menyimpan sisi rapuh. Saat kematian Josef, pasien rumah sakit, penderita kanker yang kemudian menjadi sahabatnya. Eli sangat sedih, dan kebingungan.

“Selama ini, ada satu hal yang nggak pernah ku bilang sama orang lain…. Aku takut, Lu. Takut sakit, takut nggak sembuh, takut nggak punya masa depan, takut seperti Josef, takut ninggalin orang-orang terdekat, takut mati” (Hal 229)

Dan inilah Lulu untuk Eli,

Saat ini, aku inging menjadi sumber kekuatannya. Aku juga ingin menjadi matahari dalam langitnya, alasannya untuk tertawa, dan untuk tetap hidup (hal 230)

Di sisi lain, kesehatan ayah Lulu semakin memburuk. Fisiknya semakin lemah. Penyakit itu mengambil nyawanya, menyisakan kesedihan bagi Lulu dan Bundanya.

Saat ingin membagi kesedihannya pada Eli, Lulu urung. “Berhentilah bergantung padanya, suatu hari nanti, kau juga mungkin akan kehilangan dia” (hal 279)

Setelah ayahnya, Lulu merasa tidak sanggup jika harus kehilangan orang yang dia sayangi lagi.

“Eli… kurasa kita lebih baik nggak ketemu dulu untuk sementara”, kata Lulu diujung telpon setelah menyaksikan matahari terbit dari atap rumah sakit.

“kenapa? Apa aku bilang atau ngelakuin sesuatu yang salah?”

Duh, bagian ini emang menyesakkan dada. Aku pernah berada di posisi Lulu, menyuruh seseorang (bukan pacar, tapi temen) untuk berhenti menghubungiku, tapi dengan alasan yang berbeda. Reaksinya? Sama dengan Eli, dia bingung. Kita baik-baik saja ada awalnya, tiba-tiba aku sms dia untuk tidak menghubungiku lagi.

Lulu minta maaf.

Eli tertawa, tapi tawanya hambar . “nggak, aku ngerti kok, dan aku nggak nyalahin kamu. Lagi pula, siapa juga yang mau pacaran sama orang sakit yang cuma punya lima puluh persen kesempatan untuk hidup? Kalau kejadiannya dibalik, aku juga nggak akan jadi orang bodoh itu dan segera hengkang jauh-jauh”

Membaca novel ini bikin aku sesenggukan. Apalagi saat episode Mia, adik Eli, melabrak Lulu. Hal yang pada akhirnya menyadarkan Lulu dan membuatnya kembali lagi pada Eli

Berbeda dengan ayah Lulu, Eli bisa sembuh. Meskipun kemungkinan tumor itu bisa menucul lagi. Tapi di novel gak seinstan ini lho ya proses kesembuhan Eli….

Sang pangeran akhirnya bisa bersatu kembali dengan sang putri.

Yup, akhirnya selesai membaca novel ini. Novel Winna yang pertama kali aku baca. I like it so much.

Suka dengan novel ini, alami, gak sinetron, meskipun bercerita tentang orang-orang yang sakit kanker, gak lebay,. Bagaimana mereka sakit, bagaimana meninggal, bagaimana sembuh, bagaimana dengan lingkungan sosial, prosesnya sesuai dengan ilmu pengetahuan, masuk akal. gak ujug-ujug

Suka dengan karakter Lulu, walalupun kadang di bully sama teman-teman di sekolahnya, dia melawan, gak lemah, dan gak meratap seperti kebanyakan sinetron yang over. Aku heran aja di sinetron, kalau tokoh utamanya di bully biasanya diam, meratap, dan seperti gak ada keluarga yang menolong, walalupun ada, paling reaksinya gini, “ya sudahlah, Nak. Kita Cuma orang miskin. Kita bisa apa?” #kemudian menangis. Dan biasanya lagi nih, yang nolong cuma seorang cowok yang kemudian jatuh cinta ma pemeran utamanya.

Dan tentunya, suka ma tokoh Eli. Ehmm apa ya? Selain ketegarannya menghadapi penyakitnya. Dia humoris, menyenangkan, enjoy.

Aku suka candaan-candaan Eli Saat menjemput Lulu di sekolah. Nembak langsung. Dan sukanya lagi, Lulu gak segera menyimpulkan macam-macam.

“hari ini bucket list ku adalah: jalan-jalan ke lingkungan yang nggak pernah dikunjungi sebelumnya”, kata Eli dengan riang

“Dan, kamu kepikiran tempat ini?”, Lulu menjawab

“Kepikiran kamu tepatnya” Dia menyeringai. “Lagi pula, tahun depan, sekolah kami harusnya melawan SMA harapan buat tahap penyisihan pertama kompetisi renang nasional. Itung-itung, sekalian jadi mata-mata buat timku”, candanya.

“Terus, ada yang menarik dari tempat ini?”, Lulu bertanya lagi.

“Ada, kamu”. Lagi-lagi nada terus terang yang sama, sesuatu yang membuat hatiku melambung sekaligus rancu pada saat yang bersamaan.

Aku suka pokoknya sama novel ini, hangat, sehangat kasih sayang dalam keluarga Lulu. Sehangat perasaan antara Eli dan Lulu. Diolah dengan bahasa yang soft. Design sampulnya unik. Sambil membaca deskripsi rumah kayu Lulu, bayangan yang terbentuk ya rumah di sampul buku ini.

Buku ini aku belinya berbarengan dengan Walking After You. Dan sama seperting WAY, buku ini juga gak memuat daftar isi. Jadi bingung ketika aku ingin membuka lagi bab-bab/halaman tertentu.

Eniwei, setting tempat di novel ini gak terlalu mempengaruhi isi cerita (menurutku). Dipindah ke tempat mana pun, luar negeri misalnya, ya ceritanya tetap bisa kayak gini. Nama-nama tokohnya, makanan-makanan kesukaan, ditambah musik kesukaan, uda berasa luar negeri banget, kayak walking after you (lagi).

Untuk novel ini, aku memberikan 5 bintang dari 5 bintang

Title: Happily Ever After Author: Winna Efendi Editor: Jia Effendi Format: Paperback, 355 pages Published 2014 by GagasMedia Genre: Romance, family ISBN: 978-979-780-770-3 How I Got This Book: I bought it @ bukabuku.com Why I read this Book: penasaran sama karya Winna, banyak review yang bilang bahwa karyanya bagus-bagus dan ini adalah buku Winna yang pertama kali aku baca and I like it.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s