[Book Review] Walking After You

wayAnise dan Arlet adalah saudara kembar. Mereka sama-sama suka memasak. Bedanya, passion An (Anise) di masakan-masakan Italia sedangkan Arlet di kue-kue prancis. Arlet adalah gadis pemalu, sedangkan An lebih pemberani. Mereka saudara kembar yang akur dan kompak. Masalah kemudian datang saat mereka menyukai lelaki yang sama, Jinendra. Dan Jinendra hanya menyukai An, bukan Arlet. An dan Jinendra menjalani hubungan diam-diam hingga akhirnya ketahuan Arlet. Arlet yang selama ini banyak mengalah, menyesalkan perbuatan An.

“Hanya sekali ini saja, An. kenapa kau tidak bisa membiarkan aku mendapatkan apa yang aku inginkan sekali ini saja?”

“Jinendra bukan sesuatu yang bisa kulepaskan hanya larena kau menginginkannya”, balas An.

“Aku bisa melepaskan impianku untukmu. Kenapa kau tidak bia melepaskan jinendra untukku?” (Hal 126)

Impian Arlet adalah dia mejadi koki kue, belajar membuat kue di Paris dan mendririkan toko kue. Sedangkan impian An, menjadi koki masakan Italia, belajar di Sydney dan mendirikan trattoria. An membuat Arlet masuk dalam impiannya, lebih tepatnya memaksa. “Kami belajar memasak di sekolah yang sama, Le Cordon Bleu. Kami bekerja di dapur yang sama, La Spezia”. (hal 79). Yang mereka jalani adalah impian An.

Fyi, novel ini menggunakan alur maju mundur dan sudut pandang orang pertama, yaitu An sebagai tokoh aku.

Arlet tidak menolak, tidak pula menunjukkan rasa keberatan. Memang seperti itulah Arlet. Dia terlalu baik untuk berbuat demikian, terlalu baik untuk mengecewanku. Dia selalu menjadi sosok manis yang mengikutu kemauanku dengan tulus, sosok berhati mulia yang rela menekan egonya demi aku, separuh dirinya (hal 113)

Sewaktu mereka bertengkar, semua isi hati Arlet tumpah,

“Selama belasan tahun aku menuruti semua kemauanmu. Le cordon bleu. La spezia. Trattoria. Supaya kau tahu, An, aku tidak mengingankan itu semua, sama sekali. Koki-koki terbaik dunia belajar di Paris, bukan di Sydney, dan pastinya setelah itu mereka bekerja di toko kue, bukan di restoran Italia. Lalu, trattoria. Demi tuhan, An, kau memaksaku mendirikan trattoria.

“Kau bisa saja menolakku, tapi malah mengekorku seperti orang yang tidak punya pendirian”

“Kau tahu aku tidak bisa menolak. Kau tahu persis”. (hal 125)

Arlet menangis di dalam mobil yang dikendarai bersama An, mereka saling adu mulut hingga terjadi kecelakaan, An selamat, tapi Arlet tidak. Kematian Arlet menyimpan penyesalan yang sangat dalam bagi An dan membuatnya sangat merasa bersalah. Dia bertekad akan mewujudkan impian saudara kembarnya. Impiannya sekarang adalah toko kue, buka trattoria lagi. Dia keluar dari La Spezia, restoran milik Jinendra, dan bekerja di toko kue Afternoon Tea, milik Galuh, sepupunya. Begitulah cara An mewujudkan impian Arlet dan menebus rasa bersalahnya. Di sana, dia bertemu Julian, Koki andalah di Afternoon Tea yang judes, kelewat serius dan perfeksionis. Sosok Julian mengingatkan An pada Arlet. sama-sama pemalu, menyukai kue.

An di Afternoon Tea sering menjadi pengacau, sering melakukan kesalahan.

“Tanganmu bukan tangan koki. Semua kacau kalau ada kau”, begitu kata Julian. Kalimat itu mengingatkan An pada Arlet. Kalimat yang sama juga sering diutarakan Arlet pada An.

Di akhir, An sadar, bukan seperti itu cara menebus kesalahannya pada Arlet. Melalui serangkaian peristiwa, dipecatnya dia dari Afternoon Tea, dan adanya sosok Ayu, An kembali lagi mengejar impiannya. Dia bersedia magang di Omnergio, sesuai rekomendasi Jinendra, di mana koki ahli masakan Italia terbaik dunia saat ini, Alessandro Pavoni, bekerja di situ (hal 159).

Dan mungkin inilah pesan utama yang ingin disampkain penuls

Sesungguhnya masa lalu tidak bisa dihapus, sebesar apapun keinginanku untuk melakukan itu. Galuh benar. Untuk melespaskan masa lalu, yang harus kulakukan bukan melupakannya, melainkan menerimanya. Dengan menerima, aku punya kesempatan untuk belajar memaaafkan diri sendiri. Aku tidak berkata ini mudah. Dan, ini akan butuh waktu. Tetapi pada saatnya nanti, aku akan terbebas dari semua beban yang menekanku selama ini. (hal 293)

Dan pada akhirnya juga, An memilih Julian daripada Jinendra. Kemungkinan kedua antara dia dan jinendra masih ada, seandainya tidak ada sosok Julian. Bukan karena Arlet, tapi karena An mencintai Julian.

An teringat apa yang pernah Arlet ucapkan,

Kata Arlet, pada saatnya nanti, dia akan jatuh cinta kepada lelaki yang kuat dan berani seperti aku. Sementara itu, masih kata Arlet, aku pasti akan jatuh cinta kepada lelaki manis yang pemalu seperti dia.

‘Manusia cenderung mencari sosok pasangan yang membuat dia nyaman ’, katanya, ‘dan biasanya, sosok yg mebuat dia nyaman sangat mirip dengan orang-orang terdekatnya – kecuali kalau dia lahir dan besar di keluarga yang berantakan. Kalau keluarganya berantakan, dia akan mencari sosok pasangan yang bertolak belakang dengan orang-orang terdekatnya’

Dahulu, aku memang tidak pernah berkencan dengan lelaki yang mirip Arlet. Kenyataannya aku jatuh cinta kepada Jinendra. Lelaki itu lebih seperti aku ketimbang Arlet. kepribadian kami tidak jauh berbeda. Namun, barangkali, omong kosong yang diungkaplan Arlet itu tidak sepenuhnya omong kosong. Barangkali, aku tidak pernah berkencan dengan lelaki yang mririp dengan Arlet karena pola orang kesayanganku bukan dia. pola orang kesayanganku adalah diriku sendiri (hal 296)

Ini adalah buku Windry yang pertama kaki aku baca. Kesanku? Gak bosan, dan manis, semanis kue buatan Julian. Padahal aku uda baca buku lain dan belum tamat, tapi melihat buku ini sudah sampai ke rumah dengan selamat, aku tidak sabar ingin segera membacanya. Pengetahuan penulis tentang makanan luas banget. Keren.

Kue adalah keajaiban, bahwa ada sesuatu—entah apa—dalam sepotong tar, sepiring pai, atau segeas granita yang mampu membuat orang tersenyum (hal 38)

Kata-kata di atas membuatku ingat pada temanku sendiri, dia sangat suka es krim, kalau hari-harinya kurang baik, dia memilih makan es krim sebagai pelarian. Dia juga suka ditraktir es krim. Aku pernah bilang padanya bahwa sikapnya itu terlalu sinetron, dia sudah biasa mendengar pernyataanku itu. Mungkin ada benarnya juga, seperti es krim, hari-hari yang keruh bisa dicairkan dengan sepotong es krim. Berbeda denganku yang kalau ada masalah, pengen tidur dan berharap sudah gak terjadi apa-apa setelah aku bangun. Temenku itu bernama Galuh, sama dengan salah satu nama tokoh di Walking After You, sepupu An dan arlet. Dan Galuh temanku itu sifatnya sama dengan Galuh di novel ini, baik, pengertian, dan sosok yang selalu ada buat teman.

Ini juga merupakan buku gagas media yang pertama kali aku baca. Bahan sampulnya unik, gak seperti buku-buku lain. Ini agak-agak kasar dan serasa menyentuh serat kayu.

Karena aku belum pahan benar mengenai teknik penulisan dan sebagainya, aku menilai suatu buku berdasarkan kesanku saja setelah membaca.

Dari awal mebaca, aku menikmati sekali novel ini, renyah, hangat dan manis. Aku kurang merasakan emosi penyesalan dan rasa bersalah An atas kepergian Arlet. Awalnya malah bingung kenapa an sedimikian merasa bersalah. Pertanyaanku terjawab di bab ‘Separuh’, dan reaksiku ‘oh, jadi ini masalahnya’, secara emosi belum dapat sih.

Mengenai Julian juga, aku baca di blog penulis katanya banyak pembaca yang menyukai Julian, sikapnya gemesin katanya.

Kalau Dibandingkan Jinendra, aku memang lebih menyukai Julian. Tapi aku gak gemas ini pada Julian. Di drama-drama korea, kebanyakan pemain utama cowoknya jutek, cuek, angkuh, ya kayak Julian ini. walaupun begitu, mereka sangat care pada si cewek, menjaga si cewek diam-diam. Itu bikin menyentuh. Ehmm apa ya??? Kurang ditonjolkan aja menurutku sosok Julian, apalagi An di sini adalah sosok cewek yang agresif, makanya menonjol banget di Novel, dan Julian yang pemalu semakin tenggelam. Aku malah eman ama Julian yang polos, belum punya pengalaman dengan cewek sama sekali, pacaran dengan An yang sudah berpengalaman dalam hubungan pacaran. Kurang tebal aja nih novel menurutku.

Tapi aku suka kata-kata yang diucapkan An kepada Julian, “aku memikirkanmu dan hal-hal yng terjadi di antara kita. Entah bagaimana denganmu, tapi aku berharap….semua itu…..berarti sesuatu” (hal 308)

Ada hal-hal absurd yang sulit diterima akal, tentang Ayu, perempua pembawa hujan. Tiap ayu datang ke Afternoon Tea, hujan selalu turun. Aduh, Mana ada sih di dunia ini hal seperti itu? Terlalu melankolis.

Mengenai orang kembar, adekku sendiri kembar, keduanya cowok. Tapi mereka gak sekompak An dan Arlet. di usia mereka yang hampir 16 tahun, mereka mempunyai prinsip hidup masing-masing. Yang satunya lebih menyukai ilmu agama, satunya lagi lebih menyukai ilmu-ilmu umum. Cita-cita juga berbeda. Kalau misalkan yang satu pengen ke barat dan satunya pengen ke timur, yawudah jalan aja, tidak saling mengekor. Yang satunya pengen kuliah di universitas X satunya lagi di univeritas Y. Mereka sosok yang berbeda meskipun wajah sama.

Kalau memabca cerita An dan Arlet aku berikir, apakah kehidupan orang kembar seperti itu. Gak bisa dipisahkan, dan haruskah dalam urusan impian Arlet mengikuti impian saudaranya? Alasannya, karena Arlet gak bisa menolak kemauan An, Arlet terlalu baik. Orang kembar bisa menentukan jalan hidupnya masing-masing kok. Salah satu do’aku buat kedua adekku selama ini, semoga mereka menjadi orang yang banyak memberikan manfaat pada orang lain dengan bidang ilmu yang mereka tekuni masing-masing. #malah curhat. Etapiii, mungkin juga kalia ya? Kan katanya An egois.

Mungkin kalau gak tau penulisnya dan setting tempat di Jakarta, aku akan mengira ini novel luar. Nama Tokoh (kecuali Galuh), beberapa nama tempat, La Spezia, Afternoon Tea, La Condon Bleu, makanan kesukaan, hingga pola pergaulan, semuanya kebarat-baratan.

Toko kue afternoon tea, aku membayangkan seperti café Mango Six di A Gentlemans’ Dignity. Posisi duduk Ayu yang suka melihat hujan dari jendela toko, aku membayangkan posisi duduk Kim Do Jin.

seperti ini.

AGD
source: here

Ayu menunggu pesanan sambil mencorat-coret sesuatu di buku tulis. Do Jin juga begitu, dia sambil mengerjakan sketsa bangunan. Dan saat itulah, dia melihat sosok Yi Soo pertama kali, saat hujan turun, di mana Yi Soo sedang berteduh di luar cafe

Buku ini memberi pengetahuan baru bagiku yang awam sekali tentang masak memasak, aku sampek searching Omnergio dan Alessandro Pavoni itu siapa.

Di halaman 140, ketika Julian mengatakan salah pencet tombol hp hingga tanpa sengaja menelpon An dan berdalih karena nama An ada di kontak paling atas. Lagi-lagi aku ingat temanku, Aan, teman dekat. Aku juga sering tanpa sengaja ngirim sms dan menelpon Aan, jarena namanya emang ada di paling atas kontak hp. Aan, haruf pertama A dan haruf kedua A lagi.

Satu lagi Pesan moral yang aku dapatkan di novel ini. cowok dan cewek jangan sampai berduaan, yang ketiganya setan. Seperti yang selalu dilakuka An dan Jinendra ketika pacaran. Dan hampir dilakukan oleh Julian dan An, tentunya saat mereka sedang berduaan. Hihi….

Terakhir aku tutup review ini dengan quote manis

“Pelangi yang muncul setelah hujan adalah janj alam bahwa masa buruk telah berlalu dan masa depan akan baik-baik saja (hal 256)

Informasi Buku

Title: Walking After You Author: Widry Ramadhina Editor: Gita Romadhona & Ayuning Format: Paperback, 318 pages Published December 13th 2014 by GagasMedia Genre: Romance ISBN: 978-979-780-772-6 How I Got This Book: I bought it @ bukabuku.com Why I read this Book: penasaran sama karya Windry, banyak review yang bilang bahwa karyanya bagus-bagus dan ini adalah buku Windry yang pertama kali aku baca.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s