Sistem Pendidikan Jepang

Jepang, Jepang, Jepang dan lagi-lagi Jepang. Selalu membuatku tidak berhenti berdecak kagum. Yap, meskipun sisi negatifnya pasti adalah. Sistem pendidikan di Jepang memang patut diacungi Jempol (aku kasih 4 jempol, 2 tangan dan 2 kaki). Sampek urusan makananpun diatur dengan baik. Pantas saja kalau orang jepang pintar-pintar. Masih di buku yang sama yaitu, Ramadhan Tiba. Cerita dari Nesia Andriana Arief, yang berjudul β€˜Fatimah Kecil Berpuasa di Negeri Sakura’

Seluruh sekolah dasar di Jepang memang mengadakan melaksanakan kegiatan makan siang setiap harinya di sekolah. Tidak ada kantin, tidak ada pula pedagang di sekitar sekolah. Anak-anak dilarang membawa uang dan pengamanan sendiri, baik itu permen atau pun kue-kue makanan ringan. Termos atau botol minum pun tidak boleh bawa sendiri bila tidak ada instruksi khusus dari pihak sekolah, karena air kran di sekolah aman untuk langsung diminum. Termos atau botol minum pribadi akan diinstruksikan untuk bawa dari rumah bila ada acara jalan-jalan di luar sekolah ataupun karena air kran di sekolah sedang dalam pemeriksaan dan pensterilan.

Masakan siang disiapkan tiap hari oleh ahli gizi yang sekaligus merangkap koki yang dipekerjakan khusus oleh pemerintah. Setiap akhir bulan, dari dapur sekolah akan ada daftar menu dalam satu bulan berikutnya. Jadi, apa yang akan dikonsumsi anak dalam satu bulan yang akan datang, orangtua atau waali murid sudah mengetahuinya. Daftar menu tersebut berisi rincian bahan makanan dan manfaatnya bagi tubuh, seperti bahan makanan sebagai sumber energi, pembentuk daging, dan penjaga stamina tubuh. Turut pula disertakan dalam lembaran yang dalam bahasa lokal disebut kyuushouku dayori atau brosur informasi makan di kelas, rincian jumlah energy dan keseluruhan energi.

Adapun mereka yang membutuhkan makanan khusus, misalnya karena alasan keyakinan religius atau alergi, anak didik diberi kebebasan membawa bekal sendiri dari rumah. Orang tua atau wali murid yang bersangkutan diharapkan membuat masakan dengan menu yang tetap merujuk pada brosur informasi makan bulanan tersebut. Sepertinya tujuannya selain agar gizi anak didik tetap terjaga, juga untuk menghindari perbedaan yang terlalu menyolok segingga menimbulkan rasa iri anak didik satu sama lainnya. Sama sekali tidak diperbolehkan menyertakan permen, cokelat, ataupun kue-kue ke dalam bekal anak. (hal 285-287)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s