[Book Review] Relasivitas (Love Vs Obsession)

lovevsobsessionHukum relaSivitas

“Ada perbedaan menadasar antara Cinta dan Obsesi. Objek obsesi tidak lagi berharga saat ada dalam genggaman. Tapi objek cinta selalu berharga sampai kapanpun”

“Kita, dihadapkan pada dua pilihan: berjalan atau berhenti, maju atau mundur, berjuang atau melarikan diri, pilih CINTA atau OBSESI?”

Ini novel aku baca jaman SMA dulu. Kisah seorang siswa super-duper smart yang memahami cinta dari kacamata science, diinspirasi dari teori relativitas Einstein.

Namanya Alva, pake’ V bukan F. nama panjang, nama pendek, nama panggilan, nama depan, nama tengah, nama belakang, just ALVA. Nama itu diilhami dari seorang penemu besar, THOMAS ALVA EDISION. Kenapa Alva? karenaThomas itu merupakan nama ayahnya, Edision nama kakeknya. So, nama asli Thomas Alva Edision itu ya cuma Alva.

Karena saking pintarnya, dan mampu menguasai semua mata pelajaran, Alva mendapat beasiswa penuh dari sekolah dan masuk kelas First Acceleration, sekolah SMA Cuma dua tahun.

Bagi Alva, kelas Fisrt Accerelation merupakan kelas yang freak alias aneh, dan diisi oleh orang yang aneh juga. Seperti para orang aneh yang dikumpulin dalam satu kandang. Mereka gila belajar, kalau dikasih ujian senang, kalau gak ada pelajaran sedih. Dan tiap siswa terlalu individualis, yang mereka pikirkan adalah bagaimana mereka dapat nilai bagus. Teman sedih karena patah hati dan butuh curhat aja gak direken. Ngapain? Mending belajar, kehilangan banyak waktu untuk mendengar hal begituan. Mereka juga jarang main.

“Setiap individu Fisrt Accerelation adalah pejuang dan pesaing. Bahkan kami semua selalu menari di atas penderitaan orang lain. Kalau ada satu orang aja yang dapat nilai jelek, kami gak bakal empati atau sok kasihan. Kami bakal diem-diem ketawa dan menganggap kehilangan satu saingan. Life is fully competition around here” (Hal 68).

Masuk Fisrt Accerelation membuat Alva jauh dari yang namanya dunia remaja, dunia ketawa, atau dunia-dunia lain yang seems fun. Dunia-dunia yang udah selayaknya dikenal ama remaja-remaja. (hal 84)

Tapi, orangtua mana sih yang gak sueeneng dan bangga kalau anaknya masuk Fisrt Accerelation? Prestasi anak Fisrt Accerelation gak cuma tingkat nasional, tapi internasional.

Sebagai anak SMA, segila-gilanya belajar, tetap aja gak bisa lepas dari urusan perasaan, jatuh cinta. namanya Diana, cewek yang dia kenal sejak kelas 4 SD, selalu satu sekolah sampek SMA. 8 tahun Alva kenal Diana, tapi keberadaan Alva seoalah tidak anggap oleh Diana. Cuma sesekali mereka berdua ngomong, itu pun Alva gak bisa ngomong lancar kalau di depan Diana, selalu deg-degan. Dalam sehari, di sela aktivitasnya, Alva gak pernah absen mikirin Diana, seorang cewek yang cantik luar dalam. Hanya satu yang membuat Alva senang berada di kelas Fisrt Accerelation, kelasnya dan kelas Diana berseberangan. Alva memilih tempat duduk di dekat jendela agar tiap hari bisa melihat dan mengamati Diana yang tempat duduknya juga dekat jendela.

Kalau diibaratkan dengan teori atom, kisah cinta Diana dan Alva seperti teori atom Nieles Bohr.

“Dia inti atomnya, aku elektronnya. She’s become the center of my life. Dan aku, selama hampir 8 TAHUN, tetap setiap mengorbit di sekitarnya. Cuma numpang ngorbit aja. Nggak pernah lebih. Walau ngorbit terus-terusan di sekitarnya, nggak sekalipun aku nyampek ke dia. Elektron sampai kapanpun nggak bakalan nubruk inti. Itu uda hukum alam. Kami lahir uda beda muatan. Dia positif, aku negatif.

Nggak peduli itu SD, SMP, Sma, aku tetap jadi elektron yang kadang dekat, kadang jauh, sambil ngambil atau ngelepasin foton. Tpi sekali pun… nggak pernah aku nyampek ke inti, tapi mau gimana lagi? Gaya Tarik inti atom itu besar banget. Apalagi kalau intinya Diana. Aku bisa apa kalau gitu?

Aku sih pengennya seperti teori atom Rutherdord. Karena walau aku ngorbit ratusan tahun, ada kepastian aku bakalan jatuh ke inti”.

Adalah Alira atau Al, cewek preman yang membantu Alva untuk dekat dengan Diana. Perkenalan Alva dan Al ini memberikan kesan buruk bagi Alva. Alva dan 4 orang temannya di kelas Fisrt Accerelation, mendapat kewajiban memberikan tutorial pelajaran bagi adek-adek kelas. Dan Alva kebagian ngasih totoril fisika. Nah, selesai memberikan tutorial itu Alva ditegur Al. Al minta tolong Alva untuk membantunya membuat laporan fisika tentang Relativitas Einstein. Alva gak mau, gak ada gunanya bagi alva sendiri, dan bukan tanggungjawabnya memberikan tutorial di luar jamnya. Hingga akhirnya Alva mau, Alva gak bisa menyembunyikan gesture tubuhnya ketika bertemu Diana, dan hal itu dilihat oleh Al tanpa sengaja. Karena takut Al ngebocorin rahasinya, Alva mau membantu Al mengerjakan tugasnya dengan terpaksa. Kedua orang ini selalu bertengkar tiap ketemu. Bagi Alva, Al adalah cewek manja, gak punya otak, suka maksa, kasar, bermental preman abis.

Tiap sabtu pulang sekolah, Al dan Alva ketemuan. Kalau bukan karena Al ngasih informasi tentang Diana, Alva mana mau ketemu sama Al. Pernah mereka ke mall, Al ngasih tau penyanyi dan lagu kesukaan Diana, otomatis Alva membeli kaset tersebut.

Dulu aku nangis-nangis membaca ending cerita ini. Tapi, sekarang gak, mungkin karena uda tau endingnya, tapi tetap aja, nyessek. Selama ini Al menyukai Alva. tugas fisika itu hanya bohongan, itu hanya cara agar al bisa dakat dengan Alva. Dengan nyomblangin Alva pada Diana, Al bisa jadi punya alasan untuk bertemu Alva, meskipun… Al cemburu.

Alva yang pinter, pernah iri sama Al yang dalam segi pelajaran gak ada apa-apanya dibandingkan Alva. Al punya cita-cita jadi dokter biar punya banyak kesempatan nolong Orang lain. Sedangkan alva, dia belum punya pandangan mau masuk kuliah jurusan apa, dia belum punya pandangan mau menjadi apa kelak.

Alva menyadari sesuatu tentang Al,

“Dia adalah orang yang spesial dalam caranya sendiri”

Al meninggal, Kecelakaan.

“Aku emang memilih cinta. Sayangnya aku terlambat, karena sampat memilih obsesi. Tapi kesalahanku yang terberat, adalah terlalu sibuk bermain-main dengan obsesi. Sampai akhirnya, cinta terlanjur pergi tanpa sempat aku resapi” (hal 283)

Selama 8 tahun, Diana adalah objek obsesi Alva, buka cintanya.

“Saat kamu mencintai seseorang, nggak bakalan ada kesepian. Love will eat your loneliness”

Itu yang dirasakan Alva pada Alira.

Alva kuliah di jurusan kedokteran. Sama seperti keinginan Al dulu.

“ Ini cara terbaik buat aku mengenang Al”

“Cinta dan obsesi sama-sama bikin kamu negalakuin almost everything. Dua-duanya punya unsur hasrat yang manusiawi. Tapi Cuma cinta yang bisa bikin kamu ngerasain Sesutu yang berharga untuk selamanya” (hal 284)

Novel ini gampang membolak balik perasaan, awalnya dibikin ketawa-ketawa, interaksi anak-anak Fisrt Acceleration, pertengkaran Al dan Alva tiap kali ketemu. Dan Endingnya bikin sedih. Novel ini renyah banget kalau diibaratkan makanan. Gaya tulisannya ceplas ceplos, dialognya natural.

Aku gak bahas kekurangan, kalau uda terkesan hal itu uda gak penting. Aku menikmati.

Informasi Buku

Judul: Relasivitas (Love Vs Obsession)

Penulis: Widagdo

Desain cover: Sahlan Hawasy

Penerbit: Cupid

ISBN: 9792494154

Cetakan 1,  Juni 2006

Beli : 19 Agustus 2009

300 halaman

Iklan

2 thoughts on “[Book Review] Relasivitas (Love Vs Obsession)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s