[Book Review] Bulan Nararya

23552944Seru, aku jadi ngerti istilah-istilah psikologi dengan cara yang simpel dan gak ribet.

“Orang-orang dengan kekurangan fisik dan mental adalah orang paling jujur dan welas asih” (hal 17).

Membaca novel ini, aku merasa setiap orang punya gangguan mental kali ya? Cuma bedanya, ada yang parah dan ada yang enggak.

Menurutku, yang belum ngerti dunia tulis menulis, karakter para tokoh di sini sangat kuat, sehingga masing-masing karakter tokoh menyumbang konflik dalam cerita. Dibandingkan dengan Api Tauhid, dari segi karakter, Bulan Nararya lebih baik. Penulisnya psikolog sih.

Ini dia beberapa tokoh dengan karakternya

Nararya Tunggadewi: anak tunggal, sifat manja, mau menang sendiri, egois, dan menuntut perhatian mutlak. Juga tipe orang yang tidak segan mengulurkan bantuan. Nggak bisa dengar keluh kesah teman. nggak bisa menolak permintaan.

“Meski di suatu waktu permintaanku harus terpenuhi, lebih banyak aku bersedia menyelami orang lain. Mungkin, sebagai anak tunggal, aku memang selalu menjadi ratu. Namun, menjadi satu-satunya anak bagi Papa Mama menjadikanku membutuhkan banyak kehadiran orang lain. Menjadikanku seringkali bersikap humanis agar kebaikan-kebaikan hatiku lebih diterima oleh khalayak”. (hal 24)

Angga: dibesarkan oleh seorang ayah yang sederhana, yang jatuh cinta secara tulus kepada seorang penyanyi pub. Cinta yang besar tak mampu menggantikan kebutuhan materi. Ibu angga mendapat pasokan dari lelaki yang mendapatkan layanan, dan kehidupan yang timpang berjalan bertahun-tahun dalam satu atap. Seorang lelaki yang merawat anaknya penuh kasih, merana menghiba cinta sang istri, lalu mati akibat sakit misterius yang konon menurut pendapat masyarakat kono – perut kaku akibat memendam pikiran dan kesedihan tak tertanggungkan.

Karena kurangnya kasih sayang dari seorang ibu, angga membutuhkan pujian dan sanjungan dari banyak perempuan. Hal ini lah yang menyebabkan retaknya kehidupan rumah tangganya dengan Nararya selama 10 tahun. Awalnya Rara, panggilan Nararya, bisa memaklumi sikap suaminya. Bukan salah Angga jika banyak wanita menyukainya, karena Angga punya wajah yang tampan dan sangat baik. Tetapi kejadian bertubi-tubi, banyak wanita yang patah hati karenanya, ada mahasiswanya yang minta dinikahi, dan teman wanitanya sesama dosen, bercerai dengan suami karena Angga.

“Melihat satu demi satu perempuan terkapar, terpesona oleh Angga, membuat hatiku pun terluka parah. Bila satu dua orang yang salah mengartikan sikap baik Angga dapat kuterima. Tapi, berapa jumlah perempuan dalam daftar yang mengaku jatuh hati dan menggelepar? Apakah Angga menikmati petualangan cinta, merasakan maskulinitas saat meninggalkan seseorang? Apa artiku di matanya?”. (hal 30)

Rara menuduh Angga sebagai orang yang narsistik, gangguan kepribadian yang terfokus pada fantasi kesuksesan, kekuasaan, cinta. Dia juga histrionik, gangguan kepribadian yang melibatkan emosi berlebihan, keinginan besar untuk menjadi pusat perhatian.

Moza: sahabat Rara, teman sekantor, sama-sama seorang terapis di media health center. Istri angga setelah bercerai dengan Rara. Karater Moza dalam memperlakukan Angga terekam dalam dialog ini,

“Caramu dan caraku mencintai Angga beda, Ra. Kamu mungkin sangat mencintainya hingga selalu melonggarkan ikatan. Membiarkan Angga bermain-main dengan banyak perempuan. Itu mungkin yang membuat Angga pun meragukan kesungguhanmu. Aku akan menjaga Angga. Nggak akan membiarkan dia bermain dengan sembarang perempuan. Aku berterus terang betapa sangat cemburu aku padanya, pada perempuan-perempuan yang ada dalam lingkarannya. Angga harus tahu, betapa besar maknanya dia dalam hidupku”. (hal 109)

Bu Sausan: kepala media health center. Sebagai generasi senior, dia sangat patuh pada pakem. Tak bersedia melakukan terobosan baru. Alasan yang dapat dimaklumi, karena tidak ingin menjadikan klien sebagai percobaan yang akan merugikan mereka. Bertolak belakang dengan Rara, yang selalu ingin menemukan hal-hal terbaru yang memungkinkan setiap klien mampu menduduki posisinya sebagaimana saat dia dilahirkan. Sebagai manusia (hal 18). Rara mengusulkan terapi dengan menggunakan metode baru, yaitu Transpersonal yang ditolak oleh Bu Sausan, karena metode ini masih mentah, belum teruji.

Diana : perempuan yang kelewat mandiri dan tak mudah terpatahkan, keras kepala. Seorang yatim piatu, tinggal bersama kakak satu-satunya sejak kecil. Suami penderita skizophrenia.

ODS (Orang Dengan Skizophrenia)

Sania: Seorang anak yang menginjak remaja. Dibesarkan oleh nenek yang miskin dan suka mengadiahkan sabetan rotan. Ibu yang pemarah, perokok dan suka gonta-ganti pasangan serta ayah yang pemabuk. (hal 12).

Pak Bulan: Penghuni lembaga pemasyarakatan yang ditangkap dengan tuduhan pencurian. Terisolasi, tersisih, tercerabut dari ikatan kasih sayang, kekurang asupan gizi, minimnya tambahan pengetahuan, membuat kemampuan akal menurun drastis. (hal 13).

Yudhistira: Suami dari Diana. Anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga, bungsu, penurut, sangat dimanja dan disayang oleh ibu dan ketiga kakak perempuannya. Setelah menikah, Yudhis mendapatkan pasokan materi dari ibu dan kakak-kakaknya, tanpa dinibta. Diana yang mandiri tidak menyukainya. Hubungan yang sejak awak sudah ditentang keluarga, dan menyebut Diana tidak tau berterimakasih. Tuntutan perceraian dari sang ibu, Diana yang semakin meradang dan emosional, menyudutkan Yudhistira sebagai pelaku paling bersalah dalam kemelut. (hal 50).

Bagaimana Rara memperlakukan dan merawat kliennya dengan baik dan tetap gigih memperjuangkan metode Transpersonal, sangat menarik untuk diikuti. High recommended deh, terutama buat mahasiswa psikologi.

Skizophrenia sendiri adalah orang-orang dengan gangguan struktur otak dan beragam tekanan luar biasa dalam hidup yang menyebabkan mereka kehilangan kemampuan berpikir normal dengan salah satu ciri spesifik: halusinasi, Ilusi, delusi, waham mengikuti. Tetapi hal yang paling membedakan dengan gangguan kepribadian lain adalah perilaku halusinasi parah yang menyebabkan mereka harus diasingkan, sebab tak mampu membedakan realitas dan khayalan. (hal 17-18).

Penderita skizophrenia seringkali mendapat penolakan dari masyarakat bahkan keluarga. Sakit fisik apa pun bentuknya, masih dapat ditoleransi. Sakit mental, meski dapat kembali seperti sediakala, bagai residivis yang tak mendapatkan grasi. Gangguan mental ini masih dianggap memalukan. Setiap keluarga bersukacita menyambut anggota keluarga yang pulang dari rumah sakit, entah operasi katarak, operasi kecelakaan, caesar, atau bahkan kemoterapi yang melelahkan. Tapi anggota dengan gangguan mental, kembalinya menumbuhkan kcemasan. Butuh ketabahan besar untuk menanggulangi keterkejutan dan rasa sakit yang tak mungkin dihilangkan begitu saja. (hal 52).

Ini bacaan pertamaku di Tahun 2015. Aku suka Novel ini dan aku kasih 4 bintang.

Rinai dan Bulan Nararya adalah Novel Sinta Yudisia dengan latarbelakang psikologi, sesuai dengan bidang yang dia tekuni sekarang. Ah, aku juga pengen buat novel dengan latarbelakang jurusanku, Sosiologi. Aamiin.

Informasi Buku

Judul: Bulan Nararya
Penulis: Sinta Yudisia
Desain cover: Andhi Rasydan & Naafi Nur Rohma
Penerbit: Indiva Media Kreasi
ISBN: 9786021614334
Cetakan 1,  September 2014
256 halaman
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s