[Book Review] Api Tauhid

api tauhidNovel sejarah ini mengisahkan perjalanan Fahmi, subki, Hamza, Bilal, Aysel, dan Emel dalam menelurusuri jejak ulama Besar dari Turki, Badiuzzaman Said Nursi. Fahmi, subki, dan Hamza adalah mahasiswa Universitas Islam Madinah. Fahmi dan Subki berasal dari Indonesia, dan Hamza dari Turki. Bilal adalah sahabat Hamza di Turki, Emel adalah adik dari Hamza, perempuan shalihah dan hafal Al-Quran, dan Aysel adalah gadis Turki, sepupu Hamza yang lama dibesarkan di Inggris sehingga terpengaruh oleh budaya bebas khas Eropa. Sebelum masuk ke cerita tentang Said Nursi, polemik cinta Fahmi lah yang menjadi latarbelakang perjalan keenam pemuda tersebut.

Diceritakan bahwa Fahmi, seorang mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Madinah diminta pak lurah di desanya untuk menikah dengan anaknya, Nur Jannah yang alumni pesantren. Kebetulan saat itu Fahmi sedang pulang ke kampung halamannya, Lumajang. Beberapa hari setelah kejadian itu, Kyai Arselan, ulama cukup terkenal di lumajang sekaligus pengasuh pondok pesantren paling besar di Yosowilangun juga meminta Fahmi untuk menikah dengan anaknya, Firdaus Nuzula, yang masih kuliah semester 4 di UIN Jakarta.

Fahmi dan keluarganya bermusyarah. Pilihan jatuh ke Firdaus Nuzula, tidak perlu istikharah. Dilihat dari Nasab keluarganya, maka Nuzula bernasab singa.

“Nur jannah dan keluarganya itu ibarat bulan purnama yang bersinar terang. Dia purnamanya desa ini. Pak lurah orang paling terpandang di desa ini. Tapi, kyai Arselan dan keluarganya itu ibarat matahari. Kalau matahari datang, cahaya bintang dan bulan purnama akan tenggelam” (hal 53).

Kalau dilihat dari pribadi masing-masing, dan mengabaikan nasab keluarga, siapakah yang sebenarnya bulan purnama dan siapakah yang seperti matahri? Begitu batin Fahmi.

Dan siapakah sosok Fahmi sehingga orang-orang seperti pak lurah maupun Kyai besar mau menikahkan anaknya dengan Fahmi? Yup, orang seperti Fahmi mungkin adalah menantu idaman setiap orang tua, dan calon suami ideal bagi perempuan Muslimah. Dia pintar, hafidz, kuliah S1 dan S2 di Madinah dengan beasiswa. Uwow deh. Mengenai ilmu agama insyaallah tidak diragukan lagi. Sosok seperti Fahmi mungkin adalah sosok yang sulit ditolak oleh perempuan Muslimah. Mirip-mirip Fahri di AAC menurutku. Kang Abik dikenal sebagai penulis dengan karakter tokoh-tokohnya yang bak malaikat, nyaris sempurna. Di Api Tauhid ini nantinya Fahmi juga disukai oleh Aysel, dan diam-diam juga disukai oleh Emel.

Nuzula dan Fahmi nikah sirri, keduanya melanjutkas aktivits kuliahnya seperti biasa. Fahmi ke Madinah dan Nuzula ke Jakarta. Bebera bulan setelah pernikahan, Kyai Arselan meminta Fahmi menceraikan Nuzula demi kebaikan keduanya, tanpa dikatakan alasannya. Hal itu membuat Fahmi terpukul. Untuk mengobati rasa sedihnya, dia melakukan iktikaf di masjid Nabawi dan mengkhatamkan Al-Quran 40 kali dengan hafalan. Dia tidak beranjak sama sekali dari masjid kecuali untuk makan, buang hajat, dan shalat. Di hari ke 15 iktikaf, Fahmi pingsan dan dilarikan ke rumah sakit oleh Hamza dan Ali. Ketika sadar, Fahmi menceritakan alasannya iktikaf kepada sahabat-sahabatnya. Mengetahui itu, Hamza mengajak Fahmi ke Turki selama liburan kuliah sekalian napak tilas sejarah hidup Badiuzzaman Said Nursi, mungkin dengan memperajari sejarah Said Nursi, Fahmi bisa melupakan semua masalahnya.

Keindahan sejarah tiada bandingnya. Karenanya salah satu muatan Al-Quran adalah sejarah Nabi dan umat terdahulu agar kita menyelamai lautan hikmah dalam keindahan (hal 9).

Awalnya hanya Bilal, Fahmi, Hamza, dan Subki saja yang akan melakukan perjalanan. Tapi Aysel yang baru kembali ke tanah kelahirannya setelah lama berada di inggris, juga ingin mengetahui sejarah Said Nursi, jadilah mereka berenam ditambah Emel. Perjalanan dilakukan dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah dalam hidup Said Nursi dengan Hamza dan Bilal sebagai Tour Guide, gantian menceritakan sejarah Said Nursi. Seperti endorsement Dr. Saiful Bahri, M.A, di sini pembaca diajak masuk ke lorong-lorong waktu. Berada di teras sejarah Turki Usmani yang dikepung konspirasi (hal v).

Mengenai Said Nursi sendiri aku baru tau namanya sejak membaca buku ini, walaupun kata kang Abik, pernah beberapa kali namanya disebutkan dalam beberapa kalimant di Novel Ayat-Ayat cinta. Badiuzzaman Said Nursi, nama yang diberikan orang tuanya adalah Said, adapun Nursi karena ia berasal dari desa Nurs. Dan Badiuzzaman atau keajaiban zaman adalah gelar yang diberikan oleh gurunya, Molla Fethullah effendi dari Siirt. Gelar ini memang sangat pas dengan Said Nursi yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Di antara enam saudaranya, Said lah yang paling istimewa. Ulama yang lahir pada abad ke 19, tepatnya tahun 1877 ini memiliki hafalan yang kuat dan mampu menghafal salah satu kamus induk bahasa arab yaitu AL Qamus Al Muhith. Bahkan pada umurnya yang baru menginjak 15 tahun sudah hafal puluhan kitab refrensi penting (xxv), seperti kitab Alfiah Ibnu Malik. Kitab-kitab rujukan para ulama yang cukup berat seperti Jam’ul al Jawami’ ia tuntaskan dengan singkat. Juga syarah Al Mawaqif serta Tuhfah al Muhtaj karya Ibnu Hajar Al Haitami yang tak lain adalah kitab induk fikih Syafii yang banyak diajarkan di madrasah-madrasah Kurdistan saat itu, dan kitab-kitab kelas berat lainnya (hal 181). Dalam waktu 8 bulan dia mampu menghatamkan 80 kitab dan tentu saja menguasai isinya. Ilmu yang biasanya di dipelajari selama 15 tahun biasa ia kuasai hanya dalam 3 bulan saja.

Tidak hanya dikaruniai daya hafalan yang kuat, tetapi daya analisisnya jungan tajam (hal 289)

Huuht, hebat bingit. Saat di pondok aku juga ngafalin tuh kitab alfiya, tapi cuma beberapa puluh kemudian berhenti mondok. Sekarang uda lupa. #catatan gak penting #abaikan.

Awalnya hanya ilmu agama saja yang dipelajari Said. Tapi kemudian, saat tinggal di rumah Thahir Pasya, ia menyadari bahwa para cendekiawan Turki adalah para pakar di bidang ilmu umum modern, seperti sejarah, geografi astronomi, kimia fisika, geologi, dan filsafat. Said Nursi juga menyadari bahwa cara berpikir mereka sebagian besar adalah cara berpikir sekuler. Maka ia tidak akan bisa menyampaikan kebenaran ajaran islam dengan baik kepada mereka, jika tidak menguasai bidang yang mereka kuasai (hal 286). Dengan cepat Said Nursi mempelajari hampir semua ilmu-ilmu modern.

Baik sistem pendidikan maupun sistem pemerintahan di Turki sama-sama sekuler. Seperti yang pernah dikatakan Said Nursi,

Negara Turki Utsmani saat ini sedang mengandung janin eropa dan suatu saat nanti akan melahirkan pemerintahan cara Eropa. Sedangkan Eropa sedang mengandung janin islam, dan suatu hari akan melahirkannya (hal 310).

Pada tanggal 29 oktober 1923, Majlis Agung Nasional mendeklarasikan Republik Turki dan Mustafa Kemal dipilih menjadi presiden pertamanya. Pada tanggal 3 maret 1924, kekhalifahan dihapus. Sejak dipimpin Mustafa Kemal yang sekuler, diberlakukan undang-undang baru yang berusaha untuk memadamkan cahaya tauhid di Turki. Angka arab tidak boleh dipakai, kemudian diganti angka Eropa, huruf hijaiyah dilarang, digantu huruf latin, membca Al Quran dengan bahasa aslinya dilarang dan diganti dengan terjemahan bahasa Turki. Adzan dan iqamah juga dilarang menggunakan bahasa arab, harus menggunakan bahasa Turki. Jika ada yang melanggar peraturan-peraturan tersebut maka dipenjara.

Said Nursi adalah Ulama yang memiliki banyak pengikut. Hal ini tentu membuat takut pemerintah yang sekuler. Selama 25 tahun dia menghabiskan waktunya di penjara, pindah dari satu penjara ke penjara lain. Di asingkan dari satu daerah ke daerah lain. Selama di penjara itulah Said Nursi menulis Risalah Nur, dan digandakan diam-diam oleh para murid-muridnya dengan tulisan tangan. Walaupun diasingkan ke daerah terpencil, tetap saja Said Nursi memiliki murid-murid baru yang belajar padanya, akhirnya pengikutnya semakin bertambah, hingga saat ini. Mereka tergabung dalam sebuah wadah yang disebut Thullabun Nur.

Mengapa bisa lahir manusia seperti Said Nursi? Hal ini tidak lepas dari peran kedua orang tuannya.

Sejak masih belia, Mirza (ayah Said) telah diajarkan untuk menjaga diri dari barang yang haram. Bahkan lembu-lembunya tidak ia izinkan makan rumput yang tidak jelas kehalalannya. Mirza juga menghiasi nafasnya dengan dzikir kepada Allah. Sedangkan Nuriye (Ibu Said) yang hafal Al Quran, selalu menjaga dirinya dalam keadaan berwudhu. Saat mengandung anak-anaknya, termasuk saat mengandung Said, Nuriye tidak menginjakkan kakikinya ke atas bumi kecuali dalam keadaan suci, dan tidak meninggalkan shalat malam, kecuali saat uzur. Nuriye tidak mengizinkan dirinya menyusui anak-anaknya, terutama Said, dalam keadaan Tidak suci (hal 142).

“Said menjadi semacam ‘ayat’ bahwa kesucian cinta karena Allah akan melahirkan keberkahan dan keajaiban yang tidak pernah di sangka-sangka. Allah itu baik dan suci, dan Allah mencintai kebaikan dan kesucian” (hal 142).

Peristiwa tentang wafatnya Badiuzzaman Said Nursi tidak dinarasikan. Sebab hakekatnya memang wali-wali Allah itu tidak meninggal, mereka masih hidup di sisi Allah, yurzaquun, dicurahi anugerah.

Tentang akhir kisah Fahmi, finally, kisah cinta Fahmi berakhir bersama Nuzula. Tapi ini nih agak janggal bagiku. Alasan Nuzula meminta cerai karena dia punya pacar dan mengaku pada abahnya bahwa dia telah hamil bersama pacarnya. Kyai Arselan merasa sangat malu, dan meminta Fahmi menceraikan Nuzula tanpa memberi tahu alasannya pada Fahmi. Karena terlalu memikirkan kelakuan putrinya, Kyai Arselan sampai meninggal. Sebelum meninggal Kyai arselan menulis surat untuk fahmi dan menceritakn alasan kenapa dulu dia meminta Fahmi mencerfaikan Nuzula. Surat itu diserahkan sendiri oleh Nuzula kepada Fahmi di Turki. Fahmi sangat marah mengetahi perbuatan Nuzula, dan karena Nuzula pulalah abahnya meninggal. Nuzula ingin kembali pada Fahmi tapi Fahmi sekarang tidak mau.

Nuzula mengungkapkan pernyataan baru pada Fahmi, bahwa sesungguhnya dia tidak hamil, dia berbohong pada abahnya semata-mata agar bisa menikah dengan pacarnya. Walaupun pacaran, dia tidak pernah melakukan apapun, dia tetap menjaga kesuaciannya. Yang aneh adalah, kenapa kalau dia emang senekat itu untuk mempertahankan pacarnya, gak dilakukan sebelum menikah aja? Kenapa dia gak menunjukkan sikap bahwa dia gak suka sama Fahmi? Dari pertama kali ketemu di rumah Fahmi sampai mereka menikah, shalat bareng, Nuzula tetap bersikap tenang-tenang aja. Seperti gadis yang sangat penurut dan ikhlas dengan pernikahan itu? Apalagi saat mereka shalat berjamaah setelah akad, Fahmi mencium kening Nuzula dan mencium bibirnya selama tujuh detik. Nuzula manut-manut aja saat fahmi meminta ijin pada Nuzula untuk menciumnya. Di Turki Nuzula juga mengaku pada Fahmi bahwa ciuman itu begitu berkesan pada Nuzula, dan hanya Fahmilah laki-laki pertama yang menyentuhnya. Kenapa kenekatannya justru mencul setelah dia juga merasakan getaran cinta pada Fahmi? ditambah dia juga tidak melakukan apa-apa ketika pacaran, masih suci. Ingat kata ust Felix, ”kalau gak ngapa-ngapain. Ngapain pacaran?”

Lagian nih ya, sebelum Kyai Arselan meninggal, beliau taunya Nuzula Hamil, tapi kenapa saat di Madinah, ketika minta Fahmi menceraikan Nuzula, beliau mengatakan, “toh masing-masing tidak ada yang dirugikan, tidak ada yang kehilangan status perjaka atau perawannya”.

apa aku aja pembaca yang merasa agak janggal dengan ending cerita Fahmi? Seperti terlalu dipaksakan. Dan akhirnya, Nuzula memutuskan pacarnya karena dia menghamili wanita lain dan mencoba untuk memperkosanya, untungnya Nuzula selamat karena ada warga kampung yang menolongnya.

Perbandingan antara sejarah Said Nursi dan kisah Fahmi, yaitu 3:1. Tetapi kenapa di reviewku kebanyakan bahas cerita si Fahmi? karena di kisah Fahmi ini aku merasa banyak uneg-uneg, kisah Said Nursinya lebih oke. Pada akhirnya selesai juga ngereview buku ini. Padahal aku lebih dulu menyelesaikan baca Api Tauhid dari pada Gizi Hati. Bacanya aja tertatih-tatih, butuh waktu satu minggu membaca buku setebal 573 halaman ini. Setiapkali habis baca gak keburu pengen melanjutkan baca lagi, gak terlalu penasaran. Malah pengen segera menamatkan buku ini tanpa skipping biar bisa segera baca buku yang lain. Untuk kisah Said Nursi aku mau ngasih 4 bintang, untuk cerita Fahmi 2 bintang aja. Secara rata-rata untuk Novel ini aku hadiahkan 3 bintang ditambang setengah.

Membaca novel ini, selamat memetik banyak hikmah.

Informasi Buku

Judul: Api Tauhid
Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Editor: Syahruddin El-Fikri
Desain cover: Ade Fery
Penerbit: Republika
ISBN: 9786028997959
Cetakan 1, November 2014. Cetakan 2, November 2014
xxxv+573 halaman
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s