Keutamaan Shalat Malam

“Allah setiap malam tutun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir, lalu Dia berfirman, ‘Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, Aku akan mengabulkannya. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, aku akan memberinya. Dan barangsiapa memohon ampunan kepada-Ku, aku akan mengampuninya”

Masih dalam buku yang sama yaitu Gizi Hati. Aku kira perlu untuk mencatat ulang, agar tidak lupa dan agar semakin yakin dengan janji Allah. Ada di halaman 161-179.

Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan harap, serta menafkahkan apa-apa rezeki yang Kami berikan” (As-Sajdah: 16)

Lalu Allah berfirman

“Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan” (As-Sajdah: 17)

Allah berfirman tatkala menyebutkan ciri-ciri muhsinin (orang-orang baik).

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam. Dan selalu memohonkan ampunan pada waktu pagi sebelum fajar” (Adz-Dzariyat: 17-18).

“Ataukah orang yang beribadah pada waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri. Sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabb-nya…..”(Az-Zumar: 9)

Allah berfirman dalam menyifati ‘ibadurrahman (hamba-hamba Ar-Rahman):

“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka” (Al-Furqan: 64).

Saat masih muda pada masa Rasulullah, aku pernah tertidur di masjid. Aku bermimpi seolah melihat ada dua malaikat. Lalu mereka membawaku menuju neraka. Ternyata, ia dilipat bagaikan lipatan sumur. Rupanya ia memiliki dua tanduk dan ternyata di dalamnya ada banyak orang yang telah kalian kenal. Lalu aku berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah dari neraka’”. Ibnu Umar berkata, “kemudian kami berjumpa dengan malaikat lainnya seraya berkata kepadaku, ‘Kamu tidak memeliharanya’”.

Lalu aku menceritakannya kepada Hafshah. Hafshah pun menceritakannya kepada Rasulullah. Setelah itu beliau bersabda, “Sebaik-baik orang ialah Abdullah (bin Umar) jika ia melakukan shalat malam”. Setelah kejadian itu, Abdullah bin Umar hanya tidak tidur malam sebentar.

Inti dari sabda Nabi: “Sebaik-baik orang ialah Abdullah (bin Umar) jika ia melakukan shalat Malam”  ialah barangsiapa yang menunaikan shalat malam, ia disifati sebagai orang yang paling baik. Hadits ini juga menjelaskan bahwa shalat malam bisa menolak siksa.

Di dalam hadits Abu Hurairah, Rasullah bersabda:

“Sebaik-baik shalat setelah shalat maktubah (lima waktu) ialah shalat malam”

Ali bin Abi Thalib menceritakan, bahwa pada suatu malam ia dan Fatimah pernah dibangunkan Nabi. Beliau bersabda, “Tidakkan kalian menunaikan shalat lail?” Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, jiwa-jiwa kami ada di tangan Allah. Jika Dia berkendak membangunkan kami, maka kami pasti bangun”.

Lalu beliau pergi saat aku jawab demikian dan tidak berkata sepatah kata pun. Kemudian aku mendengar beliau berpaling dengan memukul pahanya sembari membaca ayat (yang terjemahan maknanya):

“……Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah” (Al-Kahf: 54).

Ibnu Baththal berkata, “Dalam hadits ini terkandung keutamaan shalat malam dan membangunkan orang tidur dari kalangan keluarga dan kerabat agar mereka menunaikan shalat malam”.

Ath-Thabaari berkomentar, “seandainya Nabi tidak mengetahui agungnya shalat malam, niscaya beliau tidak membangunkan putrinya dan menantunya, Ali, pada waktu yang dijadikan Allah sebagai ketenangan. Namun beliau memilih membangunkan mereka agar memperoleh keutamaan tersebut”

“Shalat yang paling dicintai Allah ialah shalat Dawud, puasa yang paling dicintai Allah ialah puasa Dawud. Beliau tidur pada separuh malam, shalat malam sepertiga malam, dan tidur seperenamnya. Beliau berpuasa satu hari dan berbuka (tidak puasa) satu hari”. (HR. Bukhari)

Al-Muhallab menerangkan, “Nabi Dawud membiasakan diri tidur pada awal malam. Kemudian ia melakukan shalat malam pada waktu di mana Allah menyeru, ‘Apakah ada orang yang memohon, maka Aku akan memenuhi permohonannya’. Setelah shalat malam, Nabi Dawud tidur untuk merehatkan tubuh dari letihnya shalat pada sisa malam tersebut. Inilah yang disebut tidur saat menjelang subuh.

Metode ini lebih disukai untu melembutkan jiwa yang dikhawatirkan akan cepat bosan dan jenuh. Nabi pernah bersabda, “sesungguhnya Allah tidak pernah bosan sehingga kalian merasa bosan”.

Allah senang kalau anugerah-Nya dilestarikan dan kebaikan-Nya dicintai. Semua itu lebih dicintai, karena:

Tidur setelah shalat malam bisa merelaksasikan tubuh, menghilangkan dampak begadang, dan tidak menyebabkan tubuh kurus.

Tidur setelah shalat malam baik untuk menyambut shalat subuh dan dzikir-dzikir pada siang hari dengan ceria dan fresh. Selain itu, bisa menjauhkan diri dari sifat-sifat riya’. Sebab, orang yang tidur pada seperenam malam terakhir warna tubuhnya akan kelihata kuat dan sehat. Dengan demikian, amalnya yang telah lalu tampak samar bagi orang yang melihatnya. Demikian yang disinyalir Ibnu Daqiq Al-‘Id.

Sebab-sebab yang memudahkan shalat malam

Ketahuilah, shalat itu amat berat bagi manusia, kecuali bagi yang diberi pertolongan Allah untuk menunaikannya. Adapun sebab-sebab yang memudahkan shalat malam terdiri dari sebab secara lahir dan secara batin. Secara lahir yaitu:

  1. Tidak memperbanyak makan sehingga memperbanyak minum, lalu banyak tidur.
  2. Jangan letihkan tubuh pada siang hari dengan pekerjaan-pekerjaan yang melelahkan organ tubuh dan otot. Karena, semua itu bisa mengundang tidur.
  3. Jangan pernah meninggalkan tidur siang hari untuk memudahkan shalat malam.
  4. Jangan banyak melakukan dosa pada siang hari. Karena, hal itu bisa mengeraskan hati dan menghalanginya dari sebab-sebab turunnya rahmat.

Mereka, para penguasa pernah mengaku kepada Ibnu Mas’ud, “Kami tidak mampu melakukan shalat malam”. Ibnu Mas’ud menjawab, “Dosan telah menjauhkan kalian”

Seseorang pernah mengadu kepada Al-Hasan, “Aku tidak mampu melakukan shalat malam”. Lalu Al-Hasan memberi resep dengan menjawab, “jangan berbuat maksiat pada siang hari. Karena itu hal itu membantumu bangun pada malam hari.

Ats-Tsauri pernah berkata, “Aku terhalang dari shalat malam selama lima bulan akibat dosa yang pernah kuperbuat.

Adapun sebab-sebab yang berkaitan dengan Batin

  1. Keselamatan hati dari perbuatan-perbuatan bid’ah, iri kepada kaum muslimim, dan terlalu berhasrat pada dunia.
  2. Banyak takut kepada Allah menyebabkan hati pendek angan-angan.

Apabila seorang hamba sering merenungi dasar neraka jahanam dan kedahsyatan akhirat, keinginan tidurnya akan sirna.

Abdullah bin Rawahah mengatakan, “sesengguhnya bila disebutkan surga kepada Abdullah, kerinduannya kian dalam. Dan bila disebutkan neraka, keinginan tidurnya sirna.

Ibnul Mubarak berkata:

“Ketika malam menjadi gelap mereka menahannya

Lalu malam pun beranjak sedang mereka sholat

Rasa takut membangunkan tidur mereka, lantas mereka bangun

Sementara orang-orang yang merasa aman di dunia masih terlelap”

  1. Mengetahui shalat malam sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat Al-Quran dan Al-Hadits. Hal ini agar harapan dan kerinduan akan balasannya kian dalam dan kian antusias memohon tambahan dan cinta memperoleh derajat di surga.

Beberapa Atsar Mengenai Shalat Malam

Al-Munkadir berkata, “Kenikmatan dunia hanya tersisa tiga: shalat malam, berjumpa dengan teman, dan shalat berjamaah”.

Abu Sulaiman menuturkan, “Orang-orang yang menghidupkan malam lebih senang daripada orang-orang yang melakukan perbuatan sia-sia. Seandainya tidak ada malam, niscaya aku tidak ingin menetap di dunia”.

Jika matanya tidak mengantuk, Ibnu Mas’ud segera menunaikan shalat malam. Lantas, terdengar darinya suara dengung seperti lebih hingga pagi hari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s