Seseorang dibalik Sesuatu

Narsis0388Ketika kamu membaca Koran ditemani kopi hangat di pagi hari, pernah mikir atau ngebayangin bagaimana berita itu ditulis dan sampai kepada kamu sebagai pembaca? Mungkin hal ini gak penting buat pembaca. Tapi setidaknya dengan ‘sedikit’ memikirkan hal itu kamu jadi bersyukur dan berterimkasih kepada wartawan yang mau panas-panas di jalan memburu berita, kepada crew redaksi yang sibuk rapat dan bersitegang tentang berita mana yang benar-benar layak untuk dimuat. Sedangkan kita sebagai pembaca cukup membayar beberapa ribu perak langsung bisa menikmati hidangan berita. Yang lebih ekstrim, bayangkan jika tidak ada orang seperti Alfa Edision yang menemukan lampu pertama kali? Sudahkah mensyukuri semua itu?

Melalui buku ‘Menulis Sosok secara Inspiratif, Menarik, Unik’, Pepih Nugraha, wartawa Kompas, menceritakan proses kreatifnya sebagai wartawan dalam memburu nara sumber untuk dimuat di harian Kompas di rubrik Sosok dengan bentuk feature. Feature sendiri, ada yang menerjemahkannya sebagai karangan khas-sejalan dengan jati diri media menyampaikan informasi, hiburan, dan pendidikan bagi pembaca. Jika berita adalah hardnews, maka feature adalah softnews. Feature lebih rinci dan mendalam, lebih mencakup dan lebih lengkap, lebih memberi latar belakang serta nuansa dibanding berita (ix).

Aku tipe orang yang gak begitu suka membaca atau menonton berita. Bahasa berita datar, kaku, berat, gitu-gitu aja. Makanya kalau emang lagi baca berita, aku menggunakan teknik membaca skimming. That’s why, aku rasa tulisan-tulisan seperti ini lebih enak dibaca, lebih down to eart, ringan, dan lebih berkesan di hati (serius).

Dalam buku ini ada 22 adalah sosok-sosok unik, luar biasa, keren, hebat (dan istilahnya lainnya yang sama) diceritakan Pepih. Semua sosok yang ditulis di sini patut dijadikan teladan. Mereka adalah orang orang-orang luar biasa tetapi bersahaja dan sederhana.

Di era teknologi seperti ini siapa sih yang masih gak tau internet? Coba sedikit flashback, taukah siapa seseorang dibalik benda asing bernama internet? Namanya Sir Timothy Berners-Lee, dialah investor besar world wide web (www). Tanpa WWW ciptaan Berners-Lee, tidak mungkin manusia bisa berinternet seperti sekarang ini (hal 2). Pepih menggambarkan Berners sebagai orang yang sederhana, ketika dia menjadi pembicara di forum Nokia World 2010, dia hanya menggunakan secarik kertas putih berisi poin-poin materi. Jauh dari kesan sebagai penemu besar di bidang teknologi, padahal pembicara yang lain menggunakan alat-alat yang canggih untuk presentasi. selesai menyampaikan materi, dia diam-diam turun dari podium tanpa seorang pun yang mengantarkannya, tanpa asisten, tanpa didampingi panitia layaknya orang penting.

Setelah internet, kita lanjut ke WordPress. Matt Mullenweg adalah sosok pencipta Situs jejaring sosial berupa blog tersebut. Usianya masih sangat muda, 25 tahun pada tahun 2009 saat diwawancarai Pepih di Jakarta. Ketika Pepih memperkenalkan diri sebagai jurnalis yang akan menulis sosoknya, dia sempat bertanya, “yakin saya sebagai orang yang cukup pantas untuk Anda tulis?” (hal 176).

%$@#Gubrak….@#$$$*!!

Ya ampun Matt, kamu pantas maksimal (mengenai Matt lebih luas, aku bahas di postingan ini dengan sumber dari buku yang sama, soalnya penulisnya blogger sih, makanya beberapa blogger dia tulis sosoknya).

Kita juga tau bahwa orang-orang luar biasa itu, juga orang biasa seperti kita. Tetapi kiprahnya, prestasinya, konsistensinya, membuat mereka berbeda dengan orang kebanyakan.

Seperti Alie Yafie, seorang ulama’ dari organisasi besar islam NU, mengambil keputusan yang menimbulkan kontroversi dengan keluarnya beliau dari NU karena menemukan bukti bahwa NU menerima sumbangan SDSB (Sumbangan Dana Sosial Behadiah) yang di dalamnya terdapat unsur judi yang saat itu dilegalkan pemerintahan Soeharto. tidak ada yg berani mengutak atik program pemerintah mengenai SDSB karena berarti berhadapan dengan soeharto, tetapi Alie Yafie adalah pengecualian.

Mundur dari jabatan karena dorongan hati Nurani bagi seorang pejabat di negeri ini adalah barang langka, dengan sendirinya menjadi mahal harganya (hal 161). Hal inilah yang dilakukan Prof. Dr. Harun Alrasid yang mengundurkan diri sebagai wakil ketua KPU karena mendapati ada kongkalikong antara orang-orang dalam KPU dengan orang-orang partai. Beliau tidak merasa kehilangan apa-apa walaupun keluar dari KPU, sosok sederhana yang setiap hari naik bus kota ini, malah menolak diberi fasilitas mobil ketika menjabat sebagai wakil KPU, padahal semua anggota KPU mendapat jatah mobil, “negara dalam keadaan sulit begini kok bagi-bagi mobil?” (hal 167). Allahu Akbar.

Ada juga Kulla Lagousi, orang Bugis-Makassar, demi tetap menjaga kearifan lokal, dia mendirikan usaha percetakan Telaga Zamzam yang berkiprah dalam menerbitkan buku pelajaran anak-anak muatan lokal. Maka lahirlah buku ‘ayo, mari membaca dan menulis bahasa Bugis, lancar berbahasa Bugis, lancar berbahasa Makassar”. Dia habis-habisan untuk modal usaha awal penerbitannya. Menghabiskan empang, habis kebun dan swah, serta habis perhiasan istri untuk dilego.

Ketika mempunya pekerjaan dengan gaji besar dan posisi bagus, siapa yang rela melepaskannya? Tapi tetap saja ada pengeculian. Budi Putra dan Jubing Kristanto, mereka adalah orang nekat selanjutnya yang keluar dari comfort zone (zona nyaman) memasuki sebuah wilayah yang masih berupaya bayang-bayang suram tidak jelas (hal 51). Mengikuti passion, menuruti kata hati, dan menemukan ‘inilah duniaku sesungguhnya’. Seperti itu yang dilakukan keduanya.

Budi Putra keluar dari Tempo untuk menjajal karir sebagai blogger, padahal saat itu istilah blog belum sebooming sekarang. Berkat kenekatannya itu dia menjadi seorang blogger profesianal pertama di Indonesia setelah nekat keluar dari media online tempo interaktif (hal 51).

Ketika puncak prestasi jurnalis tengah berada di genggaman lalu dilepas “hanya” untuk bermain gitar dengan penghasilan tidak menentu, Jubinglah yang melakukan (hal 66). Sama sperti Budi, Jubing yang sebelumnya menjabat sebagai redaktur pelaksana tabloid nova kini sukses menjadi pemain gitar profesioanal.

Keuntungan kita ketika membaca buku ini, karena sebelum Pepih menyertakan tulisan aslinya yang sudah dimuat di Kompas, dia menceritakan pengalamannya bagaimana bertemu para nara sumbernya, sulitnya mewawancari Berners-Lee yang sibuk, bagaimana pertemuan tidak sengajanya dengan Aep, pembuat replika manikin. Buku ini emang plus-plus. Jadi kita akan tau, jadi wartawan tuh seperti itu ya??? Sekalipun kamu bukan wartawan atau ingin jadi wartawan, buku ini cocok dibaca siapa saja.

Jika Pepih mengatakan bahwa Raditya Dika memiliki intuisi dan visi, Pepih sendiri sejatinya begitu juga.

“Tulisan itu bisa dengan mudah dibaca dan dinikmati, tetapi tidak semudah saat harus mengejarnya” (hal 5, saat mewawancari Berners-Lee).

Informasi Buku

Judul : Menulis Sosok secara Inspiratif, Menarik, Unik

Penulis : Pepih Nugraha

Penerbit : Kompas

Tebal : 196 halaman

Terbit : Mei 2013

ISBN : 9789797097080

FYI, Buku ini aku dapat secara gak sengaja saat ke Perpustakaan Umum Pamekasan. Saat itu niatnya mau minjem Totto Chan, tapi gak ada. Padahal di katolog tersedia, tapi pas dicari-cari di rak, gak ketemu. Jadinya buku ini yang aku pinjem.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s